
Rasa mualnya tak bisa ia tahan. Segala macam makanan selalu ia keluarkan. Lusuh dirinya sudah sangat memperihatinkan. Seminggu ini ia tidak fokus bekerja. Selalu izin dan tak memperdulikan kerumitan dalam project yang sangat menambah stresnya. Mengurung diri ia lakukan. Dalam selimut, ia menangis terisak menyesali dengan kecerobohannya.
"Mau apalagi sih lo?!" Bentakan keras tepat di hadapannya.
"Aku hamil, Vid. Aku hamil anak kamu. Aku butuh kamu, Vid."
David mengusap kasar wajah kesalnya. Pengakuan itu lagi yang ia dengar.
"Jangan percaya diri banget lo kalau ini anak gue!!"
"Ini benar anak kamu, Vid. Aku cuma berani ngelakuin hal itu ke kamu. Pria yang pertama kali nyentuh aku. Itu kamu, Vid. Aku mohon bantuan kamu banget Vid. Nikahi aku! Aku butuh sosok ayah untuk anak ini. Aku mohon.... Hiks.... hiks...."
Bersujud pun telah ia lakukan. David tetap memandang merendahkan. Ia berjongkok dan menarik dagu Mia agar menatap bola matanya.
"Gue gak sudi nikahi perempuan tolol dan murahan kayak lo. Tubuh lo itu, sebanding dengan perempuan-perempuan bayaran gue. Disiram kembang tujuh rupa pun tetap aja najis. Seambisius apa pun lo ngejar-ngejar gue, gak akan gue bertekuk lutut di hadapan lo. Mau dia anak gue atau bukan, lebih baik lo buang nih anak sial!! Jangan sampai nyesel lo ngebiarin anak ini tumbuh di dalam perut lo. Dan sampai kapan pun, gue gak mau berurusan lagi dengan lo perempuan MU-RA-HAN!!"
Linangan air mata pun luruh. David meninggalkannya dengan kata-kata yang sangat merobek hatinya. Perut yang masih terlihat rata, ia pukul-pukul sekuat tenaga. Segala macam cara ia lakukan untuk mencoba menggugurkan janin ini.Tetap tak bisa. Menyimpan penyelasan ini menambah bebannya.
"Mama gak tahu lagi bagaimana ngebujuk Mia, Pa. Mia murung terus.... Mama selalu dengar isak tangisnya dari balik pintu kamarnya. Si Bibik juga gak berhasil ngebujuk Mia untuk keluar Pa. Gimana ini?"
"Biarkan saja lah Ma! Kita tunggu Mia sampai reda dulu. Mungkin dia butuh menyendiri dulu."
Mama Mia tambah kesal dengan suaminya yang terus tak perduli dengan keadaan Mia sekarang.
"Apa lagi yang diperbuat anak itu?"
...🍁~🍁...
Botol alkohol, bubuk kokain, jarum suntik dan beberapa obat terlarang lainnya sudah membawa pandangan dan pikirannya tidak terkendali. Sedari tadi, ia tak berhenti tertawa dan tersenyum memandangi foto Jihan yang sengaja ia tempel lebar di dinding Apartemennya. Bayangan lalunya yang bercumbu mesra dengan Jihan terus berulang. Mungkin, dia sudah bisa dikatakan gila karena terus-menerus tidak berhenti memikirkan Jihan masa lalunya.
Ia menyesal. Mengakui tindakannya yang ceroboh yang sudah mengingkari Jihan. Dari banyaknya wanita hanya Jihan yang selalu membekas. Gadis polos yang dulu sempat mencuri perhatiannya. Tapi, semua itu berakhir hanya karena godaan duniawi yang lain. Dia benar-benar jahat. Kalau bukan karena Jihan, ia juga tak akan bisa memiliki Apartemen ini, tidak bisa mendapatkan impiannya dalam dunia modelling dan tak bisa merasakan hidup mewah.
"Gue.... tetap.... bakal nge-re-but lo balik.... Baby." Berbicara terbata.
Efek berat dari obat-obatan dan minuman beralkohol tinggi. David kembali menghirup bubuk kokain itu.
...🍁~🍁...
Sebelum gelap datang, Jihan ditemani pak Rejo tengah sibuk merapikan taman kecil yang berada di belakang rumah orang tuanya.
"Kalau lagi musim kemarau begini, mesti disiram di pagi hari dan sore Non. Lain hal saat musim hujan. Siram di pagi harinya saja Non. Soalnya, kalau musim hujan itu otomatis tanah selalu lembap. Takut malah merusak akar dan daunnya Non. Jangan lupakan juga kondisi tanahnya. Sesekali harus diganti dan diberi pupuk." Penjelasan cermat pak Rejo.
"Kalau jenis pupuknya apa ya Pak?"
"Kalau tanamannya sudah sebanyak ini, bagusnya pakai pupuk NPK Mutiara Non. Tapi kalau untuk Non yang masih pemula dalam urusan tanaman, lebih baik pakai pupuk PLP Non. Itu bisa langsung pakai. Karena bersifat cair atau sudah langsung ditakar atau dicampur dengan air Non."
Jihan menghampiri bunga mawar dan bunga anggrek yang mekar merekah. Sejak tadi, matanya terpesona dengan kedua bunga itu. Ia pun senang karena disambut dengan aroma wangi khas dari kedua bunga tersebut.
"Nanti boleh gak, Jihan minta bibit kedua bunga ini Pak?"
"Tentu boleh Non. Ini kan punya mama Non juga. Bebas toh Non."
"Hihihi.... kan saya juga harus izin Pak. Nanti, saya belajar dari Bapak lagi deh soal ngerawat tanaman. Di rumah mas Pandu gersang banget. Belum ada tanaman."
__ADS_1
"Rumah kita Sayang."
Suara Pandu mengejutkan Jihan. Pak Rejo tertawa melihat ekspresi terkejut Jihan.
"Assalamualaikum Sayang.... Assalamualaikum Pak...." Sapa Pandu.
"Waalaikumsalam Den!!"
"Waalaikumsalam. Kamu suka banget ngagetin aku." Gerutu Jihan.
Pandu tersenyum nyengir. Ia mengarahkan tangannya ke arah Jihan menunggu salam kecup dari istrinya. Jihan paham apa yang diinginkan Pandu.
Mata Jihan berhenti di sebuah kotak yang sedang dipegang Pandu.
"Itu apa Mas? Banyak banget."
Pandu menunjukkan di depan Jihan. Kotak Pizza yang terlihat.
"Pizza untuk cemilan kita semua. Untuk pak Rejo, bik Arsih dan bik Jum juga. Ajak makan bareng Sayang!"
"Wahhh.... asik. Alhamdulillah.... Terimakasih banyak Den."
"Sama-sama Pak."
Jihan meraih semua kotak Pizza dan segera ke dapur untuk membukanya. Sebelumnya, ia juga ingin membuat minuman untuk menemani santapan mereka.
"Mas langsung mandi aja dulu!"
Jihan yang terlihat sedikit kesusahan langsung dibantu oleh bik Jum.
"Minta bantuan toh Non."
"Hehehe.... mau belajar mandiri Bik. Kan udah jadi Ibu Rumah Tangga."
"Iya deh Non.... Alhamdulillah ya, Non sudah ada yang mendampingi. Baik, sholeh, bertanggung jawab. Membawa perubahan positif ke Non."
"Alhamdulillah Bik." Senyum manis Jihan menggambarkan bahagia ia saat ini.
Mereka sudah berkumpul di ruang tamu. Mempersilahkan pak Rejo, bik Arsih dan bik Jum makan terlebih dahulu. Para Security pun sudah ia suguhkan pula Pizza untuk disantap. Tinggal ia yang masih menunggu Pandu turun. Dan tidak berapa lama, Pandu dengan segarnya sehabis mandi berjalan ke arah Jihan yang sedari tadi tak bisa menahan senyumnya.
"Den Pandu, silahkan dimakan! Terimakasih ya Den, Pizzanya enak."
"Alhamdulillah.... sama-sama pak Rejo."
Pandu mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Jihan. Ia menatap bingung saat wajah Jihan yang terus menarik garis bibir itu tak berhenti.
"Sayang, kamu kenapa?"
Jihan menggelengkan kepalanya seakan menghilangkan pemikirannya.
"Gak ada. Ini sangat menyiksa jantungku."
Suara kecil yang masih cukup terdengar langsung oleh Pandu. Pandu pun tersenyum kegelian.
__ADS_1
"Non Jihan sama den Pandu di sini selamanya juga gak apa-apa. Perut kita pasti dimanjakan banget. Hihihi...." Celetuk bik Arsih.
"Hahaha.... gak selamanya juga Bik. Hidup berdua itu lebih membahagiakan. Pak Rejo, bik Arsih dan bik Jum jangan khawatir. Sesekali kita bakal ke sini kok. Dan nanti saya bawakan banyak makanan sampai kita kekenyangan."
"Hahaha.... bisa saja den Pandu ini."
Waktu seruan Adzan memanggil. Pandu dan Jihan mengajak semuanya sholat berjamaah. Pandu yang memimpin. Suasana khusyuk mulai dirasa. Hingga sepanjang Doa yang dipanjatkan Pandu, tak disangka cairan bening berjatuhan di kedua tangan menengadah Jihan yang tertutupi mukena. Rasa syukurnya selama ini terhadap sang Pencipta yang telah membawa ia banyak belajar dari kehidupan yang ia jalani. Semua kesulitan, kegusaran, kelelahan, kekhawatiran benar-benar terganti dengan Anugerah terindah yang diberikan Allah swt terhadap dirinya.
Jihan meraih dan mengecup tangan Pandu. Begitu juga Pandu yang mengecup kening Jihan. Selanjutnya, mereka saling bersalaman. Pak Rejo, bik Arsih dan bik Jum undur diri terlebih dahulu. Menyisakan Pandu dan Jihan yang duduk berhadapan sambil membuka kitab suci Al-Quran. Membimbing Jihan melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Jihan sudah bisa mengimbangi lantunan ayat suci Al-Quran dari Pandu. Mereka tak tahu, senyuman haru terbit dari wajah Mama dan Papa yang baru saja pulang dan tak sengaja mendengarkan lantunan suci tersebut.
"Masyaallah.... anak kita Pa!! Anak kita Jihan sudah kembali. Putri kecil kita dulu yang patuh dan berakhlak."
"Alhamdulillah.... akhirnya anak badung itu tobat juga."
Mencubit perut buncit Papa karena kesal dengan perkataan kasar tak enak didengar.
"Jihan itu anak kita Pa. Bisa gak sih, kalau bicara soal Jihan itu dengan kata-kata yang lembut. Jihan sedikit kasar itu sepertinya turunan dari Papa."
"Loh, kok jadi papa sih?! Itu akibat pergaulan liarnya Jihan. Bukan pa...."
"Papa, Mama!! Udah dari tadi pulangnya?"
Perdebatan Mama dan Papa terhenti.
Pandu dan Jihan menghampiri keberadaan Mama dan Papa. Pandu yang santun, menyalami tangan sang mertua.
"Beginilah seharusnya seorang anak. Patuh pada orang tua, hormat pada orang tua."
Jihan menghela napasnya berat. Ia pun mengikuti langkah Pandu yang menyalami tangan Mama dan Papanya.
"Mama dan Papa udah makan?" Tanya Jihan.
"Emangnya kamu masak? Bisa?"
Lagi dan lagi Papa melempar sindiran.
Pandu dan Mama yang mendengar, bingung bagaimana cara menengahi keduanya.
"Papa ud...."
"Masakan Mama tadi masih banyak. Tinggal Jihan panaskan lagi sudah bisa dimakan. Dan masih ada sisa Pizza pemberian mas Pandu. Papa mau yang mana? Oh, atau Papa cuma mau makan masakan dari mas Pandu. Mas Pandu jago masak loh. Menantu rasa anak, anak serasa musuh. Jihan rasa, Jihan gak perlu lagi pulang ke rumah ini."
Berbalik badan dan berjalan cepat ke kamarnya. Begitu pula dengan Pandu yang akan mengikutinya.
"Maaf Ma, Pa, Pandu mau langsung ke kamar."
Anggukan Mama menjawab cepat. Dan perdebatan Mama Papa lah yang kembali berlanjut.
...🍁~🍁...
Bersambung..............
__ADS_1