Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Terbuang


__ADS_3

"Tante.... Mia mohon.... tolong bantu Mia, Tante! Mia gak tahu tinggal di mana lagi. Hiks.... Hiks...."


"Tante gak punya pilihan lagi Mia. Kamu sendiri yang berulah, kamu juga harus yang bertanggung jawab apa yang udah kamu lakukan Mia. Tante, Mama dan Papa kamu udah berusaha maksa kamu akui siapa laki-laki bajingan itu. Tapi kamu tetap bungkam. Tante gak bisa tolong kamu Mia. Kamu aib besar dalam keluarga kita."


Mia menunduk sesenggukan. Ia tak mau David juga dalam masalah.


"Keluarga kita sudah tercoreng kelakuan kamu. Tante sangat kecewa Mia. Semua project kamu semakin kacau. Menyesal tante membiarkan Jihan keluar dari team. Itu semua sebab dari ulah bodoh kamu Mia!!"


"Tante, Mia memang salah. Mia minta maaf.... Beri kesempatan untuk Mia sekali lagi Tante. Please.... mohon Tante. Mia gak tahu lagi sama siapa Mia minta tolong. Mia juga takut menggugurkan anak ini. Berulang kali udah Mia coba. Perasaan Mia terlalu takut untuk membunuh janin ini Tante. Tolong Tante.... Hiks.... hiks...."


Stella tak mau mendengar apapun lagi permohonan Mia. Ia begitu kecewa. Mia yang selalu ia bela kini benar-benar tak bisa lagi ia maafkan. Perintahan tegas dari Stella kepada 2 security nya untuk membawa Mia keluar dari ruangannya.


Mia menatap sendu orang-orang yang sedari tadi menatap jijik terhadapnya. Tiada siapapun lagi yang tidak tahu aib Mia.


Ia berjalan cepat menunduk tak sanggup menahan malu. Ia benar-benar dibuang dan tak dianggap bagian keluarganya lagi. Sekarang Mia tak tahu harus berteduh di mana. Tidak memiliki siapa-siapa untuk menjadi peraduannya.


...🍁~🍁...


Silau matahari menembus celah jendela kamar yang sedikit terbuka. Hangatnya tata surya mengalahkan berat mata yang masih ingin terpejam. Mengusap kelopak mata perlahan. Melirik di sebelahnya dan tak ada siapapun.


Jihan tercekat dan mendudukkan dirinya secara tiba-tiba. Meringis sebentar merasakan rasa sakit yang masih betah mengusik perutnya. Merutuki dirinya yang terbangun kesiangan. Sampai sudah tidak ada Pandu lagi di sampingnya.


Membasuh wajahnya dan merapikan penampilan urakannya. Menuruni tangga perlahan. Semula murung karena tak sempat melihat Pandu. Hingga akhirnya ia menatap heran melihat kondisi rumahnya yang setengah rapi dan beberapa alat pembersih berserakan.


Aroma khas rempah tercium kuat dari arah dapur. Ia memutuskan untuk berjalan pelan melihat kondisi dapur yang semakin lama semakin terdengar berisik dari alat-alat dapur yang saling bergesekan.


'Apakah ada maling yang masuk di rumah ini? Tapi, maling mana yang berpikiran untuk bersih-bersih dan....'


Perang batinnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria bercelemek lucu tengah sibuk dengan pisau dan talenan.


"Mas Pandu! Mas Pandu kok belum berangkat? Jihan kira.... maling masuk rumah."


Yang disapa langsung melirik sebentar dan juga tersenyum manis.


"Maling hati kamu? Good morning Sayang. Udah enakan?"


Jihan berdecih dan semakin mendekat karena penasaran dengan apa yang sedang suaminya ini masak.


1 panci menguar aroma kaldu dan rempah-rempah segar. Jihan memandang heran ke arah Pandu yang masih asik memotong daun bawang serta sesekali mengaduk kuah segar dalam panci.


"Mas kenapa gak bangunin Jihan? Biar Jihan aja Mas yang ngelanjutin!" Pintanya.


"Kamu duduk aja Sayang! Tanggung. Hari ini dan kapanpun kamu perlukan, Mas bersedia untuk bereskan rumah, masak dan ngelakuin apapun yang kamu butuhkan. Ok?" Mengerlingkan matanya.


"No, Mas! Ini tugas aku sebagai seorang istri. Udah siang loh. Mas gak berangkat kerja?"


"Nanti aja Sayang. Udah kabari ke Clarine juga kok. Sekarang, mas mau mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengamankan kondisi kamu dulu, baru deh mas berangkat."


Jihan memijit pelan pelipis dan perutnya yang masih saja terasa nyeri. Meladeni Pandu menambah rasa pusing yang hinggap di kepalanya. Pandu sadar akan hal itu. Menghentikan aktivitasnya dan menggendong Jihan membawanya menuju ruang tamu.


Ia merebahkan tubuh Jihan di sofa. Menghidupkan serial Televisi dan menunduk di hadapan wajah Jihan.


"Jangan nakal ya! Kalau kamu ada perlu apa-apa, panggil mas!"

__ADS_1


Jihan mengangguk pasrah kalau Pandu sudah dalam mode seriusnya.


Sepanjang rasa bosannya menunggu Pandu selesai berbenah, Jihan selalu menjahili Pandu dengan memanggil namanya. Ia tersenyum di kala Pandu tahu itu hanya bohong.


Butuh waktu yang lama bagi pria yang melakukannya. Tapi semua terbayarkan dengan hasil yang memuaskan. Berjalan membawa nampan berisi 1 mangkok soup lengkap dengan nasi dan teh hangat.


"Sayang, makan dulu ya!"


Pandu membantu Jihan membenarkan posisi duduknya.


"Makasih ya Mas. Seharusnya Mas gak perlu serepot ini."


"Direpotin sama istri sendiri itu berpahala Sayang. Justru mas suka merasa dibutuhkan."


Jihan terlihat lapar sekali setelah mencium aroma segar dari soup buatan Pandu. Pandu paham. Ia langsung mengambil sesendok nasi dan memberikan kuah soup beserta potongan-potongan kecil daging ayam. Jihan membuka mulutnya lebar-lebar saking tak sabarannya.


"Aaaaa.... Hmphhh...." Menikmati setiap gigitan makanan dalam mulutnya.


Matanya berbinar ketika mendapatkan rasa segar, enak dan sangat pas dengan indera pengecapnya.


"Gimana Sayang? Enak gak?"


Jihan hanya mengangguk karena ia tengah serius menikmati soup nya.


Pandu menunggu Jihan sampai selesai. Setelah itu, barulah ia bersiap-siap untuk dirinya.


"Mas kok gak makan? Maaf Mas.... Jihan lupa dengan Mas yang belum makan saking enaknya."


"Iya, gak apa-apa Sayang. Nanti mas makan. Selesain aja dulu makan kamu. Mas mau mastiin kamu benar-benar kenyang dulu."


"Loh, Sayang! Biar mas aja yang cuci."


Jihan tak memperdulikan panggilan Pandu. Ia mencuci cepat wadah kotornya. Pandu hanya bisa menghela napas pasrah dan akan menunggu Jihan sampai selesai.


"Mas bantu ya?"


"Gak usah Mas. Mas makan gih! Sebentar lagi Mas ke kantor kan? Jihan udah baik-baik aja kok."


"Terimakasih ya Mas, udah sempatkan bantu bereskan rumah terus masakin untuk Jihan."


Pandu tersenyum simpul dan memeluk Jihan dari belakang. Ia menyenderkan dagunya di bahu Jihan.


"Sebenarnya mas malas ke kantor. Penginnya di rumah nemani kamu. Tapi, mas ada pertemuan dengan client mas hari ini."


Jihan membalikkan tubuhnya.


"Jangan jadikan Jihan sebagai alasan Mas. Jihan udah baik-baik aja. Don't worry. Ok!"


Memeluk erat Jihan.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi mas ya! Mas janji akan cepat selesaikan pekerjaan mas. Jangan lupa kunci pintunya Sayang. Jangan biarkan orang asing masuk ke rumah. Ok!"


"Iya mas Pandu...."

__ADS_1


Pandu melerai pelukannya. Mengecup kening Jihan cukup lama.


"Mas langsung pergi ya."


"Loh, Mas gak makan dulu?"


"Gak Sayang. Di kantor aja. Bye Sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Mencium tangan Pandu.


...🍁~🍁...


"Mau apa lagi sih Mia?! Lo dan anak lo ini mau gue bunuh!!"


"Please, Vid.... Ini anak kamu!! Tolong aku Vid! Aku udah gak punya tujuan lagi. Aku diusir Vid. Aku diusir sama keluargaku sendiri. Gak ada yang mau menerima aku dan anak ini."


David berdecih seakan mencemooh pengakuan Mia. Ia berulang kali menghujamkan tatapan menjijikkannya kepada Mia.


"Lo pikir gue mau nerima lo?! Lo pikir gue mau dengar omongan memelas lo ini?! Lo pergi dari kehidupan gue Mia! Pergi sejauh-jauhnya!!"


Genggaman Mia dan bersimpuhnya Mia di hadapan David sebagai tindak putus asanya. Ia bergetar hebat menahan isak tangisnya.


"Aku bodoh Vid. Aku udah terlalu bodoh membiarkan kamu hidup nyaman tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku menanggung semua kebodohanku ini sendirian. Hiks.... hiks...."


"Bahkan.... aku rela diam di saat semua orang menanyakan siapa pria yang menghancurkanku. Aku diam David. Aku rela membiarkan kamu sembunyi dari kesalahan kamu. Karena aku.... karena aku gak mau kamu hancur di tangan kedua orang tuaku Vid. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku.... Hiks.... hiks.... sangat mencintai kamu."


David kehilangan kesabarannya. Ia menyapu bersih air mata Mia dengan sorot mata tajamnya. Gerakan tangannya berakhir pada rambut ikal tergerai Mia yang ia tarik kuat hingga Mia mendongak dan menahan ringisan kesakitannya.


"Lo harus tahu Mia. Sampai kapanpun, sampai beribu kali pun lo mengemis di depan gue, gue gak akan perduli. Gue gak akan bodoh mencintai perempuan tolol kayak lo. Sekali lagi lo muncul di hadapan gue, gue pastiin lo bakal mati Mia. Mati di tangan gue sendiri. Sekarang lo pergi menjauh atau...."


Ia mengambil sebilah pisau yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya untuk suatu waktu niat busuknya ingin segera menghabiskan nyawa Mia kapanpun ia mau. Mia sudah cukup sangat menganggu hidupnya. Merusak rencana masa depannya dulu bersama Jihan. Dan kini, ia benar-benar menyesal sudah ceroboh masuk dalam permainan Mia. Mia hamil yang membuat ia selalu terganggu dengan penuntutan Mia terhadapnya.


"Gue bisa aja nusuk lo dan buang lo jauh ke jurang Mia. Gue udah muak dengan semua ocehan lo!!"


Mencengkeram kasar dagu Mia.


Ia menyeret Mia lebih jauh masuk ke dalam hutan yang sengaja David bawa Mia ke sana. Dia tak mau aksinya diketahui orang banyak.


Suasana semakin sunyi. David terus membawanya ke arah jurang yang sangat curam. Mungkin, teriakan dan rintihan rasa sakit Mia tak terdengar. Pikirannya terus berputar mencari celah untuk bisa lepas dan kabur dari kegilaan David. Hingga jelas luka gigitan Mia terbentuk di area telapak tangan David.


Pisau yang semula menggantung di hadapan leher Mia kini terjatuh. Dan lemah rintih sakit David, Mia manfaatkan dengan mendorong kuat tubuh David hingga terjatuh. Mia berlari sekencang-kencangnya mencari arah jalan keluar dari hutan ini.


Beruntungnya Mia segera mendapatkan cahaya terang yang menunjukkan bahwa ia sudah semakin dekat dengan jalanan yang semula mobil David terparkir. Dan 1 mobil pick up yg terlihat melintas segera ia hadang dan meminta pertolongan. Teriakan keras David yang terdengar tidak terlalu jelas menambah rasa cemasnya.


"Ada apa neng?!" Tanya keheranan si pengendara pick up.


Mia tak menjawab. Ia memaksa dirinya masuk ikut bersama si pemilik pick up. Dengan napas yang masih susah payah ia atur, Mia memohon untuk segera dibawa pergi jauh dari area hutan ini. Si pengendara iba dan segera melajukan pick up nya.


David yang baru saja keluar dari area hutan menggeram kesal saat usahanya gagal untuk melenyapkan Mia yang menyampah baginya. Ia berjanji, kalau Mia kembali mengusiknya ia pastikan di saat itu juga ia akan melenyapkan Mia.


"Gue kasih lo kebebasan Mia. Tapi sekali lagi lo muncul di hadapan gue, jangan harap lo selamat Mia. Gue gak akan kasih belas kasihan gue ke lo."


...🍁~🍁...

__ADS_1


Bersambung................


__ADS_2