Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Suami Siaga


__ADS_3

Pandu segera menghentikan pekerjaannya setelah mendapatkan informasi tak mengenakkan dari Raska mengenai istrinya. Pertemuan dengan client pun terpaksa ia hentikan. Kabar istrinya membuat ia sangat khawatir.


"Ras tolong bantu handle ya! Thanks infonya."


"Sip Ndu. Hati-hati nyetirnya!"


Raska tersenyum lega melihat Pandu yang sekarang. Ia bersyukur. Kehadiran Jihan sangat mampu menghentikan dan mengobati hati hampanya Pandu. Tak ada lagi bayang-bayang Sulis dalam pikiran sahabatnya ini. Pertemuan singkat dan sangat berkesan untuk keduanya.


...🍁~🍁...


Pandu telah memasuki kediaman Alya. Alya terkejut tak menyangka secepat ini Pandu sudah hadir di hadapannya. Perasaan, baru saja 20 menitan lalu ia mengabari Raska.


"Bagaimana dengan Jihan, Alya?"


"Ya ampun Ndu! Lo ngagetin gue aja. Ngucapin salam aja kagak."


"Assalamualaikum. Sorry Alya."


Alya tertawa puas melihat kelakuan Pandu.


"Waalailkumsalam. Ya udah, ke kamar gue gih! Jihan masih uring-uringan dengan nyeri perutnya. Maklumi ya. Wanita kalau PMS rada sensitif."


Pandu mengangguk mengerti akan pengarahan Alya. Segera ia ke kamar Alya yang sudah diunjuk. Benar saja. Jihan terlihat mengelungkan tubuhnya dan merintih kesakitan. Pandu tambah khawatir. Ia langsung mengambil posisi duduk di pinggiran ranjang dan menyisir lembut surai ikal Jihan yang sudah sedikit basah karena peluhnya.


"Sayang.... sakit banget ya?" Suara Pandu menyentak Jihan yang belum terlalu mengerti kehadiran Pandu.


"Eh, Mas.... Mas kok di sini?" Wajah kesakitan itu yang coba ia tahan sangat terlihat oleh Pandu. Menambah rasa khawatir dan bingung Pandu sebab ia tak tahu bagaimana harus bertindak.


"Raska yang mengabari ke mas kalau kamu lagi sakit."


Gerakan lembut tangan Pandu di kepalanya, Jihan hentikan. Ia berusaha bangkit ingin duduk bersender pada kepala ranjang. Pandu membantu susahnya Jihan memposisikan dirinya. Bibir pucat Jihan semakin terlihat.


"Kita ke rumah sakit aja ya?"


Gelengan cepat segera Jihan berikan.


"Gak Mas. Aku bukan sakit parah kok. Ini efek pertama wanita kalau lagi menstruasi aja. Perut, pinggang, kepala terasa nyeri banget. Kamu ada-ada aja sih. Aku malu lah ntar kalau ditanyain keluhanku apa. Masa gara-gara PMS doang langsung ke rumah sakit."


Pandu yang tak tahu apa-apa hanya bisa tersenyum polos.


"Habisnya, kamu pucat banget Sayang. Mas kan gak ngerti masalah kayak begini. Dan kondisi kamu juga ngebuat mas khawatir. Pasti sakit banget."


Jihan lebih mendekatkan dirinya dan meringkuk dalam pelukan Pandu. Pandu mencoba mengelus-elus perut Jihan yang menjadi sumber kesakitan Jihan.


"Ini itu udah biasa aku rasain setiap kali mau datang bulan Mas. Jadwal mens Jihan gak menentu. Udah keseringan banget kayak begini. 2 bulan sekali atau 3 bulan sekali baru mens. Dan sakitnya itu parah banget Mas. Biasanya sih, 2 hari atau 3 hari perut Jihan bakal kerasa nyerinya. Tapi gak perlu sampai dibawa ke rumah sakit kok. Ini tuh penderitaan setiap wanita yang harus diterima. Kalian para pria mana tahu masalah beginian."

__ADS_1


Pandu tertawa singkat mengiyakan perkataan Jihan.


"Maaf Sayang, mas benar-benar gak paham. Mungkin, ini penyebabnya Ranti dulu gampang banget kepancing emosi. Di saat Ranti kesakitan, mas malah jahilin."


Jihan pun langsung memberikan cubitan di perut Pandu tak suka mendengar pengakuan Pandu.


"Mas gak tahu aja sesakit apa penderitaan wanita. Ranti penyabar banget ngadepin kelakuan Mas."


Obrolan mereka terhenti ketika ketukan pintu dari arah luar kamar.


"Assalamualaikum. Gue ganggu gak?" Kepala Alya menyempil dari celah pintu.


"Waalaikumsalam. Masuk aja Lya! Ini kan kamar lo."


"Hihihi.... Gue takut aja jatuhnya jadi mergoki pasutri satu ini. Ntar, mata gue ternodai lagi."


Jihan melototi Alya yang berbicara seenaknya.


"Lo pikir kita semesum itu!" Dengus Jihan.


2 gelas teh hangat Alya suguhkan di hadapan Pandu dan Jihan. Pandu menerimanya.


"Terimakasih Alya."


Alya terikut duduk di ranjangnya.


"Pasti lo kan yang maksa Raska untuk ngabarin ke Pandu soal keadaan gue? Kebiasaan banget."


"Gue bingung mau ngapain lagi. Biasanya kan, kalau lo lagi sakit perut begini larinya ke nyokap lo. Sekarang, karena ada Pandu, yaaa.... lebih baik Pandu aja yang gue kabari. Gue juga gak nyangka Pandu bakal secepat ini datang. The best sih, Pandu jadi suami siaga buat lo. Hihihi...."


Jihan tersipu malu mengiyakan perkataan akhir Alya. Pandu memang sangat bisa diandalkan selama ini.


"Kehamilan kamu bagaimana Alya? Masih mual-mual?" Pandu memulai obrolan mereka karena penasaran dengan pengalaman pertama kehamilan Alya.


"Masih sih. Tapi, udah bisa nanganinya kok. Aku selalu sedia permen atau camilan asam yang aku sukai. Cuma, kalau pusing di kepala masih sulit untuk diredakan."


"Lo kelihatan tambah gendutan Alya."


"Iya dong Han. Beberapa hari ini bawaannya pengin makan muluk. Beda-beda orang sih. Ntar, lo bakal beda juga ngerasain hamil itu gimana. Coba pegang deh Han!"


Alya membawa tangan Jihan ke perutnya yang sudah sedikit menonjol. Gundukan kecil terasa menggetarkan hati Jihan. Ia menatap senyuman lembut Alya yang terlihat bahagia dan haru.


"Wanita hamil itu sensitif banget Han. Selalu sering berubah-ubah mood. Kalau gue lagi sendirian di rumah, gue bisa nangis tiba-tiba. Walau masih sekecil ini, gue udah ngerasain nikmatnya menjadi seorang wanita, menjadi seorang ibu. Merasakan siklus pertumbuhan calon baby dalam perut. Ngebuat gue semakin mengerti bagaimana susahnya Mama mengandung kita dulu Han."


Jihan mengelus lembut perut Alya. Tak ia sangka, kedua sudut bibirnya menarik garis lengkungan pada wajahnya. Tentu menarik perhatian Pandu yang juga terpaku harap pada pengalaman yang Alya rasakan. Ia juga sangat berharap Allah akan segera mengetuk hati Jihan dan segera meanugerahkan sebuah janin dalam perut Jihan. Akan serasa lengkap keluarga impiannya.

__ADS_1


"Cepat nyusul ya Han, Ndu! Biar kita bisa berbagi cerita soal anak. Hihihi...."


"Amin.... Doakan yang terbaik untuk kita ya!" Pinta harap Pandu.


Cukup sudah waktu mereka habiskan untuk saling bercerita. Pandu ingin segera pamit agar Jihan lebih leluasa mengistirahatkan dirinya.


Perutnya belum juga reda. Berulang kali wajah berkerut menahan sakit mengiris hati Pandu. Melewati banyak perdebatan hingga akhirnya Jihan pasrah dalam gendongan Pandu. Jihan malu ditatap meledek oleh Alya.


"Aku dan Jihan langsung pulang ya. Terimakasih atas bantuannya Alya."


"Iya Ndu, sama-sama. Aku juga minta maaf ya udah maksa Jihan untuk nemani aku. Aku gak tahu kalau Jihan lagi bermasalah dengan perutnya."


"Iya Alya gak apa-apa. Pamit ya. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam...."


...🍁~🍁...


Pandu terus memperhatikan Jihan yang duduk meringkuk dan menyender pada kaca mobil. Ia menyetir cepat agar cepat sampai ke rumah. Untung saja jalanan saat ini lengang. Sehingga, hanya butuh waktu 30 menit saja sampai di rumahnya.


Mobil langsung ia parkirkan dalam garasi. Membuka pintu yang disenderi Jihan secara perlahan. Memposisikan tubuh Jihan pada lengannya dan menggendong Jihan membawa ke kamar mereka.


"Mas.... kalau Mas masih banyak kerjaan, Mas balik ke kantor aja. Jihan istirahat aja di sini udah cukup Mas."


"Gak, Sayang. Mas jaga kamu. Hmm.... Alya bilang, kalau wanita yang sedang sakit perut saat menstruasi itu lebih enakan dikompres dengan air hangat. Mas siapkan dulu ya."


Jihan tersenyum kegelian melihat langkah gusar Pandu.


'Ya Allah.... sungguh beruntungnya aku engkau turunkan jodoh seperfect mas Pandu. Padahal, itu hanya ucapan sekilas keinginanku yang lalu yang tak kan mungkin pantas ku dapatkan.'


Pandu sudah kembali dengan membawa sebuah botol berisi air. Memilih duduk lebih mendekat ke arah Jihan.


"Maaf Sayang, mas.... izin sentuh...."


Jihan menatap arah tunjuk jari Pandu. Jihan paham dan malah susah payah menahan rasa geli dengan tingkah Pandu. Ia pun mengangguk dan menuntun tangan Pandu yang memegang botol tersebut ke perut polosnya. Rasa hangat pun Jihan rasakan. Sedikit rileks.


"Hihihi.... kenapa Mas sekaku ini sih? Jihan kan istri Mas."


"Oh, iya? Mas rasa.... mas belum dapat izin sepenuhnya untuk menyentuh istri kesayangan mas ini." Menyentil hidung bangir Jihan. Membuat bulu kuduk Jihan meremang dengan celetukan Pandu.


Pandu berhasil membuat mata bulat Jihan terpejam damai. Ia membenarkan posisi ternyaman untuk Jihan dan menyelimutinya. Wajah terlelap itu sangat anggun di mata Pandu. Ia tak habis-habisnya menatap, tersenyum dan sesekali terus menyapu helaian-helaian rambut yang menutupi wajah Jihan. Dan tak berapa lama Pandu juga terikut terbawa dalam alam mimpinya.


...🍁~🍁...


Bersambung...............

__ADS_1


__ADS_2