
Persiapan lamaran yang begitu sederhana. Hanya dihadiri beberapa keluarga inti saja. Pandu dengan berbagai macam hantaran sudah begitu siap menghadap dan meminta Jihan secara langsung.
Mobil Pandu telah memasuki pekarangan rumah mewah Jihan. Ibunya yang sangat terkagum tak percaya.
"Pandu.... ini benar rumah orang tuanya Jihan?"
"Iya atuh Buk."
"Wahhh.... ternyata teteh Jihan teh anak orang kaya?"
Ranti sangat memuja rumah mewah Jihan.
"Pandu, keluarga Jihan teh benar ikhlas menerima kamu? Ibuk tidak mau kejadian lalu terulang lagi."
Rasa takut dan kepercayaan diri yang menurun sangat kentara di wajah ibu Pandu. Tangan lembut Pandu mengelus tangan Ibunya.
"Ibuk tenang saja. Keluarga Jihan sangat baik Buk."
Dan benar saja, setelah mobil Pandu terparkir rapi, mama Jihan, papa Jihan dan beberapa kerabat Jihan menyambut dengan hangat. Senyuman selalu terpancar. Pelukan mama Jihan sangat nyaman yang ibu Pandu rasakan.
Acara sudah siap dimulai. Diawali dengan penyerahan seserahan kepada keluarga Jihan. Pembukaan acara oleh MC dan dilanjut ke moment paling menegangkan. Perwakilan keluarga calon mempelai pria yakni mamang Pandu sendiri akan menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran mereka di sini.
Hingga saatnya, giliran perwakilan keluarga calon mempelai wanita menanggapi maksud dan tujuan keluarga Pandu. Namun sebelumnya, hal itu lebih berhak Jihan yang menjawabnya. Bersedia atau tidaknya.
Langkah pelan Jihan yang ditemani Alya di sampingnya berhenti di hadapan keluarga Pandu. Mengambil posisi duduk di tengah-tengah Papa dan Mamanya. Tepat pula di hadapan Pandu. Pandu tertegun melihat anggunnya Jihan mengenakan gamis brokat putih gading. Rasa gugup baru ia rasakan. Berulang kali jakunnya bergerak naik turun.
Paman Jihan mengulangi maksud dan tujuan Pandu serta keluarganya datang untuk meminta Jihan mendampingi Pandu kelak.
"Bagaimana Jihan, apakah kamu bersedia? Kamu yang lebih berhak memutuskan."
Jihan memandang ke wajah gugup Pandu. Tiba-tiba saja pikirannya bercampur aduk. Ia mengulang semua memori awal pertemuan mereka. Sikap angkuhnya yang menghakimi dan berprasangka buruk ke Pandu, sikap seenaknya dia membawa Pandu ke dalam masalahnya, bersimpuh memohon agar Pandu menolongnya dan kini, ia benar-benar harus memutuskan bersedia atau tidaknya ia. Jahat Kah ia telah memanfaatkan Pandu?
Jihan membisu tak berani memutuskan. Ia takut akan salah melangkah. Pandu sangat baik membiarkan dirinya memanfaatkannya.
Senyum Pandu ke Jihan membawa hati Jihan teduh dan memberi keyakinan. Bibir itu mulai bergerak mengikuti kata hatinya.
"Iya, saya bersedia."
Kata-kata itu pun keluar dan membuat kelegaan di hati semuanya.
Acara berlanjut dengan sesi tukar cincin. Ibu Pandu memasangkan cincin ke jari manis sebelah kiri Jihan sebagai simbolis untuk mengikat Jihan bahwa ia telah di lamar. Sangat haru dan bahagia.
Sesi foto pun tak ketinggalan. Dalam keadaan canggung, Jihan dan Pandu dipaksa sedikit berdekatan namun masih berjarak. Dengan senyum bahagia pose itu terabadikan di kamera Canon yang Pandu miliki. Raska ingin moment bahagia sahabatnya tersimpan.
Kedua calon besan ini sudah mulai terbiasa berbaur. Ibu Pandu tak merasa cemas dan takut lagi. Keluarga Jihan sangat ramah dan sopan. Obrolan mereka tak lepas dari penentuan tanggal terbaik untuk Jihan dan Pandu.
Sedangkan Pandu dan Jihan, mereka berjalan santai sekadar mengobrol ringan.
"Gue minta maaf ya. Dulu gue jutek banget sama kalian. Omongan gue juga kasar banget. Terutama sama lo Pandu. Gue malu banget."
__ADS_1
"Hahaha.... iya gak apa-apa. Kita udah lupain kok. Semua itu berawal dari kesalah pahaman. Tak kenal maka tak sayang kan?"
"Berarti, mulai besok kita gak boleh ketemu dulu ya? Kata Mama sama Papa, kita di pingit. Emangnya itu apaan sih? Perlu banget ya?"
Pertanyaan random Jihan memancing senyuman Pandu.
"Istilah pingit itu dikutip dari laman Al-Bahjah asuhan Buya Yahya. Yang berarti dijaga dari pergaulan yang haram. Setelah saya khitbah kamu, pingitan ini sangat bagus untuk kita. Menjaga agar kita tidak terjerumus dalam perzinahan. Dijaga sampai halal nanti."
Jihan bermimpi kah Jika ia akan benar-benar menikahi pria yang begitu mulia. Sikap dewasa, bijak, sabar, lembutnya Pandu membuat hati Jihan damai. Sangat berbeda jauh saat ia menjalin kasih dengan David. Ia berubah menjadi liar, angkuh, pemarah. Bahkan, ia hampir mengotori kehormatannya.
Sepulang rombongan keluarga Pandu, keluarga Mama, Bude, Pakde, tante Inez dan bahkan Alya tak henti-hentinya menjahili Jihan. Muka merahnya tak menghentikan obrolan mereka.
"Udah ganteng, pinter, baik, sopan, pekerja keras. Ya Allah.... sempurna banget jodoh kamu Jihan. Kenapa gak Tante aja sih yang dilamar. Hihihi...."
"Hush.... enak aja. Itu calon menantuku, Inez."
Hahaha.... Tertawaan bahagia mereka mengisi ruang.
"Atau gak, Pandu itu punya saudara laki-laki gak sih? Biasanya kan, sifat satu keluarga gak jauh-jauh banget."
Tante Inez terus saja berharap yang tak pasti.
"Tante mau sama Mamangnya Pandu? Hahaha...." Alya berulah.
"Iihhh.... kamu yang benar aja dong. Gak lihat apa setua itu. Masa dijodohin sama Tante. Lagian, udah beristri."
"Sayang.... omongan kamu itu loh!" Gertakan Raska membungkam Alya.
Mama Jihan menghampiri dan duduk di sebelah Jihan. Meraih tangan Jihan.
"Jihan.... Mama senang dan bersyukur banget. Alhamdulillah.... akhirnya doa Mama diijabah sama Allah. Sekarang sudah ada yang akan menjaga kamu. Dan pastinya, Mama ridho kalau itu Pandu. Terimakasih ya Sayang. Kamu udah bikin Mama sama Papa tenang."
Pelukan mamanya menyentuh di hati Jihan. Dan senyuman keluarganya justru memecut dirinya. Senyuman itu terukir ada karena kebohongannya. Rasa bersalah terus saja memenuhi pikirannya. Mungkin, inikah yang ditakuti Pandu.
...🍁~🍁...
Menuju hari H sudah semakin dekat. Undangan disebar menggemparkan semua teman-teman maupun rekan kerja Pandu dan Jihan. Raska, Alya, Yogi dan beberapa teman lainnya siap membantu hal-hal yang diperlukan. Kediaman Jihan sudah 80 persen dirubah menjadi lebih sakral. Bunga-bunga indah berjejer rapi setiap sudut ruangan. Keluarga besar dari Papa dan Mama sudah terlihat.
Perkumpulan anak-anak gadis berada di balkon lantai atas kamar Jihan. Jihan yang kedatangan para sepupunya pun mulai bisa berbaur. Ternyata, tidak seburuk yang Jihan bayangkan. Banyak cerita-cerita lucu yang mereka ramaikan.
"Serius kamu Sekar?"
Anggini dan Sekar yang memandu serunya mereka.
"Ya iya toh, aku serius."
"Ih, seru banget sih. Ditaksir sama dosen sendiri."
"Itu sih kamu beruntung Sekar. Coba aja dosennya tua, Ihhh.... apa gak serem banget tuh. Berasa di teror. Gak kebayang deh, Sekar dikejar-kejar sama dosen tua bangka. Hahaha...."
__ADS_1
Semua ikut tertawa membayangkan apa yang Alya ucapkan.
"Kok kamu gitu sih, Lya." Cemberutnya Sekar.
"Alya kalau bicara memang suka seenaknya." Timpal Jihan yang sudah mulai terbiasa.
"Oh iya, Jihan. Aku pakaikan hennanya sekarang ya? Biar besok gak repot."
Ajakan Hanum ia terima.
"Boleh Hanum. Yang simple aja ya!"
"Ok siap!!"
"Kalau kamu sama Pandu gimana ceritanya Jihan? Setahu aku, bukan Pandu kan laki-laki pertama kamu?"
Suasana tiba-tiba saja menjadi hening. Alya menyikut Anggini. Ia takut Jihan berubah mood.
"Kalau aku masih sama dia, gak mungkin dong aku akan menikah dengan Pandu. Semua yang hilang, pasti akan tergantikan dengan yang lebih baik."
Ada senyum kelegaan di hati Alya. Ia benar-benar takut Jika ada yang mengungkit masa lalunya Jihan.
"Ceritain dong Jihan awal pertemuan kalian!" Desak Anggini.
Jihan mengulas senyum jika mengingat pertemuan mereka lagi.
"Hmm.... mungkin, agak sedikit malu untuk diceritain. Aku dan Pandu.... benar-benar tanpa disengaja bertemu. Semua itu berawal saat pikiran aku yang kalut dan emosi melihat Raska dirangkul sama perempuan lain. Spontan aku marah tanpa kontrol di hadapan Raska dan temannya. Salah satunya ada Pandu juga. Dengan muka polosnya itu, Pandu berusaha melerai kita. Berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Cuma, karena kesalnya aku melihat Alya dikhianati, aku gak perduli dengan penjelasan Pandu. Ternyata itu kesalah pahaman doang. Aku malu banget udah marah-marah, ngehina dan menilainya rendah. Padahal dia lebih baik daripada aku."
Jihan menjeda. Berusaha mengingat kembali kenangan-kenangan itu. Mereka yang mendengarkan memaksa Jihan untuk melanjutkan ceritanya kembali.
"Tuduhan aku ke Raska dan celaan aku ke mereka malah berbalik ke aku yang benar-benar dikhianati sama seseorang yang begitu aku cintai dulu. Aku melihat langsung kejadian itu. Setelahnya, aku terpuruk, aku kesal dan sempat gak percaya dengan laki-laki mana pun. Hingga akhirnya, pertemuan aku dengan Pandu terjadi lagi di pernikahannya Alya. Tepat saat sesi pelemparan bunga. Awalnya, aku gak perduli dan gak berniat untuk ikut andil. Cuma, entah kenapa bunga itu mengarah ke aku. Aku berhasil menangkapnya dan...."
Sekar menghentikan lanjutan cerita Jihan. Sebab, ia mulai mengingat moment itu.
"Ooo.... aku mulai ingat toh. Waktu itu kamu kan jatuh dan menubruk seseorang. Seseorang itu Pandu toh?"
Jihan mengangguk sembari tersenyum kegelian mengingat moment itu.
"Ooo.... jadi itu Pandu? Kok aku lupa ya. Hihihi...."
Anggini baru mengingat semuanya.
Serasa mereka telah mengingat, Jihan mengangguk mengiyakan. Sudah 2 bulan ini ia tidak diperbolehkan bertemu langsung dengan Pandu. Membuat rasa rindu mengalahkan rasa gengsinya. Sering setiap waktu luang ia iseng mengirim pesan singkat sekadar bertanya kabar. Atau hanya mengirim sebuah stiker emoji lucu agar tidak terlalu bosan. Pandu juga begitu.
Sebelum ritual tidurnya, Jihan selalu berkaca di depan cermin memastikan perasaannya yang kian hari kian bahagia. Ia masih tidak habis pikir semua bergerak begitu cepat. Dalam tidurnya pun, ia selalu bermimpi bahwa ia telah lebih dulu hidup berdua dengan Pandu di sebuah rumah kecil sederhana dengan bahagianya. Apa ini karena ia memikirkan terlalu keras kehidupan kelaknya bersama Pandu nanti. Entahlah, Jihan malu untuk mengakui perasaan aneh di hatinya.
...🍁~🍁...
...Bersambung..................
__ADS_1