Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Crazy Girl


__ADS_3

Suasana Rooftop yang sepi cocok ia pilih untuk obrolan mereka. Pandu berdiri bersedekap bersender di pagar pengaman Rooftop. Menunggu pembicaraan awal Jihan. Jihan yang bingung memulai hanya berdiam bisu.


"Saya gak punya banyak waktu. Mau kamu apa?"


"Gue.... gu-gue.... gue...."


"Langsung ke intinya saja!"


Harga dirinya ia pertaruhkan.


"Gu-gue.... mau minta tolong lo jadi pacar pura-pura gue."


Napas berat Pandu terdengar.


"Begini ya, saya gak tahu masalah kamu seperti apa. Dan kalau saya tahu pun, itu bukan urusan saya. Saya kenal sama kamu aja itu karena kebetulan. Jadi, kenapa malah saya yang kamu kejar-kejar. Setiap harinya kamu selalu mengirim pesan ke saya, nelepon saya, belum lagi si Raska yang terus-menerus memaksa saya untuk bertemu sama kamu."


Pandu menjeda perkataannya. Sebenarnya ia merasa tidak enak berbicara frontal seperti ini di hadapan Jihan. Tapi ia harus tegas agar Jihan tidak terus-menerus mengganggunya.


"Saya ini punya orang tua, punya keluarga. Membohongi orang tua itu bukan tindakan yang benar. Saya benar-benar merasa terganggu dengan kamu."


Jihan si manusia keras kepala tidak berhenti berharap. Sepasang sepatu high heelsnya ia lepas dan dengan lututnya lah ia rela duduk bersimpuh. Ia tidak perduli dengan rasa malunya.


"Gue gak tahu minta tolong sama siapa lagi. Ini salah gue yang udah ngebuat drama. Gue anak pembangkang yang gak pernah mau dengerin omongan orang tua. Gue terlalu bodoh jatuh cinta dengan orang yang hanya ingin memanfaatin gue doang. Gue liar, gue angkuh, gue mabuk-mabukkan. Papa marah besar. Hal itu yang ngebuat Papa bersikeras menjodohkan gue dengan pria pilihan Papa. Gue gak mau. Dan disela-sela pertemuan kemarin, gue agak lega karena kedatangan lo. Kedatangan lo memberi sedikit harapan. Harapan perjodohan itu batal. Gue manfaatin lo demi kepentingan gue. Udah 2 kesalahan besar gue lakuin ke Papa sama Mama. Tapi, gue gak punya cara lain."


Jihan melihat reaksi Pandu. Pandangan Pandu tetap flate.


"Pandu.... gue benar-benar butuh bantuan lo. Gue janji akan bersikap baik ke lo."


Pandu memijat pelipisnya.


"Berdiri! Gak sepantasnya kamu seperti itu."


Gerakan lambat Jihan berdiri sambil membersihkan lutut kemerahannya akibat tergores pasir-pasir kasar di lantai. Sikap Jihan terlihat berbeda. Pandu mulai iba. Tapi tetap, keputusannya tak berubah.


"Maaf Jihan, saya tetap gak bisa. Aku bisa bantuin kamu untuk ngejelasin yang sebenarnya ke orang tua kamu. Tanpa ada kebohongan. 1 kali kebohongan akan menimbulkan kebohongan-kebohongan lainnya."


Jihan tertegun mendengarkan penolakan Pandu. Pandu berkata benar. Tapi Jihan yakin, Papanya yang otoriter tidak akan mungkin mau mendengarkan alasannya. Jihan menyerah. Memohon beberapa kali pun tidak akan merubah pendirian Pandu.


"Ok, gak masalah. Terimakasih ya sarannya. Papa gak akan mungkin mau mendengarkan penjelasan kita. Sorry, selama ini gue udah ngerepotin lo."


Berbalik dan pergi meninggalkan Pandu. Langkah lesu Jihan membuat Pandu bimbang. Dalam hati, ia mengkhawatirkan keadaan kedepannya Jihan.


...🍁~🍁...


Sekarang, Jihan mulai terbiasa berbaur bersama orang tuanya di rumah. Sudah mulai mendengarkan dan mengikuti apa maunya Papa dan Mama. Bagaimana kedepannya ia tidak perduli. Sesekali Papa menyinggung hubungannya dengan Pandu. Jihan hanya diam atau ia akan mencari pembahasan lain untuk mengalihkan.


"Jihan, seminggu kedepan Mama ada penyuluhan di Semarang. Papa juga katanya mau ke Kalimantan. Jadi, kamu di sini baik-baik ya. Kalau ada apa-apa minta tolong ke Bibik. Jangan lupa ngabarin Mama sama Papa."


"Iya, Ma. Jihan kan bukan anak kecil lagi."


Tatapan Papa intens ke Jihan.


"Jangan merasa bebas walaupun Mama sama papa gak ada di rumah. Papa udah nyiapin Bodyguard untuk ngejaga kamu."


"Iya, Pa...."


Jihan kesal dengan Papanya jika sudah berkata seakan memojokkannya.


"Tapi, kalau sesekali Jihan ada rencana keluar dengan Pandu, bolehkan Pa?"


Kerlingan nakal Mama benar-benar mengolok Jihan. Mama dan Papa belum tahu saja kalau semua ini hanya sandiwara.

__ADS_1


Jihan memang sudah melupakan dan tak mau mengungkit-ungkit hubungan palsu ini. Kalau saja sang Papa mulai menuntut kedatangannya Pandu, barulah ia menceritakan semua sejujur-jujurnya. Ia pun pasrah jika suatu waktu ia kembali dipaksa menikah dengan pilihan Papanya. Karena sampai kapan pun, hidup Jihan telah direncanakan. Direncanakan oleh takdir yang sebenarnya tidak ia impikan. Lambat laun kelopak mata itu lelah dan tertutup perlahan-lahan.


...🍁~🍁...


"Lo yakin kita gak akan ikut event itu?" Andrew, kaki tangan Jihan di teamnya.


"Iya. Lagian percuma juga. Kita udah ketinggalan jauh Drew."


"Sayang banget Beb.... Kita pasti bisa kok."


Andrew tidak terima keputusan Jihan.


"Lo gak lihat perjuangan mereka?"


"Itu bukan perjuangan namanya. Mereka males-malesan, suka libur tanpa seizin gue. Saat kejadian begini baru pada komplain."


"Jihan, lo sadar gak sih? Lo itu udah ngehakimi mereka muluk. Lo udah terlalu egois. Awal mula team kita jadi sebesar ini dan cukup dikenal karena siapa? Karena mereka. Kita bisa karena bareng-bareng. Kita gagal bareng-bareng juga. Jangan hanya 1 masalah semuanya lo ungkit-ungkit."


Sudah sebegitu banyaknya penyesalan yang Jihan terima. Sikap buruknya bukan hanya berdampak ke dirinya. Orang-orang terdekatnya pun terkena imbasnya. Ia benar-benar banyak belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia buat.


Hari ini, sangat terpaksa ia mengumumkan bahwa team mereka tidak akan melanjutkan event yang 3 bulan lagi akan berlangsung. Ia pun memberikan waktu break selama 1 bulan untuk mereka-mereka yang selama ini berjuang. Ada raut sedih di wajah mereka. Jihan berpesan, "Kegagalan bukan berarti kita kalah. Kita-kita yang berjuang adalah pemenangnya."


Saat melewati koridor kantor, tak sengaja Jihan melihat Mia dan mantan kekasih brengseknya sedang berada di ruangan Mia. Melihat mereka bermesraan membuat Jihan flashback dimana saat itu posisi Mia adalah dirinya. Tepukan di bahu Jihan menyadarkan lamunannya.


"Move On dari tuh cowok! Lo harus bersyukur. Tuhan itu lebih sayang ke lo. Dia tunjukin semua keburukan David. Dan lo akan dipertemukan dengan cowok yang lo butuhkan. Keep smile!!"


Andrew benar. Untuk apa ia menyalahkan takdir. Justru ia diselamatkan dari orang-orang yang selama ini membodohinya. Jihan mulai bisa ikhlas dan menerima semua terjadi pada dirinya. Langkah kakinya sebagai awal mula hidupnya yang baru. Kedepannya, ia akan mulai planning dengan baik. Ia tidak akan pernah takut menyusuri jalan berbatuan besar sekalipun. Keep strong!


...🍁~🍁...


"Hahaha.... kocak banget. Muke lo kayak bakpao banget. Mana ompong lagi. Hahaha...."


"Lo juga sama. Nih apaan nih. Hitam, cungkring. Kalau Raska ngelihat pasti dia nyesel banget nikah sama lo. Hahaha...."


Raut wajah Jihan sendu. Tapi, sepersekian detik senyumnya terbit untuk meledek wajah ketakutan Alya.


"Hahaha.... muka lo lucu banget saat ini."


"Apaan sih, Han. Gak asik tahu."


"Lo sih ngeselin. Kenapa setiap ngebahas masa lalu gue, lo langsung merasa bersalah. Padahal gue biasa aja. I'm happy with my life now."


Alya lega mendengarkan pengakuan Jihan. Sepupunya ini sudah menerima takdir yang ia jalani. Pelukan hangatnya menerangkan damainya hati.


"Terus.... bokap lo gimana? Masih nanyain soal Pandu? Gue takut lo bakal beneran dijodohin sama pilihan bokap lo."


"Yaaa.... mau gimana lagi? Gak ada yang bisa gue lakuin juga."


"Assalamualaikum Sayang...." Suara Raska terdengar.


Alya yang sumringah beranjak dari duduknya.


"Waalaikumsalam Sayang...."


Terkadang, terbesit di pikiran Jihan apa ia bisa memiliki pria idaman versi Raska kedua yang so sweet setiap saat. Merasa bersalah banget saat itu Jihan menilai buruk pria sebaik Raska.


"Eh, ada Yogi sama Pandu juga. Kalian kok pada ganteng-ganteng banget sih kalau pakai baju koko begini?"


"Hehehe.... baru pulang dari Jum'atan." Yogi menjawab.


Telinga Jihan samar-samar mendengar nama Pandu.

__ADS_1


"Ayo masuk Yogi, Pandu!"


Benar dugaan Jihan. Jihan dengan perasaan yang gugup, merapikan dan memasukkan barang-barang ke dalam handbag nya. Berniat untuk pergi agar tak terlihat oleh Pandu kalau ia ada di sini. Kejadian tempo lalu sangat memalukan baginya.


"Kenapa cuma mereka yang kamu suruh masuk sih? Suami kamu di luar gitu?"


"Hehehe.... gak dong, Sayang. Ayo, di dalam juga ada Jihan."


"Jihan?" Kali ini Pandu yang berbicara.


"Iya, Ndu. Jihan."


Langkah kaki mereka mulai semakin mendekat. Jihan terburu-buru mengambil sepatu high heelsnya. Berhasil dan mulai berlari.


"Loh, Han mau ke mana?" Seruan Alya menghentikan aksinya.


Melirik sedikit ke belakang. Memalukan banget buat Jihan. Di belakangnya, Alya, Yogi, Raska dan Pandu memergokinya seperti kancil berlari kabur setelah mencuri ketimun.


"Hmm.... gue.... gue mau pulang aja Lya. Bye....!"


"Kenapa lewat belakang Jihan? Kan mobil lo di depan."


"Gue bisa muter kok. Bye....!"


Jihan langsung pergi begitu saja. Pandu yang melihatnya sedikit bingung.


"Gue yakin, tuh cewek pasti malu sama kita. Karena kejadian kemarin."


"Kejadian apa?" Alya yang memang tidak tahu kondisi Jihan saat itu langsung bertanya.


Dan Yogi pun dengan semangat menceritakan kronologinya. Pandu jadi merasa tidak enak hati. Karena sekarang, Jihan menjadi bahan gunjingan Yogi.


...🍁~🍁...


"Jihan udah putus." Pengakuan Jihan. Lebih baik ia menyudahi semuanya.


"Apa? Putus?!" Mama yang sangat syok.


'Duh, Ma.... please, jangan lebay. Ini cuma boongan kok. Supaya semuanya clear.'


Jihan bingung dengan reaksi Papanya yang biasa-biasa saja.


"Bagus deh. Papa juga udah siapin pertemuan kedua dengan keluarga Nicho."


"Pa, mama gak setuju kalau Jihan sama Nicho."


"Ini sudah keputusan bulat dari Papa. Papa juga udah kasih kesempatan ke Pandu. Tapi sampai sekarang gak ada kejelasan kan?!"


"Pandu pasti keberatan dengan permintaan Papa yang terlalu cepat. Mereka berdua kan baru jadian Pa."


"Pacaran mau sampai kapan? Mau hal itu terulang lagi? Laki-laki yang Papa butuhkan buat Jihan itu, laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa dipegang janjinya."


Emosi Jihan memuncak. Menghentakkan sendoknya kasar agar Papa dan Mamanya berhenti berdebat.


"Udah dong Pa, Ma! Semua terserah Papa! Jihan cuma mau jadi anak penurut. Kapan pertemuannya? Biar Jihan persiapin diri Jihan sebelum ketemu dengan calon Jihan."


"Weekend besok. Tempatnya nanti Papa kasih tahu kamu ya."


"Ok. Jihan udah makannya. Mau langsung tidur."


...🍁~🍁...

__ADS_1


...Bersambung...................


__ADS_2