Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Istriku


__ADS_3

Seminggu cuti, telah puas mereka habiskan untuk menata posisi perabotan rumah dan membeli apa saja yang diperlukan. Kini, mereka harus sudah kembali bekerja. Jihan yang telah stylish dengan dress selutut nya melangkah menuruni tangga. Menghampiri Pandu yang ada di dapur.


"Maaf ya, Ndu. Jadi kamu yang masak terus."


"Iya, gak apa-apa. Tapi, lain kali kamu harus belajar masak ya! Aku juga mau rasain masakan seorang istri." Mengerling ke arah Jihan.


"Asal kamu sabar aja nerima rasa nano nano dari masakanku."


2 piring nasi goreng tersaji di meja makan. 2 gelas susu panas juga mendampingi sarapan mereka.


"Biasanya, kamu pulang jam berapa Jihan?"


"Hmm.... jam 5 sih. Tapi, terkadang bisa cepat bisa lama. Tergantung padatnya pekerjaan."


"Kabari aku ya, kalau udah mau pulang! Biar aku jemput."


"Gak usah, Ndu. Aku pulang naik taksi aja. Atau minta tolong sama supir Papa untuk jemput."


Pandu menggenggam tangan Jihan.


"Jihan, aku ini suami kamu. Aku yang bertanggung jawab atas semua urusan kamu. Alasan aku melarang kamu membawa mobil kamu, karena aku gak mau kamu keluar pergi tanpa seizin suami. Dan apa pun yang kamu punya dulu dari harta kekayaan orang tua kamu, aku mau kamu meninggalkan itu semua. Hidup sederhana dari sepasang suami istri itu indah, Jihan. Kita bisa belajar bagaimana mengontrol ego, mengontrol keinginan, mengontrol sikap kita yang berlebih-lebihan dan pastinya belajar bersyukur apa yang kita punya. Seberapa pun itu."


Pandu membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa kartu debitnya.


"Aku mau kamu yang megang kartu ini. Kamu yang mengelola pengeluaran kita. Setiap bulannya aku transferin nafkah aku ke kamu. Kamu bisa gunain kapan pun kamu mau."


Jihan tercengang melihat keempat kartu debit yang disodorkan Pandu. Ia tak menyangka akan sepercaya itukah Pandu menyerahkan aset berharganya.


"Kamu yakin? Aku masih punya tabungan kok. Dan penghasilanku juga cukup memenuhi kebutuhanku."


Pandu menarik tangan Jihan dan meletakkan kartu debitnya di telapak tangan Jihan.


"Kamu yang berhak. Uang kamu uang kamu, uang aku uang kamu. Udah kewajiban aku menafkahi kamu sebagai istri aku."


Jihan masih bingung dan terkejut atas tindakan Pandu.


"Ini semua ada isinya? Terus, kalau kamu gak megang gimana mau beli ini itu yang kamu mau?"


"Hahaha.... ada Jihan. Aku punya satu. Dan ini kubutuhkan sesekali aja. Karena aku sendiri gak terlalu suka shopping kayak kamu."


Menyentil hidung Jihan. Jihan sebal di singgung masalah kebiasaannya itu.


Pandu bangkit dan meraih piring mereka yang kotor. Namun, dengan gerakan cepat Jihan mengambil alih.


"Aku aja yang cuci, Pandu. Udah kamu yang masak, masa kamu juga yang cuci. Gak berguna banget aku di sini."


Senyum Pandu menyadari perubahan Jihan.


Jihan sudah selesai membersihkan ruang dapurnya. Mencari Pandu yang tak terlihat. Dan beberapa menit kemudian, Pandu turun dari tangga sambil membawa sweater milik Jihan. Pandu menyampirkan sweater itu di pundak Jihan.


"Bahu kamu terlalu kelihatan. Aku gak suka Jihan."


"Kenapa? Ini fashion Pandu. Lagian, udah biasa juga kan aku berpakaian seperti ini." Racau Jihan.


"Aurat kamu kelihatan. Itu jadi dosa buat aku juga. Hmm.... akan lebih baik lagi kalau kamu pakai kerudung. Tapi, aku gak akan terlalu maksa kamu. Karena berubah itu lebih baik dari hati. Ayo!!" Menggenggam tangan Jihan.


Sepanjang jalan, Jihan terus saja ngedumel. Baru saja ia merasa melayang oleh tindakan Pandu, sekarang ia dihempaskan juga dengan penilaian Pandu mengenai pakaiannya.


Mobil Pandu berhenti tepat di depan gedung De' fashion tempat Jihan bekerja. Membukakan pintu untuk Jihan.


"Jangan cemberut lagi ya! Nanti aku jemput kamu."


Jihan tak menjawab. Pandu menjulurkan tangannya berharap Jihan menyambutnya. Jihan tahu apa yang harus Jihan lakukan. Tapi, ia malu dilihat orang-orang yang sedari tadi menatap mereka.


Bergerak cepat menyalami tangan Pandu dan berjalan cepat. Ia berusaha menghindari tatapan orang-orang dan gosipan orang-orang. Pandu tertawa kecil mengabadikan tingkah malu istrinya.

__ADS_1


...🍁~🍁...


Pandu sudah sampai di kantornya. Ia mengalami hal yang sama seperti Jihan. Para karyawannya selalu mengucap kata selamat atas pernikahannya. Bahkan, ia tak menyangka ada beberapa papan bunga bertengger di luar kantor sebagai kata ucapan yang dikirim oleh kolega-koleganya.


"Selamat ya Pak...."


"Selamat atas pernikahan Bapak...."


"Semoga cepat dapat momongan ya Pak...."


"Selamat menempuh hidup baru pak Pandu...."


Dan lebih banyak lagi.


"Pak Pandu, selamat atas pernikahan Bapak. Saya mohon maaf kemarin gak bisa hadir. Ini ada kado untuk Bapak dan istri Bapak. Diterima ya Pak!"


Wanita Resepsionis memberikan sebuah paper bag yang berisi kado untuknya dan Jihan. Pandu menerima dengan senang hati.


"Terimakasih. Nanti saya sampaikan ke istri saya."


"Iya, Pak. Sama-sama. Hihihi...."


Kepergian Pandu langsung mengubah mood wanita itu. Dalam hati, ia merasa sedih. Pandu adalah sosok Bos dan incarannya. Sikap centil dan manisnya tak berhasil menggoda Pandu.


"Kenapa kamu? Jangan pernah berpikiran lagi bisa dapetin pak Pandu. Derajat kamu sama Bos itu beda jauh."


"Iihhh.... apaan sih! Namanya juga usaha. Siapa tahu pak Pandu butuh istri kedua. Aku sih mau." Tersenyum genit mengkhayal yang tak pasti.


"Dasar ulat cabai. Kalau kamu tahu siapa istrinya pak Pandu, pasti malu deh kamu."


"Yang terpenting cantikan aku kan. Sirik. Wlekkk...."


...🍁~🍁...


Baru memasuki ruangan teamnya, Jihan dikejutkan oleh bunyian terompet-terompet kecil dan party popper sebagai penyambutan kedatangan Jihan.


"Selamat menempuh hidup baru, Jihan....!!!"


Sorakan dan tepukan tangan mereka menyentuh Jihan. Ia tak terbayangkan seperduli itu mereka terhadapnya.


"Oh My God.... Thank you...."


Pelukan mereka sangat erat. Selama ini, Jihan berpikir teman-teman seteamnya tidak perduli dengannya. Ternyata salah. Bahkan, mereka lah yang bersedia hadir langsung ke pernikahannya kemarin.


Di meja kerja Jihan, terdapat sebucket bunga yang ia sendiri tak tahu pengirimnya siapa. Tidak mungkin kan Pandu. Jihan berusaha mencari nama pengirim. Ada secarik kertas yang tertulis, "I'm sorry Baby."


Pikiran Jihan langsung tertuju ke satu nama. David. Ia yakin bunga ini kiriman dari David.


"Wow.... dari siapa Beb?"


"David sialan!!" Membuang bunga itu ke dalam tong sampah.


"Hahaha.... belum bisa move on kali dia sama lo."


Handphone Jihan berdering memunculkan pesan notifikasi dari nomor asing. Ia coba buka.


No name : "Baby.... aku masih cinta sama kamu. Aku mau kita balikan. Kita ketemuan ya!"


Jihan kesal pesan dari David sempat ia baca. Gerakan cepat ia memblokir nomor itu. Jangan sampai David menghubungi dan mengiriminya pesan lagi. Saat ini, ia betul-betul sudah muak dan melupakan masa-masa bodohnya ia dulu saat bersama David.


Di lain sisi, Pandu menahan amarahnya yang sedari tadi di ganggu Yogi dan Raska. Mereka berdua selalu menggoda Pandu.


"Ndu, lo itu laki-laki normal. Masa lo gak ada nafsu sedikit pun ke istri lo? Jihan cantik, Bro. Kalau gue jadi lo, udah gue hembat tuh cewek."


Pandu melayangkan mata tajamnya ke arah Yogi.

__ADS_1


"Hahaha.... santai, Ndu. Nih ya, gue punya obat kuat. Sisa yang kemarin. Entar, gue kasih deh buat lo. Supaya tahan lama Bro. Hahaha...."


Pandu sudah tidak kuat mendengar olok-olokan temannya. Ia bangkit dan mendorong Raska dan Yogi agar segera keluar dari ruangannya.


"Kalau kalian berdua cuma mau ganggu aku aja, mending keluar ya!"


"Ndu, gue serius. Lo harus coba obat kuat gue nantinya. Ok Bro."


"Hahaha.... kalau lo gak sanggup, gue mau kok gantiin posisi lo, Ndu." Yogi si mesum.


"Keluar!!"


BAMMM!


Bantingan pintu pun ia lakukan. Pandu memijat keningnya yang sudah tegang menghadapi kedua temannya. Ia pun menjadi tak fokus. Alhasil, Pandu merebahkan tubuhnya di sofa panjang miliknya. Menatap langit-langit atap ruangannya. Bayangan wajah cantik Jihan seakan berputar di atas kepalanya. Senyuman Pandu merekah. Dia memang sudah sangat gila terus-terusan membayangkan wajah istrinya.


Pandu menscroll nomor-nomor yang ada di handphonenya. Tujuannya ialah nomor Jihan yang telah ia simpan dengan sebutan "Istriku".


1 panggilan tak terjawab. Panggilan kedua pun juga tak terjawab. Pandu sedikit kecewa. Tapi ia tak gencar. Mengirim pesan whatsapp sebagai gantinya.


Pandu : "Assalamualaikum, Jihan. Siang ini kamu sibuk gak?


Masih menatap layar handphonenya. Menunggu jawaban chat dari Jihan.


Jihan : "Waalaikumsalam, Ndu. Lumayan sibuk. Ada apa Pandu?"


Pandu menghela napas. Rencananya, kalau Jihan tidak sibuk ia ingin mengajak Jihan makan siang bersamanya.


Pandu : "Penginnya ngajak kamu makan siang bareng. Tapi, kalau kamu sibuk gak apa-apa kok."


Jihan : "Iya, maaf ya. Lain kali deh. Ok?"


Pandu : "Ok, Jihan. Jangan lupa sholat ya!"


Emoticon tersenyum menjadi akhir pesan whatsapp dari Pandu.


Jihan mengira handphone berdering disebabkan David yang menelepon. Ternyata Pandu. Mood Jihan hari ini tidak baik. Nomor-nomor asing terus saja berusaha menelepon dan mengirimi pesan yang tidak penting. Jihan kesal terus-menerus di teror David.


"Han, kayaknya ada yang hilang deh rancangan lo."


Andrew mengumpulkan dan mencari rancangan-rancangan mereka yang sudah disiapkan 1 bulan lalu. Hal itu menyita perhatian Jihan.


"Hilang?! Kok bisa? Coba dicari lagi, Drew!"


"Gak ada Han."


"Duhhh.... kok bisa sih? Kita udah gagal ikut event. Jangan sampai edisi terbaru kita gagal rilis juga."


Andrew menggaruk kepalanya kesal. Jihan menelungkupkan kepalanya di meja. Lagi dan lagi ia harus mengulang semuanya.


...🍁~🍁...


Jam di tangan sudah menunjukkannya harus pulang. Dengan apa yang terjadi hari ini harus ia lupakan. Masih ada hari esok untuk memulai semuanya.


"Gue pulang duluan ya. Jangan terlalu dipikirkan kekacauan ini. Nanti kita rancang ulang aja. Bye semua."


Merasa bingung dan asing dengan perubahan sikap Jihan. Mereka kira Jihan akan marah besar dan meminta mereka untuk menetap lembur menyelesaikan masalah.


"Itu benar Jihan? Kok beda banget ya? Gak kayak biasanya. Benar gak guys?"


"Bagus deh. Kerja tanpa beban itu lebih nyaman. Udah yuk pulang! Besok kita harus tetap kerja keras."


...🍁~🍁...


...Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2