Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Hari Ini


__ADS_3

Pandu terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Sholat sepertiga malam telah ia lakukan. Mengaji sebentar dan melanjutkan dengan sholat subuh. Dirinya benar-benar sudah siap. Siap untuk menghadiri ke pernikahannya sendiri. Hari ini, hari dimana ia akan menyebut nama sang wanita di dalam ijabnya. Berjanji di hadapan semua orang dan sang khaliq untuk membawa dan membimbing wanita yang ia pilih.


Setelan Beskap melengkapi ketampanannya. Rombongan keluarga dan para sahabat sudah hadir dengan rasa bahagia mereka akan menyaksikan pernikahan Pandu. Kini, ia menunggu di dalam kamarnya. Menunggu waktu keberangkatan mereka ke kediaman wanitanya. Hari Jum'at menjadi pilihan yang terbaik.


Di waktu senggang seperti ini, timbul kejahilannya untuk menggoda Jihan. Pesan singkat ia kirim.


Pandu : "Assalamualaikum ukhti...."


3 menit tidak ada balasan. Membuat bibir itu manyun merasa sebal. Ia gagal. Namun, ada sebuah notifikasi whatsapp yang masuk. Dan itu Jihan.


Jihan : "Waalaikumsalam.... Jangan sok manis deh."


Pandu membaca pesan itu sembari tertawa. Ia pun membagikan emoticon tertawa lepas untuk mengolok Jihan.


Jihan : "Aku gugup." Melengkapi emoticon senyum nyengir.


Pandu merasa beda dengan cara bicara Jihan yang menyebut dirinya "aku". Biasanya, Jihan hanya terbiasa dengan aksen Jakartanya.


Pandu : "Aku?? Kok berubah lembut cara bicara kamu?"


Jihan : "Iihhh.... Emang gak boleh?! Ya udah gue ganti."


Pandu : "Eits.... jangan dong. Lebih enak didengar kalau aku kamu."


Jihan : "Kalu gitu, kamu juga dong. Gak usah terlalu formal nyebutin diri kamu saya."


Pandu : "Hahaha.... Ok, Jihan. Aku akan belajar terbiasa dengan kamu."


kembali memberikan emoticon senyum.


Pesan whatsapp mereka akhiri. Karena sudah dihimbau untuk mempersiapkan diri. Jihan yang ditemani Alya, Sekar, Anggini dan Hanum hanya bisa terdiam dan berdoa agar semua berjalan dengan khidmat. Genggaman tangan mereka mencoba menetralkan rasa gugup Jihan.


Para keluarga dan tamu undangan sudah mulai berada di area pelaminan. Dan panitia WO sudah menginfokan bahwa rombongan Pandu sudah semakin dekat. Tepat pukul 10 WIB, Pandu dan keluarganya tiba. Suara MC yang memandu berjalannya acara pun sudah mulai terdengar di telinga Jihan. Tarikan napas Jihan tak beraturan. Tak pernah ia segugup ini.


"Jihan, banyakin dzikir. Insyaallah semua berjalan lancar."


Anggukan saja yang ia lakukan. 1 jam menunggu, panitia WO itu kembali lagi dan meminta rombongan Jihan untuk turun ke bawah. Jihan berdiri dan dibantu para sepupunya. Kebaya putih payet dilengkapi selendang sebagai penutup kepalanya. High heels terasa menyulitkan jalannya. Tangan sudah keringat dingin. Senyuman coba ia ukir agar tidak terlalu kentara rasa gugupnya.


Pandu yang sudah duduk di depan penghulu dan di hadapan papa Jihan juga sangat gugup dan cemas. Ia takut akan melakukan kesalahan yang tak ia inginkan. Tak berapa lama, sorot matanya berhenti seakan terpaku saat kedatangan Jihan yang di dampingi Mama, Alya dan teman-temannya yang lain yang tak ia kenal.


"Masyaallah...." Ucapan itu terbesit sebagai rasa kagum dengan kecantikan Jihan saat ini. Lebih cantik berkali lipat dari hari biasanya.


Tapi, hal itu langsung ia tepis karena ia belum pantas mengagumi kecantikan seorang wanita terlalu lama karena Jihan belum halal untuknya. Jihan diarahkan untuk duduk di samping sebelah kiri Pandu. Mama Jihan memakaikan selendang di atas kepala Jihan dan Pandu. Keduanya saling menelan saliva dalam-dalam.


Penghulu mempertanyakan kesiapan Pandu. Pandu mengangguk sebagai jawaban. Jihan menunduk meremas tangannya yang berkeringat. Sedangkan Pandu, diarahkan untuk menjabat tangan papa Jihan. Dan papa Jihan memulai melafalkan ijab untuk menikahkan anaknya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Muhammad Pandu Pangestu Bin Almarhum Aji Pangestu dengan anak saya yang bernama Jihan Sajidah Salim dengan mas kawinnya uang sebesar Tujuh Belas Juta Dua Puluh Dua Ribu serta seperangkat alat sholat dibayar, tunai."


Papa Jihan menyentak tangan Pandu sebagai tanda kesiapan Pandu untuk mengucapkan ijab kabul.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Jihan Sajidah Salim Binti Ridwan Salim dengan maskawinnya uang sebesar Tujuh Belas Juta Dua Puluh Dua Ribu serta seperangkat alat sholat dibayar, tunai."


"Bagaimana para Saksi.... Sah....?"


"Sah!!" Seruan semua yang menyaksikan.


"Alhamdulillah hirobbil alamin...."


Hanya satu tarikan napas Pandu melafalkan ijab kabul dengan begitu lantang. Doa dipanjatkan penghulu untuk meminta doa keselamatan bagi 2 insan manusia yang baru saja halal di mata agama dan hukum. Rasa haru memenuhi ruangan. Mata berkaca-kaca sebagai rasa syukur.


Pandu memakaikan cincin nikah mereka yang telah Pandu persiapkan dengan begitu detailnya. Kilauan berlian melingkar indah di jari manis Jihan. Jihan pun begitu. Ia memakaikan cincin nikah ke jari manis Pandu. Air matanya terus saja mengalir. Kini, Pandu memegang ubun-ubun istrinya sambil membacakan sebuah doa dalam hati.


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Setelahnya, dengan gerakan lambat Pandu memegang kedua pipi Jihan dan mencium lembut kening Jihan. Desiran di hati Jihan terasa. Jihan menerima kecupan pertamanya dari Pandu. Wajah menunduk Jihan ia dongakkan dan tepat jatuh di kornea Pandu. Pandu mengulas senyum sambil masih terus membelai lembut pipi Jihan. Pandu mengarahkan tangannya ke hadapan Jihan. Jihan sadar apa yang diharapkan Pandu.


Dengan arahan pak penghulu, Jihan mencium tangan suaminya untuk pertama kalinya. Sungguh damai ia rasakan. Banyak yang mengabadikan pose mereka saat ini. Jihan dan Pandu pun mengambil beberapa foto saat mereka memegang buku nikah yang telah diberikan pihak KUA.

__ADS_1


Pandu tak sungkan lagi untuk lebih dekat dan memeluk Jihan dari samping sambil menyunggingkan senyuman manisnya. Jihan yang sedari tadi berperang dengan jantungnya hanya bisa mengikuti Pandu.


Tamu sedari tadi tak henti-hentinya berdatangan. Berat dan sesak pakaian yang Jihan kenakan sangat menguras energinya. Pandu yang baru saja datang dari Jum'atan melihat kondisi Jihan yang cukup mengkhawatirkan.


Tangannya menggenggam lembut tangan Jihan.


"Kita ke dalam dulu ya Jihan! Istirahat sebentar."


Jihan memang sudah tidak kuat lagi. Melihat kondisi Jihan yang sudah mulai tumbang, Pandu dengan cepat menggendong Jihan membawanya ke dalam.


Semua panik. Panggilan-panggilan untuk menyadarkan Jihan terdengar heboh. Pandu membaringkan Jihan di sofa.


"Mbak, tolong dilepas dulu sigernya!"


Pihak MUA yang merias Jihan membuka siger sunda di atas kepala Jihan.


"Jihan.... bangun Jihan...."


"Jihan.... Nak.... bangun Sayang...."


Mama dan Alya kelihatan panik.


Pandu berusaha tenang. Ia mengoleskan minyak angin di kedua sudut kening Jihan, tengkuk dan sedikit di area hidung Jihan. Mata itu berhasil bergerak kecil.


"Pandu...." Panggilan pertama Jihan membuat semua yang panik menjadi tenang.


Pandu mengelus pipi Jihan.


"Iya, ini aku Jihan."


Jihan ingin mengubah posisinya menjadi duduk. Pandu membantu dan ia ikut terduduk di samping Jihan sebagai senderan Jihan. Air hangat dari ibu Pandu, Pandu raih dan menuntun Jihan untuk meminumnya.


"Kalau sudah tidak kuat, kamu di sini saja Jihan. Biar kita yang menjamu para tamu."


Semua mengangguk setuju dengan usulan ibu Pandu.


Semua tertawa geli mendengar pengakuan Jihan. Jihan yang sudah fit, mulai kembali ke pelaminan untuk mengikuti prosesi-prosesi adat sunda. Dan tak lupa juga untuk saling berbaur dan memperkenalkan keluarga dan teman masing-masing.


"Alhamdulillah.... akhirnya kamu lepas lajang juga Pandu. Setelah sekian tahun ngejomblo baru sekarang dapat label halal."


Hahaha....


Tertawaan teman-teman Pandu meramaikan. Di acara ini, memang lebih banyak dihadiri teman, sahabat maupun rekan Pandu. Sikap Pandu yang baik, sopan dan ramah tak memustahilkan Pandu banyak di kelilingi orang-orang baik. Jihan terbiasa sendiri merasa kagum dengan circle Pandu yang asik. Mungkin kalau Alya tidak ada, hidup Jihan benar-benar kosong.


"Hahaha.... Jodohku memang tertulis di usiaku yang hampir kepala tiga. Mau bagaimana lagi." Pungkas Pandu.


"Tapi, gue gak nyangka banget Ndu. Cewek garang ini jadi jodoh lo."


Suara yang disengaja pelan oleh Yogi masih terdengar di telinga Jihan. Jihan kesal dan ingin melempar Yogi dengan garpu. Namun, Pandu sempat menghentikan aksi Jihan. Yogi dan lainnya melihat raut marah Jihan pun tertawa lepas.


...🍁~🍁...


Acara sakral mereka sudah berakhir dengan penuh lelah. Seusai makan malam bareng keluarga besar kedua mempelai, Pandu dan Jihan memasuki kamar Jihan yang sudah terhias dan terdekor begitu romantisnya. Taburan kelopak mawar merah di mana-mana. Jihan dan Pandu sontak merubah suasana menjadi canggung.


"Hmm.... aku.... boleh masuk ke kamar kamu Jihan?"


Pertanyaan bodoh Pandu coba ia pancing agar tidak terlalu hening.


"Hmm.... ya udah, silahkan." Jihan menjawab seadanya.


Kini, mereka benar-benar hanya berdua dalam satu ruangan. Mereka terduduk di pinggir ranjang. Cukup lama.


Sebenarnya, Jihan sudah merasa gatal dan gerah dengan kebaya yang ia pakai. Tidak apa kan kalau ia meminta bersih-bersih diri lebih dulu dari Pandu.


"Pandu, aku.... mau bersih-bersih dulu. Udah gerah banget."


"Oh, iya. Silahkan. Ini kan kamar kamu. Kamu yang lebih berhak."

__ADS_1


Langkah cepat Jihan mengambil pakaiannya di lemari dan handuknya.


Pandu yang ditinggal, menghembuskan lepas napasnya. Ia menggaruk kasar kepalanya yang tak gatal.


'Kenapa jadi grogi gini sih? Bisa-bisa, Jihan mikir yang macam-macam.'


Untuk menghilangkan grogi dalam dirinya, Pandu membaca 1 novel milik Jihan. Berharap pikiran liarnya menghilang.


1 jam lebih Jihan baru selesai dari ritual mandinya.


"Hmm.... Pandu, aku udah selesai. Kalau kamu mau mandi, aku udah siapin air hangat buat kamu. Ini handuknya."


Pandu bangkit dan mengambil handuk pemberian Jihan.


Jihan segera mengeringkan rambutnya yang basah. Dan menggunakan pelembab wajah agar kelihatan lebih fresh. Ia bingung. Apa yang harus ia lakukan di saat mereka berdua di dalam kamar. Otaknya selalu berputar memikirkan hal itu. Dan pintu kamar mandinya bergeser menandakan bahwa Pandu telah selesai.


Pandangan mereka bertemu. Pandu terkejut melihat Jihan yang tepat berada di hadapannya. Mereka membeku sesaat. Pandu terpesona memandang wajah cantik Jihan yang kini telah menjadi istrinya. Tangan itu ingin membelai wajah mulus Jihan. Namun, ia tersadar bahwa ia telah berwudhu.


"Astaghfirullah.... maaf Jihan."


Jihan yang bingung hanya terdiam dalam kecanggungan.


"Kita sholat isya dulu ya!" Ajakan Pandu.


Jihan yang mendengar ajakan Pandu, menjadi bingung dan gugup. Sholat? Jihan benar-benar sudah melupakan bacaan dan tata cara melakukan kewajibannya sebagai umat muslim. Pandu melihat kegugupan Jihan.


"Jihan.... ayo sholat!" Pinta Pandu lagi.


Mau tak mau, Jihan mengakui semuanya.


"Pandu, aku.... udah lupa cara sholat."


Pengakuan Jihan sontak membuat Pandu terkejut. Dalam pikiran Pandu, selama ini Jihan telah berbohong padanya jika Jihan mengatakan bahwa ia menstruasi saat akan selalu diajak sholat.


Pandu berkacak pinggang dan menatap Jihan lekat-lekat yang saat ini sedang menunduk.


"Jadi, selama ini kamu bohong sama aku. Kenapa Jihan? Kamu kan bisa jujur aja. Aku bisa ngajarin kamu kok."


"Maaf.... aku malu Pandu."


Pandu menghela napas dengan jawaban Jihan.


"Sholat itu wajib Jihan."


Jihan tahu itu. Tapi, setan yang selama ini menghasutnya lebih kuat daripada keimanannya."


"Ya udah, sekarang aku ajarin kamu berwudhu dulu. Setelahnya, kamu ikuti gerakan sholat aku. Nanti, aku kasih tahu bacaan sholatnya dan tata caranya yang benar. Ayo!!"


Ini kali pertama Pandu menjadi imam untuk Jihan. Menuntun dan membawa Jihan ke jalan Allah. Ia sadar, setiap manusia itu pernah berbuat salah. Tapi, pasti masih ada jalan yang Allah berikan untuk umatnya bertobat merubah jalan yang semula bengkok menjadi lurus. Jihan hanya perlu dorongan darinya.


"Amin...." Doa telah ia pimpin.


Pandu memutar badan menghadap Jihan. Tangannya ia arahkan ke hadapan Jihan. Jihan mencium tangan Pandu dan senyum mereka pun terukir. Jihan tak kuasa menahan kegugupannya di kala Pandu mencium lembut kening Jihan. Mungkin, ini menjadi kebiasaan baru Pandu terhadapnya. Tapi, itu benar-benar membuat Jihan merasa tak biasa. Pandu tak tahu bagaimana perasaan Jihan saat ini. Malu, senang dan nervous.


"Kamu masih bisa mengaji Jihan?"


"Hmm.... mungkin, udah banyak yang terlupa Pandu. Aku benar-benar gak pernah sholat dan ngebaca Al-Quran lagi. Semenjak lulus sekolah, aku masuk Universitas di Amrik. Di sana, aku merubah pola hidup aku. Lebih liar, berperilaku seenaknya dan lupa dengan kewajiban aku sebagai umat islam. Aku malu sama kamu. Maaf ya Pandu, aku jadi ngerepotin kamu dan membuat malu kamu juga kalau orang-orang tahu aku sekafir ini."


Pandu tak mempermasalahkan apa pun. Selagi Jihan mau berubah dan belajar, ia sanggup menuntun Jihan walau agak sedikit susah.


"Aku gak pernah ngerasa direpotin sama kamu Jihan. Kamu memang sudah jadi tanggung jawab aku sekarang. Kita sama-sama belajar ya!"


Jihan senang dengan respon Pandu. Ia berjanji akan merubah jalan hidupnya.


Akhirnya, Jihan dan Pandu bisa tidur terlelap. Dengan begitu lamanya mereka mengobrol agar rasa canggung itu hilang. Hingga tak sadar, kelopak mata mereka sama-sama kelelahan dan tertidur dalam 1 selimut namun tersekat oleh guling di tengah-tengah mereka.


...🍁~🍁...

__ADS_1


Bersambung...................


__ADS_2