Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Penyesalan


__ADS_3

Mata sembab, bibir pucat dan rambut berantakan. Jihan dengan santainya melahap habis makanan di depannya. Semalaman ia mogok makan.


"Jihan.... kamu kenapa sih Sayang?" Mama yang memulai. Jihan tak mendengar saking laparnya.


"Pa, gimana ini Jihan?"


"Udahlah Ma, Jihan lagi kelaparan. Seharian gak makan. Kayak anak kecil aja."


Setelah menghabiskan semuanya, Jihan kembali ke kamarnya tidak memperdulikan panggilan Mamanya. Jihan menjadi bisu seribu bahasa. Kembali membanting pintu dengan kuat. Semua pikirannya coba ia alihkan tapi tetap tidak bisa hilang. Bayangan David yang bercumbu mesra di Apartemennya dengan Mia sangat membekas.


Flashback On


Sebuah janji temu di sebuah Apartemen David. Berada di Luxury Apartment. Sepanjang lorong Jihan selalu tersenyum. Sambil membawa paper bag kecil berisikan jam tangan termahal keluaran terbaru yang ingin ia berikan kepada kekasihnya.


Berdiri di depan pintu ruangan yang ia cari. Merogoh tas dan mengambil Access Card yang ia punya. Pintu terbuka dan sangat hening.


"Baby.... kamu di mana Beb?" Tidak ada jawaban.


Kamar menjadi tujuan Jihan. Langkah semakin dekat. Entah pendengaran Jihan bermasalah atau bagaimana, sayup-sayup suara wanita dan pria masuk ke pendengarannya. Hingga di depan pintu kamar David, suara itu malah tambah jelas terdengar. Firasat tidak enak menggerayanginya.


1 dorongan kuat sudah menjelaskan apa yang ia dengar. Di sebuah ranjang, David begitu brutalnya mencumbu dan membelai tubuh seorang wanita yang berada di bawah kungkungannya. Paper bag itu pun terhambur ke bawah menimbulkan suara yang cukup menghentikan aktivitas laknat dua insan tersebut lakukan. Mata Jihan sangat mendesak cairan bening untuk keluar.


Sesak Pun ia rasakan. David yang melihat keterdiaman Jihan, dengan terburu-buru bangkit dan membenarkan celana boxer nya yang hampir lolos. Dengan terbata-bata David mencoba menjelaskan.


"Beb, aku.... min-minta maaf. A-aku bisa jelasin semuanya Beb.... ini semua.... di luar kendali aku. Mia datang dan.... langsung nerjang aku gitu aja. Aku minta maaf Beb."


PLAKKK!


"Satu tamparan sebenarnya gak cukup ngebuat hati gue reda, Dav. Satu tusukan pisau pun juga gak akan mungkin bisa ngebuat gue lega. Karena apa? Karena rasa cinta gue, kebucinan gue, ketololan gue yang terlalu dalam ke lo!! Gak ada yang salah dari kata maaf...."


Pengungkapan Jihan terhenti. Berusaha menghentikan lajunya air mata kecewa.


"Tapi, gue.... bakal gak akan lebih rela kata maaf itu keluar dari mulut sampah lo!! David, gue happy hari ini. Happy dengan pertunjukan sirkus lo. Lo BA-JI-NGAN."


Wanita itu berjalan lenggok sembari membenarkan dress nya. Tangannya sengaja mengelus dada David yg shirtless. David mencoba menghentikan pergerakan nakalnya.


"Hai, Jihan. Thank you banget loh, lo udah mau datang ke pertunjukan sirkus kita."


"Lo diam Mia!!" Bentakan David ke Mia.


"Kenapa Sayang....? Kamu menyesal udah ngelakuin itu sama aku? Padahal, tadi kamu bilang ke aku kalau aku jago banget service kamu. Gak kayak...."


PLAKKK!


"Gue gak akan semurahan lo Mia!! Gue masih punya urat malu dan harga diri. Kalau lo mau ngalahin gue, pakai cara yang berkelas. Bukan jadi BICTH."


Sumpah serapah terlalu mahal untuk mereka. Langkah tegar nya ia mulai. Tapi, Jihan lupa 1 niatnya.


"Kita putus David."


"Beb.... please maafin aku. Aku gak mau putus dari kamu. Aku...."


"Kalian berdua cocok kok. Sama-sama SAMPAH!!"


Flashback Off


'1 minggu udah cukup buat lo yang tolol tangisi semuanya Jihan. Lo bukan Jihan si Miss Perfect yang gue kenal. Lo harusnya lebih bersyukur ini semua kebongkar. Bertahun-tahun lo dimanfaatin, tapi lo gak ngelihat dan gak sadar butanya mata lo.'


Membasuh kasar wajah kusutnya. Mendempul tebal wajah sembabnya. Mulai saat ini, tidak akan ada bualan kata-kata manis yang harus ia dengar. Menutup hati bukan langkah yang salah. Karena cinta bukan lagi ekspetasi yang ia cari.


...🍁~🍁...


Pandu membereskan sajadah yang ia gunakan. Seperti pesan ibunya, 'Ke mana pun dan sejauh apa pun langkah kamu, jadikan satu kain ini tempat berpulang. Sebab Allah tak suka diacuhkan.'


"Assalamualaikum Buk...."


"Waalaikumsalam Pandu, kumaha damang?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, pangestu Buk. Ibuk dan Ranti gimana?"


"Alhamdulillah, baik juga Nak. Kapan pulang?"


"Insyaallah suatu saat Pandu pulang Buk. Kalau saat ini sepertinya belum bisa. Ranti mana Buk?"


"Lagi di Balai, Pandu. Bantu ibuk-ibuk menyiapkan pengajian nanti malam."


Pandu begitu tenangnya mendengarkan cerita panjang sang Ibu. Wajah keriput Ibu yang selalu tersenyum mendamaikan hati Pandu.


"Kapan kamu teh mengenalkan calon ke Ibuk?"


Pertanyaan andalan Ibuk yang selalu mampu membingungkan.


"Insyaallah tahun ini Buk."


"Iihhh.... kamu mah, kebanyakan bercandanya sama Ibuk. Ibuh teh sudah tidak sabar punya minantu."


"Ibuk.... kalau jodoh itu tidak akan ke mana. Yang terbaik itu bukan cepat, tapi tepat. Ibuk doakan saja, Pandu selalu dikelilingi orang-orang baik juga. Supaya Pandu selalu terarah ke jalan Allah swt. Seperti yang sudah dijelaskan dalam surat An Nur ayat 26. Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik."


"Iya, Ibuk paham Pandu. Tapi, ini semua bukan karena Sulis kan? Bukan karena kamu masih mencintai Sulis. Ibuk benar-benar tidak setuju kalau kamu masih berharap dan menunggu restu dari orang tua Sulis. Martabat kita benar benar sudah diinjak-injak sama mereka. Mentang-mentang Abahnya Sulis itu juragan teh di desa kita, seenaknya mempermalukan kita di hadapan banyak orang."


"Ibuk.... udah gak usah dibahas lagi. Pandu udah ngelupain semuanya. Walaupun keluarga mereka seperti itu, kita tetap harus menjalin silahturahmi dengan mereka. Sulis juga sudah Pandu anggap seperti adik sendiri."


"Iya, Pandu. Maafin Ibuk ya ngomongnya teh udah kelewatan."


"Leres, Buk."


"Hmm.... kalau begitu, sudah dulu ya. Ibuk mau ke Balai juga. Nganterin gorengan untuk dibagi-bagi di pengajian. Sehat-sehat kamu teh di sana ya! Kirim salam sama nak Yogi dan Raska."


"Iya, Buk. Insyaallah nanti Pandu sampaikan ke mereka. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam...."


Mengenai Sulis, ia sudah mulai melupakan. Tapi, tetap saja akan membekas kala ia mengingat kembali. Masa-masa suram dulu yang banyak diremehkan orang-orang. Sebagai anak buruh tani tidak mungkin pantas bergaul dengan anak kembang desa Juragan Broto. Pertemanan dari kecil hingga bertumbuh dewasa, tidak memustahilkan akan adanya cinta. Tapi, hal itu yang membuat Pandu termotivasi untuk berjuang mati-matian mengumpulkan uang, belajar dan merantau di kota orang.


TING!


Pesan masuk dari whatsapp.


Raska : "Ndu, entar lo jadi Groomsman gue ya! Gue juga udah bilang ke Yogi sama Ibams juga."


Pandu : "Insyaallah, Ras. Insyaallah aku datang."


Raska : "Harus dong! Gue udah kirim setelan yang bakal lo pakai."


Pandu : "Ok, Raska. Terimakasih ya."


'Alhamdulillah.... gak nyangka banget kamu yang lebih dulu bakal melepas masa kelajangan kamu Raska. Aku yang paling tua dari kamu malah udah dilangkahi aja.'


Menggaruk tengkuk dan tersenyum sendiri.


...🍁~🍁...


Satu kesalahan Jihan selama ini yang mengacuhkan orang-orang terdekatnya. Orang-orang yang sudah berusaha menyadarkan Jihan dari kebodohan dirinya menyanjung David sang parasit. Berpenampilan rapi, ia siap keluar menuju Apartemen Alya.


"Jihan, kamu mau ke mana?"


Mama menghentikan langkah Jihan. Dengan sigap, Jihan mencium tangan Mamanya dan memeluk erat sembari mengucapkan kata maaf.


"Jihan minta maaf ya Ma. Jihan minta maaf karena udah gak dengerin kata-kata Mama sama Papa. David bukan pria yang baik. Dia bohongin Jihan selama ini. David cuma manfaatin Jihan aja Ma."


"It's ok, Sayang. Mama sama Papa bersyukur kamu sudah sadar dan dikasih petunjuk sama Allah."


"Ini pelajaran buat kamu. Supaya gak gegabah mengambil keputusan. Laki-laki yang bertanggung jawab itu, laki-laki yang mampu menuntun wanitanya dalam kebaikan bukan keburukan. Dan pastinya, yang bermodal agama. Jangan tampang doang." Tutur Papa.


Jihan menunduk merasa bersalah. Sudah terlalu berdosakah ia selama ini?

__ADS_1


Kini, ia berada di depan pintu Apartemen Alya. Menekan tombol bel menunggu Alya membukakan pintu. Dan terbukalah serta sudah mendapati senyum lebar dari kedua sudut bibir Alya.


"Jihan.... I miss you...." Alya memeluk erat Jihan hingga terasa sesak.


"Alya.... gue sesak. Jangan kenceng-kenceng dong."


"Upss.... sorry Jihan. Gue excited banget. Gue menyesal banget udah ikut campur hubungan lo dengan David."


"Gue udah putus kok. Story Ends."


"WHAT?! Demi apa?! Lo harus cerita ke gue, ayo masuk!"


Storry telling pun dimulai. Alya sedari tadi terlihat menahan amarah. Siapa tidak kesal, kalau tahu sepupunya sendiri yang melihat langsung pengkhianatan David.


"Dasar buaya!! Brengsek banget tuh anak. Dari awal gue emang udah curiga, Jihan. Tapi lo tetap kekeh gak mau dengerin omongan gue. Bahkan, bukan cuma Mia doang mangsanya."


"Bodohnya gue selama 5 tahun ini. Tapi, udahlah. Gue banyak-banyak bersyukur aja. Thanks ya, Lya."


"Hihihi.... Gue akan selalu ada buat lo kok."


Satu titik fokus Jihan saat ini. Benda berkilau tengah melingkar di jari manis Alya.


"Wait, ini apa, Lya?!"


Alya paham dan mulai berusaha menjelaskan.


"Cincin tunangan gue." Senyum bahagia terpancar dan lebih mendekatkan jari jemarinya ke hadapan Jihan.


"Are you engaged?!" Lebih menguatkan suara tak percaya dengan pengakuan Alya.


"Iya Jihan.... gue serius. Ini cincin tunangan gue."


"Sama siapa? Who is he? Kok gue gak tahu?"


"Gimana gue mau kasih tahu lo, kalau lo sendiri ngeblock nomor gue. Gue juga udah sampein ke om Ridwan kok. Tapi, lo benar-benar gak datang ke acara gue. Gue sedih tahu."


"Terus, lo tunangan sama siapa?"


"Yaaa.... Raska."


"RASKA!!! Lo gila ya?! Lo lupa dia sama brengseknya dengan David."


"Jihan.... itu semua salah paham doang. Yang kita lihat itu gak sebenarnya. Raska, Pandu dan Yogi udah ngejelasin ke gue."


"Lo percaya gitu aja dengan mereka? Bisa aja kan, mereka ngarang cerita. Cowok tu gak ada yang tulus sama kita, Lya. Jangan sampai lo menyesal kayak gue."


"No, Jihan. Ini beda cerita."


Jihan baru menyadari beberapa barang kesayangan Alya sudah kosong entah ke mana. Dan benar saja, semua sudah terplanning begitu apik. Alya dan Raska sudah mulai memindahkan barang-barang mereka ke rumah yang akan mereka tempati nanti.


'Alya benar-benar beruntung dipertemukan dengan Raska yang benar-benar setia. Dan wanita mana yang tidak bahagia apabila dijadikan bak ratu seperti ini' Dalam batinnya Jihan.


"Gue jadi percaya dengan 1 pepatah. Wanita baik akan dipertemukan dengan laki-laki yang baik. Wanita jahat akan dipertemukan dengan laki-laki jahat pula. Mungkin, selama ini gue belum punya perilaku yang baik. Makanya, gue salah memilih orang yang harus gue cintai."


Usapan lembut Alya menetralkan emosional di hati Jihan.


"Ini semua belum berakhir Jihan. Itu namanya lo diselamatkan. Dia memang bukan jodoh lo. Dan Allah pastinya sudah lebih dulu mempersiapkan jodoh terbaik yang lo butuhkan, bukan yang lo mau. Jadi, jangan salahin diri lo. Ke depannya, kita sama-sama intropeksi diri dan perbaiki perilaku kita. Agar kita selalu diberikan yang terbaik. Jadikan ini sebagai teguran dan pelajaran di hidup lo."


Pelukan sebagai perpisahan terakhir mereka. Semua telah kembali. Sahabat dan perhatian orang tua. Jihan sudah mulai terbuka dan tak terlalu membantah.


...🍁~🍁...


Serius nanya deh aku.


Ceritanya asik gak sih? Sesuai hati kalian gak sih?


Aku butuh pendapat kalian juga😔Supaya aku bisa banyak belajar dan memperbaiki tulisanku. Semoga sesuai harapan ya😔😕☺️

__ADS_1


...Bersambung..........


__ADS_2