Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Pengantar Makanan??


__ADS_3

Kepulangan majikannya menjadi waktu yang ia tunggu-tunggu. Hal mengejutkan ini harus ia sampaikan segera. Perubahan yang tak biasa dari Mia sangat kentara. Setiap pagi dari balik kamar Mia, Bibik mendengar suara-suara rintihan lemas, mual dan tangis. Setiap Bibik masakin makanan pun selalu tak habis. Bahkan tak disentuh sama sekali. Bibik yakin, test pack itu memang milik Mia.


Kabar ini Bibik coba tahan sampai kedua majikannya pulang. Tepatlah hari ini. Mumpung Mia tak ada di rumah. Bibik harus segera memberitahukan semuanya.


"Biar papa saja yang bawa kopernya Ma!"


"Selamat malam Pak, Buk." Bibik menyambut.


"Malam Bik."


Sampai kamar pun Bibik tetap mengekori langkah Tuan dan Nyonya nya.


"Bibik, ada perlu apa? Kok ikuti kita terus sih? Atau, Bibik mau tidur bareng kita juga. Hihihi...." Canda nyonya nya.


"Iya, Bik. Ada apa?"


Bibik masih berdiri gusar. Menggaruk tengkuk bingung mengawali pembicaraan seperti apa. Beliau tidak yakin Mia akan baik-baik saja. Tapi, tanpa diberi tahu pun semua pasti akan terbongkar.


"Hmm.... Pak.... Buk...." Wajah pucat pasi.


"Kenapa sih Bik?" Mama Ikke memaksa cepat Bibik berbicara.


"Ada yang mau bibik sampaikan. Tapi tolong, Ibuk sama Bapak jangan langsung murka."


"Ada apa sih Bik? Tolong jangan bertele-tele!"


Dengan gemetaran, Bibik menunjukkan satu benda pipih panjang yang tempo hari Bibik temukan. Mama Ikke yang lebih dulu menerima. Mama Ikke tak mengerti dan malah berpikiran konyol.


"Ya ampun Bik.... Bibik hamil lagi?? Hahaha...."


"Yang benar Ma? Sama siapa Bik? Hahaha...."


Gelengan cepat Bibik menyangkal pikiran konyol majikannya.


"Bukan saya Buk, Pak. Tapi non Mia."


Tertawaan itu masih tak berhenti. Bibik menghela napas gusar. Kedua majikannya masih tak mengerti maksud perkataannya.


"Ini test pack milik non Mia. Kemarin bibik langsung yang nemuin di tong sampah kamar non Mia. Non Mia hamil Buk, Pak."


Sepertinya sudah cukup jelas penyampaian Bibik. Hal itu pun membuat keterdiaman Mama dan papa Mia. Mereka seakan mencerna dulu pernyataan Bibik.


Bibik menunjukkan kembali semua test pack yang telah Bibik kumpulkan. 2 garis merah terpampang nyata. Semua sama-sama positif.


Mama Ikke luruh dan bergetar hebat pada tubuhnya. Merasa masih tak percaya dengan kabar sang anak yang ia terima. Papa menggeram, mencengkeram kuat jari jemarinya.


"Mana anak itu sekarang?! Anak BIADAB!!!"


Amukan Tuannya sulit untuk dikendalikan. Berbagai sumpah serapah ia ucapkan. Bibik tambah bingung bagaimana menengahi masalah ini nantinya kalau Mia benar-benar sudah berada di rumah ini.


...🍁~🍁...


Jihan kembali berkutat pada kotak-kotak bekalnya. Hari ini, sesuai request Pandu. Ia dimintai untuk memasak makanan yang ia mau dan menemaninya selama di kantor. Baru setelahnya, mereka akan pamit pulang ke rumah mereka kembali.


"Bik, saya mau langsung berangkat ya. Tolong jaga rumah ya Bik!"


"Siap Non. Hati-hati ya Non."


"Ok, Bik. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam Non...."


Jihan meminta tolong supir pribadi Papa untuk mengantarkannya ke kantor Pandu. Ia tak membawa mobil sendiri karena takut akan repot seperti kemarin. Pandu tak ingin melihat istrinya mengemudikan mobil sendiri. Dan perdebatan pasti akan terjadi.

__ADS_1


"Non Jihan istri idaman banget. Makan siang dimasakin dan langsung Non sendiri yang antar. Minta tolong antarkan ke saya juga bisa kok Non." Pungkas pak Anwar.


Jihan tersenyum sekilas dengan pernyataan pak Anwar.


"Gak apa-apa kok Pak. Ini permintaan mas Pandu. Sekalian minta ditemani juga Pak. Saya sih senang. Melayani suami sudah kewajiban istri kan Pak?"


"Hahaha.... Baiklah Non. Non memang kelihatan lebih bahagia bersama den Pandu. Langgeng-langgeng ya Non."


"Amin.... Terimakasih Pak."


Kantor Pandu sudah terlihat. Ia merapikan kembali kondisinya. Sebagai istri seorang Bos akan menjadi pusat perhatian para karyawan. Ia tak ingin mengecewakan Pandu.


Mobilnya telah berhenti tepat di depan gedung kantor Pandu. Sang Supir membukakan pintu mobil untuk Nonanya. Paras Jihan terlihat, membuat kedua Security kantor Pandu berlari cepat dan menyambut manis kedatangan istri sang Bos.


"Selamat datang ibuk Jihan...."


"Terimakasih ya Pak. Hati-hati di jalan." Pesan Jihan kepada sang supir.


Jihan belum terlalu fokus dengan penyambutan 2 Security itu. Ia berbalik dan terkejut.


"Astaghfirullah...."


"Hehehe.... Selamat siang ibuk Jihan."


"Selamat siang. Kalian mengejutkan saya saja."


"Maaf Buk. Ibuk ke sini ingin bertemu pak Pandu kan? Mari saya antar Buk!"


"Sama saya saja Buk!"


"Saya saja Don. Kamu jaga markas!"


"Apaan sih kamu. Orang dari tadi saya terus yang ngejaga. Kamu keluyuran muluk."


Perdebatan kedua Security sangat memusingkan Jihan. Ia paham dengan mereka berdua yang ingin mencari muka terhadap dirinya.


"Gak perlu Pak. Saya bisa langsung ke ruangan mas Pandu sendiri tanpa harus dikawal. Bapak jaga di sini saja. Dulu, kalian pada ngusir saya. Kenapa sekarang bersikap manis seperti ini?"


Jihan langsung berjalan meninggalkan kedua Security itu dengan rasa malu mereka.


Baru masuk pintu utama Loby, paras wanita Resepsionis juga terlihat tengah menghampirinya. Membungkukkan dirinya dan memberi salam hormat.


"Selamat siang buk Jihan. Selamat datang di Warriors Group. Ibuk mau langsung ke ruangan pak Pandu kan? Mari saya antar Buk!"


Tatapan mencemooh Jihan ia tampilkan.


'Dasar penjilat.' Tutur batinnya.


"Gak perlu Sisca. Saya bisa jalan sendiri."


Melewati Sisca begitu saja yang masih betah berdiri dengan canggungnya. Namun, langkah itu ia hentikan dan kembali menghadap wajah Sisca.


"Tolong bersikap apa adanya kamu Sisca! Saya tidak perlu perlakuan manis kamu."


Kata-kata itu menohok hati Sisca. Ia kembali pada mode sinisnya.


"Iihhh.... Kesel banget gue!! Kenapa harus dia sih istrinya pak Pandu?! Kalah jauh banget gue. Cantiknya dia dan garangnya dia melebihi gue. Pak Pandu.... Sisca pengen banget jadi istri kedua Bapak.... Hiks.... hiks...."


Tepukan di pundak mengejutkannya.


"Jangan cari masalah kamu! Kamu tidak ada apa-apa nya Sisca. Hahaha...."


"Iihhh.... Mbak jahat banget sih!!!" Menambah kekesalan Sisca.

__ADS_1


Di dalam lift, Jihan membaca balasan whatsapp dari Pandu.


Mas Pandu : "Kamu langsung saja ke ruangan mas ya! Mas masih di luar. Sampai jumpa nanti Sayang. Love You."


Jihan tertawa sendiri membaca pesan manis itu.


TINGGG....


Pintu lift sudah terbuka. Ia berjalan ke setiap lorong di mana ruangan Pandu berada di pojok kiri. Setiap jalannya ia terus menatap ke bawah memastikan keranjang bawaannya dalam keadaan aman.


BUGHHH....


"Awww...." Rintihan sakit sama-sama mereka ucapkan.


Keranjang terguling dan beberapa map terhambur ke lantai. Rasa sakit mendera di area bokong mereka.


Saling mengusap bokong yang masih terasa nyeri. Dan mata Jihan membulat besar di saat ia mendapati keranjang bawaannya terguling.


"Ya Allah.... bekal mas Pandu!!" Teriak keterkejutannya.


Dengan cepat ia membenarkan posisi keranjang itu dan menelisik kotak-kotak bekalnya yang untungnya masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Alhamdulillah.... Masih untung tidak berantakan."


"Jihan....!!"


Panggilan itu menyentaknya dan memaksa matanya menatap ke arah sumber suara yang berada di hadapannya.


Masih dalam posisi berjongkok sedang membenarkan barang bawaan masing-masing. Mata mereka saling mengunci dan mulut itu sedikit terbuka tak percaya dengan pertemuan tak disengaja ini.


"I-ini.... benar.... kamu Ji-Jihan??" Tanya wanita di hadapannya lagi.


Jihan yang masih tak menyangka hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Hahaha.... Gue gak nyangka banget bisa ketemu lo lagi setelah sekian tahun lamanya. Lo masih ingat sama gue kan JI-HAN??"


Jihan tak memperdulikan pertanyaan itu. Ia dengan cepat mengangkat keranjangnya dan menegakkan dirinya yang semula berjongkok. Wanita itu kembali tertawa.


"Lo pekerja di sini juga? Atau.... lo pengantar makanan? Gue lihat, lo bawa banyak makanan banget."


Bagaimana bisa Jihan melupakan wajah antagonisnya yang dulu selalu menindasnya. Sekarang pun, dia tetap masih berkata mencela ke Jihan.


Wanita itu terus memperhatikan penampilan Jihan yang tengah sibuk membenarkan dressnya.


"Lo mau ketemu siapa sih di sini?" Masih dengan pertanyaan menyelidikinya.


"Mas Pandu." Jawab singkat Jihan.


"Oh, jangan-jangan itu makanan lo antar untuk Pandu ya? Sini! Biar gue aja yang kasih!"


Segera ingin menggapai langsung ditepis Jihan. Tatapan Jihan tajam karena tak suka dengan sikap lancangnya.


"Gak usah Clarine!! Gue bisa langsung antar sendiri ke ruangannya mas Pandu."


Clarine dengan posisi berdiri bersedekapnya berdecih mencemooh tak suka dengan sikap Jihan yang ia anggap sudah berani melawannya tak seperti dulu.


"HEH! Lo gak bisa sebebasnya masuk ke ruangan Pandu. Cuma gue sebagai Sekretarisnya dan karyawan penting yang boleh masuk ke ruangan Pandu."


"Oh, lo Sekretaris baru di sini. Good Luck ya."


Jihan tak ingin berlama-lama meladeni Clarine yang sangat kasar terhadapnya. Ia berjalan cepat ingin segera memasuki ruangan Pandu. Clarine yang sudah merah padam menahan emosinya berniat untuk mencegah Jihan memasuki ruangan Bosnya pun berhenti. Suara nyaring telephone kantornya bergema dalam 1 ruangan ini.


"Uuuhhhh.... Baru ketemu aja udah ngeselin." Geramnya.

__ADS_1


...🍁~🍁...


Bersambung...............


__ADS_2