Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Beruntungku Memilikimu


__ADS_3

"Keren banget deh pak Bos kita yang satu ini. Sampai udah bercucu pun tetap sweet. Anniversary ke berapa nih Bos?"


Yogi tak habis-habisnya membuat gurauan di perbincangan mereka. Raska dan Pandu tetap diam membiarkan Yogi yang terus banyak bicara.


"Hahaha.... umur boleh expired. Tapi hati, tetap berjiwa muda. Saya sangat mencintai istri dan keluarga saya. Di balik kesuksesan kita, tetap ada doa setia seorang istri. So, saya balas dengan hati penuh ketulusan dan cinta. Jangan kalah dong dengan saya."


"Aduhhh Bos.... kalau bahas soal rumah tangga jangan ke saya dong. Cuma saya sendiri yang memang belum beristri. Ini nih, 2 sahabat karib Yogi yang real udah menikah. Kumpulan para suami takut istri nih Bos. Hihihi...."


Raska menendang betis Yogi. Berbicara seenaknya di depan mantan client terbaik mereka. Pandu sedikit tertawa melihat ekspresi kesakitan Yogi.


"Nah, untuk Bos kalian satu ini pastikan harus datang. Jangan beralasan apapun lagi. Bawa juga istri kamu Pandu! Saya mau berkenalan lebih dekat."


"Insyaallah pak Darwin. Itu lah sebabnya Bapak tak hadir langsung di pernikahan saya kemarin. Gak sempat kenalan dengan istri saya kan? Kalau saja kemarin Bapak beneran datang, saya perkenalkan secara khusus siapa mantan client terbaik Warriors Group ke istri saya tercinta."


Pak Darwin selaku mantan client Pandu tertawa lantang mendengar bualan Pandu yang jarang ia dengar sebelumnya.


"Udah lah Pandu. Saya kan sudah memberi alasan kenapa saya tidak bisa hadir. Kita ini masing-masing terlalu disibukkan dengan urusan bisnis. So, kita satu sama. Sama-sama suka beralasan. Hahaha...."


"Tapi, untuk besok saya benar-benar ingin kamu hadir dan menggandeng istri tercinta yang kamu agung-agungkan itu."


"Hahaha.... tenang saja Bos. Saya pastikan Pandu hadir kali ini."


Perjumpaan itu berakhir. Pandu membereskan peralatannya. Yogi berjalan ke arah Pandu yang menata dokumen-dokumen pentingnya.


"Ndu, Sekretaris lo susah banget sih diajak ngedate sama gue. Memang tipe gue banget tuh cewek. Lo niat gak sih bantuin gue?! Gak ada kemajuan nih Ndu."


Pandu menghela napasnya bosan, sebab Yogi selalu memburunya untuk menjadi perantara kedekatan Yogi dan Clarine.


"Gi, minta bantuan itu lebih afdal langsung ke Allah. Allah lebih segala-galanya dari manusia. Jodoh itu di tangan Tuhan. Kuatkan dan khusyukkan doa kamu. Kalau memang berjodoh, Insyaallah jalan akan dipermudah."


Yogi mengusap gusar rambutnya. Yogi tak puas dengan jawaban Pandu.


"Ah, lo Ndu! Malah ceramahi gue. Gue tahu kalau itu. Ya udah, gue pulang deh."


"Assalamualaikum Gi!


"Waalaikumsalam."


Pandu tak habis pikir dengan Yogi yang selalu tak sabaran ingin dekat lebih jauh dengan Clarine yang sama sekali tak terlihat ketertarikan kepada sahabatnya itu.


"Serahin semuanya pada yang di atas yang lebih berhak mengatur jalan kita Gi. Karena belum tentu apa yang kita mau itu yang kita butuhkan."


...🍁~🍁...

__ADS_1


Jihan sudah bisa leluasa bergerak dan beraktivitas seperti biasanya. Walau terkadang rasa nyeri sesekali tetap muncul tiba-tiba. Ia memanaskan kembali soup buatan Pandu dan sedikit menambah beberapa menu untuk makan malam mereka nanti.


"Assalamualaikum Sayang...."


Suara Pandu terdengar. Jihan sedikit melirik ke arah jarum jam dinding. Masih pukul 4 sore.


"Waalaikumsalam.... Tumben Mas cepat pulang."


Menyambut tangan Pandu dan mengecup sebagai hormat istri kepada sang suami. Jihan sudah banyak belajar bagaimana cara melayani suami sebagai wujud istri yang soleha.


"Kamu masak?" Tanya heran Pandu sebab ia melihat apron terikat pada tubuh Jihan.


"Iya Mas. Mau ngapain lagi? Pakai apron bukan mau jalan-jalan loh Mas."


"Iya mas tahu. Tapi, bukannya perut kamu masih sakit Sayang? Kalau kamu mau menu yang lain biar mas yang buatin. Atau kita delivery aja."


Jihan berkacak pinggang. Ia bergerak meliuk-liukkan pinggangnya dan melompat-lompat yang menambah wajah cemas Pandu.


"Sayang....!"


"Tenang Mas! Jihan udah sembuh. Rasa sakitnya udah hilang Mas. Udah bisa gerak."


Pandu kembali menelisik tajam ke arah bola mata Jihan seakan mencari kepastian.


Pandu lega. Tampak serius dari wajah berseri Jihan. Pandu menggendong Jihan secara tiba-tiba membuat Jihan memekik shock.


"Mas....!!"


"Hahaha.... apa Sayang? Udah bisa gerak kan?"


Pandu memutar-mutar tubuhnya hingga membuat teriakan histeris Jihan terdengar. Pandu terus tetap menjahili istrinya tanpa ampun.


"Mas....!! Please, stop! Pusing Mas!"


"Hahaha.... maaf Sayang."


Jihan memaksa turun dari gendongan Pandu dan mencubit pinggang Pandu geram.


"Sakit perut memang hilang. Tapi pusing masih ada Mas. Jahil banget. Mas mandi gih! Jihan mau lanjut masak."


"Mandi bareng?" Pandu menunduk mensejajarkan pandangan mereka. Jihan menahan malu dengan ajakan Pandu. Ia harap kedua pipinya tak memerah lagi.


"Mas....!!"

__ADS_1


"Hahaha.... ok Sayang. I'm sorry." Menyentil hidung Jihan.


Jihan merapikan peralatan makan yang sudah tandas. Menunggu Pandu pulang dari ibadah berjamaahnya. Jihan melangkah ke ruang tamu. Terduduk manis dan menyetel siaran Televisi. Tiba-tiba saja rasa jenuh menghinggap di dirinya.


"Ck, boring banget sih! Setiap hari kalau beberes udah selesai, aku cuma bisa duduk termenung kayak gini. Ini bukan style kamu Jihan.... Ya Allah.... aku merasa menyesal kah keluar dari lingkaran jahanam madam Stella?" Jihan menunduk dengan wajah sendunya.


"Aku masih pengin mendesain dress ku sendiri. Mendesain busana-busana keluaran terbaru dari Jihan Sajidah Salim. Aku masih pengin tanganku ini bergerak merangkai ide-ide yang terus berputar di kepalaku. Tapi gimana caranya? Semua harus ku mulai dari nol itu gak gampang. Apalagi sekarang aku udah menikah. Istri harus nurut perkataan suami kan?"


Asik berperang dengan pemikirannya, Jihan tak menyadari kedatangan Pandu yang sudah terduduk di sampingnya.


"Assalamualaikum Sayang."


"Eh, Waalaikumsalam Mas. Maaf Mas, Jihan gak sadar Mas udah pulang." Menyalami tangan Pandu. Jihan terlihat salah tingkah. Ia ragu. Apakah Pandu mendengar semua obrolan dirinya?


Pandu tersenyum simpul. Ia meraih dagu Jihan dan mengecup lembut bibir kecil Jihan.


"Kita langsung ke kamar ya?"


Jihan mengangguk dan mematikan siaran Televisi yang sejak tadi tak berhasil menghiburnya.


Pandu mengiringi langkah Jihan yang sejak tadi tak berhasil menghiburnya. Pandu mengiringi langkah Jihan yang sedikit lesu. Sebenarnya, ia sedikit mendengar perbincangan batin Jihan. Pandu terikut terdiam tak tahu bagaimana memulai obrolan.


Pandu teringat sesuatu hal yang mungkin bisa ia gunakan sebagai pancingan obrolan mereka.


"Oh, iya Sayang. Tadi mas ketemu client lama. Kita bincang-bincang masalah project dulu. Hmm.... minggu depan kamu ada waktu luang gak Sayang?"


"Ada lah Mas. Jihan kan memang selalu di rumah. Ibu Rumah Tangga. Banyak waktu luang Jihan yang terkadang sedikit boring. Kenapa ya Mas? Ada yang perlu Jihan tolong?"


"Hmm.... Mas diundang ke acara spesial client lama mas yang mas temui tadi. Dari dulu, semasa mas belum menikah mas sering berhalangan hadir kalau diundang ke setiap acaranya. Mas selalu kasih beribu alasan karena mas malas untuk hadir. Sekarang, mas gak punya kesempatan lagi untuk beralasan. Apalagi, sudah ada kamu. Client mas ingin berkenalan langsung dengan istri cantik mas. Boleh?"


Jihan memasang wajahnya seakan berpikir. Memperlama sedikit untuk menjahili Pandu.


"Kalau kamu gak bisa, gak apa-apa. Mas akan cari alasan lagi."


"Hahaha.... gak kok Mas. Jihan juga mau kenal lebih dekat dengan client-client atau teman-teman Mas yang lain. Supaya mereka tahu seberuntung apa Mas memiliki istri secantik Jihan. Hihihi...."


Mencubit gemas pipi Jihan.


"Ok, mas sangat beruntung memiliki kamu."


Jihan berekspresi menggelikan dengan gombalan Pandu. Kata-kata yang terlalu sweet selalu mampu membuat Jihan bersemu merah.


...🍁~🍁...

__ADS_1


Bersambung...............


__ADS_2