Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Mood Swing


__ADS_3

Jihan berjalan menunduk. Nada dering notifikasi pesan masuk dari handphonenya.


Pandu : "Aku udah di depan Jihan."


Sontak mata Jihan membulat ketika Pandu benar-benar di hadapannya. Berlari agak cepat agar semua tak melihatnya. Pandu bingung dengan langkah cepat Jihan.


Jihan memaksa Pandu menyetir lebih cepat.


"Kamu kenapa Jihan?"


"Aku malas banget dengar gosip-gosip aneh dari mereka. Mereka pada nuduh aku selingkuh dari David. Padahal, jelas-jelas David yang selingkuh dari aku."


"Ya udah, gak usah terlalu dipikirin. Nanti, mereka juga tahu kok yang sebenarnya."


Sesampainya di rumah, Pandu dan Jihan disapa para tetangga yang lewat.


"Nak Pandu, itu siapa? Pacarnya ya?"


"Kok kita lihat dari kemarin, pacarnya nak Pandu nginep di rumah nak Pandu? Hati-hati loh, nanti digrebek warga."


Itu teguran atau olokan? Yang jelas, saat ini Jihan kesal dengan para ibuk-ibuk rempong yang berbicara seakan-akan Pandu dan ia melakukan kumpul kebo. Mulut Jihan gatal rasanya ingin mencaci maki ibuk-ibuk di hadapannya ini. Untung saja, Pandu segera mengambil alih.


"Sebelumnya, saya minta maaf ke Ibuk-ibuk semuanya udah ngebuat geger. Kita sudah menikah Buk."


"Menikah?" Nada tak percaya.


"Iya Buk. Ini istri saya. Namanya Jihan. Maaf sekali lagi Buk, kita belum sempat lapor ke pak RT dan pak RW di sini. Kalau Ibuk masih bingung, saya tunjukkan buku nikah kita."


Pandu mengambil dan memperlihatkan buku nikah mereka. Adanya buku nikah, barulah para Ibuk-ibuk percaya.


"Oalah.... bener toh Buk. Mereka sudah menikah. Kalau begitu, maaf ya nak Pandu. Alangkah baiknya, hal ini segera diberitahu. Soalnya, ibuk-ibuk di sini sudah pada suudzon dengan nak Pandu. Tahunya mereka kan, kamu masih lajang. Hihihi...."


Senyum genit Ibuk itu sangat menjijikkan di mata Jihan. Sedangkan Pandu hanya tersenyum santai menanggapinya.


"Iya, Buk. Insyaallah secepatnya."


"Selamat berbahagia ya Nak. Istrinya cantik. Hihihi...."


Perginya Ibuk-ibuk rempong itu masih menyisakan kesal di hati Jihan.


"Sibuk banget sih Ibuk-ibuk di sini. Lo gak nyesel tinggal di sini? Cepat buka pintunya tuh!"


Pandu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Jihan.


Jihan terus berjalan cepat tak memperdulikan panggilan dari Pandu.


"Jihan.... kamu kenapa sih?"


Melempar tas selempang ke ranjang. Mengambil pakaian, handuk dan membanting kuat pintu kamar mandi. Pandu hanya bisa menunggu Jihan keluar dan akan berusaha menenangkannya. 1 jam menunggu dan Jihan keluar dengan wajah masih cemberut kesal.


"Jihan, kamu kenapa? Kenapa kamu sering marah-marah terus sih?"


"Lagi kesal!"


"Kesal kenapa?"

__ADS_1


"Gue kesal! Pekerjaan gak pernah beres. Ada aja masalah. Belum lagi semua orang ngegosipin gue. Dan sekarang, kita dianggap kumpul kebo. Kesel banget kan?!"


Pandu membelai pipi Jihan penuh kelembutan.


"Jihan, semarah apa pun kita, cukup diam aja. Perbanyak istighfar dan dzikir. Allah itu akan memberikan cobaan ke kita tidak melebihi kekurangan kita. Mau orang berbicara bagaimanapun, biarkan saja. Allah maha melihat dan maha tahu. Jadi, kamu gak perlu takut. Kamu udah wudhu?"


Jihan menggeleng pelan. Tertegun dengan nasihat penuh kelembutan dari Pandu.


"Wudhu dulu ya! Aku mau mandi dulu. Setelahnya, kita sholat bareng. Minta petunjuk dan perlindungan sama Allah."


Jihan mengikuti arahan Pandu. Adzan magrib sudah berkumandang. Mukena terpakai dan sajadah terbentang. Tinggal menunggu Pandu selesai mandi. Pandu pun tak berlama-lama sudah kelihatan rapi dengan pakaian santainya. Mengambil sarung dan kopiah untuk ia pakai.


"Allahu Akbar...."


Takhbiratul pertama mengawali sholat khusyuk mereka. Jihan sudah bisa melakukan sholat 5 waktu kewajibannya. Berkat Pandu, Jihan mulai lebih dekat dengan sang Pencipta. Lantunan doa yang dipimpin Pandu sebagai akhir dari sholat mereka. Jihan menyalami dengan mencium tangan Pandu. Pandu pun menarik tengkuk Jihan. Mencium kening Jihan dengan penuh kelembutan.


Pandu tertawa memandang wajah cengo Jihan. Jihan yang malu cepat-cepat merapikan mukena dan sajadah mereka.


"Jihan, ini ada kado dari karyawan di kantor."


"Dari siapa?"


"Sisca, Resepsionis di kantor."


Mendengar kata "Resepsionis" mengingatkan Jihan kepada wajah Resepsionis songong waktu itu. Jihan mengambil paper bag dan melihatnya dengan wajah penuh angkuh.


"Kalau dia tahu siapa yang kamu nikahi, pasti gak bakal nih dia kasih kado."


"Jihan.... jangan suudzon!"


"Pandu, kita lupa dengan kado-kado ini. Kita buka yuk!!"


Pandu tak begitu tertarik. Ia lebih memilih memandang laptop dan berkas-berkas yang mesti ia periksa malam ini.


"Kamu aja ya!"


Jihan kembali cemberut mendengar penolakan Pandu. Tapi, ia merubah moodnya kala melihat begitu banyaknya kado-kado yang menumpuk. Satu persatu ia buka dengan semangatnya.


"Wow.... lucu banget. Ndu, kita dapat piyama couple. Kapan-kapan kita pakai ya!"


Suara Jihan memenuhi ruangan kamar Pandu.


"Ini juga lucu. Handuk Hermes, jam tangan couple, tas, sepatu couple, piyama lagi. Oh My God....! Ada yang kasih gelang, Pandu! Cantik banget...."


Pandu sedari tadi hanya mengulas senyum mendengar celotehan Jihan. Jihan benar-benar mood swing. Yang awalnya marah, kini langsung tertawa kegirangan. Tapi, Pandu bersyukur. Hidupnya sekarang penuh warna. Jihan mengisi hari-harinya yang penat.


Jihan menemukan 1 box berwarna maroon yang tertulis nama Alya. Ia mengambil dan membuka pita yang melilit pada box itu. Sangat penasaran akan kado apa yang diberikan Alya untuknya.


Menatap bingung. Yang ia temukan beberapa helaian kain lembut berbahan sutra berwarna merah dan satunya lagi berwarna hitam. Ia mengangkat agar terbentang.


"Lingerie!!!" Teriakan keterkejutan Jihan dengan apa yang diberikan Alya.


"Ada apa Jihan?" Pandu bertanya.


Cepat-cepat Jihan melipat Lingerie itu.

__ADS_1


'Jangan sampai Pandu juga melihatnya. Pasti malu banget kalau Pandu sampai tahu.'


"Alya terlaknat. Bisa-bisanya lo kadoin gue Lingerie. Pandu mana ngerti yang begituan." Jihan mengutuk Alya.


Selembaran kertas berisi pesan singkat dari Alya pun ia baca.


'Have fun ya, Han. Lo bisa gunain ini di malam indah lo sama Pandu. Buatin ponakan buat gue. Hihihi....'


Membaca pesan singkat Alya, sudah mampu menyemburkan rona merah di kedua pipi Jihan. Ia melirik ke arah Pandu. Membayangkan kalau mereka benar-benar melakukan itu. Jihan meremang dan tersenyum kegelian. Berusaha ia hilangkan pemikiran liarnya.


Semua kado-kado yang selesai ia buka, segera ia simpan kembali. Jihan kembali ke arah ranjang. Ia ikut terduduk di samping Pandu yang masih setia berkutat dengan laptop dan berkas-berkas yang sedang ia tanda tangani.


"Wow.... itu desain arsitektur bangunan ya?"


"Iya."


"Keren. Ini kamu yang desain?"


"Bareng team juga. Sama seperti kamu. Bedanya, kamu desain busana sedangkan aku desain struktur bangunan."


"Serius deh, ini aku baru tahu kamu sehebat ini. Setelah beberapa minggu aku nikah sama kamu, baru sekarang aku tahu pekerjaan kamu."


"Emangnya kamu gak pernah cari tahu tentang suami kamu ini?"


Mendengar kata suami dari mulut Pandu langsung, membuat Jihan seakan melayang.


"Jadi, rumah ini juga kamu yang desain ya?"


Pandu menoleh ke Jihan secara tiba-tiba.


"Iya Jihan."


Tak sadar, wajah Pandu begitu dekat dengan Jihan. Jihan terpaku bertatapan sedekat ini dengan Pandu. Pandangan itu cukup lama. Baik Pandu dan Jihan, mereka saling mengamati pahatan indah wajah mereka dalam jarak dekat. Dalam batin saling mengagumi.


Hingga, Jihan merasakan wajah Pandu semakin mendekati wajahnya. Napas hangat Pandu sudah bisa ia rasakan. Ini terlalu dekat. Satu tangan Pandu menarik tengkuk Jihan agar tak ada jarak lagi di antara mereka. Finally, bibir Pandu berhasil meraup bibir manis Jihan. Mencecap dan....


"Jihan! Hei, Jihan!"


Jihan tersentak dan tersadar kalau itu semua hanya khayalannya saja. Semburat merah itu kembali menghiasi pipinya.


"Kamu kenapa? Dari tadi aku menjelaskan, kamu Cuma diam mematung."


'Gila.... Pikiran gue kejauhan banget sih....'


"Jihan, pipi kamu kenapa memerah?"


Tangan Pandu mengusap pipi Jihan.


Perlakuan manis Pandu selalu membuat Jihan terlena. Ia tak mau ini terlalu jauh. Ia sadar, ia bukan wanita yang diinginkan Pandu.


"A-aku gak apa-apa kok. Hmm.... aku tidur duluan ya?"


Jihan membaringkan tubuhnya menghadap ke samping yang saat ini terlihat sedang memunggungi Pandu. Menetralkan degupan jantungnya yang memburu. Pandu membereskan perlengkapannya dan ikut berbaring. Tapi sebelumnya, ia menyelimuti Jihan dan mencium kening Jihan. Tanpa Pandu sadari, Jihan sama sekali belum tertidur. Ia hanya berpura-pura menutup kelopak matanya. Dan Jihan berulang kali mengutuk dirinya yang bertingkah berlebihan di kala perlakuan manis Pandu terhadapnya.


...🍁~🍁...

__ADS_1


...Bersambung...................


__ADS_2