Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Risau Pandu


__ADS_3

Team HRD Warriors Group sudah selesai melakukan interview ke beberapa pelamar. Data-data yang sudah terasingkan yang mereka anggap lebih layak menjadi karyawan baru di Warriors Group akan siap untuk dilaporkan ke ruangan Direktur Utama mereka yang selanjutnya Pandu sendirilah yang meminta memilih bagian-bagian terpenting yang akan para pelamar jabati.


3 karyawan atau karyawati di bagian staf marketing, 1 karyawan atau karyawati di bagian staf keuangan, 2 karyawan di bagian lapangan dan 1 karyawan untuk langsung ia angkat sebagai sekretaris menggantikan sekretaris lamanya.


"Kalian sudah boleh pulang. Nanti, salah satu dari pihak kami yang akan langsung menghubungi siapa saja yang akan keterima."


Perkumpulan para pelamar mulai pergi meninggalkan ruangan. Si molek berjalan lebih dulu menjadi pusat perhatian.


"Semoga kita keterima ya."


"Iya. Kalau aku sih yakin bakal keterima. Kan bukan cuma modal cantik doang. Tapi skill. Hihihi...."


Sedikit menyindir sosok wanita di hadapan mereka.


Wanita itu berhenti dan berbalik.


"Kalau lo semua udah merasa takut kesaing sama gue, bilang aja! Menarik perhatian itu lebih penting. Otak gue juga masih berguna kok. Thanks."


Siulan Yogi menggema di lorong beriringan dengan para karyawati yang terus saja memberikan senyum hormatnya. Pintu lift terbuka.


Senyum Yogi pun kembali terbit saat menemukan wanita incarannya yang selama ini mengganggu pikirannya.


Dengan sigap Yogi mencekal, menarik dan memojokkan posisi mereka ke arah dinding. Kedipan mata ia berikan. Wanita itu memberontak namun tak berdaya dengan cekalan kuat Yogi.


CEKREKKK! Suara jepretan kamera handphone menarik perhatian Yogi. Ia marah karena wanitanya merasa risih akan hal itu.


"HEH! Pergi dan hapus! Gak sopan banget."


Gertakan Yogi berhasil membuat rombongan yang sejalan dengan wanitanya tadi berlari terburu-buru.


Kini, senyum evil Yogi menggoda wanita di hadapannya.


"Wow.... lagi-lagi gue ditakdirkan untuk bertemu bidadari secantik lo di depan pintu lift. Ini lift betul-betul ajaib ya buat gue."


"Jangan halu lo! Sial bagi gue ketemu sama lo."


Nyalangnya mata tak menyurutkan niatan jahil Yogi.


"Mau lo apa brengsek?!"


Yogi menundukkan wajahnya menatap intens ke arah bibir merona incarannya. Semakin mendekat, semakin tak memberi jarak. Seakan tahu apa yang akan terjadi. Wanita itu menolehkan wajah dan pipinya lah yang harus menjadi korban kecupan Yogi. Yogi menjauhkan wajahnya dan melihat reaksi wanita itu yang sudah menahan kuat emosinya.


"Lo karyawan baru di sini?"


"Bukan urusan lo! Lepasin gue brengsek!!"


"Atau.... lo barengan mereka ya? Pelamar di perusahaan ini?"


Yogi terus meracau tidak perduli dengan desakan wanitanya minta dilepas. Terus dihiraukan, ia menggigit pundak Yogi yang mengkungkung dirinya.


"Aw! Lo ganas juga ya. Sakit Beb...."


Tangan terlepas, memberi peluang ia untuk menyikut perut Yogi menggunakan lututnya. Tak puas, posisinya ia ubah. Hentakan kuat membentur tembok mengeluarkan rintihan kesakitan dari mulut Yogi.


"Jangan lo pikir gue cewek lemah yang bisa lo pakai. Lo bukan kriteria gue!"


"Wow.... so sexy."


"Karena lo, gue bakal cabut keinginan gue ngelamar di perusahaan ini sekiranya gue udah keterima. Gue jijik ngelihat lo." Menepuk 2 kali pipi kanan Yogi sebagai tanda peringatan.


Nyali Yogi tak ada habisnya. Hatinya benar-benar sudah terkunci hanya untuk wanita pemberani itu.

__ADS_1


"Gue bakal kejar ke mana pun lo pergi. Dan lo, bakal gue pertahanin di perusahaan ini. Kerja keras gue ngerayu Pandu si kanebo kering bakal gue mulai."


Tekad dirinya tak main-main jika bersangkutan dengan apa yang ia mau.


...🍁~🍁...


1 ruangan luas penuh dihadiri para tamu-tamu undangan yang duduk mengelilingi 1 panggung Catwalk. Panggung yang di atasnya berjejer lampu sorot.


Tamu yang hadir tak bisa diremehkan. Barisan para model, Desainer kondang bahkan beberapa artis juga memadati barisan pertama. Tepat hari ini lah, impian Jihan batal ia wujudkan. Impian ia memamerkan koleksi desain-desain indah seperti biasanya. Walaupun seperti itu, tak akan ia mengikuti egonya untuk tidak hadir. Bagaimanapun juga, ia tetap ingin melihat perjuangan orang-orang di belakang panggung lainnya.


De'fashion menurunkan 5 desainer terpilih yang pantas bersanding dengan para desainer-desainer lainnya. Kesibukan di belakang panggung mengiris hati mereka yang hanya bisa terduduk manis menunggu acara fashion week dimulai. Tangan saling menggenggam memberikan kesan damai. Jihan berusaha tenang. Ia meyakini masih ada hari esok untuk memulai semuanya.


Pesan whatsapp dari Pandulah yang terus saja sesekali menyemangatinya.


"Jangan khawatir guys! Kita baru sekali gagal ikut event. Sebelumnya kan kita terus yang menang. Never stop believing in yourself, Beb."


Sikutan tangan Jihan di dada Andrew memancing teriakan melengking Andrew.


"Aaww...."


Membuat mereka sedikit tertawa.


Lampu sorot dihidupkan seiring tepukan tangan para tamu undangan. 2 MC pemandu berlangsungnya event mulai menyapa manis. Mata fokus tertuju ke arah panggung.


...🍁~🍁...


Belasan map sudah ia bolak balik lirik dan menilai. 7 diantaranya merupakan recommended dari pihak HRD. Kini, tinggal Pandu yang menentukan sendiri bagian-bagian staf yang cocok dan kompeten untuk ketujuh calon pekerja barunya.


Hari ini, Pandu sangat lelah berpikir. Pikiran ia bercabang-cabang. Penambahan karyawan atau karyawati, proyek yang tak kunjung kelar dan Jihan yang saat ini terus kelihatan murung dari beberapa postingan di storynya. Pandu sangat khawatir dan kasihan mendapati istrinya yang badmood disebabkan tidak bisanya ia mengikuti event peragaan busana tahun ini. Isi chat whatsapp nya bersama Jihan terus saja dipenuhi dengan obrolan receh, gombalan dan pesan motivasi yang sebenarnya mungkin tidak berpengaruh ke perasaan Jihan saat ini. Terbukti dari balasan Jihan yang terus saja hanya membalas dengan sebuah emoji.


Kepalanya berdenyut memikirkan ini semua. Ketukan pintu menyentak kepalanya yang semula bersandar di sandaran kursinya.


Siapa lagi kalau bukan Raska dan Yogi yang akan kembali berulah mengganggunya. Raska dengan tak sopannya rebahan langsung di sofa empuk milik Pandu. Sedangkan Yogi duduk di hadapan Pandu karena memang sudah ada satu hal yang menarik perhatiannya.


Map para pelamar. Yogi tertarik akan hal itu. Apalagi salah satu foto wanita cantik dan seksi yang tertempel di luar map yang selama ini ia anggap sebagai takdirnya.


"Ndu, lo sahabat gue kan?"


Tatapan bingung Pandu menelisik maksud dari pertanyaan aneh Yogi yang tak biasa.


"Hahaha.... kenapa lo, Gi? Lo itu sahabat terlaknat yang kita kenal."


"Anjrit lo, Ras!!"


"Ada perlu apa, Gi?"


Pandangan Pandu mengikuti arah tangan Yogi yang memindahkan map pelamar wanita bernama Clarine dan ditukar dengan map pelamar bernama Bimo. Menambah kebingungan Pandu.


"Ini maksudnya apa?"


"Hehehe.... sorry, Ndu. Bantuin gue nemuin jodoh gue ya! Please...."


"Hahaha.... Modus banget lo, Gi. Jangan mau, Ndu!"


Pandu menarik paksa map pelamar wanita tersebut dan berniat untuk mengembalikan ke tempat semula.


Raska yang semula rebahan ikut bangkit ke arah duduknya Yogi. 1 jitakan di kepala bagian belakang Yogi terima. Yogi mengaduh dan menunjukkan mata nyalangnya.


"Perempuan mana lagi jadi target lo? Gak tobat-tobat lo ya."


"Lo gak usah ikut campur! Gak ikhlas banget lo ngelihat temen lo bahagia."

__ADS_1


Puppy eyes Yogi mencoba kembali menggoda Pandu yang tengah sibuk membereskan kumpulan map-map tersebut.


"Ndu, sekali-kali lo cari sekretaris tu yang perempuan dong. Perempuan itu kinerjanya lebih bagus, lebih detail. Ya, ya, ya, Ndu!"


"Dari dulu aku udah pernah bilang kan, sekretaris itu harus ada di setiap jadwal kerjaku. Aku lebih leluasa kalau laki-laki yang mengatur dan membantu semua kerjaanku. Sekarang aku sudah menikah. Aku harus menghargai Jihan sebagai istriku."


Alasan yang sangat masuk akal menurut Raska. Dia tahu betul seperti apa Pandu. Pandu bukan laki-laki bejat seperti Yogi. Dari dulu, hanya Pandu lah yang bisa menjaga diri walau godaan wanita di mana-mana. Pandu selalu menjaga hatinya. Apalagi perasaannya dulu terhadap Sulis. Padahal sudah jelas tak ada harapan apa pun.


Dan kini, sudah ada Jihan. Jihan yang sudah berani dan mampu menggantikan posisi Sulis di hati Pandu. Pandu terlihat tak ingin ada seorang pun yang berani mengusik posisi itu. Posisi istri dalam hidupnya, akalnya dan hatinya. Maka, ia berusaha menjaga jarak dengan wanita mana pun.


"Ini buat gue, Ndu. Dia incaran gue. Perempuan beda. Dia sulit untuk gue taklukan. Itu yang gue cari. Dia bukan perempuan yang gampang digoda. Entar, kalau dia lo posisikan di staf keuangan, gue sama nih cewek jarang ketemu. Kalau lo posisikan sebagai sekretaris, gue kan selalu bisa ketemu. Karena biasanya lo sama gue kan lebih intens kerja bareng. Masa di posisikan jadi bawahan Raska. Yang ada diembat lagi sama Raska."


Jitakan kasar terpaksa harus Yogi terima.


"Anjir, sakit banget woi!! Kasar banget sih, lo!"


"Omongan lo yang kasar. Ngomong gak pernah di filter."


Senyum cengir Yogi tak lepas dari pandangan Pandu. Kepalanya semakin berdenyut. Meladeni Yogi hanya selalu mengundang masalah. Ia lebih memilih kabur ketimbang berlama-lama di hadapkan dengan kedua temannya ini. Ocehan mereka sangat merusak gendang telinga dan moodnya.


...🍁~🍁...


Kekaguman Jihan sedari tadi tidak menghentikan matanya yang terus melotot. Selama ini, ia benar-benar selalu menutup mata mengapresiasi karya seseorang. Ia sangat mengagungkan apa yang ia rancang. Padahal, masih banyak juga yang lebih hebat dari dirinya. Sekarang, Jihan merasakan dirinya sudah terlalu lupa daratan.


Mobil Pandu terus melaju mengikuti arah google maps yang membawanya di mana keberadaan Jihan. Pandu murung dan gelisah di kala istrinya juga merasa tak baik-baik saja hari ini. Di persimpangan lampu merah ia melihat toko bunga menjajakan bunga-bunga segar. Ia meminggirkan mobilnya lebih dekat ke arah parkiran toko bunga tersebut.


"Selamat siang Mas. Selamat datang di Florist Shop. Ada yang bisa kami bantu?"


Karyawan toko menyapa ramah. Pandu langsung saja memilih sebucket bunga mawar merah yang terlihat lebih indah dari bunga-bunga yang lainnya.


"Wahhh.... buat pacarnya ya Mas?"


Hanya senyuman yang Pandu berikan.


"Berapa Mbak?"


"Kalau untuk saya, gratis kok Mas. Hihihi...."


Pandu menggelengkan kepalanya di kala pelayan toko bunga ini terus saja menggodanya. Belum lagi tatapan mata genitnya yang membuat Pandu bergidik ngeri.


"Maaf Mbak, ini untuk istri saya. Tolong dipercepat ya, Mbak! Istri saya udah menunggu."


Seketika wajah pelayan toko itu cemberut.


"Ternyata istrinya toh. Gak bisa saya tikung dong Masnya. Seratus sepuluh ribu, Mas."


"ini Mbak. Ambil aja kembaliannya. Terimakasih."


Pandu langsung mengambil sebucket bunga dari tangan si Mbaknya. Terlalu lama jika harus meladeni pelayan centil di hadapannya ini.


Lumayan macet hari ini. Jam tangannya sudah menunjukkan ke angka 2. Lelah menunggu. Sambilan, Pandu mengecek pesan whatsappnya yang tak direspon Jihan. Tambah membuat ia uring-uringan. Setengah jam lebih ia menunggu. Macet yang berangsur akhir, menginterupsi Pandu cepat mengendarai mobilnya.


Gedung Fashion Tent di Senayan City mulai terlihat. Ia memarkirkan mobilnya. Tak lupa mawar indah yang telah terbeli ia bawa. Baru saja ia berbalik, sebuah pelukan mendesak tubuhnya limbung menyandar di body mobilnya. Isak tangis terdengar. Pundak itu terus bergetar. Kemeja yang ia pakai mulai basah.


Pandu tahu apa yang dirasa wanita di pelukannya ini. Ia membiarkan waktu berhenti untuk melampiaskan rasa sesak tangis wanitanya. Hanya elusan. Elusan lembut menenangkan Jihan ia berikan di rambut halus istrinya. Kecupan-kecupan singkat di pucuk kepala Jihan memberi kesan nyaman.


"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang."


...🍁~🍁...


...Bersambung...................

__ADS_1


__ADS_2