
Wanita gemulai berjalan memasuki gedung Warriors Group. Langkah cantiknya menjadi sorotan satu ruangan. Menunggu lift terbuka.
Yogi si playboy yang ingin memasuki lift pun baru tersadar di sampingnya ada sesosok bidadari cantik yang membuatnya tak berkedip.
"Hai, cantik."
Wanita itu tahu bahwa dirinya sedang digoda oleh pria di sampingnya. Tak memperdulikan. Langkah gemulainya terus memasuki lift.
Yogi yang penasaran tak mau merasa gagal. Wanita ini benar-benar tipenya. Cantik dan seksi.
Beruntungnya Yogi dalam satu lift bersama wanita yang belum ia tahu namanya.
"Ekhem! Namanya siapa cantik?"
Wanita itu menoleh ke arah Yogi sambil menyampirkan rambutnya dengan angkuh.
"Siapa nama gue, itu bukan urusan lo. Jangan pernah sekalipun terpikir kalau gue bakal mau sama gombalan receh lo itu. Lo bukan tipe gue. Sorry."
"Wahhh.... ini nih yang gue suka. Cantik-cantik galak. Emang sih, pertemuan di awal itu kesannya malu-malu kucing. Entar, lo bakal nyesel nolak gue, cantik."
Wanita itu tidak merasa kalah. Ia memajukan dirinya lebih mendekati Yogi yang sedari tadi terpesona dengan kemolekannya.
"Gue gak bakal dengan mudahnya tergoda sama cowok mata keranjang kayak lo."
Senyum smirk Yogi ia tunjukkan. Wanita itu berjalan keluar saat pintu terbuka. Yogi tak takut. Malah membuatnya merasa tertantang.
...🍁~🍁...
Pandu bekerja dengan begitu semangatnya. Hatinya benar-benar kembali riang. Hubungannya dengan Jihan sudah sangat jelas. Jihan juga mencintainya.
Senyum kegelian tak lepas dari pandangan siapa pun yang melihat perubahan aneh Pandu. Ia akan berjanji untuk memberikan perhatian apa pun ke Jihan. Hingga Jihan dapat merasakan seberapa besar cinta Pandu kepada dirinya.
"Mbak Jihan dari tadi senyam senyum sendiri. Kenapa sih Mbak?" Lily penasaran dengan tingkah laku Jihan.
"Iya, dari tadi kita lihatin senyum-senyum gak jelas. Entar, tangan lo yang malah kejahit, Han."
Jihan menjadi pusat perhatian saat ini. Bayangan ciuman Pandu ke dirinya masih jelas diingatannya. Jihan sangat bahagia telah mendapatkan pengakuan cinta dari Pandu.
"Hmm.... aku gak apa-apa kok. Cuma, lagi bahagia aja. Sorry ya, udah buat kalian gak fokus."
"Lo yang gak fokus, Jihan."
Jihan mengiyakan pendapat teman-temannya. Pikirannya tak berhenti berputar memikirkan Pandu. Sebesar inikah efek dari ciuman Pandu?
Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja. Berharap jantung dan pikirannya normal. Ia akan bingung banget kalau sekiranya nanti berhadapan langsung dengan Pandu.
"Hai, guys....!" Mia dan para kacungnya mulai membuat keributan. Kepala Jihan terangkat memastikan. Dan benar saja, Mia si wanita ular berjalan pongah mengelilingi setiap ruangan kerja Jihan. Tangannya terus saja menyentuh setiap busana-busana koleksi Jihan yang terpasang di setiap manekin.
"Kalau lo ke sini cuma untuk ngebuat keributan, mending lo keluar!"
Jihan jengah melihat tingkah pongah Mia.
"Iya. Lo ke sini cuma buang-buang waktu kita doang. Tangan kotor lo itu gak pantes nyentuh koleksi-koleksi kita." Andrew menjadi garda terdepan.
Mia berdecih. Ia menduduki sofa dengan kaki sengaja ia letakkan di atas meja. Jari-jarinya memilin rambut curly nya.
"Santai Beb....! Gue mau damai kok. Gue ke sini cuma mau nyapa kalian. Sekaligus, mau ngundang kalian untuk hadir di event besok. Lo semua harus datang ya! Supaya kalian bisa lihat siapa penerima penghargaan Desainer terbaik di tahun ini. Yang pastinya itu gue. Siapa tahu.... gue bisa jadi inspirasi buat kalian."
Andrew mengangkat kaki Mia dan menghempaskan ke bawah. Ia sudah muak dengan semua drama Mia.
"Thanks, Mia. Kita gak punya waktu. Lo baru menang sekali aja udah bangga. Lo itu berani berkuasa karena lo keponakannya Madam. Kalau lo berjuang sendiri tanpa bantuan Madam, lo gak ada apa-apanya sama kita."
"Oh ya?! Kita buktikan aja besok. Lo semua bakal beri tepukan takjub ke gue."
Mia merasa bangga telah di atas Jihan. Jihan menanggapinya dengan santai. Ia berusaha menahan emosinya. Percuma juga berperang terus-menerus dengan wanita ular seperti Mia. Terkadang, Jihan tak habis pikir melihat sikap Mia terhadapnya. Mia yang dulu tak lagi ia temukan.
__ADS_1
...🍁~🍁...
Pandu menggenggam tangan Jihan. Mereka berjalan sambil tersenyum kegelian. Sampai di mobil pun mereka terus saja saling pandang dan terkadang terasa canggung. Rutinitas yang selalu berulang tak pernah membosankan.
"Jihan, nanti kita sholat di Masjid aja ya!"
"Masjid?"
"Iya. Biar warga juga tahu siapa kamu. Sekalian mau lapor ke pak RT."
"Hmm.... sholat di rumah aja ya Pandu! Aku masih asing banget di sini. Nanti, pasti banyak yang tanya ini itu. Kamu kan tahu, ibuk-ibuk di sini bagaimana."
Pandu paham apa yang ditakutkan Jihan. Namun, kalau mereka tidak segera melapor warga-warga sekitaran rumah mereka akan terus-terusan berprasangka buruk.
"Sayang.... aku mau memperkenalkan istriku ini ke mereka. Selama ini, yang mereka tahu hanya aku. Aku gak mau pikiran negatif mereka tentang kita terus berlanjut."
Mendengar perkataan Pandu semanis ini, Jihan selalu tak bisa berhenti tersipu malu. Dan Pandu sudah biasa akan perubahan lucu raut Jihan. Malah menambah rasa gemas terhadap istrinya.
"Ya udah, aku mandi dulu ya." Cepat melangkah meninggalkan Pandu sendirian di luar.
Seruan adzan magrib memanggil. Jihan dan Pandu sudah setengah perjalanan menuju Masjid. Ini momen pertama bagi Pandu berjalan berdua mengajak Jihan untuk sholat berjamaah di Masjid. Jihan anak yang cukup penurut. Lambat laun, Jihan akan kembali mengenal dirinya yang dulu.
Jihan dan Pandu sudah memasuki Masjid secara terpisah. Jihan mulai merasa canggung di kala beberapa ibuk-ibuk menatapnya intens.
Jihan mencoba melempar senyuman agar tak terlalu kaku. Ia mulai mengerjakan sholat sunnah dan sholat magrib berjamaah bersama jamaah yang lainnya.
Jamaah meninggalkan Masjid setelah sholat Isya selesai. Jihan segera mengikuti langkah jamaah lainnya untuk keluar. Sedari tadi, ia terus menjadi sorotan karena merasa asing. Ada juga yang masih bergosip membicarakan ia dan Pandu yang masih mereka anggap Jihan hanya kekasih Pandu yang menginap di rumah Pandu tanpa ada rasa malu.
Melihat Pandu yang sedang berbincang dengan beberapa bapak-bapak dan ibuk-ibuk, Ia pun menghampiri karena gerah menjadi buah bibir orang-orang yang melihatnya.
"Pandu!"
Semua mata tertuju ke arahnya.
"Ooo.... ini istri nak Pandu?" Tanya salah satu Bapak tua di hadapan Pandu.
"Iya, Pak. Ini istri saya. Kita sudah menikah. Namanya Jihan."
"Masyaallah.... cantik sekali." Kagum Ibuk yang berdiri di samping Bapak tua itu.
Jihan hanya bisa tersenyum. Ia bingung harus berbicara apa.
"Sayang, ini pak RT dan buk RT di komplek sini, pak Agus dan buk Rini."
"Hehehe.... iya, nak Jihan. Kalau ada urusan apa pun bisa minta tolong langsung sama Bapak atau sama saya juga bisa membantu."
"Maaf banget nih nak Jihan, nak Pandu. Kemarin kita udah berprasangka buruk ke kalian berdua. Kita mengira kalian ini belum menikah. Warga-warga yang lain juga udah menyangka kalian melakukan kumpul kebo. Soalnya, yang kita tahu hanya nak Pandu. Dan seingat kita, nak Pandu ini masih lajang. Hampir saja saya ingin mengenalkan nak Pandu dengan keponakan saya. Hihihi..."
Spontan wajah Jihan berubah tegang. Hal itu menjadi tertawaan yang lain saat mengetahui reaksi wajah Jihan.
Lumayan lama berbincang, mereka sudah akan menyudahi.
"Ayo nak Pandu, nak Jihan mampir ke rumah!"
"Insyaallah lain waktu ya Pak. Ini udah malam." Tolak halus Pandu.
"Iya, Pak. Lain kali saja. Pengantin baru itu maunya cepat-cepat di atas ranjang. Hihihi.... Istirahat maksudnya." Canda buk RT.
Semua tertawa renyah. Hanya Jihan yang tersipu malu.
Sepanjang jalan Pandu terus berulang kali menatap dari samping wajah cantik Jihan yang auratnya tertutupi mukena. Dia selalu suka seperti ini. Jihan terlihat adem di matanya.
"Kamu tambah cantik kalau tertutupi seperti ini auratnya."
Jihan menatap ke arah manik mata Pandu. Sungguh, ia merasa melayang mendapat pujian langsung dari Pandu. Tapi, dibalik kata-kata itu, apakah Pandu menyinggungnya? Menyinggung ia lagi yang berpakaian serba minim dan terbuka?
__ADS_1
"Kalau kamu berpikir aku terlalu mengatur kamu dalam berpakaian, aku minta maaf Jihan. Tapi gak ada salahnya kan? Aku mau kamu menjaga aurat kamu dari bukan mahram kamu. Dosa buat aku yang membiarkan istriku mengumbar-umbar aurat."
Jihan menghentikan langkahnya. Ia berkacak pinggang dan mulai merespon pernyataan Pandu.
"Pandu! Mengubah diri itu gak gampang. Kamu tahu kan, aku ini Fashion Designer. Apa yang aku pakai sesuai passion aku. Berhijab menutupi aurat itu terlalu kaku. Aku bakal kelihatan norak dan kayak ibuk-ibuk."
Pandu tertawa mendengar pandangan Jihan mengenai berhijab.
"Hahaha.... Sayang, pandangan kamu mengenai berhijab itu salah. Udah banyak kok trend trend hijab kekinian. Kamu jahat banget sih, memperlihatkan kemolekan tubuh kamu ke laki-laki lain selain aku. Aku gak rela, Jihan. Aku cemburu."
Cubitan gemas di pipi istrinya ia berikan.
Jihan menggila dengan kata-kata terakhir Pandu.
'Cemburu? Pandu cemburuin aku?'
Percayalah, pipi itu kembali memerah. Gandengan tangan Pandu tak terlepas. Hatinya terus bergemuruh saking bahagianya.
Pandu yang ke kamar mandi sebentar memberikan peluang untuk Jihan merapikan dirinya. Entah kenapa dan sejak kapan jiwanya terus saja berperilaku aneh seperti ini.
Memberikan pelembab pada wajah agar selalu terlihat fresh di hadapan Pandu. Aroma vanilla menambah kesan elegan. Ia mematut dirinya di depan cermin.
'Ih, kok gue jadi mati gaya gini sih. Ini gila, Jihan. Pandu.... lo ngebuat gue selalu salah tingkah.'
Suara kenop pintu membuat Jihan bergerak cepat kembali duduk di ranjang. Melihat Pandu yang berjalan sambil berusaha mengeringkan rambut basahnya.
Jihan benar-benar sangat amat beruntung. Selalu bisa melihat wajah tampan dan adem Pandu. Plus perlakuan sweet Pandu yang selalu berhasil membuatnya blushing.
Pandu mengambil posisi duduk yang sama di sebelah kanan Jihan. Pandu bingung dengan tingkah Jihan yang terlihat terus membenarkan posisi duduknya.
"Sayang, kamu kenapa?"
Jihan terkejut saat wajah Pandu tepat di hadapannya.
Posisi itu lagi. Posisi yang terus saja membuat jantung Jihan tak aman. Jihan terdiam. Sedikit mengedipkan matanya. Dan pastinya pipi itu kembali memerah.
Pandu paham apa yang dipikirkan Jihan sampai-sampai istrinya ini terbengong menatapnya.
CUP! Pandu mengecup singkat bibir manis Jihan.
"Aku suka dengan pipi merah kamu. Lucu. Hahaha...."
"Iihhh.... Pandu!! Jahil banget." 1 pukulan menggunakan guling mengenai Pandu. Pandu tetap tertawa terpingkal-pingkal.
Saat dirasa sudah tenang, Jihan memilih segera membenarkan letak guling yang biasa mereka gunakan untuk sekat pemisah tidurnya.
Pandu berdecak dan merebut guling itu. Jihan menatap bingung.
"Sampai kapan kita begini terus? Kita udah menikah Jihan."
"A-aku takut kamu gak nyaman tidur di samping aku, Pandu."
Pandu menarik Jihan lebih dekat dan membaringkan di sebelahnya. Menyisir pelan rambut-rambut Jihan yang menutupi wajahnya.
"Hilangkan pikiran buruk kamu tentang kita. Mulai semuanya dengan indah Jihan. Aku cinta sama kamu. Aku ingin pernikahan ini selamanya. Enggak ada skenario apa pun lagi. Cukup hidup bahagia dan jalan ke depan denganku, Jihan."
Pandu menghapus air mata Jihan. Mengecup kelopak mata itu yang basah. Memeluk erat, membenamkan kepala Jihan ke dada bidangnya.
"Audzu bikalimaatillahit tammaati min ghodobi wa 'iqoobihi wasyarri i'badihi."
Lafadz doa dari Pandu menghantarkan Jihan pada tidur lelapnya.
...🍁~🍁...
...Bersambung..................
__ADS_1