
Masing-masing para leader mempresentasikan persiapan apa yang akan ditampilkan saat fashion week nanti. Baru kali ini Jihan merasa belum siap dan belum yakin dengan rancangannya. Wajah gugup Jihan sangat kentara. Di hadapannya pun, Mia tersenyum kemenangan melihat wajah gugup itu.
"Ok semuanya, saya sangat berterimakasih atas konstribusi kalian and your teams dalam mengembangkan ragam fashion-fashion ternama dan terbaru kalian. It's not easy. The world of competition is very tough (Ini tidak mudah. Dunia persaingan sangat ketat). So, saya berharap banget ke kalian untuk tetap tenang, enjoy, spirit, dan kekompakan itu sangat penting."
Madam Stella mulai meminta asistennya untuk mempersiapkan alat-alat atau bahan-bahan presentasi yang telah dikumpulkan terlebih dahulu.
Hingga waktu presentasi pun usai, Kini hanya menyisakan Mia, Jihan dan madam Stella di dalam ruangan. Madam terus saja membolak balikkan kertas-kertas berisi rancangan-rancangan desain milik Jihan. Menggelengkan kepala berulang kali. Wajah pucat pasi Jihan tetap ia tahan dengan tegarnya.
'Tamat riwayat lo Jihan. You're STUPID'
Sementara Mia, sangat puas dengan sanjungan madam Stella.
"Kenapa Jihan? What's wrong with you? Baru kali ini saya sama sekali gak puas dengan desain-desain yang kamu buat. Terkesan monoton. Boring banget saya melihatnya. Gak ada yang spesial Jihan!"
Mengatur napas sebelum menjelaskan.
"Sorry, Madam. Saya merasa kacau kali ini. Semua yang udah saya rencanakan berubah. Seperti ada yang sengaja mensabotase team saya Madam."
"Hahaha.... sabotase? Apa itu? Jihan.... Jihan. Ini dunia kompetisi. Wajar ada yang berusaha menghalalkan segala cara. Kamu kenapa sih? Kamu itu kebanggan saya loh. Kenapa tiba-tiba jadi kacau begini?"
Jihan menerima semua koreksi buruk dari madam Stella. Nama baiknya selama ini berubah drastis. Keadaan lesu ia tampilkan. Keluar ruangan meeting, semua anggota team Jihan menunggunya dengan rasa cemas. Wajah-wajah ketakutan mereka menyayat hati Jihan. Segarang apa pun Jihan, pasti ia tak tega melihat orang-orang terdekatnya rapuh. Jihan sengaja melewati mereka tanpa berkata.
Namun, suara Mia menghentikan langkahnya.
"Wow.... Miss Perfect or Miss Not Perfect?"
Berbalik badan tak goyah dengan cemoohan Mia.
"It's game over. Gue udah bisa melihat kekalahan lo Jihan. Gue rasa, gue yang bakal dinobatkan sebagai Miss Perfect."
Senyum evil Mia kembali terpancar.
Geram Andrew memuncak melihat wajah mengolok Mia.
"HEH.... MAMAMIA! Jangan sok hebat lo. Ini belum berakhir. Kita pasti bisa buktiin ke team lo, kalau kita pemenangnya. Ngaca deh lo! Team lo itu gak ada apa-apanya dengan kita."
"Jangan mentang-mentang lo keponakannya madam Stella, lo bisa seenaknya ngomong kayak gitu. Kita yakin, ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan lo."
"Hahaha.... gue?! Gue gak punya waktu buat ngurusin kalian. Terima kekalahan dong. LOSERRR...."
Mengibaskan rambut pirangnya saat melewati Jihan. Jihan tak menanggapi.
"Udah ya, jangan buat keributan. Gue mau balik duluan. Kalian semua boleh balik ke rumah masing-masing."
Mobil Mazda merahnya melaju kencang. Pikirannya yang lelah ingin segera ia istirahatkan. Ranjang tempat ternyaman nya. Ketukan pintu yang berisik, ia lempar dengan bantal. Suara itu pun berhenti.
"Pa, Jihan lagi berantem ya dengan Pandu?"
"Mana Papa tahu Ma. Udahlah, itu urusan mereka. Udah kebiasaan Jihan, pulang-pulang langsung masuk kamar banting pintu. Ucap salam cium tangan pun enggak."
"Tuh kan, Papa mulai lagi."
...🍁~🍁...
Mood Jihan terus saja berubah-ubah. Mama sedari tadi gelisah ingin bertanya atau tidak.
"Jihan.... kamu kenapa? Ada masalah dengan Pandu?"
PRANGGG....
sendok makan Jihan melesat jatuh. Dalam benak Jihan berpikir.
'Kenapa malah tuh orang sih yang dibahas?'
"Enggak! Lagi ada masalah aja di kerjaan." Sedikit jutek.
"Kalau ada apa-apa itu dibicarakan. Jadi Mama sama Papa gak menerka-nerka." Sambung sang Papa.
"Emangnya Papa bisa ngebantu Jihan?! Masalah fashion Papa gak mungkin mengerti. Papa kan kolot."
"Hahaha.... kamu nakal banget sih ke Papa kamu."
Wajah garang Papa terlihat konyol saat ini.
Jihan sudah mulai membaik dan terbuka. Memang, kalau beban terlalu dipendam sendiri akan membuat stress.
"Jadi, kamu dan Pandu baik-baik aja kan Sayang?"
Lagi-lagi Mama ngebahas Pandu. Yang jelas-jelas itu hanya hubungan settingan.
"Hmm.... baik." Jawaban ragu Jihan.
"Kok gak pernah ke sini lagi? Padahal Mama masih pengin banyak ngobrol dengan nak Pandu. Kelihatannya Papa juga senang dengan nak Pandu. Iya kan Pa?"
Jihan kembali merasa gugup. Bagaimana ia akan menjelaskan semua kepalsuan ini? Papa dan Mamanya pasti akan marah besar jika semua hanya kebohongan. Dan Jihan kembali dijodohkan dengan pilihan sang Papa.
"Kelihatannya dia anak baik-baik. Papa juga udah cari info tentangnya dari asisten Papa. Kalau dia benar serius dengan kamu, suruh dia dan orang tuanya ke sini. Gak perlu nunggu lama. Karena Papa butuh seseorang untuk ngejaga kamu."
"Maksud Papa?"
"Menikah. Apa lagi?"
__ADS_1
"What?! Pa, kita baru aja pacaran. Masa main langsung nikah sih."
"Loh, emangnya mau nunggu apa lagi? Papa udah gak mau ngelihat kamu pacaran-pacaran gak jelas."
"Pa.... kalau anak belum siap, jangan dipaksa dong."
"Pacaran belum halal itu mengundang zinah. Mama mau, anak kita satu-satunya ini hamil di luar nikah? Melihat gaya hidupnya Jihan, Papa yakin kamu sudah banyak disentuh oleh beberapa pria."
Perkataan Papa sungguh menohok Jihan. Minuman yang sedang ia tenggak tersembur ke luar.
"Astaghfirullah Papa.... kok ngomongnya gitu? Kamu beneran gak hamil kan Jihan?"
"Ma....!! I'm still a virgin."
"Kalau Pandu tidak segera melamar dan menikahi kamu, Papa akan tetap melanjutkan perjodohan kamu dengan Nicho. Papa kasih waktu dia selama 2 minggu ini."
"Pa....!"
Jihan merosot lemas mendengar permintaan Papanya.
'Gimana caranya dong? Masa gue mesti manfaatin dia lagi.'
Dalam kamarnya, Jihan mondar mandir sudah beberapa kali. Segala macam alasan ia persiapkan. Tapi, gak mungkin keras kepalanya Papa mau percaya dengan omongan anaknya.
"Wait! Raska suaminya Alya. Nah, tuh cowok kan temannya Raska. Iya, gue minta tolong ke Raska aja kali ya? Siapa tahu, Raska bisa tuh ngebujuk temannya untuk bantu gue. Yes! You are so brilliant Jihan...."
Tak butuh waktu lama, Alya mengangkat telepon dari Jihan.
Alya : "Halo Jihan, kenapa?"
Jihan : "Raska mana? Gue mau ngomong sama dia."
Alya : "Mau ngapain lo sama suami gue?!"
Jihan : "Iihhh.... gak usah kepo ya! Raska mana.... Raska...."
Alya : "Iya, iya bentar."
Suara cempreng Alya memanggil Raska.
"Sayang.... Sayang....! Jihan mau ngomong sama kamu."
"Kenapa? Gak mau ah!"
"Udah ngomong aja!"
Raska : "Iya, Jihan. Ada apa ya?"
Raska terdiam tak menjawab. Feeling Raska sudah tidak enak. Namun, Alya sang istri memaksa Raska menjawab iya.
Raska : "Hmm.... gak bisa Jihan. Maaf banget."
PLAKKK!
"Bodoh banget sih."
Alya : "Bisa kok Han. Kalau Raska gak mau, biar gue aja yang bilang."
Jihan : "Ok, thanks Alya. Gue tunggu kabar dari kalian. See you...."
Telepon tertutup. Sedikit tenang dan bisa tidur nyenyak. Besok dia harus berpikir keras lagi untuk merangkai kata agar permintaan pertolongannya diterima.
...🍁~🍁...
"Ndu, mohon banget Ndu, bisa ya ketemu dengan Jihan! Gue pusing banget nih ditanyain muluk sama istri gue."
Raska terus saja memohon-mohon di depan Pandu. Pandu yang sibuk merasa risih dan terganggu.
"Ngebet banget tuh cewek sama lo Ndu." Yogi ikut geram.
"Aku gak mau ikut campur urusan dia Ras."
"Ya terus gimana dong? Gue juga capek dipaksa-paksa terus. Bolak balik Jihan nelepon istri gue. Udah 2 malam juga gue gak seranjang dengan istri gue."
"Buset....!! Durhaka banget istri lo Ras. Hahaha...."
Raska malah kesal diledekin Yogi. Sedangkan Pandu tetap fokus dengan layar laptopnya.
Dari kemarin, nomor asing selalu meneleponnya. Dan ada beberapa pesan whatsapp yang ia ketahui itu adalah nomor Jihan. Kehadiran Jihan benar-benar mengganggunya. Sudah di blokir pun, tetap saja ia menelepon atau memberi pesan dengan nomor lain.
Kadar kesabaran jihan habis. Lelah berulang kali menelepon dan mengirim pesan ke Pandu. Tak ada satu pun yang direspon. Kalau bukan demi masa depannya, gak akan Jihan serepot ini mengemis-ngemis ke Pandu.
"Jadi gimana? Udah ada perkembangan belum?"
Gelengan lemah Jihan menjawab semuanya.
"Gue juga bingung gimana lagi ngebujuk Pandu. Udah 3 hari ini Raska gue suruh tidur di luar gara-gara masalah ini gak kelar-kelar. Jadi merasa bersalah banget gue ke Raska."
Jihan juga sudah sengaja rajin bertandang ke rumah Alya. Berharap bisa bertemu langsung dengan Pandu. Tapi ternyata nihil.
"Kalau lo ke kantornya aja gimana?"
__ADS_1
Mata tertutup Jihan langsung terbuka lebar.
"Ide bagus banget Alya. Kok lo gak kasih tahu gue dari kemarin-kemarin sih?!"
"Iihhh.... gue cuma asal nebak doang. Mana tahu gue, lo bakal senekat itu."
"Alya.... apa pun rintangannya, gue gak perduli. Sekarang lo kasih tahu gue alamat kantornya! Gue benci banget sama tuh cowok. Sombong banget gak ngerespon gue."
"Gak berani tuh dia sama cewek garang kayak lo. Hahaha...."
Bantal melayang ke arah wajah Alya.
...🍁~🍁...
Di hari itu juga, Jihan dengan style glamournya memasuki sebuah gedung tinggi bertuliskan Warriors Group. Kacamata hitamnya ia pasang agar menambah tingkat kepercayaan dirinya. Meja Resepsionis menjadi tujuan utamanya.
"Selamat siang Mbak.... Selamat datang di Warriors Group. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ketemu Pandu."
"Bapak Pandu Pangestu?"
"Hmm.... iya."
"Sebelumnya, mbak sudah memiliki janji pertemuan dengan pak Pandu?"
"Saya ini pacarnya. Untuk apa saya harus buat janji dulu?"
Jihan membuat pandangan tajam wanita Resepsionis tersebut menelisik dirinya dari bawah hingga ke atas. Karena, setahunya Pak Pandu tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. Dan bahkan kalau ada, pasti pak Pandu tidak memilih type wanita yang ada di depannya ini. Sangat arogan.
"Kenapa ngelihatin saya kayak begitu? Kamu gak yakin saya pacarnya Pandu?"
"Maaf Mbak, siapa pun itu tetap harus mengikuti peraturan di perusahaan ini. Biasanya juga, sekretaris pak Pandu akan mengabari ke saya kalau ada tamu yang akan datang dan membuat janji pertemuan. Saat ini, belum ada atas nama pacarnya pak Pandu membuat janji pertemuan. Setahu saya, pak Pandu tidak punya pacar Mbak. Tapi, yang ngaku-ngaku pacarnya banyak sih Mbak."
DUARRR....
Jihan menelan salivanya dalam-dalam. Wanita Resepsionis ini cukup berani melawannya. Kacamata yang ia gunakan pun, ia sampirkan ke atas kepalanya di sela-sela rambutnya.
"Kenapa repot banget sih?! Emangnya perlu banget ya gue telepon orangnya langsung supaya lo percaya."
"Boleh Mbak, silahkan. Saya tunggu."
Wanita Resepsionis itu benar-benar tidak bisa dibohongi. Dengan ragu, Jihan mencari nomor Pandu dan meneleponnya. Benar saja, panggilan pertama tidak digubris. Panggilan kedua pun sama. Jihan benar-benar geram. Setidaknya, dalam keadaan genting begini Pandu memberi ia kesempatan untuk berbicara melalui telepon. Walau hanya sekadar memakinya.
Panggilan kelima, telepon dari Jihan di reject. Dan itu sempat terlihat oleh wanita Resepsionis itu.
"Loh, kok teleponnya malah di reject Mbak? Bukannya, pacar itu lebih penting ya? Hihihi...."
Ini benar-benar memalukan.
"Mungkin.... pacar saya lagi sibuk. Iya, lagi sibuk. Gak apa-apa, saya tunggu sampai urusan pacar saya selesai."
"Mbak.... Mbak. Udah ya, gak usah bohong lagi. Udah sering banget saya ngadepin perempuan-perempuan gak jelas yang ngincar-ngincar pak Pandu."
"Maksud kamu apa?!"
"Security.... Security....!!"
"Iya Buk, ada yang bisa saya bantu?" Suara tegas para Security membuat Jihan ciut.
"Pak, tolong usir Mbak-mbak ini keluar Pak!"
"Siap Buk!!"
Jihan panik. Kedatangannya ke sini malah mempermalukan dirinya sendiri. Jihan memberontak, berteriak sekencang-kencangnya. Bodoh amat dengan pandangan orang-orang terhadapnya.
"Lepasin gue! Lepasin gue.... Gue cuma mau ngomong sesuatu ke Pandu. Pak.... lepasin gue!"
"Ini perintah dari kantor. Mbak sudah membuat keributan di sini."
Senyum sinis wanita Resepsionis itu membuat Jihan geram.
Dari pintu lift, Yogi, Raska dan Pandu berjalan beriringan ingin mengantarkan clientnya ke luar. Hingga mereka sadar, bahwa sedang ada keributan di luar. Teriakan berontak Jihan semakin jelas terdengar memanggil-manggil nama Pandu. Raska lebih dulu berjalan ke arah luar. Dan terkejutnya ia melihat Jihan dalam keadaan kacau dan diseret-seret 2 Security.
"Jihan?!"
"Ras, tolongin gue! Gue cuma mau ketemu temen lo doang. Please, Ras...."
"Lepasin dia pak! Dia urusan saya." Perintah Pandu menghentikan cengkeraman kuat di tangan Jihan.
"Ikuti saya!"
Jihan cepat-cepat mengikuti langkah besar Pandu. Tak lupa ia berikan salam ledekan ke wanita Resepsionis yang menatapnya dengan cengo.
...🍁~🍁...
Untuk Para Readers yang sudah mampir dan baca karyaku, aku ucapkan terimakasih banyak ya.
Aku mengharapkan dukungan kalian. Supaya aku tambah semangat dalam menulis karya-karya imajinasiku.
Salam hangat dari arnov :)
__ADS_1
...Bersambung................