Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Lembaran Lama


__ADS_3

"Gue cinta sama lo David. Sekarang gue gak mau lo ninggalin gue gitu aja."


"Gue emang bajingan. Tapi gue juga berhak memilih perempuan yang bakal gue deketin. Gara-gara lo, Jihan mutusin gue, *****!!!"


Dalam ruangan Aula yang kosong, Mia dan David bertengkar. Mia terlihat seperti pengemis. Pengemis cinta. Mia memang memiliki kisah cinta yang sendu. Bertahun-tahun ia menyimpan rasa terhadap David yang lebih memilih Jihan. Itu sebabnya, Mia begitu membenci Jihan. Segala cara ia lakukan agar dirinya terlihat lebih hebat dan unggul dari Jihan. Namun selalu gagal.


"Gue suka sama lo dari dulu, Vid. Dari masa-masa SMA kita dulu. Gue selalu ngikutin semua kegiatan lo. Tapi, yang ada di hati lo cuma Jihan!! Gue bukan bayangan Vid. Gue ada."


Mia meneteskan air matanya.


"Gue gak perduli sama drama lo Mia. Perempuan murahan kayak lo, gak pantes buat gue!"


PLAKKK!


1 tamparan mendarat di pipi David.


"Gue murahan karena lo. Gue mau ngelakuin apa aja demi lo. Gue rela lo rusak, karena lo David!! Karena gue cinta sama lo!! Lo lihat kan, perempuan yang lo puja-puja udah ninggalin lo. Lebih milih laki-laki lain yang lebih baik dari lo!!!"


David sudah sangat geram dengan celotehan Mia. Ia tak suka Mia membahas ada laki-laki lain yang lebih baik dari dirinya untuk Jihan. Satu tangannya menjambak kasar rambut Mia hingga kepala itu menengadah ke atas tepat menatap matanya. Ia tak perduli lagi rintihan sakit dari bibir Mia.


"Gue gak suka lo banding-bandingin gue sama laki-laki yang udah ngerebut Jihan dari gue. Ini semua gara-gara lo!! Kalau aja lo gak bersikap murahan, hubungan gue sama Jihan bakal baik-baik aja!!!"


Hempasan kuat membuat Mia jatuh tersungkur. David melangkah keluar tak ingin berlama-lama dalam 1 ruangan dengan Mia si wanita ular.


"Lo katain gue murahan berulang kali?! Lo gak ngaca, Vid. Tujuan lo deketin Jihan, hanya untuk manfaatin dia doang. Lo porotin Jihan. Lo bisa hidup mewah. Lo lebih murahan dari gue!!!"


CUIHHH!


David meludahi Mia. Mia menangis histeris meratapi nasibnya. Sorotan mata Mia sangat tajam mengarah ke arah perginya David.


"Gue bakal hancurin hidup lo Jihan." Desisnya.


...🍁~🍁...


Jihan terburu-buru keluar dari mobil Pandu agar Pandu tak juga mengikutinya keluar. Ia belum terbiasa dengan orang-orang yang terus melihatnya, menelisik dan mencibir hubungannya dengan Pandu. Pandu memahami tingkah aneh istrinya.


Dan ia tertawa kecil saat menemukan tas istrinya yang tertinggal. Dengan terburu-burunya ia mengejar langkah cepat Jihan.


"Jihan....! Jihan....! Sayang....!!"


Jihan berhenti. Panggilan itu untuknya?


'Kenapa lagi sih Pandu?' Dirinya memutar dan benar semua mata tertuju ke arahnya.


"Apa lagi?" Nada geram.


"Tas kamu, Sayang. Ketinggalan di mobil."


"Kamu ngerjain aku ya manggil aku kayak gitu?"


Pandu tersenyum. Mungkin, 1 klarifikasi bisa menghentikan gosip-gosip yang Jihan terima.


"Saya dan Jihan sudah menikah. Dia istri saya."


Pandu mengacungkan tangan kiri Jihan dan dirinya.


Semua mengiyakan bahwa ada cincin yang sama terlingkar di kedua tangan mereka.


"Jihan milik saya. Bukan milik siapa pun. Laki-laki bodohlah yang meninggalkan Jihan. Dan saya pemenangnya. Saya sangat beruntung bisa menempati hati bidadari surga saya."


Bualan Pandu terdengar sangat menggelikan di telinga Jihan. Tapi, ia akui Pandu sangat sweet. Pandu mendekatkan tubuhnya dan berakhir mengecup kening Jihan.


"Aku pergi ya?"


Jihan mengangguk. Senyum ceria Jihan kembali terbit.


Kini, ia melihat orang-orang berangsur-angsur meninggalkan tempat dengan rasa malu telah berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya.


Di balik itu semua, David memandang tajam ke arah Jihan dan laki-laki yang ia tahu suami Jihan. David yang sedari tadi memang ingin bertemu Jihan akhirnya terurung karena Jihan sudah lebih dulu memasuki lift. Ia kesal dan menendang tembok kokoh sebagai pelampiasannya.


...🍁~🍁...


Jihan menemukan sebucket bunga lagi. Dan tertulis, "Aku tunggu kamu di Aula".


Jihan membuangnya lagi. David benar-benar mengganggunya. Sampai kapan pun Jihan takkan mau berurusan dengan laki-laki brengsek yang sudah mempermainkan cintanya.


"Drew, apa lo gak ngelihat David terus-terusan masuk ruangan gue?"


"Gak sih Beb. Emangnya ada apa sih?"


"Dia terus-terusan ngirimin gue bunga. Gue berasa di teror sama dia. Mau dia apaan sih?!"


Andrew tak tahu harus berbuat apa. Keadaan yang lagi ribet malah ditambah lagi beban pikiran yang diterima Jihan.


"Udahlah Beb, dibawa enjoy aja. Tuh orang cuma mau ganggu lo doang. Dia gak senang kali ngelihat lo bahagia."


"Gak tahu deh."


"Suami lo tahu kan masalah ini?"


Jihan menggeleng. Yang ia tahu, Pandu hanya memahami siapa David. Tapi tidak tahu kalau David berulang kali mengganggunya.


"Gue gak mau Pandu terlalu ikut terlibat. Dia udah cukup baik nolongin gue terlepas dari perjodohan Papa."


"Maksud lo apa sih? Jadi, kalian berdua menikah terpaksa gitu?"


"Lebih tepatnya gue yang maksa Pandu nikahi gue."

__ADS_1


"Gue lihat sih, dia baik Han. Waktu di pernikahan lo berdua aja dia ngejaga lo banget. Saat lo pingsan pun, dia langsung sigap nolongin lo. Gue jadi pengin di perhatiin begitu."


Jihan merasa geli dengan gelagat lekong Andrew.


"Iihhh.... lo tobat dong Drew!"


Kesibukan Jihan dan teamnya tak berhenti. Mereka harus mencapai target tahun ini. Ketidak ikutan serta team mereka dalam event pasti akan mempengaruhi kualitas kinerja mereka. Mau tak mau ia harus lembur bersama yang lainnya.


"Nanti, setelah jam delapan kalian langsung pulang aja ya!"


"Loh, emangnya mbak Jihan gak pulang juga?"


"Nanti aja Ly. Aku mau nyelesain pola kainnya dulu. Biar agak cepat selesai. Besok tinggal kita jahit aja."


Lily dan Jihan baru saja menyelesaikan sholat Asar mereka. Lily memang selalu menjadi teman Jihan kalau ingin ke Masjid seberang jalan. Teman-teman seteamnya sudah tidak lagi canggung. Perubahan sikap Jihan lebih membawa pengaruh positif ke yang lainnya.


"Maaf ya Mbak, kinerja kami kurang baik. Lily juga minta maaf karena kemarin Lily gak pamit saat pulang ke kampung kemarin. Lily takut gak diizinin."


"Iya, gak apa-apa Ly. Aku yang minta maaf ke kalian. Udah terlalu memaksakan kemauanku.


Tak disangka, Jihan melihat Pandu yang sudah datang dan menunggunya di Lobi. Datang lebih awal dari sebelumnya.


"Pandu?"


"Eh, mas Pandu. Apa kabar Mas?"


"Hai, Alhamdulillah baik."


"Kok cepat banget datangnya? Hari ini aku lembur Pandu. Bakal lama. Kamu pulang duluan aja ya. Nanti aku naik taksi aja."


Pandu menolak usulan Jihan.


"Gak Jihan! Aku nungguin kamu di sini aja sampai kerjaan kamu selesai."


Jihan menggaruk tengkuknya bingung. Pandu lumayan keras kepala.


"Iya, mas Pandu. Tungguin mbak Jihannya ya! Kalau malam agak bahaya untuk perempuan sendirian. Mbak nyuruh kita untuk pulang duluan. Terus Mbak yang bakal sendirian di sini. Kalau ada apa-apa, kan ada yang ngelindungin. Hihihi...."


Lily jahil. Pandu merasa menang atas pembelaan Lily. Jihan pun pasrah. Istri harus nurut suami kan?


"Hmm.... ya udah deh. Tunggu di dalam aja ya? Gak enak juga sendirian di sini."


"Takut Masnya di godain ya Mbak?" Kerlingan nakal Lily berusaha menggoda Jihan kembali.


Pandu tersenyum kegelian. Jihan yang malu langsung lebih dulu berjalan.


Semua teman team Jihan mendadak kaku dengan kedatangan Pandu. Jihan mencoba mempersilahkan Pandu duduk di sofa.


"Hmm.... Ndu, duduk di sini dulu ya!"


"Gak perlu canggung. Saya bolehkan menemani kalian lembur hari ini? Kali aja, saya bisa bantu sesuatu." Senyum manis tersungging menggoda hati wanita-wanita jomblo di depannya. Termasuk Andrew.


"Nemenin kita.... atau Jihan?"


"Hahaha.... lebih tepatnya nemenin istri saya."


"Uuwww.... so sweet banget...."


Sorakan itu membuat Jihan mati kutu. Pipinya kembali merona merah.


2 jam lebih Pandu menunggu tak membuat dia hanya berdiam diri saja. Bahkan, sesekali ia ikut andil menilai mana yang baik dan buruk ketika mereka menanyakan sebuah pendapat.


Ketukan pintu terdengar.


"Permisi, Go Food Mbak, Mas. Pesanan atas nama Pandu Pangestu."


"Oh, iya. Itu saya Mas."


Pandu bergerak cepat membantu mas Go Foodnya membawa masuk makanan-makanan yang telah ia pesan. Semua tercengang. Termasuk Jihan. Ia tak menyangka suaminya seperduli itu ke teman-teman teamnya. Bahkan, ia sendiri lupa dengan jatah makan mereka karena saking sibuknya.


"ini Mas. Kembaliannya ambil aja ya Mas!"


"Wahhh.... terimakasih banyak Mas. Semoga lancar rezekinya dan berkah."


"Amin...."


Pandu membagikan makanan-makanan itu ke teman-teman Jihan.


"Ayo, semua makan dulu! Ini udah malam. Biar lebih semangat."


"Duhhh.... jadi ngerepotin mas Pandunya. Makasih ya Mas." Maya mewakili semuanya.


"Iya, sama-sama. Dihabisin ya!"


Pandu yang melihat Jihan masih sibuk dengan aktivitasnya pun ia hampiri dan mengajak Jihan untuk makan terlebih dahulu.


"Kamu makan dulu ya!"


"Nanti aja, Ndu. Kamu duluan bareng yang lain aja. Aku masih harus nyelesain ini." Menunjuk projectnya.


Panduk tak memperdulikan penolakannya. Ia menarik Jihan ke sekumpulan teman-temannya yang lagi asik makan secara lesehan.


"Makan dulu, Han. Biar semangat kerjanya." Andrew berkata.


"Tuh kan, teman kamu benar."


Jihan menuruti apa saja perintah Pandu.

__ADS_1


Makan sepiring berdua membuat semua iri memandang Jihan dan Pandu. Pandu sangat telaten menyuapi Jihan.


"Jadi pengin deh, kalau melihat Jihan sama mas Pandu suap-suapan."


"Hahaha.... so sweet banget ya. Gue juga dong say, disuapin."


Jihan yang merasa malu tak mau merespon. Rasanya ingin cepat-cepat menyelesaikan makannya.


'Pandu.... aku malu banget.'


Pandu membersihkan bagian ujung bibir Jihan yang sedikit terkena sambal. Memancing geraman gemas yang melihat mereka berdua.


"Ya ampun.... gemes banget...."


Semua yang semula ramai, kini hanya tersisa Pandu dan Jihan. Sejak tadi, Pandu tak melepas pandangannya dari Jihan. Sesekali Pandu membantu Jihan saat diperlukan. Jihan yang merasa tak enak ditunggu Pandu terlalu lama segera menyudahi aktivitasnya. Kasihan Pandu yang menahan kantuknya.


"Pandu, aku udah selesai. Kita pulang ya! Biar aku aja yang nyetir mobil kamu."


"Gak perlu Jihan. Aku aja. Kamu pasti capek banget."


Seperhatian itu Pandu terhadap Jihan.


"Kita menginap di Apartemen aku aja ya!" Pinta Pandu setelah memasuki mobilnya.


"Apartemen? Kenapa gak langsung pulang ke rumah?"


"Udah terlalu malam Jihan. Lebih dekat juga."


"Maaf ya, aku udah ngerepotin kamu. Lain kali, aku kabari kamu kalau aku ada jam lembur lagi. Biar kamu langsung pulang aja."


Pandu membantu Jihan memakaikan seat belt nya.


"Ke mana pun kamu, aku harus tetap memastikan kamu aman Jihan. Aku gak mau istriku ini kenapa-kenapa." Mengelus puncak kepala Jihan.


Menahan rasa malu, Jihan terus memandang ke arah luar kaca mobil. Tak ingin ketahuan pipi meronanya. Hingga pandangan Jihan tak asing dengan bangunan tinggi nan mewah yang dulu sering ia kunjungi. Luxury Apartment. Mobil itu terus saja memasuki ruangan Basement.


Jihan memandang ke arah Pandu tak percaya. Apakah Pandu benar mempunyai hunian Apartemen di sini?


Pandu keluar dan membukakan pintu untuk Jihan.


"Ayo Jihan!"


Jihan masih diam enggan untuk keluar. Ia sudah benar-benar tidak mau menginjakkan kakinya lagi di Apartemen ini.


"Kita langsung pulang ke rumah aja ya Pandu!"


"Jihan, ini sudah terlalu malam. Dan kita sudah kelelahan. Apartemen lebih dekat. Ayo!"


Pandu benar. Ia sudah kelihatan lelah sekali. Akan bahaya kalau mereka teruskan perjalanan jauh sampai ke rumah.


Jihan menurut. Tapi, dengan posisi berjalan di belakang Pandu. Pandu masih bingung kenapa Jihan seperti ini. Di dalam lift, Jihan menunduk dan membisu.


Pintu lift terbuka. Lorong yang sama yang pernah ia singgahi. Pandu menggenggam tangan Jihan agar memberikan rasa aman. Jihan mengamati situasi. Terlihat sepi. Napas berat ia lepas. Pintu itu sudah ia lewati. Beruntungnya ia tak melihat seseorang yang ia hindari selama ini.


Access Card membuka pintu Apartemen Pandu. Pandu mempersilahkan Jihan untuk masuk lebih dulu. Luxury Apartment. Memang hunian yang diidam-idamkan semua orang. Desain interior setiap ruangannya sangat apik dan mewah. Ia tak menyangka Pandu juga memiliki hunian ini. Jihan berkeliling sebentar mengamati setiap ruangannya.


"Aku mandi dulu ya, Jihan. Setelahnya kamu. Aku udah merasa gerah."


"Oh, iya."


1 kamar yang sebelumnya sudah diberitahu Pandu menjadi ternyaman bagi Jihan. Jejeran buku-buku di rak dinding kamar Pandu menyita perhatian. Tangan dan mata Jihan menelisik satu persatu kumpulan buku-buku tebal yang pasti sangat membosankan untuk dibaca.


'Pandu sekaku inikah gak ada mengoleksi 1 aja buku mengenai kisah klise yang sering gue baca?'


Tangan Jihan berhenti di salah satu buku berukuran sedang, yang terapit oleh beberapa tumpukan-tumpukan buku lainnya.


Terlihat sangat berbeda. Sedikit kusam. Cover buku itu tertulis "Our Dreams".


Rasa penasarannya memuncak. Duduk di ranjang siap membuka halaman pertama.


Tertulis nama Pandu dan.... Sulis.


'Nama itu. Kenapa tertera nama wanita itu?' Jihan merasakan perubahan hatinya yang kian memanas.


Lembaran kedua mulai ia buka. Foto usang yang menampilkan wajah Pandu tertawa lepas di hadapan wanita berhijab.


'Mungkin, ini masa-masa sekolah mereka dulu.'


Pakaian putih abu-abu menjadi pelengkap. Di lembaran itu, juga tertulis, "Sulis si manis dan Pandu si kasep".


Lembaran ketiga, keempat, kelima masih menampilkan foto-foto lama Pandu bersama Sulis. Disertai kata-kata manis yang cukup membuat Jihan terpaku terdiam.


Lembaran selanjutnya, berupa tulisan yang mungkin wanita itu yang menulisnya. Kata-kata penuh sanjung untuk menggambarkan sosok Pandu.


Lembaran berikutnya, gambar-gambar karikatur lucu seperti menggambarkan sosok Sulis. Foto-foto mereka pun masih terlihat di buku ini dalam ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya.


'Impian kita. Lulus sekolah, bekerja, menabung, membahagiakan orang tua, minta restu, menikah, bangun rumah, hidup berdua, punya anak, hidup bahagia dan menua bersama selamanya.'


Lembaran lainnya, Jihan menemukan tulisan tangan dari Pandu. Jihan seperti ingin membaca, tapi sebenarnya ia takut akan merasa lebih tak rela.


Dari tulisan ini, membuktikan bahwa Pandu benar-benar sangat mencintai Sulis. Yang menyadarkan Jihan untuk tidak boleh berharap apa-apa ke Pandu.


"Walaupun aku dan kamu tidak akan pernah direstui dan bersama, aku gak akan bisa menemukan wanita lain sebaik dan setulus kamu. Kamu berhak bahagia bersama seseorang yang telah Abah kamu pilihkan. Doakan Aa' agar bisa melupakan kamu ya. Aa' ditakdirkan untuk menikahinya. Jihan."


...🍁~🍁...


...Bersambung.....................

__ADS_1


__ADS_2