
'Moment sakralmu yang terindah akan tersematkan Alya. Aku sebagai sepupu dan juga sahabatmu sangat bahagia serta rela menyerahkan dirimu ke pelukan sesosok laki-laki yang tepat. Wish you all the best.'
Gaun Bridesmaid berwarna peach sudah terbalut sempurna. Rambut panjang ikalku sengaja tergerai. Dan memoles tipis wajahku agar terlihat lebih fresh. High heels yang tak terlalu tinggi menambah kesan eleganku. Mama dan Papa juga sudah siap dan rapi. Kami bertiga datang lebih awal karena memang barisan keluarga diharuskan hadir lebih dulu dan lengkap.
"Gak nyangka ya, Alya yang duluan menikah dibanding kamu. Padahal, Mama penginnya kamu yang lebih dulu. Biar cepat-cepat nimang cucu. Hihihi...."
"Iihhh.... Mama apa-apaan sih. Mama lupa ya, kalau Jihan baru aja patah hati. Cari cowok yang tulus itu susah."
"Baru sadar kamu. Makanya, jadi perempuan itu jangan terlalu senang dibujuk rayu dengan pria-pria bermulut buaya. Dan jangan terlalu terlihat murahan."
"Papa kasar banget sih ngomongnya. Gak ada lembut-lembutnya sedikit sama anak."
1 jam lebih perjalanan menuju rumah Alya. Sepagi ini memang agak macet. Tapi semua terbayarkan dengan excitednya aku mengagumi dekor pelaminan Alya. Padahal, bayanganku akan menikah lebih dulu dengan David. Eh, malah gagal dan aku yang memakai gaun Bridesmaid pertama kalinya. Nasib sial.
Kesan pertama di perkumpulan keluarga Salim. Pastinya di awali dengan basa basi menanyakan kabar. Dan tidak akan pernah lepas dari obrolan receh dan singgung menyinggung persoalan anak. Emang dasarnya mulut ibuk-ibuk penggosip. Dengan lancarnya mereka menanyakan kabar desas desus putusnya aku dan David.
Dengan hati yang masih dongkol, terkeluarlah jawaban-jawaban ketusku agar mereka puas dan menyudahi. Keluarga Papa memang sangat menjunjung tinggi harta, tahta dan martabat. Mungkin, itu kali ya yang ngebuat aku sedikit menuruni sifat turun temurun dari keluarga Salim. Angkuh dan ambisius. What Ever!!
Berlama-lama bercengkerama dengan keluarga dan para tamu yang mulai berdatangan sangat membuatku bosan. Apalagi, aku tidak punya teman akrab yang bisa ku ajak bicara.
"Ganggu Alya, boleh kali ya?"
Aku langsung saja menanyakan di mana Alya. Mami Mayang mamanya Alya menyebutkan kalau Alya masih berada di kamarnya sedang dirias.
Menggeser pintu kamar yang mengagetkan si pemilik kamar.
"Jihan.... lo udah datang...." Cepika cepiki jarak jauh, karena Alya sudah hampir selesai dipoles.
"Lo cantik banget Alya."
"Lo juga terlalu cantik jadi Braidsmade gue. Takut salah manten nih. Hihihi...."
"Apaan sih lo."
"Sorry ya, gue udah ngedahuluin lo. Padahal, ini impian lo dulu."
"It's ok Baby. Kayaknya gue lebih nyaman single deh." Mereka pun tertawa renyah.
Kini, Jihan dan teman Braidsmade yang lain sudah menunggu di barisan. Menunggu rombongan calon mempelai pria datang. Sedangkan Alya masih berada di kamarnya. Nanti, setelah sudah ada tanda-tanda calon mempelai pria tiba, barulah Alya turun beserta para Braidsmade lainnya mengiringi Alya ke pelaminan.
"Kamu Jihan kan, sepupunya Alya? Kenalin, aku Ocha." Sapa Braidsmade lainnya.
Jihan tak membalas telapak tangan Ocha yang menggantung. Sangat memancing bibir julid para Braidsmade lainnya.
"Songong banget sih."
...🍁~🍁...
Lumayan lama rombongan calon mempelai pria hadir, sudah cukup menggemparkan pihak keluarga wanita dan para tamu. Dan tibalah formasi Groomsman dan Braidsmade berjalan pelan mengiringi langkah kedua mempelai akan dipertemukan dan menyematkan sebuah lafal cinta halal dalam ijab kabulnya. Moment sakral yang sangat menguras air mata. Begitu juga dengan Jihan yang terpaku bahagia.
Acara masih terlihat lama berjalan. Kini, suasana yang tegang telah berubah menjadi riang. Semua menikmati rangkaian susunan acara dari awal hingga akhir. Ada yang bersenda gurau, menari, makan dan bergosip.
Hanya Jihan sendiri yang sedari tadi betah berdiri di pojokan dekat hamparan Danau Buatan ala kediaman keluarga Alya. Menurutnya, menghirup udara segar di hadapan luasnya danau meringankan sedikit beban pikiran yang mengganggunya.
"Bro, dari tadi nih ya, gue salfok banget sama tuh cewek galak. Cantik banget. Kalau aja tuh cewek kagak jutek-jutek amat, mau deh gue ama dia."
Pandu mengerti arah pembicaraan Yogi. Mata Pandu langsung terarah lurus ke arah Jihan.
__ADS_1
"Emangnya dia mau sama kamu? Pede banget sih."
"Yaelah.... gue bercanda kali. Gue juga kagak mau lah. Nyeremin Bro. Lihat aja noh, kagak ada tuh yang mau nemenin dia."
Pandu jadi teringat satu kejadian yang membuatnya bingung sejak kemarin. Kejadian di mana ia tidak sengaja melihat Jihan berdebat dengan seorang pria yang ia berargument itu adalah kekasihnya. Di situ, Pandu sedikit melihat Jihan berjalan cepat sambil menangis. Sang pria memohon maaf dan tidak diperdulikan oleh wanitanya.
'Masalah seberat apa yang dia pikirkan? Sampai-sampai betah banget di pinggir danau terus.' Batin Pandu berbicara.
Sebuah MC pemandu acara mengumumkan atau mengimbau untuk para jombloners dan para Groomsman Braidsmade agar berkumpul di tengah karena akan adanya pelemparan bucket bunga dari kedua mempelai. Yang mitosnya, siapa saja yang berhasil mendapatkan bucket bunga tersebut, maka dialah yang akan segera menikah selanjutnya. Jihan yang sudah ditarik paksa oleh Mamanya hanya menurut mengikuti mitos konyol itu.
Mulailah timbul teriakan-teriakan gemas saat kedua mempelai berulang kali mengancang-ancang melempar bucket bunga ke arah belakang.
Dalam hitungan mundur MC mulai mengaba-aba.
"TIGA.... DUA.... SATU!!!"
Bucket bunga melayang melewati beberapa barisan terdepan. Pandangan awal Jihan yang tidak memperdulikan moment seru tersebut pun berubah. Entah kenapa, mata Jihan mulai terfokus dan terhipnotis arah melayangnya bucket bunga yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
'Kenapa nih bunga ke arah gue?'
Mata Jihan semakin membesar. Tangan pun mulai terangkat ingin menggapai bucket bunganya. Bucket bunga yang ternyata sedikit melewati Jihan. Spontan, tubuh Jihan yang diam kini sudah bergeser 1 langkah ke belakang sambil memutar tubuhnya 180 derajat dan.... 'HAP', ia berhasil.
Bunga itu tepat tertangkap oleh Jihan disertai suara gemuruh teriakan-teriakan para tamu. Akan tetapi, kakinya sebagai tumpuan tidak stabil menahan pergerakan spontan Jihan. Alhasil, tubuhnya oleng dan menubruk tubuh seseorang yang berada di belakangnya. Sama-sama tidak bisa menahan beban, mereka pun lolos terjatuh dan tersungkur ke tanah.
BAMMM!
Jihan tahu, ini bukan moment terbaik buat dirinya. Ia pasti merasa malu banget jika mata itu sudah terbuka lebar. Namun, ia paham betul posisinya saat ini berada di atas tubuh seseorang yang ia tubruk.
"PANDU....!!"
Nama itu yang Jihan dengar dari kebisingan orang-orang di sekitarnya. Kepala yang semula tertunduk malu kini mulai terangkat perlahan. Kelopak mata yang ia tutup kini pelan-pelan ia buka. Pandangan mata Jihan pun bertemu langsung dengan mata teduh Pandu. Terpaku dan terdiam.
Seruan MC menyadarkan mereka yang masih setia saling menatap. Iringan tertawaan, sorakan dan teriakan histeris bercampur aduk masuk ke gendang telinga Jihan dan Pandu.
"Astaghfirullah hal adzim...." Pandu baru sadar posisinya saat ini sangat tidak benar.
Dengan cepat Jihan berdiri membenarkan posisinya. Begitu juga dengan Pandu yang membersihkan outfitnya dari noda-noda rumput basah hasil dari pendaratan mereka. Jihan sudah dipenuhi rasa malu ketika menangkap pandangan orang-orang di sekitarnya seakan menertawakan dan menikmati moment sialnya.
BUGHHH!
1 pukulan di perut Pandu ia terima. Cukup membuat Pandu meringis kesakitan.
"HEH!.... Lo kesempatan banget ya nangkap gue terus meluk gue!!"
"Kesempatan? Maksudnya?"
Pandu yang menjadi korban malah ia yang dituduh.
"Ooo.... gue ingat. Lo kan temannya Raska. Lo ingatkan kita pernah ketemu di Mo Bar saat lo sama teman lo itu kepergok sama wanita-wanita bayaran? Dasar Mesum!!"
"Astaghfirullah.... Tolong jangan sembarangan...."
Obrolan terhenti sebab MC mulai mendekati mereka. Dengan kerlingan jahilnya, MC tersebut menyeret mereka berdua ke atas panggung pelaminan agar lebih dekat dengan sang mempelai.
"Sini dulu dong! Aduhhh.... ini kok so sweet banget sih...."
Dari kejauhan pun, Raska dan Alya tersenyum kegirangan melihat sahabatnya lah yang terpojok dalam moment lucu mereka.
__ADS_1
"Jihan...."
"Pandu...."
Teriakan Raska dan Alya yang menyambut kedua sahabatnya.
"Lihat tuh Pa anak kita! Moga-moga aja berjodoh. Amin...."
"Apaan sih Ma?! Jangan sembarangan kalau ngomong!"
Mama Jihan juga terikut terpukau dengan moment tak terduga itu.
"Duhhh.... kayaknya masih malu-malu ya. Kenalan dulu dong! Biar sama-sama tahu nih kita." Jahilnya MC merayu mereka berdua.
"Nama kamu siapa sih cantik?"
"Jihan!" Nada ketus.
"Kalau lo Bro?"
"Pandu." Lebih tenang daripada Jihan.
"Aw.... aw.... aw.... gemes deh lihat kalian berdua. Ini kan yang dapat bunganya kamu Jihan. Tapi, entah kenapa kalian berdua malah terjatuh manja. Seperti udah ada tanda gitu, kalau kalian berdua ini cocok untuk disandingkan. Hihihi.... Kan kita jadinya emezzz...."
MC itu membuat pergerakan seakan-akan memukul gemas lengan Pandu dan Jihan. Yang sangat mengundang tawa semua tamu dan panitia acara lainnya.
"Apa jangan-jangan ini pertanda baik buat kalian berdua. Maksudnya saya, jodoh gitu. Cieee...."
Mata Jihan langsung melotot ke arah MC.
"Iihhh.... si ceweknya kayaknya galak banget ya."
Hahaha.... (Semua tertawa).
Pandu juga terikut menertawakan penuturan sang MC.
"Langsung aja deh, aku tanya ke pengantin baru. Mereka ini temen kalian berdua ya? Apa sih pesan singkat untuk mereka berdua?"
Alya yang sangat antusias langsung merebut mic dari tangan MC.
"Jihan.... gue senang banget lo yang dapat bunganya. Jangan-jangan lo berdua emang berjodoh. Lo kan lagi jomblo Han. Jadian aja ya! Please...." Mengkode ke Jihan dan Pandu.
Pandu bingung tak menyangka dengan pernyataan Alya istri sahabatnya ini.
"Tuh kan.... temen kalian aja dukung loh."
"GAK!! Nih, bunganya buat lo aja. Berjodoh noh, dengan tembok!!"
Bucket bunga diberikan paksa Jihan ke Pandu. Cukup kocak dan pasti selalu bisa membekas di memori Pandu dan Jihan.
...🍁~🍁...
Untuk Para Readers yang sudah mampir dan baca karyaku, aku ucapkan terimakasih banyak ya 😊🙏
Aku mengharapkan dukungan kalian. Supaya aku tambah semangat dalam menulis karya-karya imajinasiku.
Salam hangat dari arnov 🤗
__ADS_1
...Bersambung..........