Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Kepergok


__ADS_3

Aku terbangun kedua kalinya. Selepas sholat subuh, aku kembali tertidur. Rasanya capek banget. Matahari yang cerah dan aroma segar dedaunan hijau yang rimbun menyempurnakan weekend ku. Aku mengedarkan pandangan. Dan tak ada Pandu di sebelahku.


"Pandu...."


Kamar mandi kosong.


'Baru ditinggal sebentar aja, aku udah rindu banget. Pelukan hangat kamu membuat aku ketergantungan untuk gak mau jauh dari kamu Pandu. Aku kembali bucin.'


Bucin ialah taraf perasaan yang levelnya paling teratas dari sebuah hubungan. Akan ku pastikan bucinnya aku tidak salah orang lagi.


Kakiku cepat bergerak menuruni tangga. Biasanya, Pandu mudah kutemukan di area kitchen. Namun tak ada. Ruang belakang juga gak ada.


'Masa sih, Pandu kerja saat weekend.' Rutukanku kesal.


Aku berjalan lemas ke arah ruang utama. Ingin menghidupkan televisi. Tapi, dari arah luar samar-samar aku mendengar suara Pandu bercengkerama dengan seorang wanita. Pikiran jelekku menghasut diriku untuk segera keluar.


"Oh My God.... Dasar buaya darat!"


Aku mengira hanya 1 wanita. Ternyata 2. Mataku memanas melihat Pandu dengan sok pahlawannya membenarkan sebuah sepeda yang aku yakin itu milik salah satu dari wanita-wanita itu. Senyuman genit kedua wanita itu menambah kekesalanku.


Langkah cepatnya menghampiri Pandu.


"Ekhem! Aku cariin ke mana-mana.... ternyata kamu di sini."


Pandu terkejut mendengar suara Jihan dari arah belakangnya. Lirikan tajam mata Jihan menusuk tepat di hadapan kedua wanita itu. Pandu paham akan sikap sangar istrinya.


"Hmm.... ini rantai sepedanya udah terpasang." Mencoba mencairkan suasana.


Salah satu wanita meraih stang sepeda dan berucap terimakasih. Tak memperdulikan Jihan yang sudah memasang tanduknya.


"Wahhh.... terimakasih ya Mas. Mas baik banget. Kalau gak ada mas Pandu, kita gak bisa pulang. Hihihi...."


"Lo kan punya kaki. Lumpuh ya? Sampai bingung gimana cara pulang."


Mereka berdua merasa ciut dengan perkataan Jihan.


Pandu memeluk istrinya dari samping. Mencoba menenangkan.


"Sayang, jangan galak-galak. Kasihan mereka."


"Terus kamu gak kasihan sama aku?! Mau coba selingkuh dari aku?!" Menatap kesal ke arah Pandu.


"HEH! Mbak, ini suami saya. Jangan pada kecentilan ya!"


"Galak banget istrinya mas Pandu. Serem."


Salah satu wanita menarik wanita satunya yang sedang memegang stang sepeda. Jihan kembali berkata kasar geram dengan kedua wanita itu.


"Dasar ******! Pelakor! Gue sumpahin lo lumpuh selamanya!!"


"Astaghfirullah, Sayang istighfar! Jaga omongan kamu!"


Jihan mendorong kuat tubuh Pandu dan segera masuk ke dalam rumah. Rasa kecewanya menguasai emosinya. Pandu bingung bagaimana harus membujuk kalau Jihan sudah semarah ini. Ini semua hanya salah paham.

__ADS_1


"Sayang.... Sayang.... dengarin aku dulu! Jangan marah-marah dulu dong tanpa tahu ceritanya. Aku cuma nolongin mereka. Rantai sepedanya lepas. Mereka minta tolong. Gak ada yang lebih dari itu. Mereka tetangga kita. Bersikap baik dong, Sayang."


"Tapi gak ke semua cewek juga dong! Kamu itu terlalu baik. Sikap baik kamu itu dianggap lain sama mereka. Kamu ngebiarin hati mereka tersentuh dengan perlakuan kamu. Kamu ganteng, baik, lembut, ramah. Wanita mana yang gak sesenang itu diperlakukan baik sama kamu. Mereka suka sama kamu Pandu. Kamu memberi peluang ke mereka untuk menggoda kamu. Seterusnya kamu bakal terbiasa dan lebih milih pergi dengan ****** itu. Ternyata kamu sama brengseknya dengan David!!"


Pandu menarik paksa Jihan dan memeluknya. Kecupan-kecupan lembut ia layangkan di wajah Jihan. Elusan tangannya di punggung Jihan berusaha meredakan amarah Jihan.


"Aku gak akan ninggalin kamu, Jihan. Gak akan. Tolong jangan samaratakan semua laki-laki. Aku tahu kamu pernah dikecewakan. Tapi tolong jangan samakan aku dengan dia."


Tubuh Jihan yang bergetar menahan sesak tangis berangsur reda.


"Saat kamu masih tertidur aku menyempatkan untuk joging. Saat arah pulang, mereka memanggilku dan meminta tolong. Aku lihat rantai sepedanya lepas. Aku gak ada niatan untuk caper atau macem-macem. Aku real ingin menolong. Terlepas niatan buruk mereka, aku gak perduli. Yang terpenting aku hanya ingin membantu siapa pun dalam kesusahan. Kita punya Allah, yang pasti akan selalu menjaga hati kita."


Jihan menengadahkan wajahnya. Berusaha mencari kejujuran di mata Pandu.


"Aku cinta kamu Pandu. Aku benar-benar takut untuk ditinggalkan. Maafin aku karena selalu susah untuk percaya kata-kata kamu."


"Sekarang kita wudhu ya! Dalam amarah, wudhu bisa menetralkan perasaan emosional kita." Jihan mengangguk dan mengikuti arah jalan Pandu.


Jihan tak menyangka Pandu sudah menyiapkan sarapan untuknya. Sajian sarapan tak terlihat karena terlalu tersulut emosi.


Sedari tadi Pandu terus tertawa kecil meledek Jihan yang masih sembab sehabis menangis. Siaran televisi tak menjadi fokusnya. Hanya Jihan.


"Udah ih ketawanya! Senang banget ngeledeknya."


"Hahaha.... wajah kamu merah semua. Kayak badut."


"Iihhh.... jahat banget ngatain istri sendiri badut....!!"


"Asalkan bukan istri orang. Entar, kamu cemburu lagi. Terus nangis kayak anak kecil. Ternyata selain bawel dan garang, kamu cengeng juga ya."


Bantal sofa bertubi-tubi mendarat di wajah Pandu yang tak berhenti tertawa.


"Rasain nih. Jahat banget, jahil. Iihhh.... Pandu suami gila....!!!"


"Hahaha.... Sayang, sakit! Aku bercanda doang."


BUMMM.... BUMMM....


Jihan tak memperdulikan rintihan Pandu yang kesakitan. Pandu sangat membuatnya kesal. Pukulan-pukulan dari Jihan tak berhenti seiring dengan tertawaan dan ledekan Pandu.


Tangan Pandu yang mencoba menahan kuatnya pukulan bantal pun tak bertahan. Tubuhnya terdorong kuat ke belakang yang mengarah ke bawah sofa. Jihan yang terkejut mencoba menahan namun tak mampu. Alhasil, Pandu tersungkur di lantai dan tertindih tubuh Jihan.


"Awww...."


Mengaduh kesakitan.


Jihan menegakkan tubuhnya tapi gagal. Pandu sengaja kembali menarik tangan Jihan dan membalikkan posisinya kini yang menindih Jihan.


Wajah gugup Jihan sangat ia sukai. Terbesit ingin menggoda Jihan. Pandu pun mendekatkan wajahnya tak memberikan jarak.


"Pa.... Pan.... Pandu, kamu mau ngapain?"


Elusan tangan Pandu di pipi Jihan menghipnotis kelopak mata itu menutup perlahan. Jantungnya sudah tak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Lama menunggu, Jihan tak merasakan ada pergerakan dari Pandu. Membuka matanya dengan ragu.


Yang ia lihat, Pandu hanya menopang kepalanya menatap Jihan. Senyum jahil Pandu mempermainkan kebingungan Jihan.


Apakah Pandu hanya mempermainkannya saja?


Tangan Jihan berusaha mendorong tubuh berat Pandu. Ia sangat malu karena telah berharap lebih.


"Hahaha.... kamu kira aku bakal ngapain sih?"


"Apaan sih, Pandu. Awas ih!"


"OMG, Jihan, Pandu!!!"


Teriakan keterkejutan Alya mengalihkan 2 insan yang masih betah dalam posisi yang memalukan bagi Jihan. Raska sampai terbengong tak menyangka dengan adegan apa yang sedang sahabatnya itu lakukan.


Jihan tak tahan menahan rasa malu. Mendorong kuat tubuh Pandu hingga terpental ke belakang.


"Astaghfirullah Sayang, punggung aku sakit! Kasar banget sama suami."


Jihan tak memperdulikan rintihan Pandu. Ia menyibukkan dirinya membereskan bantal-bantal sofa yang berjatuhan. Tertawaan Alya dan Raska membuatnya tak nyaman. Ia takut Alya dan Raska akan berpikiran yang tidak-tidak.


"Hayo loh.... kalian berdua ngaku sama gue! Adegan apa yang mau kalian lakuin barusan?!"


Pandu berdiri sambil menggaruk tengkuknya. Bingung ingin menjelaskan seperti apa. Niatnya ingin menjahili Jihan, malah ia juga yang merasa terjahili oleh pertanyaan Raska.


"Gak masalah kok, Han. Kan udah halal. Tapi ingat, kunci pintunya dulu. Untung cuma gue sama Raska yang lihat. Kalau tetangga yang lihat, beda lagi ceritanya. Bisa-bisa di viralin. Hihihi...."


Delikan mata Jihan menegur omongan Alya yang sembrono.


"Gak macem-macem kok. Tadi aku cuma mau menjahili Jihan aja. Gak tahunya ada kalian. Sorry, lupa tutup pintu."


"Ndu.... Ndu, banyak alasan lo."


Jihan kesal dengan Pandu. Mana mungkin mereka mau percaya pengakuan Pandu. Jihan sudah seperti kehilangan harga diri di depan Alya.


"Hmm.... kalian mau minum apa? Aku buatin dulu ya."


Jihan lebih memilih menghindar daripada harus berlama-lama menerima olokan Raska dan Alya.


"Aku serius cuma jahilin Jihan doang. Jangan mikir yang macem-macem ya! Kasihan Jihan."


"Lo sih, yang udah mancing prasangka buruk kita."


"Hahaha.... gue suka kok. Lo udah berhasil ngembaliin sikap aslinya Jihan. Malu-malu kucing. Gue samperin Jihan dulu ya."


Tatapan jahil Raska menggoda Pandu yang saat ini merasa malu.


"Jangan mulai, Ras!"


"Hahaha.... keren lo, Bro. Gue tunggu kabar baiknya." Menyikut perut Pandu.


...🍁~🍁...

__ADS_1


...Bersambung................


__ADS_2