
Malam penting yang harus mereka hadiri sebagai rasa menghargai sesama mantan client. Tapi sial untuk 1 bumil yang terus saja memuntahkan cairan isi perutnya. Sudah berdandan cantik dan bergaun indah malah urung karena terkena muntahan darinya.
"Udahlah Sayang.... kamu di rumah aja ya!"
Dengan tarikan napas lemasnya Alya merengek.
"Raska.... aku juga pengin menghadiri acara spesial kamu. Kenalan dengan teman-teman kamu."
Menggaruk kepalanya gusar sebab Alya tetap kekeh untuk minta ikut.
"Kamu lagi mual-mual Sayang. Kamu juga lemas kan? Nanti, kalau kamu tiba-tiba mual terus pingsan di tengah-tengah acara bagaimana? Malu Sayang."
Alya membulatkan matanya mendengar ucapan Raska. Ia merasa tak dihargai sebagai seorang istri.
"Malu?! Kamu malu punya istri seperti aku?!"
"Bukan Sayang. Bukan itu maksud aku. Sekarang ini kamu dalam fase mabuk berat. Kasihan baby kita."
"Terus kalau ada apa-apa yang terjadi dengan aku di rumah gimana? Kamu tega banget ninggalin aku sendirian." Menampilkan puppy eyesnya.
"Biasanya kan juga gitu. Udah ya Sayang. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku. Aku udah telat nih. Bye Sayang!"
Mengecup singkat kening Alya. Alya menggeram karena suaminya benar-benar tega meninggalkannya sendirian.
"Jangan harap dapat tidur di kamar!!!"
Kehebohan pun terjadi di kediaman Pandu dan Jihan. Sudah 1 jam lebih Pandu menunggu permaisuri hatinya untuk turun. Bukan untuk yang pertama kalinya. Tapi sudah yang ketiga kalinya Jihan selalu memancing emosi Pandu. Make up berlebih dan pemilihan gaun yang terlalu tak layak dipandang untuk kaum-kaum adam yang bukan mahramnya.
"Mas.... please, no comment! Ini pilihan terakhir Jihan."
Helaan napas Pandu sangat lega. Gaun brokat panjang dengan jenis potongan lengan cape berwarna peach dan hitam. Sudah sangat serasi dengan outfit Pandu malam ini.
"Perfect! Kamu sangat cantik malam ini. Lebih perfect lagi.... kalau kamu berkerudung Sayang."
Jihan menepis tangan Pandu untuknya. Ia menyayangkan sikap awal Pandu yang hampir saja membuat ia terbang dan akhirnya jatuh karena perkataan terakhir Pandu.
"Gak segampang itu untuk berhijrah Mas. Jihan butuh kesiapan yang matang. Mas mau Jihan berkerudung karena keterpaksaan. Tertutup terus buka lagi. Berubah bukan dari hati itu gak ikhlas dan gak baik Mas. Bukan begitu mas Pandu Pangestu...."
"Ok. Tapi mas gak akan pernah berhenti berdoa supaya istri mas ini terketuk hati nuraninya untuk berkerudung. Let's go Sayang!"
Geraman Jihan dari arah belakang jalannya Pandu.
...🍁~🍁...
Bangunan megah dan klasik. Sesuai namanya, Classic Hotel. Sebuah Ballroom sudah terisi penuh para tamu undangan. Pesta santai yang menyambut moment ke-23 Anniversary pernikahan dari sepasang suami istri. Umur memang sudah di kepala lima, tapi jiwa masih bisa diadu dengan pasangan muda mudi lainnya.
Pandu membukakan pintu mobil untuk menyambut romantis istrinya yang sudah menahan gugup sejak tadi. Karena ini kali pertamanya ia menghadiri acara spesial dari rekan Pandu. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa diantara teman-teman Pandu lainnya.
"Jangan gugup Sayang! Ada mas di sini."
"Make up Jihan gak terlalu norak kan Mas?"
"Gak kok Sayang. Simple dan manis. Mas suka."
Melihat Pandu yang tersenyum menambah rasa kepercayaan diri Jihan.
Awal memasuki pintu Ballroom, Pandu sudah disambut oleh beberapa pria yang mungkin salah satu teman akrab dan rekan lama bisnis yang digeluti Pandu. Terdengar pembahasan mereka yang tak terlepas dari area bisnis.
"Wahhh.... memang cantik lah istri kau Pandu."
"Perasaanku bidadari tempatnya di surga. Ini kenapa ada di sini? Mengalahkan wanita-wanita cantik yang ada di sini Bro."
Jihan mengeratkan gandengan tangannya pada Pandu. Pandu merasakan rasa tidak nyaman Jihan dengan gurauan teman-temannya.
"Hmm.... Terimakasih atas pujiannya. Kalau gitu, aku dan istriku mau menyapa yang lainnya dulu. Kita tunggu dulu ya?"
"Hahaha.... santai Pandu. Kita cuma bercanda. Kapan-kapan, kita atur jadwal untuk keluar have fun Ndu."
"Aku gak akan izinin kamu Mas." Bisikan pelan yang terdengar cukup mengancam Pandu.
"Tenang saja. Maksudku.... keluar main bareng sama istri-istri kita juga Ndu. Kita gak akan menjerumuskan Pandu ke hal-hal yang buruk kok. Mungkin seru kali ya, kalau kita piknik bareng dengan keluarga kecil kita masing-masing."
"Iya, ide bagus itu. Gimana pak Pandu?"
"Nanti bisa aku pikirkan dulu ya."
__ADS_1
"Ok Ndu. Nikmati pestanya. Kita juga mau sapa yang lain juga."
Setelah perginya kedua kenalan Pandu, Jihan mulai mempertanyakan kedekatan mereka.
"Mas ketemu di mana sih orang-orang seperti mereka tadi? Bicara seenaknya. Tukang gombal. Pasti cowok-cowok gak benar kan?"
"Hmm.... itu dulu Sayang. Waktu kita dapat project bareng, mereka juga sering ngajakin mas ke hal-hal dunia malam. Mas tolak. Alhamdulillah, setelah mereka menikah sudah ada yang menjaga. Mas rasa mereka udah pada sadar."
Sudah berada di kerumunan para tamu yang hadir. Suara keras musik dari si pembawa acara pun sudah sangat jelas terdengar. Pandu mencari tempat yang nyaman untuk mereka. Tak berapa lama, sapaan dari seseorang menyita perhatian Pandu dan juga Jihan.
"Hai Bro, hai Adik Ipar!"
Raska yang menegur. Akhirnya, Jihan tersenyum lega dikarenakan sudah menemukan Raska.
"Loh, Alya mana Ras?" Ia bingung tak menemukan sosok sepupunya.
"Gak aku izinin ikut Han."
"Kok gitu sih?! Gue kan juga butuh teman di sini."
"Alya mual-mual terus. Ntar, kalau muntah di sini gimana? Kasihan banget ngelihat Alya yang mabuk berat. Aku suruh istirahat aja."
Jihan menekuk bibirnya. Ia kira Alya akan datang dan menemaninya di kala ia merasa boring di acara ini.
"Hai Ras, Ndu, sorry gue telat." Sapaan Yogi terhadap kedua sahabatnya.
"Wawww.... nyonya Pandu. Cantik banget lo malam ini." Memegang ujung rambut tergerai Jihan. Sontak memancing tepisan kuat dari Pandu.
"Jangan macam-macam Yogi!!" Ancamnya.
"Eits, sorry Bro. Gue salfok dengan kecantikan istri lo."
"Dasar cowok maunya main tinggal aja!! Eh, hai pak Pandu....!"
"Clarine?" Raska menatap heran dengan kedatangan Clarine. Karena setahu ia, Clarine bukan termasuk tamu undangan.
"Santai dong mata lo. Gue gak mau kalah dari kalian berdua. Gue gak mau kelihatan jomblo di saat lo berdua pada bawa istri. Nih, akhirnya gue berhasil ngebujuk dia ikut."
Clarine memutar kedua bola matanya jengah dengan ocehan Yogi. Bukan karena ia senang dengan ajakan Yogi. Tapi karena ia mendengar bahwa sang Bos kesayangannya juga hadir sebagai tamu undangan. Maka dari itu, berjam-jam ia rela mempersiapkan dirinya secantik mungkin. Bibir meronanya ia paksa selalu tersenyum ramah. Mendapat balasan singkat dari si Bos saja sudah memporak-porandakan hatinya.
Namun, matanya membulat saat ia baru menyadari satu sosok wanita anggun berdiri menggandeng mesra tangan Bos kesayangannya.
Raska, Yogi dan Pandu terpaku dengan reaksi keheranan Clarine. Yogi mencoba membantu kebingungan Clarine.
"Yang sopan Clarine! Jihan ini istri Bos kita. Wajar dia ada di sini."
"What?! Istri??"
Jihan menahan tawanya dengan susah payah. Ia tak menyangka saat ini adalah moment yang tepat untuk mempermalukan Clarine. Wanita yang telah ia anggap sebagai hanya pengantar makanan ternyata istri dari Bosnya sendiri. Terlihat jelas dari wajah Clarine yang memaksa senyum kakunya.
Jihan tersenyum pongah dan menyandar manja di lengan Pandu. Dan gerakan jari Pandu yang mengelus pipi Jihan sambil tersenyum manis pun membuat geraman pada Clarine semakin kentara di mata Jihan.
"Kebetulan sekali kamu ada di sini Clarine. Ini Jihan istri saya. Sayang.... ini Clarine. Sekretaris baru mas yang tempo hari mas ceritakan ke kamu."
"Oh, iya Mas. Kita.... udah saling mengenal kok. Iya kan Clarine? Gak nyangka banget kita bakal ketemuan lagi."
Clarine membalas dengan senyum terpaksanya.
"Gak capek nih, pada berdiri terus. Duduk dong!"
Sebuah sapaan mengejutkan obrolan mereka. Pandu menjabat tangan memberi ungkapan selamat Anniversary kepada Darwin. Si pemilik acara mewah ini.
"Thanks semuanya. Udah benar-benar hadir di acara yang tidak seberapa ini."
"Hahaha.... Acara mewah ini Bos. Selamat untuk pak Bos dan istri dengan kelanggengan usia pernikahan kalian."
"Hahaha.... siap. Terimakasih juga udah mau hadir. Terutama, untuk Bos kalian ini nih."
Darwin terkejut kagum dengan wanita cantik yang berdiri bersebelahan dengan Pandu.
"Wahhh.... wanita cantik ini istri kesayangan kamu itu Pandu?"
Pandu mengangguk mengiyakan.
"Izinkan saya memperkenalkan istri saya. Jihan Sajidah Salim. Istri kesayangan saya. Sayang, ini mantan client mas dulu. Pak Darwin. Bos besar pemilik hotel ini dan hotel-hotel ternama lainnya yang berjejer rata di Negara kita ini. Dan ini, cici Giselle. Istri satu-satunya pak Darwin."
__ADS_1
"Hahaha.... ada-ada saja kamu ini. Perkenalkan, saya Darwin. Kamu harus tahu, hotel ini salah satu rancangan hebat suami kamu."
"Jihan." Jihan tersenyum kagum dengan penuturan Darwin.
"Saya Giselle. Panggil nama saja ya! Malu kelihatan tua banget diantara para kaum muda seperti kalian ini. Hihihi...."
"Tenang Ci, Cici tetap awet muda kok." Bualan Yogi mengundang tawa renyah mereka.
"Silahkan duduk! Enjoy ya! Kita party malam ini."
Betah bagi mereka berbincang-bincang dalam pertemuan malam ini. Jihan hanya menjadi pendengar yang baik. Sesekali ia ikut nimbrung dalam obrolan yang sebenarnya bukan ranahnya.
Beda jauh dengan kebahagiaan Jihan. Clarine terus saja mengutuk dalam hati kesialan malam ini yang tak ia sangka akan berbanding terbalik dengan perkiraannya. Sia-sia ia berdandan cantik. Dalam pikirannya, ia akan memberi pesona cantiknya ini kepada Pandu. Malah ia lupa dengan kenyataan bahwa Pandu sudah menikah. Sangat jelas sekali Pandu akan membawa istrinya. Dan yang membuat ia masih tak percaya bahwa sosok istri yang selama ini menjadi misteri baginya ialah Jihan. Musuh bebuyutannya.
'Kesal banget. Gue gak nyangka bakal saingan dengan lo Jihan.'
Jihan bergerak dengan gelisah. Sepertinya ia ingin ke toilet. Ia berbisik ke telinga Pandu memancing penasaran dalam benak Clarine.
"Mas, aku mau ke toilet dulu ya."
"Mas temani ya?"
"Gak perlu Mas. Sebentar aja kok. Udah gak tahan banget."
Jihan berjalan cepat meninggalkan sementara jamuan makan malam mereka. Hal itu juga Clarine lakukan. Ia juga beralasan akan ke toilet.
Lega sudah bagi Jihan. Ia bercermin sebentar menelisik penampilannya.
"Oh, ternyata lo istri pak Pandu? Gue masih gak nyangka banget loh. Kok bisa ya? Dunia ini terlalu sempit mempertemukan gue dengan lo cewek CU-PU."
Jihan berbalik dan berdiri bersedekap di hadapan wajah mencemooh Clarine. Jihan sudah mengira hal ini akan terjadi.
"Yap! Senang bertemu kembali dengan lo Clarine."
"Hahaha.... sekarang lo bisa ya, berlagak songong di depan gue. Gue akui derajat lo lebih tinggi dari gue."
Jihan tersenyum menanggapi semua omong kosong Clarine. Clarine dan Mia sama saja di matanya. Selalu merasa tak puas hati dengan apa yang Jihan dapatkan. Dulu, ia memang tidak punya keberanian untuk melawan. Sekarang, hal itu tak akan ia biarkan begitu saja. Orang-orang yang dulu meremehkannya harus tahu bahwa ia bisa lebih maju dan berani untuk melakukan apa pun yang mengusiknya.
"Sorry Clarine. Gue gak punya banyak waktu untuk ngeladenin lo saat ini. Acara ini masih panjang. Gue takut make up menor lo ini bakal hancur sebelum acara selesai. Gue kasihan banget dengan Yogi. Bisa-bisanya dia tertarik sama cewek gatel kayak lo. Gue duluan ya?"
"Gue kira.... Pandu bakal kegoda dengan penampilan gue malam ini. Ternyata, dia terpaksa gak ngerespon apa-apa karena istri garangnya selalu nempel kayak siput."
Jihan menghentikan langkahnya. Ia kembali mensejajarkan posisi berdirinya dengan Clarine yang sedang tersenyum evilnya.
"Oh, karena Pandu? Wait! Jadi, lo berusaha dandan semenor ini dengan niatan mau ngegoda suami gue? My husband? Oh My God!! Good luck ya!"
Mendekatkan diri ke hadapan Clarine dan berbisik.
"Usaha lo sia-sia Clarine. Pandu gak tertarik dengan perempuan gatel kayak lo. Lo terlihat kayak badut malam ini. Makanya Pandu takut ngelirik ke lo. Pandu udah cukup bahagia miliki gue yang cantik, smart dan gak banyak tingkah kayak lo. So, jangan pernah berpikiran untuk bisa jadi pelakor dalam rumah tangga gue!"
Bahu Clarine terdorong di saat Jihan sengaja menyenggolnya. Gigi-giginya dan jari jemarinya mengerat menahan deraman emosi yang memuncak. Jihan kembali mengalahkannya.
Jihan pun tersenyum kemenangan mengingat wajah penuh emosi Clarine. Ia kembali ke sisi Pandu. Clarine juga kembali duduk di samping Yogi dan berhadapan langsung dengan Jihan yang terlihat sedang sengaja bermesra-mesraan dengan Pandu.
"Mas, acaranya masih lama ya?"
"Kenapa Sayang? Kamu udah kelelahan ya?"
"Boring Mas."
Clarine berdecih kecil dengan sikap Jihan.
"Cepat banget sih kalian pulangnya? Belum kelar nih acara."
"Iya Ndu. Belum selesai nih."
Tak berapa lama, musik jazz telah berganti dengan alunan denting piano yang sangat romantic untuk di dengar.
Para tamu pun terlihat berdiri dan menggandeng pasangan masing-masing untuk mengisi ruang tengah Ballroom yang sengaja dikosongkan sebelumnya.
Semua tersenyum bahagia melihat sepasang suami istri yang tak lain mereka adalah pemilik acara ini. Berdansa dengan mengikuti alunan musik yang memandu para pasangan lainnya.
"Waduh.... sial banget gue malam ini. Di saat gue sendiri, suasana berubah romantis begini."
"Hahaha.... keberuntungan lagi berpihak ke gue, Ras. Gue kira, gue yang bakal terlihat jomblo. Ternyata lo Bro."
__ADS_1
...🍁~🍁...
Bersambung.............