Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Berbagi Kisah


__ADS_3

Pikiran liar Pandu sangat salah. Ia mengira Jihan akan memberikan dirinya sepenuhnya malam ini. Ternyata zonk.


Kini, ia pasrah duduk manis menunggu Jihan menata beberapa cemilan dan menghidupkan laptopnya. Berusaha mencari sebuah film yang sepertinya ingin ia tonton.


"Aku sama kamu dipertemukan secara mendadak. Kita gak pernah pacaran dan ngedate sekalipun kan. Jadi, malam ini aku mau ngerasain nonton bioskop ala rumahan. Kita nonton dari laptop aku aja ya!" Mengerjap-erjapkan matanya.


Pandu mengangguk pasrah menuruti kemauan Jihan. Menonton sangatlah membosankan baginya. Apalagi, film yang diputar Jihan bergenre romansa. Kisah klise yang membosankan menurutnya. Tapi tetap ia tak mau mengecewakan. Lampu yang temaram malah mendukung rasa kantuk yang coba ia tahan.


"Kamu suka film genre apa Pandu?"


"Hmm.... apa ya?" Bingungnya ia mencari tahu kesukaannya dalam perfilman.


"Kaku banget sih. Pantes aja semua koleksi buku-buku kamu membosankan. Gak ada novel yang bisa aku baca."


Seketika, Jihan mengingat kembali 1 buku usang yang pernah sempat ia buka. Mata Jihan terfokus ke layar laptop tapi pikirannya malah ke buku usang itu. Jarinya menghentikan film yang terputar. Ia penasaran dengan hati Pandu.


"Kenapa berhenti nontonnya?" Tanya Pandu.


Jihan menatap lekat mata sejuk Pandu. Dengan hanya dibantu cahaya lampu dari layar laptopnya.


"Aku boleh tahu gak, masa lalu kamu dengan Sulis dulu?" Pertanyaan itu ia beranikan keluar dari mulutnya.


Pandu menatap bingung tak percaya.


"Kamu yakin pengen tahu?"


Anggukan kecil Jihan memberi jawaban yang sebenarnya ragu untuk ia pastikan bahwa dirinya akan baik-baik saja.


"Kamu janji dulu jangan marah, ngambek saat mendengar semua ceritaku dulu dengan Sulis."


"Iya Pandu!!" Memutar bola matanya malas.


"Hmm.... mulai dari mana ya?" Mulai mengingat rangkaian kisah asmaranya dulu bersama Sulis.

__ADS_1


"Yang jelas, aku dan Sulis udah kenal sejak kecil. Kita sering main bareng, ke kebun Abahnya bareng. Soalnya, dulu Abahku buruh tani juragan Broto. Pastinya kita selalu sering ketemu. Kita satu sekolah yang sama. Pulang pergi juga barengan. Bisa dibilang terjebak friendzone. Hingga, dari kita masing-masing udah sadar akan perasaan yang tumbuh."


Pandangan Jihan tak lepas dari mata Pandu.


"Kedekatan kita semakin intens. Kamu tahu kan juragan Broto itu seperti apa? Selama itu, beliau berpikir aku hanya bisa diperalat untuk ngejaga Sulis dari pergaulan mana pun. Ternyata, rasa ketertarikanku diketahui juragan Broto. Beliau marah. Beliau gak mau putrinya juga memiliki ketertarikan dengan anak buruh tani sepertiku. Mulai dari situ, Abah selalu diperlakukan semena-mena, tak digaji, dicemooh, dihina, difitnah yang tidak-tidak."


Jihan terdiam mendengar serius cerita lama Pandu. Ia sedikit membayangkan begitu besar rasa cinta Pandu yang terhalang restu orang tua Sulis.


"Aku gak terlalu menyalahkan orang tua Sulis. Siapa juga sih, yang mau memberikan putrinya ke seseorang yang tidak pasti bisa menjamin kebahagiaan putrinya?"


"Mereka hanya menilai kamu dari covernya doang. Mereka gak melihat kamu dari perjuangan dan pengorbanan kamu. Buktinya, sampai kamu sesukses ini pun, mereka tetap menghina kamu kan Pandu."


Jawaban Jihan menarik senyum kecil di bibir Pandu.


"Iya, aku tahu. Maka dari itu aku memilih menyerah. Bukan berarti, aku ingin disebut pria pengecut. Untuk apa seberusaha mungkin memanjat tembok yang tinggi kalau di atasnya tetap berkawat besi. Aku juga udah berulang kali meminta kembali restu kepada orang tua Sulis. Bahkan, aku dulu sedikit sengaja memunculkan sikap angkuhku menunjukkan kesuksesan yang udah ku raih. Hasilnya tetap nihil. Beliau tetap memandang rendah dan menilai ini semua kebohongan. Aku juga udah mendengar kalau selama aku merantau, Sulis udah dijodohkan oleh pria lain. Lebih baik memilih mundur, rela dan ikhlas. Walaupun perasaan itu sulit hilang."


DEG....! Jantung Jihan seakan serasa berhenti. Mata Jihan menatap lekat wajah menunduk Pandu. Jari jemari Jihan terlihat saling meremas.


Menggenggam dan mengelus jari jemari itu. Memberi kecupan hangat agar reaksi hati Jihan seakan normal.


"Setelah hadirnya kamu, perasaan itu seratus persen sembuh. Luka itu, rasa capek, rasa kecewa berganti tawa dan bahagia. Wanita garang, judes, cerewet, ketus, angkuh dan suka berkata kasar ini yang justru berhasil menyempurnakan hidupku. Bahkan, keluarganya sangat menerimaku. Orang tua kamu tidak menilaiku dari harta. Melainkan dari agamaku, imanku, dan tanggung jawabku."


Mata Jihan mulai berkaca-kaca. Hatinya menghangat.


"Papa kamu berpesan, manjakan putrinya dengan ilmu agama bukan harta. Pesan itu sangat menyentuh. Itu yang membuatku semakin percaya diri dan lega saat membawa kamu bersamaku. Aku gak merasa takut sekiranya suatu saat nanti semua apa yang aku punya di dunia ini diambil habis oleh yang kuasa. Karena aku yakin, orang tua kamu bukanlah gila harta dan kasta. Dan kita harus sadari, semua apa yang kita jalani ada campur tangan kekuasaan Allah. Perencanaan Allah untukku sangat indah. Dihadirkan seorang bidadari cantik untuk menemaniku sampai hari tua nanti dan surga nanti. Jihan Sajidah Salim, aku akan selalu mencintai kamu."


Lingkaran erat kedua tangan Jihan di perut Pandu pun tak terelakkan. Jihan mendamba sosok Pandu yang terus berhasil membuat ia merasa diratukan. Malah, Jihan yang merasa amat bersyukur dipertemukan dengan sosok pria yang benar-benar menyayangi dan menghargainya.


"Jihan, kalau kamu ada masalah sebesar atau sekecil apa pun itu cerita ke aku ya! Aku ingin di hubungan kita ini saling terbuka, saling percaya. Aku gak mau selalu melihat kamu uring-uringan sendiri. Aku sebagai suami kamu juga ingin membantu."


Jihan melonggarkan pelukannya. Wajah lesunya ia tampakkan mengingat kembali masalah-masalah rumit dalam pekerjaannya.


"Rancanganku lagi kacau Pandu. Aku gagal. Mia benar-benar merencanakan semuanya."

__ADS_1


"Mia? Mia.... siapa Jihan?"


"Mia temanku dulu. Teman yang berubah menjadi musuh. Aku gak tahu kenapa dia berubah menjadi membenciku."


"Apa kamu pernah berbuat salah ke dia?"


Gelengan cepat Jihan berikan. Ia tidak merasa membuat kesalahan apa pun.


"Bahkan, Mia orang pertama yang dulu aku percaya. Dia orang pertama yang membuat aku merasakan indahnya pertemanan. Kamu tahu, dari dulu sampai sekarang aku gak pernah punya circle. Gak ada yang mau mengenalku, gak ada yang mau menyapaku, basa basi sedikit pun gak ada. Aku dulu selalu di asingkan. Dikatain manja, cupu, kutu buku, mata empat. Mama sama Papa gak tahu hal ini. Aku sering speak up. Tapi Papa selalu menyangkal itu. Papa bilang itu hal biasa. Papa selalu menekankan untukku selalu bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mandiri. Jadi, apa pun yang orang-orang lakukan mau itu seburuk apa pun, aku cuma bisa diam. Melawan pun aku gak bisa. 1 banding 10 itu gak ada ngaruhnya. Mia, Mia yang dulu bisa sedikit membantu dan membela pada akhirnya juga ikut membully ku. Entah apa penyebabnya aku gak tahu. Sampai sekarang pun juga masih begitu."


Pandu menatap mata Jihan yang sedikit menyimpan luka. Senyum hambar dari sudut bibir Jihan pun mengekspresikan betapa kenangan-kenangan itu sangat buruk baginya.


"Alya. Alya yang dulu aku anggap terlalu jayus dalam pertemanan, yang selalu gak nyambung dan gak cocok dengan kepribadianku malah yang lebih setia. Aku benar-benar gak tertarik apa pun untuk lebih dekat sekadar hubungan sepupuan. Asal kamu tahu ya, aku itu dulu tertutup banget, flate, boring, diam seribu bahasa. Alya sering ngambek kalau aku udah mulai cuekin dia. Hahaha.... lucu banget kalau ingat masa-masa lalu, Ndu."


"Kamu itu gak ketebak banget sih. Baru aja aku sendu dengar cerita kamu, tiba-tiba langsung ketawa. Aneh." Mencubit pipi Jihan.


"Hahaha.... memang sih, cerita aku suram banget kalau diingat lagi. Cuma ya.... itu dulu. Sekarang, aku udah belajar gimana caranya ngelawan mereka semua. Sedikit info aja buat kamu. Mia itu selingkuhan David dari aku. Mungkin, masih banyak perempuan lain yang David sembunyiin dari aku dulunya. Alya yang lebih tahu cerita ini."


Pandu cengo mendengar siapa Mia sebenarnya. Dibalik kekacauan hidup Jihan selalu Mia ikut andil.


"Kamu baik-baik aja?" Pertanyaan itu yang terus berusaha ingin ia ketahui dari Jihan.


"I'm fine."


Senyum lebar coba Jihan ukir. Pandu tertawa puas menatap wajah konyol Jihan. Tangkupan kedua tangannya di pipi Jihan, menyatukan kedua pucuk hidung bangir mereka.


"Aku akan selalu di samping kamu Jihan. Jangan ragu untuk berbagi cerita apa pun yang kamu rasakan."


Jihan tersenyum manis dengan pengakuan manis Pandu.


...🍁~🍁...


...Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2