Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Bagai Minyak dan Air


__ADS_3

Dapur Mama sudah bertebaran bahan-bahan masakan yang sedang mereka berdua siapkan. Jihan sengaja membuntuti setiap pergerakan Mamanya.


Tangan itu sudah sangat cekatan memotong dan membolak balikkan semua bahan. Aroma wangi rempah sangat khas di penciuman Jihan.


"Wahhh.... tangan sang Dokter benar-benar handal."


Colekan di pinggang Jihan mengeluarkan tawa renyahnya.


"Kamu harus banyak belajar dari Mamamu. Masakan Mama memang selalu yang terbaik."


"Cih! Ternyata mulut pedas Papa bisa juga ngegombal."


Pandu yang baru saja memasuki ruang dapur dibuat terkejut dengan Jihan yang segera mengambil alih dasi dari tangan Pandu dan memakaikannya.


"Ouwww.... suami terbaikku sangat tampan."


Melihat itu, Papa tak mau kalah dari putrinya.


"Honey.... jangan sampai tangan halus kamu terluka sedikit pun. Karena aku masih ingin terus menghabiskan semua masakan terbaikmu. Beruntungnya aku memiliki istri yang handal dalam urusan dapur dan juga ranjang."


"Uhuk.... uhukkk.... uhukkk...." Jihan tersedak dengan sanjungan frontal Papa yang terdengar seakan menyindirnya.


Hal itu kembali diungkit oleh Papa sejak semalam dia benar-benar diinterogasi oleh kedua orang tuanya. Betapa tak ada rasa malunya Papa dan Mama berbicara sevulgar itu.


Flashback On


Serial Televisi mereka nikmati hingga larut malam. Moment langka ini sengaja mereka nikmati mengingat selama ini kediaman Jihan tak pernah nya terlihat seakur mungkin.


Di saat adegan tak terduga terpampang nyata di mata mereka. ******* dan lenguhan. Sangat memalukan di mata Jihan. Bisa-bisanya film sevulgar itu tidak lulus sensor.


"Wawww.... pasangan yang agresif."


Jihan yang tak tahan, bangkit dan menekan tombol power. Mama dan Papa menatap tajam ke arah Jihan.


"Kamu kenapa sih?!"


"Ma, Pa, ingat umur!"


"Hal begituan gak patok umur. Asalkan sudah sah. Kalian berdua kan sudah ngalamin. Jangan malu lah.... Hihihi...."


"Kata siapa?!"


Suasana hening. Wajah serius Mama dan Papa terlihat berpikir akan sanggahan Jihan. Jihan menelan salivanya begitu susah.


'Kenapa keceplosan banget sih. Ketahuan deh, gue belum ngelakuin kewajiban gue.'


Pandu menahan mulutnya agar tak tertawa lepas.


"Kalian.... Jangan bilang kalian...."


"Astaghfirullah....!! Kamu masih perawan?!" Tebak Papa sangat tepat.


Anggukan kepala Pandu tak menolong apa-apa buat Jihan. Jihan menendang pelan kaki Pandu.


"Sampai kapan Mama harus menunggu cucu dari kalian....? Hiks.... hiks...."


"Mama....!!"


Pandu menyandar lesu mengikuti dramatisnya ekspresi Mama mertuanya. Papa menatap nyalang sambil mengelus sabar punggung istrinya.


"Sudah kalah cepat married, sekarang kalah cepat nimang cucu. Alya saja tidak menunggu lama langsung hamil."


"Ma!! Kenapa sih, Mama selalu banding-bandingin aku dengan Alya?! Anak itu anugerah, rezeki dari Allah. Yaaa.... ka-kalau belum waktunya, ya sabar dong! Jangan apa-apa itu harus diburu-buru."


"Gimana mau jadi, kalau dari kaliannya belum juga berusaha. Kamu gimana sih Pandu?! Begitu saja tidak bisa. Kamu memang harus berguru nih sama Papa!" Papa mertua mengikuti lakon sang Mama mertua.


"Kenapa jadi mas yang disalahin sih. Justru, kamunya yang menolak terus." Dengus Pandu pelan.


Tak disangka, hal itu terdengar di telinga Mama dan Papa.


"Ooo.... kamu toh, biang keroknya. Dasar istri tidak berguna. Beruntungnya kamu mendapatkan Pandu yang begitu sabar dengan kelakuan kamu. Kalau laki-laki lain, pasti sudah ditinggal kamu."


"Papa!!!" Amukan Jihan sudah tak tahan dengan kata-kata kasar Papa.


"Apa?! Memang benar kan? Suami lelah itu butuh belaian manja dari istri. Dosa kamu, menolak memberikan hak seorang suami."

__ADS_1


"Udah Pa, antar mama ke kamar aja! Lama-lama mama mati berdiri di sini."


"Jangan bicara sembarangan Ma!"


Mama dan Papa berlalu pergi. Menyisakan Pandu yang tengah tertawa melihat wajah kesal Jihan.


Flashback Off


Jihan sedikit menekan kuat dasi yang ia pakaikan. Memberi pelajaran kepada Pandu sejak semalam yang acuh dengan amukan Papa. Pandu tersenyum kikuk.


"Udah selesai dramanya. Cepat sarapan terus pergi gih!"


Papa berjalan melengos melewati Jihan dengan tampang angkuhnya.


Mata Papa terus meneliti putrinya. Tak biasanya putrinya ini tidak memakai riasan dan dress biasanya.


"Kamu gak kerja hari ini?"


"Jihan udah resign Pa."


"Resign?!"


"Iya Pa."


"Kenapa? Udah berapa lama?" Mama terikut penasaran.


"Baru aja 2 hari kemarin Jihan selesaikan semua urusan di kantor. I feel free now."


"Jauh-jauh kuliah di Amrik, ujung-ujungnya Ibu Rumah Tangga juga. Mana yang kamu bilang mau jadi wanita karir?" Ledek Papa.


Jihan menggeram dengan cemoohan Papanya. Papanya tidak tahu saja apa yang telah ia lalui hingga ia senekat ini mengakhiri impian terbesarnya.


"Ini sudah keputusan terbaik yang Jihan ambil Pa. Justru, Pandu senang Jihan tidak terlalu sibuk lagi dengan urusan lain. Melihat Jihan yang terus kelelahan membuat Pandu selalu berpikir kalau Pandu terlalu kejam membiarkan istri Pandu bekerja. Padahal Pandu sendiri sanggup menafkahi."


Papa dan Mama tersenyum mendengar penjelasan bijak menantunya.


"Jihan sangat tepat memilih kamu Pandu. Mama jadi terharu."


"Maafin papa kalau kamu sudah sering direpotkan sama anak badung ini Pandu."


Pandu menenangkan Jihan.


"Anak sama bapak gak pernah akur. Maklumi aja ya Pandu."


Mama, Papa dan Pandu sudah meninggalkan Jihan sendirian di rumah. Ingin mengerjakan pekerjaan rumah pun sudah beres. Asisten Rumah Tangga Mama sangat cekatan dalam urusan rumah. Akhirnya pun, ia memilih bersantai di kamarnya. Menonton serial Televisi mungkin bisa mengisi waktu luangnya. Beberapa jam berdiam diri di rumah itu memang bukan hal biasa yang Jihan lakukan. Sangat sulit dan boring. Namun, mau bagaimana lagi.


Hingga, suara adzan Dzuhur berkumandang pun terdengar. Jihan membersihkan dirinya dan berwudhu. Mengerjakan sholat Dzuhur Nya di ruang sholat kediaman Jihan. Sampai para Asisten Rumah Tangga terheran-heran dengan perubahan putri majikannya. Kelangkaan perubahan Jihan yang sekarang lebih religius menyentuh hati mereka. Senyum mereka tambah merekah di saat terdengar lantunan ayat suci Al-Quran yang dilafalkan oleh Jihan.


"Masyaallah.... adem banget ya, melihat non Jihan yang sekarang."


"Iya Mbak. Udah jarang marah-marah juga. Rumah ini sudah adem ayem. Hihihi...."


"Den Pandu memang titipan jodoh yang terbaik untuk non Jihan." Tutur pak Rejo Tukang Kebun kediaman Jihan.


Mereka keasikan bergosip, tidak sadar dengan kehadiran Jihan yang mendengar sebentar obrolan mereka dari belakang.


"Ekhem!" Dehaman Jihan mencoba menegur.


Mereka berbalik dan terkejut dengan Jihan sudah di hadapan mereka.


"Eh! Non Jihan. Maaf Non...."


"Hihihi.... gak apa-apa kok Pak. Saya cuma dengar obrolan kalian sedikit."


"Maaf Non, kita bertiga gak gosipin Non yang aneh-aneh kok."


"Iya, Non. Kita terharu saja melihat perubahan Non yang sekarang. Lebih adem. Tinggal kerudungnya saja lagi Non. Non pasti terlihat lebih cantik." Terang pak Rejo.


Jihan tersenyum kikuk.


"Doakan saja semoga hati saya lebih diyakinkan untuk berhijab pak Rejo."


"Amin...." Serempak mengaminkan perkataan Jihan.


...🍁~🍁...

__ADS_1


"Terimakasih kembali pak Pandu. Saya yakin, kerjasama perusahaan kita akan berjalan baik."


"Amin.... Insyaallah tidak ada kendala apa pun."


Pertemuan kali ini, membahas perluasan Warriors Group yang akan dimulai perencanaannya di kota Bandung. Kedua belah pihak, sudah menandatangani kontrak perjanjian tertulis. Dan hal itu, disaksikan juga oleh para Investor dan Kuasa Hukum yang mendampingi jalannya rapat.


Clarine merapikan ruangan rapat. Sejak tadi, ia terus takjub menatap wibawanya sang Bos dalam memimpin rapat yang berlangsung.


Gaya maskulinnya terus mencuri perhatian Clarine. Sepanjang jalannya pun terus diiringi dengan senyum bibir meronanya. Ia harus segera menormalkan degup jantungnya.


Kembali memasuki ruangan Direktur Utama. Tertawaan mengiringi obrolan mereka. Ruangan Pandu seperti biasa. Akan terlihat berantakan ulah kedua temannya.


"Permisi pak Pandu. Saya ingin memberikan berkas ini yang tertinggal."


"Oh, iya. Terimakasih ya."


"Sama-sama Pak." Balas Clarine.


Yogi terhipnotis dengan kecantikan Clarine yang selalu mampu menyesatkan pikirannya. Tangannya gesit menahan tangan Clarine yang mulai berjalan.


"Eits, jangan pergi dulu dong!"


Clarine segera melepas genggaman Yogi.


"Ada perlu apa pak Yogi?" Semampu mungkin ia menahan rasa kesalnya.


"Mulai lagi nih Yogi. Modus!!" Celetuk Raska.


"Ndu, Sekretaris lo jutek muluk nih sama gue."


Clarine menghela napasnya.


"Maaf pak Yogi. Kalau tidak ada yang diperlukan dari saya, saya mau langsung undur diri. Masih banyak pekerjaan yang mesti saya selesaikan."


Kembali menahan tangan Clarine. Bahkan, kini Clarine dipaksa duduk dan ia berjongkok di hadapan Clarine yang menatapnya sinis.


"Gue benar-benar tertarik sama lo Clarine. Gue berani sumpah, kalau gue udah berhenti dari dunia gelap gue. Lo itu ada terus di pikiran gue."


Pandu menggelengkan kepalanya tak percaya dengan omong kosong Yogi. Tapi, hal itu sangat terlihat lucu di mata Pandu. Tidak pernah nya Yogi berperilaku mengemis seperti ini di hadapan wanita. Pasti selalu wanitalah yang memohon belas kasih dari Yogi. Sampai disakiti atau diduakan oleh buayanya Yogi pun para wanita itu tidak pernah jera.


Raska menghampiri dan menepis genggaman Yogi di tangan Clarine yang terlihat terlalu memaksa.


"Udahlah, Gi. Lo lihat noh Clarine. Udah jijik ke lo."


"Lo gimana sih! Dukung gue dong!" Kesal Yogi.


"Hahaha.... males gue. Jangan percaya mulut buaya dia, Clarine!"


"Langsung kembali ke ruangan kamu saja Clarine! Jangan perdulikan teman saya."


Kelegaan di hati Clarine.


"Baik pak Pandu. Permisi pak Yogi." Memberikan tatapan tajamnya.


"Gak asik lo berdua!" Tendangan di sofa Pandu sebagai pelampiasan.


Pandu berdiri dan menyandarkan dirinya di meja kerjanya. Menatap lekat Yogi.


"Jangan terlalu terlihat memaksa Gi. Clarine butuh mengenal diri kamu yang benar-benar tulus tanpa adanya paksaan. Kalau kamu terus mengejar dia dengan cara seperti ini, yang ada dia takut dan gak nyaman. Lagian, kamu yakin udah meninggalkan kebiasaan buruk kamu itu? Kemarin, baru aja Clarine gak sengaja dengar obrolan manis kamu dengan wanita lain via telepon."


Tertawaan Raska puas mengolok Yogi.


Yogi menggaruk tengkuknya. Ia membuat kesalahan besar. Ia yakin, Clarine pasti tambah menilainya sangat buruk dan tidak bisa dipercaya.


"Ndu.... tolongin gue dong! Gue janji deh, bakal akhiri kedekatan gue dengan perempuan-perempuan gak jelas itu."


"Yogi.... Yogi.... Gimana lo mau berhenti, kalau lo sendiri masih asik ke Club muluk. Setiap perempuan lo godain. Gak takut lo, salah satu dari mereka ada yang bunting karena lo. Atau.... salah satu dari mereka nularin ke lo virus HIV. Iihhh.... gue gak mau dekat-dekat lo lagi deh."


Yogi melayangkan bantal sofa ke arah Raska.


"Raska, jaga omongan kamu!" Tegur Pandu.


Perdebatan antara Yogi dan Raska selalu tak ada habisnya. Pandu mengelus dada menghadapi tingkah kedua sahabatnya.


...🍁~🍁...

__ADS_1


...Bersambung.................


__ADS_2