Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Selesai


__ADS_3

Selepas Subuh, Jihan langsung bergegas membereskan apa yang perlu dibereskan. Menjadi pola aktivitasnya yang baru. Mengisi air hangat di bathtup untuk Pandu, memilihkan pakaian kerja terbaiknya, merapikan kamar, menyapu, mencuci dan berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Walau hanya beberapa roti selai dan susu yang bisa ia buat. Jihan sudah bertekad untuk harus belajar memasak. Karena malu sekali dirinya sebagai istri yang tidak bisa memasak.


Sepasang tangan melingkar di perutnya. Kecupan mesra di pipinya mengejutkan Jihan yang tengah serius mengolesi selai cokelat di rotinya.


"Pandu! Kamu ngagetin aku banget."


"Kok Pandu lagi sih!!" Dengusnya.


"Iya, mas Panduku...." Menjawab malas.


Pandu tersenyum simpul. Ia memutar tubuh Jihan agar menghadap dirinya. Ia melirik penampilan biasa Jihan. Tak berpoles, masih memakai pakaian tidurnya dan sepertinya belum mandi juga.


"Kamu gak ke kantor?"


Gelengan santai Jihan menjawab pertanyaan Pandu.


"Kenapa? Tumben banget."


"Aku udah resign. Palingan, hari ini aku ke kantor sebentar hanya untuk memproses pemutusan kontrak kerjaku."


"Apakah ini udah keputusan terbaik kamu? Yang mas tahu, kamu sangat menyukai pekerjaan ini. Bisa dibilang, itu passion kamu."


Jihan menceritakan semua kronologi kenapa keputusan nekat ini ia ambil. Pandu yang mendengarnya lumayan kesal dan tidak habis pikir dunia persaingan dalam lingkungan pekerjaan Jihan terlalu kejam.


Sepanjang cerita terlihat sekali paras Jihan yang lesu namun Pandu pahami Jihan pasti menyembunyikan perasaannya saat ini. Tangan ia pun membelai lembut pipi Jihan memberi kenyamanan dan ketenangan.


"Gak apa-apa Sayang. Keputusan kamu memang yang terbaik. Menjauh dan menjaga jarak dari orang-orang yang membenci kita itu tidak ada salahnya. Allah sedang menguji kamu. Dan pasti semua kejadian ini ada hikmahnya."


"Kamu gak marah kan, aku memilih menjadi Ibu Rumah Tangga aja di rumah? Aku juga bakal selingi waktu untuk cari-cari info lowongan pekerjaan."


Pandu sedikit menundukkan kepalanya agar pandangan mereka lebih intens.


"Itu keinginan mas Sayang. Mempunyai istri yang lebih sibuk di rumah dan selalu menunggu mas saat pulang kerja. Biarkan mas aja yang bekerja. Karena sudah kewajiban mas sebagai seorang suami yang mencari nafkah untuk istri dan anak-anak kita nanti."


Mendengar kata anak, hati Jihan tergelitik.


'Bagaimana ya, kondisiku nanti kalau sudah hamil besar. Pasti lucu banget. Pandu sepertinya sudah sangat menginginkan seorang anak. Aku juga Pandu. Tapi, aku malu untuk memulainya.'


Gelengan-gelengan kecil mencoba menghilangkan pikiran liarnya.


Wajah bersemu Jihan kembali terlihat yang memancing rasa gemas pada Pandu. Alhasil, bibir Pandu meraup rakus bibir manis Jihan. Jihan kewalahan menerima serangan tiba-tiba dari Pandu. Dorongan kuat ia lakukan karena ia susah mengatur napasnya.


"Kenapa Sayang?"


"Kamu ngebuat aku sesak. Mesum banget sih."


Pandu tersenyum dan menarik paksa pinggang Jihan menyebabkan tidak ada jarak diantara mereka.


"Mas harus mulai belajar lebih liar dan lebih mendominasi dari kamu istriku. Sampai kapan lagi mas harus nunggu kamu memberikan hak mas sebagai suami. Mas sangat menginginkan rumah kecil kita ini ramai dengan tangisan dan tertawaan anak-anak."


CUP....!


Kecupan di pipi Jihan menyadarkan tampang cengonya. Pandu telah berlalu sembari membawa roti selai cokelat dan susu buatan Jihan.


Pandu sangat mengerikan. Ia harus bagaimana menangani Pandu nantinya jika ia benar-benar meminta hal itu. Menepuk-nepuk kepalanya yang terus berpikiran liar.


...🍁~🍁...


Kesabaran David sangat dipermainkan oleh Jihan. Ia dibodohi dan dibohongi. Jihan tidak datang. Panggilan telepon darinya pun tidak diangkat. Tangan itu menggeram ingin sekali melampiaskan entah kepada siapa. Nomor Mia pun membuat ia kesal. Sedari tadi terus saja menghubunginya.


"Mau apa lagi lo *****?!"


Membanting kencang handphone ke lantai.


Berbeda dengan Jihan yang bernapas lega sudah bisa menyelesaikan tuntas keputusan resign nya. Tidak akan ada manusia-manusia parasit lagi yang mencoba mengusik hidup damainya. Ini mungkin yang Mia mau. Ia tak perduli dan takut akan dianggap gagal. Hidup tenang dan damai lebih menjamin kebahagiannya. Walau hati Jihan berat melihat rekan-rekannya ikut kehilangan pekerjaan. Entah bagaimana nasib mereka kedepannya.

__ADS_1


Jari lentiknya berusaha mencari nomor seseorang yang ingin ia jadikan pelampiasan penatnya. Namun, panggilan masuk berulang kali dari nomor asing yang sudah sangat ia kenali terus menerornya. Perintah blokir berhasil ia lakukan.


"Sorry Vid. Gue sempat berburuk sangka ke lo."


Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iiihhh.... apaan sih. Ngapain gue merasa bersalah sama nih anak. Dasar brengsek!!!"


Memesan taksi untuk menghantarkannya langsung ke rumah Alya.


Tok.... tok.... tok....


"Alya....! Alya....!"


Pintu terbuka yang menampilkan wajah bulat Alya semenjak ia mengandung.


"Wow....! My Princess akhirnya bertandang juga ke rumah gue. Lupa lo punya sepupu yang selalu setia sama lo?! Gue lagi susah-susahnya bunting lo gak nongol-nongol buat jengukin gue. Parah lo." Alya memberikan tatapan sinisnya.


"Hahaha.... sorry my dear. Gue lupa."


Pukulan tangan Alya pun mendarat di kepala Jihan. Jihan mengusap sambil tersenyum konyol.


"Ayo masuk!" Perintahnya.


Penampakan pertama di ruang tamu Alya. Semua berantakan dengan makanan-makanan yang berjatuhan. Dan masih banyak lagi makanan lain yang tersedia di atas meja. Menelan saliva tidak habis pikir dengan kelakuan bumil satu ini.


"Lo bunting anak apaan sih? Makan lo banyak banget."


Memandang diri Alya dari bawah hingga ke atas. Perasaan Jihan, usia kandungan Alya masih menginjak 2 bulan lebih. Tapi tubuh kurus kering sudah berubah drastis.


"Kenapa lo?!"


"Lo gendut banget Alya."


Jihan membayangkan sesusah apa ibu hamil mengandung.


"Susah banget ya? Sakit gak? Pasti gak nyaman banget kan?"


Anggukan Alya menjawab.


"Tapi tenang aja Han, gue happy kok. Raska tambah manjain gue banget. Apa yang gue mau langsung dituruti. Lo harus coba juga Han kayak gue. Udah usaha belum?"


Pertanyaan Alya sangat membuat Jihan malu. Sampai sekarang ia benar-benar masih Virgin.


"I'm still a Virgin Alya." Menjawab kaku.


"Ya ampun.... parah banget sih lo berdua. Si Pandu sekaku apasih sama lo?"


"No, Lya. Pandu gak kaku. Dia berulang kali mancing-mancing gue, ngegoda gue, ngekode gue. Cuma.... ya.... ya.... gue nya aja yang belum siap."


"Why?"


"Gue malu Alya!!"


Alya menyenderkan lemas tubuhnya di sofa. Ia sangat geram mendengar jawaban Jihan.


"Dulu aja lo murahan banget ke David. Gak ada urat malunya ngelakuin hal gak senonoh di depan mata gue. Tiap malam ke club, mabuk-mabukan. Gak nyesel lo jual murah tuh badan lo ke cowok yang jelas-jelas brengseknya. Pandu itu suami lo. Lebih baik dan perfect dari si David. Udah kewajiban lo ngelayani hawa nafsunya suami. Dosa besar banget lo gak nuruti kemauan suami. Parah!!"


Jihan memukul kepala Alya dengan bantal sofa.


"Semenjak hamil mulut lo pedes banget sih, Lya."


"Lo ngebuat gue geram banget sama lo. Naik pitam gue!!"


Menonton dan menghabiskan cemilan akhir dari perdebatan mereka. Alya memandang ke samping di mana sepupunya itu tengah bersantai menikmati tontonan. Ia berpikir sejenak dengan kelakuan santainya bertandang ke rumahnya.

__ADS_1


"Lo lagi gak sibuk di kerjaan? Tumben banget lo sesantai ini."


"Gue udah resign."


"What!! Demi apa lo resign?!"


"Demi sepupu gue yang bawel dan super kepo ini. Gue serius Lya. Gue udah fix jadi pengangguran."


"Kenapa? Ini kan impian lo Han. Seperjuangan itu lo dulu bisa masuk kawasan De' fashion."


Jihan menekan tombol power hingga benda persegi pipih itu tak bersuara lagi.


"Itu dulu. Sebelum gue tahu kelicikan madam Stella. Dia, Mia sama-sama licik dan serakah."


"Maksud lo.... madam Stella kenapa?"


"Hancurnya project gue, posisi gue karena ulahnya Mia. Dia manfaatin Andrew untuk curi rancangan gue. Semua terbukti di CCTV. Lo tahu kan, dari dulu Mia selalu ikuti ke mana langkah gue dan berusaha ngerebut apa yang gue punya. Madam Stella gak perduli dengan kecurangan Mia ke team gue. Justru ngeremehin gue. Usaha gue selama ini kebuang percuma."


Menunduk lesu sambil memainkan jari-jemarinya. Alya mendekat dan memeluk erat tubuh Jihan. Ia merasakan sekali bagaimana kekesalan, kekacauan Jihan.


"Lo hebat Han. Dari dulu sampai sekarang pun, lo tetap kuat dan gak takut dengan kelakuan manusia-manusia keji disekitaran lo. Mereka iri dengan apa yang lo punya. Berusaha cari cara untuk ngegagalin lo. Mereka gak tahu aja lo punya seribu cara. Tetap lakuin apa yang lo suka Han."


Jihan melonggarkan dekapan Alya. Ia tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


"Lagian, lo kan ada Pandu. Yang udah ngejamin lo bakal bahagia selamanya Nyonya Pangestu."


Pukulan pelan di bahu Alya rasakan. Tertawaan mereka sangat puas melepas mood yang lagi berantakan.


Alya duduk sambil menopang kepala Jihan yang sudah terlelap. Ia sudah memberikan pesan kepada suami tercintanya bahwa Jihan sedang berada di rumah. Agar pesan itu juga tersampaikan ke telinga Pandu. Walau Jihan melarangnya, tetap saja Alya tidak tega melihat Jihan pulang sendirian. Apalagi waktu sudah menunjuk ke angka sembilan malam.


Raska dan Pandu sudah beberapa hari ini pulang larut malam. Itu juga alasan Jihan kenapa ia tidak mau Alya memberitahu Pandu tentang keberadaannya. Tidak mau merepotkan Pandu.


Ketukan Pintu dan ucapan salam pun terdengar.


"Waalaikumsalam. Hussthhh...." Satu jari menempel di bibir mengisyaratkan untuk jangan membuat keributan.


Pandu yang melihat istrinya sudah terlelap di pangkuan Alya segera mendekat.


"Terimakasih ya Lya. Udah nemenin Jihan. Maaf kita pulangnya telat."


"It's ok."


"Memang terbaik istriku. Sorry ya.... Aku ninggalin kamu dan calon baby kita."


Bibir manyunnya Alya sangat menggemaskan di mata Raska.


Pandu memindahkan tubuh Jihan ke lengannya. Semua barang-barang Jihan, Alya bereskan dan memberikan tas itu kepada Pandu.


"Hati-hati ya Adik Ipar. Hihihi...."


Alya menoyor kepala Raska.


"Kenapa Sayang? Gak ada yang salah kan?"


"Jangan suka ngeledek ke Adik Ipar kita. Hihihi...."


Pandu menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Raska dan Alya.


"Kita pamit ya! Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam...." Menjawab salam berbarengan.


...🍁~🍁...


...Bersambung.................

__ADS_1


__ADS_2