
Urusan asmara yang baru saja dimulai belum berakhir, urusan karir pula yang mulai mengusik pikiran Jihan. Bolak balik lembur, bergadang dan mondar mandir ke sana kemari. Berharap ia menemukan keberhasilan. Kerja anggota teamnya membuat Jihan tidak puas. Alhasil, sebisa mungkin ia kerjakan dan usahakan sendiri. Jihan semakin tempramen. Pola hidupnya bertambah liar.
Seusai kerja ia tak langsung pulang. Bar-bar di Jakarta menjadi sasarannya. Mabuk-mabukkan tidak karuan. Jihan merasa, dunia sedang mempermainkannya. Semua yang dulu ia punya dan mudah didapatkan hilang sudah.
DUARRR....
Dorongan pintu membangunkan semua dari tidurnya. Derap langkah cepat terdengar.
PLAKKK....
"Astaghfirullah PAPA!! Istighfar Pa....! istighfar...."
Jihan yang ditampar hanya nyengir dan terheran melihat ekspresi kesal sang Papa.
"Dasar anak tidak tahu diri! Pulang selalu malam, mabuk-mabukkan. Ini yang kamu dapat dari pergaulan liar di negera orang?! Punya anak kelakuan kayak setan!!! Apa gak malu kamu dengan orang-orang yang mandang rendah keluarga kita?!"
Tambah geram, Papa menarik paksa Jihan dan membawa masuk ke kamar mandi. Di situ, Jihan disemprot air dingin yang keluar deras melalui shower. Menjerit dan menggigil. Sudah mulai sadar, Jihan mulai menangis meratapi keadaannya. Tanpa berkata, Papa melempar shower dengan kuat dan meninggalkan tempat.
Mama yang sudah merasa kasihan dengan kondisi Jihan, mengambil handuk dan memeluk erat putrinya.
"Jihan.... istighfar Sayang.... istighfar! Kamu itu perempuan, harus bisa jaga diri. Jaga kehormatan keluarga kita. Mabuk-mabukkan itu tidak menyelesaikan masalah."
Jihan dalam pelukan Mama tambah menangis sesenggukan. Ia benar-benar sudah kelewatan. Ia tak pernah mendengar apa kata orang tua. Tingkat emosinya membawa ke jalan sesat.
"Kamu janji sama Mama. Tinggalin kebiasaan-kebiasaan buruk kamu ini. Kalau ada masalah kamu cerita ke Mama, kamu sujud dan meminta pertolongan ke Allah. Bukan malah mabuk-mabukkan seperti ini. Papa gak salah menghukum kamu. Papa gak salah terlalu over protektif ke kamu. Karena Mama tahu, perasaan seorang orang tua yang melihat kehidupan anaknya yang sudah di luar batas itu sangat sakit dan merasa gagal Nak."
"Maaf Ma.... maaf.... Hiksss.... hiksss.... Hiksss...."
"Dulu, Papa sama Mama selalu melihat kamu sholat, kamu nurut, kamu santun. Tapi sekarang semuanya berubah. Kamu tinggalkan kewajiban-kewajiban kamu sebagai umat Islam, kamu tinggalkan kewajiban-kewajiban kamu sebagai anak. Mama sama Papa masih merasa gagal mendidik anak, Jihan."
Dalam kamar, Jihan tidur dalam pelukan Mama. Wajah setengah kerutan itu pun memancing Jihan untuk membelainya.
'Ma.... maafin Jihan. Maafin Jihan udah ngebuat Mama sama Papa selalu khawatir. Jihan udah banyak dosa ke Mama sama Papa. Jihan ingin berubah Ma, Pa.'
1 kecupan di kening Mama menyalurkan rasa sayangnya. Waktu ingin sekali ia putar ulang kembali. Ingin merubah dan memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu.
...🍁~🍁...
Weekend bukan saatnya untuk berleha-leha. Kamar Jihan sudah penuh tebaran kertas-kertas dan potongan-potongan kain. Pintu sengaja ia kunci. Jihan berharap, tak ada yang mengusiknya.
TINGGG!
Sebuah pesan notifikasi masuk di layar handphone.
Alya : "Jihan.... I'm coming...."
Jari sudah merasa gatal untuk mengetik. Suara ketukan dan suara Mama menghentikan balasan pesan ke Alya.
"Iya Ma?"
Pintu terbuka lebar dan spontan mama berteriak.
"Astaghfirullah.... JIHAN....!!"
"Ma.... jangan teriak-teriak!"
"Ini kamar kamu kenapa kayak habis gempa gini sih?! Ini kenapa Jihan?!"
"Udah ya Ma, jangan kepo banget. Jihan lagi stress nih. Mama kenapa ke sini?"
"Bersihin dulu kamar kamu!"
"Ok, Ma.... nanti ya. Masih kerja juga."
"Ih.... kamu belum mandi ya?"
Memutar bola matanya malas saat Mama bereaksi konyol setelah mencium badannya.
"Udah deh Ma. Kenapa sih?"
"Sekarang juga mandi dan dandan yang cantik! Ada tamu Papa yang mau datang."
"Terus hubungannya dengan Jihan apa Ma?"
Mama pergi tanpa berkata. Membuat tanda tanya besar di kepala Jihan.
"Sayang.... kita baru aja pulang, kamu udah minta keluar lagi. Capek Sayang.... Mana aku harus antar semua berkas-berkas yang aku bawa kemarin lagi." Memasang wajah memelas.
"Iihhh.... apaan sih. Aku tuh udah gak sabar pengin ketemu Jihan. Aku mau cerita ke Jihan tentang honeymoon kita. Lagian kamu aneh. Honeymoon masih sempat-sempatnya kerja. Gak puas tahu."
Siapa sih yang berani berlawan argument kalau wanita sudah berbicara.
"Lengket banget kamu sama tuh si judes."
"HEH! Dia punya nama ya! Kamu kalau gak tahu diam aja deh!"
"Durhaka kamu sama suami." Ancaman Raska tak didengar.
Raska hanya mengekor pasrah mengikuti arah pergi Alya. Dengan kewalahan membawa berkas-berkas dan barang-barang Alya yang akan diberikan kepada Jihan.
...🍁~🍁...
Yogi bolak balik menelepon Raska. Tapi belum ada jawaban. Pandu sedikit gusar karena berkas penting ada di tangan Raska. Ia lupa bahwa hari ini berkas itu harus diserahkan ke clientnya. Jam tak ingin memperlambat waktu. Batas waktu temu hanya sampai pukul 4 sore.
"Gimana Gi?"
__ADS_1
"Bangsat nih Raska. Gak diangkat Bro."
Pandu mengusap wajahnya sambil berdzikir. Berusaha menenangkan diri.
Kini, ia yang mencoba menelepon. Pertama tidak direspon. Panggilan kedualah yang baru bisa terdengar suara Raska.
Raska : "Hallo, Ndu."
Pandu : "Assalamualaikum, Ras."
Raska : "Waalaikumsalam, Ndu."
Pandu : "Kamu udah di mana?"
Raska : "Hmm.... ini, Ndu.... hmm.... masih...."
"Sayang.... yang fokus dong nyetirnya!"
"Sayang, aku ketemu sama Pandu dulu ya? Cuma antar berkas ini aja kok."
"No Sayang! Udah mau sampai kok. Udah.... matiin dulu teleponnya!"
Pandu sadar kalau Raska berada di lain arah tujuan. Kenapa sih, perempuan tambah mempersulit?
Raska : "Ndu, udah dulu ya! Gue lagi nyetir. Nanti gue telepon lagi. Assalamualaikum."
Pandu : "Ras.... Waalaikumsalam."
Hehhh.... Helaan napas mempercemas Yogi.
"Apa sih Ndu? Raska kenapa? Mana dia?"
"Gak tahu Gi."
"Gila tuh orang. Lagi genting juga."
...🍁~🍁...
Jihan tidak tahu siapa yang akan datang. Dress santainya membalut tubuh kutilang nya. Suara deruan mobil dan Papa dari luar memunculkan rasa penasarannya. Dari atas Balkon, Jihan bisa melihat 1 keluarga keluar dari mobil yang barusan terparkir. Seperti mengenal. Benar saja. Salah satu pria yang pernah Papanya kenalkan di acara pernikahan Alya tempo hari. Tidak salah lagi, Papa pasti sengaja mengundang mereka ke rumah ingin menjalin lebih dekat dengan keluarganya.
"Oh My God.... ngapain sih tuh orang datang? Mana sekeluarga lagi. Jangan bilang, Papa mau jodohin gue sama tuh cowok. Ilfil banget gue...."
Menghentak-hentakkan kaki sebal saat pandangannya kepergok langsung dengan mata genit si cowok itu.
"Eeyuhhh.... Papa....!!"
Jari jemari Jihan bergerak cepat mencari nama Alya di handphonenya.
Jihan : "Halo, Alya. Lo di mana? Tolongin gue, Lya.... Tolongin gue...."
Jihan memburu bicaranya. Ia ingin segera kabur sebelum Papanya memanggil. Jihan sudah tahu jalan cerita yang sedang Papanya lakukan.
Jihan : "Lo cepetan aja ke sini! Gue gak mau dijodohin. Please, Lya.... bawa gue kabur!"
Alya : "Lo mau dijodohin sama siapa? Jangan ngada-ngada lo!"
Tok.... tok.... tok....
Dan ketukan pintu pun terdengar. Desiran hangat tubuhnya meneteskan buliran keringat dingin di keningnya.
Alya : "Jihan.... Han.... Lo masih aman kan?"
Tok.... tok.... "Jihan.... Jihan....!"
Jihan : "Alya.... Tolongin gue!"
Alya : "Ok, ok Han. Bentar lagi gue sama Raska sampai ke rumah lo."
Panggilan telepon Jihan hentikan. Secepat mungkin ia harus cari cara keluar dari sini.
"Jihan.... buka pintunya Sayang! Jihan...."
Kenop pintu terbuka. Jihan begitu gugup. Benar-benar buntu di kala genting seperti ini.
"Kenapa lama? Papa manggil kamu tuh. Ayo turun!"
'Mungkin, Mama bisa membantu.' Harap dalam hati Jihan.
"Ma, Mama sayang sama Jihan kan? Iya kan Ma....?"
"Kamu ini kenapa sih?" Genggaman erat dan wajah pucat Jihan menggelitik tawa Mama. Mama tahu kenapa Jihan sekacau ini.
"Udahlah Jihan, ikuti saja apa mau Papa kamu!"
"Ma.... Hiks.... hiks.... Jihan gak mau...."
"Itu ulah kamu sendiri. Udah, ayo turun!"
Tarikan paksa Mama menurunkan Jihan. Hingga tamu Papa berdiri menyambut datangnya Jihan. Senyum ramah dibalas kecut. Jihan sengaja memasang wajah masam. Jabatan tangan mereka pun tak dibalas. Berperan angkuh, Jihan jawaranya.
"Hai, Jihan. Kita ketemu lagi kan."
Iya, ini kedua kalinya mereka dipertemukan secara paksa.
"Silahkan duduk Daniel, Ajeng! Dimakan ya kuenya! Kue buatan istri saya."
__ADS_1
"Kuenya enak kok. Paling koma selama 2 minggu. Hihihi...."
'Apaan sih Mama. Garing banget candaannya.'
Sepanjang obrolan, Jihan hanya membisu. Sebisa mungkin pandangan matanya ia alihkan. Handphone selalu ia genggam. Menunggu kalau sekiranya Alya menelepon. Dan yang diharapkan pun datang. Sungguh bahagianya Jihan saat ini.
"Alya.... kenapa lo lama banget sih? Lo kan udah janji mau nemenin gue ke butik."
Alya masih mencoba menghentikan detak jantungnya yang memompa cepat. Alya bingung akan merespon apa. Alya dan Raska merasa malu karena di hadapan mereka ada pertemuan keluarga. Mata Jihan terus saja mengkode ke Alya dan Raska.
"Alya, Raska, kalian udah pulang?" Papa Jihan menyapa.
"Hehehe.... Iya Om. Baru aja sampai."
"Ya udah, sini duduk dulu! Sekalian Om mau kenalin ke kalian berdua keluarga om Daniel."
Melihat reaksi Alya dan Raska, sepertinya sulit untuk berencana keluar.
"Ooo.... ini kan pengantin baru. Mama sama Papa kamu mana Nak? Gak ikut ke sini?"
"Hehehe.... Gak Om."
"Wahhh.... Ganteng ya suaminya."
Raska yang dipuji pun tersenyum kikuk.
"Bisa aja tante. Hehehe...."
"Alya, Raska, ayo....!" Suara kecil Jihan memanggil.
"Mau ke mana Jihan?"
...🍁~🍁...
2 jam lebih Yogi dan Pandu menunggu. Waktu adalah uang. Menyia-nyiakan waktu bukan prinsip Pandu.
"Lo yakin Ndu ini rumahnya?" Yogi menelaah foto rumah megah yang dikirim Raska.
"Kalau dilihat dari fotonya sih, iya Gi. Lagian maps ngarahin ke sini kok. Ayolah Gi. Kita coba aja."
Mobil Pandu mulai setengah masuk gerbang. Sebelum itu, Pandu akan meminta izin ke Security untuk diperbolehkan masuk. Security itu pun dengan ramah mengizinkan dan mengarahkan arah masuk pintu utama.
"Buset.... gedongan banget nih rumah. Istana kali ya, Ndu."
"Usaha tidak akan mengkhianati hasil Gi. Kalau mau sukses harus banyak ikhtiar dan berdoa. Dan jangan boros-boros."
"Iya deh, Ndu. Kok malah diceramahin sih gue. Udah yuk! Raska ngirim pesan, nyuruh kita langsung masuk."
"Eh, kok sembarangan masuk rumah orang sih?"
"Keadaan di dalam lagi riweh. Raska gak bisa keluar Ndu. Nih, dari tadi Raska maksa masuk." Memperlihatkan bukti chat dari Raska.
Jihan sangat kesal. Alya dan Raska sama sekali tak membantu. Malah mereka ikut nimbrung ngobrol panjang lebar dengan santainya. Mata lelaki itu terus saja melirik genit ke arah Jihan. Jihan hanya bisa membalas tajam tatapan itu. Berapa lama lagi ia harus terjebak.
"Sepertinya mereka berdua cocok ya."
Jihan tahu apa yang dimaksud.
"Iya, itu rencana aku dari dulu. Ingin menjodohkan anak kit...."
"GAK!! Jihan gak mau Pa!"
Papa dan Mama terlihat terkejut mendengar penolakan Jihan. Terutama Papa yang dibuat malu saat ini.
"Jihan, jaga sikap kamu!"
"Pa, Jihan juga punya pilihan sendiri. Jihan bukan barang yang diobral sana sini. Emangnya Papa yakin, Jihan bakal bahagia dengan cowok gak jelas kayak dia."
Unjuk Jihan. Kesabaran sudah di luar batas. Ia tak mau masuk ke lubang tikus.
"Maaf nak Jihan, kami bukan keluarga sembarangan. Kalau memang kamu tidak suka dengan keberadaan kami, ya sudah kami undur diri. Ayo Pi, Dika. Mami merasa tidak terhormat di sini."
"Hmm.... mbak Ajeng jangan langsung tersinggung seperti itu ya. Jihan memang suka susah ngontrol omongannya."
"Iya Mi, nak Jihan pasti belum terbiasa saja dengan kita. Mereka masih butuh adaptasi dulu."
'Kenapa jadi aku yang disalahin sih? Kalau gak nyaman, ya langsung pergi aja.'
Sumpah serapah hanya bisa Jihan ungkapkan dalam hati. Di tengah obrolan, bik Surti mengabarkan bahwa ada 2 orang pria mencari Raska. Raska yang disebut pun mulai panik dan sedikit malu.
"Siapa Raska?"
"Hmm.... ini Om. Hmm...."
"Permisi, maaf mengganggu waktunya sebentar."
Sontak semua mata tertuju ke sumber suara.
...🍁~🍁...
Untuk Para Readers yang sudah mampir dan baca karyaku, aku ucapkan terimakasih banyak ya.
Aku mengharapkan dukungan kalian. Supaya aku tambah semangat dalam menulis karya-karya imajinasiku.
Salam hangat dari arnov 😊
__ADS_1
...Bersambung...........