
2 minggu terlewatkan. Jihan sangat senang dengan rutinitas barunya. Sekarang, ia benar-benar merasakan menjadi Ibu Rumah Tangga itu seperti apa. Dulu, ia memandang remeh istri yang berdiam di rumah itu tidak berkompeten dibanding istri yang berkarir. Justru, ia lebih sangat dihargai dan mendapat perhatian Pandu lebih dari biasanya.
Bibir itu tak henti-hentinya memuji istri cantiknya yang sangat lihai membereskan rumah dan menyiapkan perlengkapannya. Takjub dan salut dengan Jihan yang sudah banyak belajar untuk menjadi istri idamannya.
"Gimana? Udah lumayan gak keasinan kan?"
Pandu mencicipi omelette buatan Jihan. Anggukan kecil menjawab penasaran Jihan. Jihan mencoba juga omelette buatannya. Dan wajah itu pun tertekuk.
"Hambar Mas.... Gak ada rasa."
Usapan di rambut Jihan menenangkannya.
"Tetap enak kok. Yang penting gak keasinan. Hihihi...."
Menepis tangan Pandu.
"Iihhh.... sebel!! Yang jujur dong kalau kasih penilaian. Gak usah dimakan lagi ya Mas!"
"Jangan dong Sayang! Mubazir."
"Padahal resep udah langsung dari Mama. Tetap aja ada yang kurang." Gerutunya.
"Gak apa-apa Sayang. Namanya juga masih belajar."
"Jadi kangen Mama sama Papa." Murung Jihan.
Pandu mengulas senyum. Ia mengiyakan bahwa setelah mereka menikah, belum ada kesempatan waktu untuk berkunjung ke rumah orang tua Jihan.
"Gimana kalau minggu besok kita ke rumah Mama sama Papa. Menginap juga gak masalah."
"Beneran kan Mas? Aku benar kangen banget sama Mama juga Papa."
"Iya Sayang...."
...🍁~🍁...
Meja dan peralatan sudah tertata rapi menyambut pagi ceria Bos barunya. Setiap hari, ia memaksakan dirinya untuk selalu datang lebih awal dari waktu yang seharusnya. Berdandan rapi, wangi dan bersih selalu ia ingat. Semua schedule sudah ia persiapkan. Menandai beberapa data maupun dokumen yang mesti dikoreksi oleh bosnya menggunakan sticky note. Sebagai pengingat saja. Begitu terus ia berlakukan. Dan beruntungnya ia langsung mendapatkan posisi sebagai Sekretaris bapak Pandu Pangestu. Menjadi karyawati biasa saja pun tak masalah. Asal ia bisa membuktikan rasa penasaran hatinya.
'Lo berada di sini itu karena gue, Baby. Seharusnya lo berterimakasih ke gue. Lo harus tahu, ngebujuk sikap keras Pandu itu gak gampang. So.... jangan jutekin gue terus dong. Gue mulai tertarik sama cewek garang kayak lo.'
__ADS_1
Gelengan cepat menepis bisikan-bisikan sisa pembicaraan cowok resek yang terus saja mengganggunya. Geseran pintu pun terdengar yang membuat ia terkesiap.
Pergerakan langkah itu menyunggingkan senyumannya. Kepala menunduk dan mengucap salam pagi, "Selamat pagi pak Pandu."
"Selamat pagi."
"Morning Beb...."
Nasib buruknya kembali menyapa. Tatapan tajamnya sengaja ia arahkan menusuk ke pupil Yogi.
"Jangan mulai Gi. Kamu ke sini hanya membicarakan proyek kita. Bukan menggoda sekretarisku."
Sangat senang mendapatkan pembelaan dari si Bos.
"Clarine, kamu sudah bisa kembali ke ruangan kamu! Semua jadwal saya hari ini, tolong kirimkan melalui email saya saja ya!"
"Baik Pak."
Kedipan mata Yogi mencoba menggoda si cantik yang tak memperdulikannya. Pandu tersenyum geli melihat interaksi-interaksi nakal yang selalu Yogi berikan terhadap wanita incarannya. Pandu akan mendukung lebih jika itu benar-benar bisa merubah kebiasaan Yogi bermain dengan wanita-wanita bayarannya. Tapi, sepertinya Clarine sulit untuk ditaklukkan oleh Yogi.
"Ekhem! Fokus Gi!"
Yogi berbalik kembali pada posisi duduknya.
"Semua itu ada bayarannya. Kamu harus lebih rajin bekerja. Jangan suka berulah dan berusaha untuk berubah lebih baik lagi. Tunjukin tanggung jawab sebagai seorang pria. Aku yakin, lambat laun Clarine akan melihat sisi baik dari kamu. Dan barengin dengan Doa. Kalau niatan kamu benar-benar serius, Allah gak akan mengingkari janjinya untuk umatnya yang selalu berikhtiar. Lagian, Ibuk pasti udah nungguin kamu membangun keluarga kecil kamu sendiri. Beliau ingin ada seseorang wanita yang memberikan kasih sayangnya ke kamu."
Yogi yang awalnya banyak tingkah, kini terdiam menunduk mendengar penuturan menyentuh dari Pandu. Pandu yang mengenal banyak mengenai dirinya.
"Thanks lagi bro. Lo selalu orang pertama yang bisa ngebuat diri gue flashback siapa gue sebenarnya."
"Iya, Gi. Oh iya, kapan-kapan aku pengin deh ajak Jihan ke Panti. Tapi, belum nemu waktu yang pas sih."
"Atur aja ya, Ndu! Gue siap jadi supir lo berdua. Gue juga udah kangen banget sama Ibuk."
Rangkulan Pandu menyamarkan rasa sedih yang Yogi rasakan.
...🍁~🍁...
Pandu tidak pulang telat hari ini. Ia sudah berjanji akan membantu Jihan memilih beberapa pakaian mereka saat menginap di rumah Mama dan Papa nanti. Pandu pasrah dengan ulah istrinya yang selalu terlalu rempong menyiapkan barang-barang bawaan mereka. Padahal sudah berulang kali Pandu mengingatkan kepada Jihan bawa barang secukupnya saja.
__ADS_1
"Sayang.... masih banyak lagi ya? Kita belum sholat Isya loh. Mas juga udah mulai mengantuk."
"Sebentar lagi Mas. Masih pilihin alat-alat make up aku yang penting dibawa."
"Walaupun kamu gak make up, tetap cantik kok."
Jihan berbalik menghadap ke Pandu. Wajah tersenyum itu semakin mendekat dan menduduki paha Pandu. Jihan mencubit kedua pipi Pandu yang menatap Jihan dengan tatapan laparnya. Lapar ingin sekali melahap habis istrinya.
"Aku secantik apa sih Mas?" Suara itu sengaja ia samarkan seperti anak kecil.
"Secantik Bidadari Surga. Surga duniawi yang ingin sekali mas rasakan bersama kamu."
Bibir Pandu segera ingin mendapat penyatuan dari bibir manis istrinya namun gagal. Jihan menahan kening Pandu dan mulai berpindah posisi ke semula. Kembali membereskan perlengkapan make up nya dengan kegugupan yang menyerang dirinya.
"Ce-cepat bantuin aku Mas! Jangan.... mengkhayal terlalu jauh."
"Ck! Gak peka banget." Gerutu Pandu.
Jihan tersenyum canggung. Jihan tahu apa yang diinginkan Pandu. Tapi ia benar-benar malu dan ragu untuk memulainya.
Merutuki dirinya yang bodoh akan hal ini. Sebagai istri ia gagal memberikan kewajibannya.
...🍁~🍁...
Tangan gemetarnya mencengkeram kuat rambut ikalnya. Kamar berantakan. 4 botol minuman beralkohol sudah tandas tak bersisa. Tebaran puntung rokok di mana-mana. Dan beberapa alat panjang pipih berserakan di depan matanya. Sudah beberapa hari ini ia terus memeriksa. Hasil tetap sama. 2 garis merah.
"Aaaaaa....!! Brengsek lo David!!! Cowok brengsek!!! Hiksss.... hiksss.... Gue butuh lo sekarang.... Gue butuh lo....! Gue gak bisa nanganin ini sendirian. Gue takut Vid. Hiksss.... hiksss.... Gue takut...."
Gedoran pintu terus memaksa Mia agar membukanya. Tapi ia tidak punya nyali untuk itu. Dunia seakan berubah. Panggilan telepon darinya tak ada satupun yang direspon. David menghindarinya. Ia tak habis pikir hal ini akan terjadi. Kekacauan yang ia buat pasti sangat menghancurkan impian dan keluarganya. Ia benar-benar akan menjadi aib di keluarga ini. Keluarga yang sangat tak tersentuh oleh keburukan.
"Mia.... tolong buka pintunya Nak! Mia.... kamu kenapa?"
Panggilan-panggilan itu terus mengganggunya.
"I'm fine Ma, Pa. I'm fine."
Suara tangis coba ia tahan. Ia harus menyembunyikan hal ini serapat-rapatnya. Tapi sampai kapan? Perut akan membesar dan pola hidupnya akan berubah dari biasanya.
Menggugurkan bukan hal berani yang ingin ia lakukan. Mia tahu betul kesalahan besar yang telah ia perbuat. Tidak mungkin melakukan kesalahan lainnya. Namun, ia benar-benar tidak ingin hal ini terjadi. Hamil di luar nikah. Bahkan, pria itu tak ada rasa belas kasihan sedikit pun terhadapnya.
__ADS_1
...🍁~🍁...
...Bersambung..................