Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Terungkap


__ADS_3

Jihan sengaja berangkat tidak barengan dengan Pandu. Ia ingin menuntaskan masalah yang ia hadapi. Ia harus mendengarkan pengakuan jujur dari David. Dengan begitu, kelicikan Mia akan terbongkar.


No name : "Beb, jangan lupa dengan janji kita."


Pesan whatsapp dari David sangat malas untuk ia baca. Sangat tidak sabaran.


'Kalau bukan karena masalah ini, gue juga gak bakalan mau berhadapan dengan wajah bajingan lo David.' Rutuk batinnya.


Di depan pintu ruangan, mereka bertiga memandang takjub kepadatan pekerjaan team Mia yang baru saja naik tahta. Wajah lesu mereka meratapi nasib yang tertukar.


"Hei!! Kok malah pada bengong sih?!" Tegur Lily.


"Mau ngapain lagi? Kerjaan lagi sepi kan. Lagian, Jihan sama Andrew gak di sini. Santai Ly."


"Barusan mbak Jihan nelepon. Mbak Jihan nanyain flashdisk yang tersimpan video rekaman CCTV kemarin. Mana, No?"


Eno berpikir keras di mana barang bukti itu ia simpan.


"Ayo No, cari di dalam! Bentar lagi mbak Jihan datang."


Eno berulang kali membuka setiap laci yang ada di ruangan mereka. Ia lupa menaruhnya di mana.


"Di mana sih Eno?! Itu penting banget loh...." Geram Lily.


"Iya, sabar dong. Ini lagi dicari."


"Eno.... Eno.... teledor banget." Celetuk teman-temannya.


1 benda yang mereka cari dengan penuh kepusingan akhirnya ditemukan.


"Nemu!!!" Sorak Lily dan Eno.


"Aku juga nemu flashdisk yang sama." Unjuk Maya.


Penemuan ketiga flashdisk tersebut membuat mereka sangat bingung. Pasalnya, bentuk flashdisk yang mereka temukan benar-benar sama.


"Yang mana nih? Ketiga-tiganya sama persis."


"Yang ini dari laci Andrew."


"Sini deh! Diperiksa satu persatu. Daripada nanti salah kasih ke mbak Jihan."


Angguk mereka tanda sependapat dengan Lily.


Flashdisk pertama yang dipegang Eno menjadi pemeriksaan pertama. Hanya berisi data-data pekerjaan mereka. Dibuka satu persatu pun tidak ditemukan file video rekaman CCTV yang sudah mereka salin sebelumnya.


Flashdisk kedua dari tangan Maya. Sama juga. Hanya berisi beberapa data-data pekerjaan yang sudah lama Andrew miliki.


Namun tak disengaja, 1 folder tak berjudul terklik oleh jari Lily. Memunculkan 1 file video yang menjadi pusat perhatian Eno.


"Wahhh.... apaan tuh? Video bokep Andrew kali ya? Periksa Ly!"


"Apaan sih, No. Sembarangan banget kalau ngomong."


"Hahaha.... siapa tahu tabiatnya si lekong selama ini bareng om om ada di video itu Chik."


Celoteh Eno sangat memancing kekesalan Maya, Lily dan Chika.


Mereka yang juga terikut penasaran akan file video tersebut, akhirnya memutar dan mereka tonton secara seksama. Tempat dan waktu yang sama memfokuskan penglihatan mereka.


Bukan video bokep seperti ungkapan ngawur Eno. Tapi, sebuah video yang sepertinya sangat berhubungan dengan bukti yang harus mereka miliki. Dari awal video itu jelas sekali Andrew datang dan masuk lebih dulu ke ruangan pribadi Jihan. Belum ada siapa-siapa yang menemaninya di ruangan itu. Waktu pun masih menunjukkan suasana pagi buta yang belum terlihat keramaian apa pun. Kakinya tertuntun ke arah lemari kaca yang biasanya tertata rapi data-data penting atau rancangan-rancangan Jihan yang harus tersimpan aman. Lemari itu dibuka dan tangannya mengambil map biru yang mereka ingat di situlah Jihan menyimpan rancangan yang sekarang malah berpindah tangan ke Mia. Dan itu yang membuat posisi Mia saat ini sangat diagungkan.


Terakhir video itu, terlihat gerak-gerik Andrew yang baru menyadari bahwa di ruangan terdapat 1 CCTV terpasang. Ia mencoba menetralkan wajah gugupnya dan berusaha menutup wajah gugup itu.


"Ly, flashdisk nya mana?" Teguran Jihan mengagetkan mereka.


Wajah penuh keterkejutan setelah mengamati video tersebut masih tergambar dan membingungkan Jihan.


Sikutan dari Eno di lengan Lily menyadarkan Lily untuk menjawab pertanyaan Jihan.


Jihan berjalan lebih mendekat.


"Kalian kenapa sih? Kok pada bengong begini?"


"Mbak.... Andrew berkhianat." Maya mewakili.


Jihan belum mengerti maksud penuturan Maya. Lily menggeser tubuhnya yang menghalangi laptop. Ia menunjuk putaran video yang barusan mereka lihat.


"Mbak harus tahu ini. Bukan David orangnya Mbak."


Lily menuntun Jihan untuk melihat isi video yang mereka benarkan bahwa itu real potongan video rekaman CCTV keenam yang sempat hilang.


Jihan drastis merubah raut wajahnya menjadi geram, sedih dan kecewa. Tangan gemetarnya menghentikan video tersebut.

__ADS_1


"Andrew mana?"


"Beberapa hari ini dia izin, mbak Han. Dan aku yakin, dia sengaja izin supaya gelagatnya gak kebongkar. Brengsek banget tuh orang!!"


"Dia izin sama aku ke rumah sakit. Sempat bilang orang tuanya sakit. Tapi, gak tahu juga Mbak." Pengakuan Chika.


Jihan berulang kali menelepon nomor Andrew. Tak ada satupun yang diangkat. Rasa kekesalannya memuncak. Ia meraih flashdisk tersebut dan berjalan cepat keluar ruangan. Rasanya ingin sekali melempar bukti video ini di depan wajah Mia langsung.


High heels itu menghentak kuat dan cepat tak sabaran untuk sampai ke tujuannya. Yang lain pun ikut andil untuk mendukung Jihan dalam membongkar kelicikan yang mereka terima.


Dorongan kasar pintu kaca itu mengagetkan semua pekerja bawahannya Mia. Sempat gugup wajah-wajah itu terlihat. Senyum smirk meleceh Jihan berikan.


"Kerja keras kalian sama sekali gak akan ada nilainya kalau tetap aja masih pakai cara musang mencuri ternak orang." Sungutnya.


Semua menunduk dengan perkataan Jihan. Jihan melanjutkan gerak kakinya ke ruang pribadi Mia. Yang ia dengar sendiri, perbincangan seru orang-orang di balik pintu itu.


Geseran pintu berhasil mendiamkan tertawaan renyah Mia, asistennya dan madam Stella yang ternyata juga berada di ruangan Mia. Mia berdiri pongah memasang kepercayaan dirinya saat berhadapan langsung dengan Jihan.


Mia sudah bisa menduga tujuan Jihan rela menginjakkan kakinya di ruangannya itu untuk apa.


1 gelas berisi wine ia hadapkan ke arah Jihan berusaha menawarkan. Namun, ditepis cepat oleh pergerakan elegan Jihan.


"Hai, Jihan! Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" Berlagak ramah sedikit ingin memancing kekesalan Jihan.


Jihan menatap raut Mia yang seakan menahan tawa. Begitu juga dengan madam Stella. Firasat Jihan melihat respon madam Stella sangat tidak mengenakkan.


'Apa madam udah tahu semuanya? Semua kelakuan Mia?'


"Saya ke sini untuk melaporkan tindak kelicikan keponakan tersayang madam selama ini."


Ia menaruh flashdisk seakan memberi petunjuk bukti kelicikan Mia yang pasti sengaja memanfaatkan rekannya untuk melancarkan tindak liciknya.


Madam menarik sebelah sudut bibirnya.


"Dunia persaingan itu kejam Jihan. Saya gak menyangkal kehebatan kamu dan team kamu dalam rancangan-rancangan yang kamu buat. Progres kamu sangat menjamin. But.... saya juga gak menampik kehebatan orang-orang yang selalu ambisius dalam hal apa pun walau menggunakan langkah yang salah."


Flashdisk itu didorong mendekat ke arah Jihan kembali. Prasangka Jihan tepat.


"Perusahaan ini saya ibaratkan seperti Hunger Game. Saya menunjuk siapa petarungnya. Saya hanya bertugas melihat, mendengar dan merasakan kecermatan kalian, kejelian, ketelitian dan kehebatan kalian. Saya akan mempertahankan orang-orang yang hebat, handal bahkan licik sekalipun. Karena itu yang bisa menunjang kemajuan setiap usaha manusia. Saya tidak perduli pengaduan, pelaporan atau pembuktian apa pun. Cukup bekerja keras dan beri yang terbaik agar tetap bertahan."


"Hahaha.... It's simple for you, but not for me. Salah penilaian saya memilih Madam menjadi panutan terbaik dalam diri saya. **** my dream!!!"


Jihan berjalan cepat ke arah Mia dan meraih gelas wine yang sempat disodorkan untuknya.


Cairan merah dari wine berhasil membentuk corak di dress putih Mia.


"Gak punya skill jangan terlalu dipaksain Mia. Aku masih bisa mempercantik semua dress-dress kamu kalau kamu mau. Karena aku, kamu bisa berada di sini."


Mata nyalang Jihan tertuju langsung ke bola mata madam Stella.


"Look at this Madam! Keponakan Anda akan selamanya menjadi parasit untuk Anda. Saya bersedia membayar denda berapapun sesuai perjanjian tertulis dalam kontrak kerja saya. Otak saya sangat mahal untuk dimanfaatkan."


Tertawaan hambar Jihan kembali terdengar saat melihat handbag seseorang yang ia kenali.


"Jangan takut memperlihatkan wajah lo Drew!!"


Dari lorong belakang ruangan Mia, menampilkan wujud Andrew yang berjalan menunduk. Ia sedikit malu memajukan dirinya di hadapan Jihan.


"So-sorry Han. Gue punya alasan ngelakuin ini semua."


Jihan memberikan flashdisk ke tangan Andrew.


"Gue gak butuh penjelasan lo. Tetap aja lo pelakunya. Orang kepercayaan gue lagi. Thanks buat bantuan lo selama ini."


Berputar arah dan berjalan keluar. Ini akhir. Akhir yang harus ia jalani agar semua damai. Mengalah bukan berarti kalah.


Ia keluar sembari melepas perannya sebagai leader dari teamnya. Kesedihan mereka tunjukkan saat melepas kepergian Jihan. Jihan tahu hal ini mengancam posisi mereka juga. Mereka juga kehilangan impian dan pekerjaan. Tapi, saat ini ia benar-benar lebih memilih menyerah.


"Jangan kecewa dengan aku ya! Kerja keras kita sangat mahal nilainya. Aku yakin kok, orang-orang yang seperti kita yang akan selalu dimudahkan jalannya. Semangat guys!!"


...🍁~🍁...


Kepulangan Pandu agak lama hari ini. Jihan menunggu dengan wajah tertekuk. Rumah rapi, bersih dan penampilan cantik sudah ia persiapkan. Jarum jam ke angka 11. Kelopak matanya sudah sangat berat untuk tetap terus terbuka. Yang semula terduduk manis di sofa, kini berubah berbaring saking tak tahannya. Seruan mobil Pandu pun tak terdengar olehnya lagi.


Pandu mencoba meraih kunci rumah. Namun, terkejutnya ia di saat pintu dalam keadaan tak terkunci.


"Assalamualaikum...."


Pemandangan indah yang pertama kali ia lihat. Istri cantiknya dengan balutan dress piyama dan make up tipisnya menyambut kedatangannya. Walaupun dalam keadaan tertidur ia tetap bahagia di kala Jihan benar-benar menunggunya pulang. Tapi sangat mengkhawatirkan dirinya saat pintu tidak terkunci aman. Siapa saja bisa masuk dan ia tak yakin bahwa manusia keji tak bernafsu menyentuh istrinya.


Pandu mengecup gemas seluruh pahatan paras cantik Jihan. Hal itu menyadarkan Jihan dari tidurnya.


"Eeenghhh.... Pandu. Kamu udah pulang?" Suara parau nya.

__ADS_1


"Iya Sayang. Aku baru aja sampai. Dan aku terkejut melihat istri cantikku ini terbaring di sofa dengan pintu yang tak terkunci. Biasakan kunci pintu! Biar aku gak khawatir."


Jihan mengucek matanya menormalkan agar kantuknya hilang.


"Kita langsung ke kamar aja ya! Lanjutin tidurnya lagi."


Gelengan cepat Jihan menghentikan aksi Pandu yang ingin menggendongnya.


"Kamu harus makan dulu! Aku udah siapin makanan buat kamu tahu."


Jihan cepat berdiri dan ke arah dapur. Menghangatkan kembali makanan-makanan yang telah ia siapkan ke dalam microwave. Pandu yang mengikutinya ke arah dapur pun dibuat tercengang dengan semua makanan yang tersaji.


"Ini kamu semua yang masak?"


Senyum sumringah Jihan merespon pertanyaan Pandu.


"Menurut kamu masakan aku yang kemarin itu berhasil? Ya gak lah Pandu. Ini masakan Mama. Aku minta tolong ke Mama untuk masakin semua makanan ini. Untung aja sekarang serba mudah. Pesan Gojek, makanan langsung datang. Beres kan. Masakan Mama enak banget loh."


Menata semua makanan dalam beberapa piring untuk Pandu santap.


"Jangan terlalu banyak ya Sayang!"


"Kenapa? Kamu pasti udah makan duluan dengan rekan kamu kan? Sampai pulangnya larut banget. Aku udah bersih-bersih, dandan cantik, nyiapin makan malam, ternyata kamu pulang telat." Cemberut Jihan membuat Pandu merasa bersalah.


"Sayang.... maafin aku ya! Hari ini jadwal aku lagi padat. Ngecek proyek Nirvana di Jaksel, ketemu beberapa client, ujung-ujungnya diajak makan bareng."


"Iya, gak apa-apa kok." Senyum manis Jihan mencairkan suasana.


"Lain waktu aku kenalin kamu ke client-client aku ya. Mereka juga penasaran dengan kamu."


Jihan mengangguk kegirangan.


Sepanjang makan, Pandu terus mengelus lembut rambut-rambut halus Jihan yang sedang menyenderkan kepalanya di atas meja menunggu Pandu selesai menyantap makanannya.


"Kamu beneran gak mau ikut makan?"


"Aku udah keburu kenyang. Rencananya mau makan malam bareng sama suamiku. Karena udah kemalaman, aku gak berani makan lagi. Takut gendut."


"Maaf ya Sayang...."


"Iya Pandu...."


"Boleh gak, kamu manggil aku jangan Pandu aja?"


"HAH! Maksudnya?!" Menegakkan kepalanya begitu bingung dengan pertanyaan Pandu.


"Yaaa.... kasih panggilan spesial gitu ke aku. Masa sih, ke suami sendiri manggilnya nama doang."


Mata menyipit Jihan menelisik maksud Pandu.


"Apaan sih Pandu?! Emangnya mau manggil apa lagi? Kan biasanya juga gitu."


Pandu menghentikan suapannya dan mulai meraih kedua tangan Jihan sambil berlagak manja seperti anak kecil.


"Aa'?" Senyum sumringah meminta persetujuan Jihan.


Jihan berpikir sebentar. Selanjutnya ia menarik tangannya dari genggaman Pandu. Memalingkan wajahnya ke samping sembari ngedumel.


"Gak ah!! Enak aja mau disama-samain dengan mantan kamu."


"Mantan?"


"Kamu lupa, kalau Aa' itu panggilan Sulis ke kamu?! Sengaja ya? Entar, bayangan kamu ke Sulis muluk."


Pandu menggaruk tengkuknya bingung bila Jihan sudah over thinking begini.


"Ya udah.... maunya manggil apa?"


"Mana aku tahu!!"


Pandu berpikir panggilan apa yang cocok untuk dirinya. Senyum jahil Pandu mencoba menggoda Jihan. Jihan tambah kesal dibuatnya.


"Gimana kalau panggil mas aja. Kamu kan suku Jawa. Lucu tuh kalau kamu manggil aku, mas Pandu.... mas Pandu, I Love You.... Hihihi...."


Bercandaan Pandu berhasil memancing tawa Jihan.


"Mas tukang bakso.... bakso uratnya 1 mangkok ya...." Membalas candaan Pandu.


"Sayang.... bukan tukang bakso juga kali. Mas Pandu! Kan enak didengar Sayang. Masa cuma manggil nama doang. Aku suami kamu atau teman kamu?!"


"Iya, iya. Bawel! Mas tukang bakso, cepetan habisin makanannya! Aku udah mulai ngantuk lagi nih." Mengucek-ucek matanya.


...🍁~🍁...

__ADS_1


...Bersambung..................


__ADS_2