Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Move On


__ADS_3

1 bulan terlewati. Semua rutinitas sudah kembali seperti biasa. Bahkan, lebih membuat Jihan kewalahan mengurus dan mengerjakan project yang harus ia selesaikan secepatnya. Memutar otak dalam menangani masalah-masalah yang ada.


Berulang kali ia membuang kertas yang coba ia poles menjadi sebuah rancangan. Tapi, selalu tak puas. Biasanya, kalau ruwet seperti ini, Jihan akan selalu menelepon David sekadar bermanja dan meminta support darinya.


"Ngapain sih lo Jihan.... masih mikirin cowok brengsek itu."


Diusap-usapnya wajah, berharap pikiran dan bayangan David menghilang. Mia si wanita ular benar-benar cari lawan. Mungkin, ia sengaja berusaha mengganggu hubungannya bersama David. Dengan begitu, Jihan akan selalu dibuat kesal dan selalu kurang fokus apa yang harus ia kejar dalam projectnya.


Panggilan video call masuk di handphone Jihan. Siapa lagi kalau bukan Alya dan suami barunya.


Jihan : "Ngapain sih lo pakai video call segala?"


Alya : "Jihan.... gue udah sampai di Paris. Gue happy banget...."


Jihan : "Ya ya ya yaaaa....! terus aja pamer kemesraan di depan gue!!"


"Hahaha...." Terdengar tertawaan Alya dan Raska meledeknya.


Jihan : "Kapan lo sama Raska pulang?!"


Alya : "Yaelah.... masih lama dong, Han. Baru juga nyampek. Gue sama Raska mau ngabisin waktu seminggu ini dengan happy happy. Pokoknya lo bakal kaget kalau gue secepatnya kasih ponakan ke lo. Hihihi...."


Jihan : "Idihhh.... ganas banget lo. Jangan lama-lama dong pulangnya Alya.... Gue gak ada teman hang out. Sepi banget."


Alya : "Makanya, cari cowok gih! Pengganti David banyak yang lebih keren dari dia. Move On lo!"


Jihan : "Gue udah Move On dari awal gue mutusin dia. Udah deh, gak usah ngomongin cowok gak guna. Sekarang ini, cowok sama semua di mata gue. Sama-sama brengsek."


Raska : "Eh, jangan ngomong gitu dong! Gue cowok juga loh. Lo belum saatnya aja dipertemukan dengan yang baik. Tuhan itu butuh perubahan sikap dan pemikiran dari manusianya. Kalau lo terus terusan mikir negatif ke semua cowok, bakal selalu merasa kekurangan muluk. Lo mau selamanya jadi perawan tua?"


Jihan memutar bola matanya jenuh dengan celotehan Raska.


Jihan : "What Ever! Udah dulu deh. Malas gue ngomong sama pengantin bucin."


Jihan yang menutup pembicaraan lebih awal. Langit sudah mulai gelap. Lebih baik Jihan pulang. Mengistirahatkan otaknya yang buntu. Mobil Mazda merahnya pun sudah melaju cepat meninggalkan area Basement.


Sesampainya di rumah, Jihan langsung disuruh duduk di hadapan kedua orang tuanya. Lebih tepatnya, sang Papa yang lebih mendominasi mereka.


"Kenapa Pa?"


Sebisa mungkin santai. Karena ia tidak mau berdebat lagi saat berbicara dengan Papanya.


"Minggu depan, tolong luangkan waktu kamu!"


"Memangnya ada apa sih Pa? Kita mau liburan ya?"


"Gak ada yang mau ngajakin kamu liburan. Pede banget."


"Yaaa.... terus apa dong?"


"Udah jangan bawel." Meninggalkan Jihan dengan pemikiran yang bercabang.


"Anak sama Bapak gak pernah akur. Pusing Mama lihat kalian berdua."


"Papa aja tuh yang bawaannya emosi terus." Sela Jihan.


Menemani Mama menonton adalah jalan jitu mengisi kebosanan. Mama type penonton yang baperan. Serial sinetron di Televisi menjadi favoritnya.


'Kalau saja Alya tidak menikah, aku bisa dengan bebas bepergian entah ke mana.'


"Jihan, lihat tuh! Enak banget ya punya suami romantis. Diperhatiin, digombalin dan disayang. Gak kayak Papa kamu, jutek. Kayaknya kamu turunan Papa kamu deh."


Arah mataku nyalang ke Mama.


"No, Ma!! Aku sama Papa berbeda ya. Papa itu singa. Galak banget. Ini salah itu salah."


"Gak ada bedanya Jihan. Pokoknya nih ya, kalau kamu sama Papa udah adu mulut gak ada yang mau ngalah. Mama yang pusing. Untung aja mama cuma punya 1 anak. Kalau aja anak mama banyak yang sifatnya kayak kamu, botak rambut mama."

__ADS_1


"Lebay banget sih Mama. Anak sendiri dikata-katain."


"Kalau bisa, besok itu kamu cari pasangan yang kalem. Biar sebanding dengan kamu."


"Kenapa ujung-ujungnya ngarah ke situ sih Ma?! Apa gak ada topik lain?"


Pembicaraan terlihat semakin serius.


"Mama gak mau kamu salah pilih lagi. Pacaran bertahun-tahun, eh tahunya di ghosting."


"Mama....!!" Jihan tambah kesal.


"Pesan mama, mama mau ada yang bisa menuntun kamu jadi lebih baik, lebih agamis. Selama ini, setelah kamu pulang dari Amrik kamu berubah total Jihan. Kamu jadi lupa dengan sholat dan gaya hidup kamu juga terlalu liar. Mungkin, putusnya kamu dengan David sebagai petunjuk dari Allah atas doa-doa mama."


Jihan terfokus ke mama yang sedang memberikan petuah kepada Jihan.


"Papa kamu yang galak-galak gitu, selalu yang paling khawatir loh ngelihat kamu jalan kesana kemari dengan David. Papa selalu marah sama kamu itu karena Papa sayang dan perduli. Papa gak mau putri satu-satunya jadi korban laki-laki bejat. Orang tua punya feeling yang kuat Nak. Sejahat apa pun anaknya, pasti doa-doa seorang orang tua gak pernah berhenti meminta, Sayang."


Jihan tidak menyangka apa yang ia lakukan selama ini telah banyak menimbun dosa-dosa yang ia buat dan ia berikan kepada kedua orang tuanya. Ia sangat mementingkan duniawi. Hingga ganjaran yang ia terima. Air mata menetes mulus di pipinya. Senyuman dan elusan lembut tangan Mama menambah deras dan sesak tangisnya.


Memeluk erat dan memohon ampun.


"Maaf Ma.... Jihan minta maaf. Jihan udah banyak berbuat dosa ke Mama sama Papa. Jihan gak bisa jaga martabat Mama dan Papa."


"Gak apa-apa Sayang. Semua manusia gak ada yang sempurna. Masih banyak yang berbuat salah."


...🍁~🍁...


Pandu menatap kosong langit-langit kamarnya. Rutinitas setiap hari seusai mengerjakan pekerjaannya. Dulu, sebelum menjadi apa-apa, Pandu sering berpikir kalau jadi orang sukses itu akan selalu bahagia. Ternyata tidak juga. Malah ia sangat bosan. Bekerja dari pagi sampai malam, berulang kali menemui client, bolak balik luar kota. Setelahnya tidak sibuk, ia hanya bisa berdiam diri di Apartemennya.


Jarak yang terpisah jauh selalu membuat Pandu rindu keluarganya sendiri. Terutama Ibunya. Alhamdulillah Ibu dan Adiknya sudah sangat merasakan kesuksesan yang ia dapat. Tapi, bukan hanya itu yang diinginkan seorang Ibu. Pesan dan harapan besar Ibu mengenai pendamping hidup Pandu kelak terus saja memenuhi stres di kepala.


Jujur, semenjak hubungan yang tak direstui itu, Pandu belum bisa menemukan penggantinya. Karena menurut Pandu, mencari wanita sebaik Sulis itu sulit. Bisa dibilang, Pandu belum bisa Move On. Tapi, tetap ia percaya dan yakin bahwa jodoh di tangan Tuhan itu sangat indah.


Malam mulai larut. Besok ia harus berbenah barang. Pindahan ke rumah baru menjadi rencananya.


...🍁~🍁...


Jihan dengan rambut yang urakan tertunduk lemas di meja kerjanya. Kekacauan tak terduga terjadi. Semua distributor kain pilihannya membatalkan bekerjasama. Mereka beralasan bahwa ada yang lebih dulu membooking dengan harga yang fantastic. Sangat di luar nalar. Pasalnya, selama ini mereka hanya memasok bahan-bahan kain terpilih ke team Jihan. Hal seperti ini pasti sudah ada yang ingin menyabotase projectnya. Pola-pola desain yang sudah ingin ia rangkai terbuang sia-sia.


Belum lagi, beberapa rekan teamnya tanpa permisi berhalangan hadir. Berulang kali ditelepon tidak ada tanggapan sama sekali.


"Aaakhhh....!! Pergi kalian semua!!! Gak guna banget kalian berdiri semua di sini!!"


Amukan Jihan membuat semua tegang. Hanya bisa pasrah menuruti perintah.


"Impian gue kacau! Hiks.... hiks.... Semua gagal, semua hilang. Gue benci hidup gue.... Hiks.... hiks.... hiks...."


Di balik kekacauan Jihan, Mia tersenyum evil. Ia merasa awal kesuksesannya akan dimulai.


'Dunia ini memang keras Jihan. Dan roda itu selalu berputar. Mungkin, ini saatnya lo yang di bawah.'


...🍁~🍁...


"Ndu, yakin nih barang-barang gak diangkut semua?" Yogi terlihat kebingungan mengatur perkakas Pandu.


"Gak usah, Gi. Yang penting-penting aja. Kalau misalnya aku pulang larut malam banget, mending pulang ke Apart aja."


"Lagian rumah lo jauh banget sih, Ndu."


"Cari lokasi rumah yang ternyaman, Gi. Di sini terlalu ramai. Berisik banget."


"Sekalian aja lo tinggal di hutan."


"Hahaha.... Jangan bosan-bosan mampir ya."


"Males gue. Kehabisan waktu di jalan kalau ke rumah lo."

__ADS_1


"Cuma 1 jam doang, Gi."


Perjalanan menuju lokasi rumah baru Pandu tidak begitu terasa melelahkan. Mereka selalu selingi dengan canda tawa. Seharusnya, Raska juga ikut. Namun, berhubung Raska cuti honeymoon, jadi hanya Yogi yang menemani dan membantu berbenah.


"Gila.... tambah keren aja nih rumah." Takjub Yogi.


"Ucap salam dulu dong, Gi."


"Gue lupa. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam.... Eh, nak Pandu sudah sampai. Kenapa tidak hubungi Ibuk dulu?"


"Hehehe.... Pandu lupa Buk. Kamar udah pada dibersihin Buk?"


"Iya, sudah nak Pandu. Cuma baru 1 kamar saja. Yang lain kan masih banyak barang-barang."


"Oh, iya Buk. Gak apa-apa. Kan juga cuma Pandu yang tinggal di sini."


Yogi nimbrung di perbincangan mereka.


"Makanya lo nikah gih! Biar gak kesepian lo di rumah. Iya gak Buk?"


"Bener banget tuh. Nak Pandu kan ganteng, baik, santun, masa gak ada yang punya. Hihihi...."


Yogi dan Ibuk habis-habisan menertawakan Pandu.


"Nak Pandu, nak Yogi, Ibuk pamit pulang ya. Yang betah tinggal di sini. Kalau ada apa-apa, nak Pandu telepon Ibuk saja. Dan jangan sungkan untuk minta bantuan ke warga sini. Terimakasih sudah memperkerjakan Ibuk di sini."


Pandu bangkit ingin menyalami tangan ibuk Tutik.


"Terimakasih sekali lagi nak Pandu."


"Iya, sama-sama Buk."


"Ibuk langsung pulang saja ya. Nak Yogi, Ibuk pamit. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam Buk." Seruan mereka.


Malam pun hadir menemani hari pertama mereka santai di rumah baru Pandu. Di ranjang Pandu, Yogi berbicara panjang lebar dengan khayalan-khayalannya ingin menggoda Pandu yang sibuk menghandle pekerjaan di kantor yang belum sempat ia cek.


"Ndu, lo pasti udah kebayangkan kehidupan masa depan lo. Makanya lo ngebet banget ngebangun nih rumah. Ini kamar lumayan besar. Cocoklah buat lo enak-enakan dengan istri lo nanti."


Menyentil pinggang Pandu.


"Apaan sih, Gi.... Istighfar! Jangan mikir kejauhan!"


"Alah.... sok suci lo. Udah mau kepala tiga belum juga gue lihat lo gandeng perempuan. Homo lo?"


Pelototan Pandu membungkam Yogi.


"Kamu lama-lama ngomongnya ngawur banget sih. Kerjaan kamu udah beres belum?"


"Yaelah.... gue capek kali Ndu. Lo pikir gue robot."


"Aku ngebangun rumah ini, karena memang pengin aja. Rumah itu aset selamanya di dunia, Gi. Alhamdulillah di kasih rezeki sama Allah. Termasuk rasa syukur aku ke Allah atas kerja keras aku selama ini. Aku berharap sih, Ibuk sama Ranti juga bisa tinggal di rumah ini. Tinggal bareng-bareng lagi kayak dulu. Tapi, sampai sekarang pun Ibuk gak mau. Ibuk berat banget ninggalin rumah di kampung. Ibuk bilang, di kampung banyak kenangan manis Ibuk sama Bapak."


Yogi yang awalnya petakilan dan banyak omong, kini dengan mata sedikit berkaca-kaca mendengarkan kisah lama sahabatnya. Kisah suram, pahit hingga sama-sama bangkit mendirikan dan mewujudkan cita-cita mereka.


"Gue sih salut banget dengan perjuangan lo Ndu. Tanpa adanya lo, kita juga gak bakal bisa se-happy ini. Terimakasih udah milih gue sama Raska untuk joint kerja bareng sama lo Ndu."


"iya, Gi. Aku juga berterimakasih banget kalian udah nerima aku dan nolongin aku selama hidup di Jakarta. Keluarga kalian juga baik banget. Aku jadi ngerasa seperti di kampung. Diberi kehangatan dari keluarga kamu dan juga Raska."


...🍁~🍁...


untuk Para Readers yang sudah mampir dan baca karyaku, aku ucapkan terimakasih banyak ya😄🙏


Aku mengharapkan dukungan kalian. Supaya aku tambah semangat dalam menulis karya-karya imajinasiku.Salam hangat dari arnov 🤗😘

__ADS_1


...Bersambung..........


__ADS_2