Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Jihan Sajidah Pangestu


__ADS_3

Mata sembabnya terus coba ia dempul dengan riasan. Pandu sudah bersusah payah menenangkan tangisan dan kekesalan sedari malam. Tapi tetap tak berhasil. Menangis lama itu lah yang membuat mata Jihan sembab dan bengkak.


"Susah banget sih!!!" Kesal mempengaruhi Jihan.


"Sayang.... udah ya!"


"Pokoknya, setelah 2 hari ini kita langsung pulang aja!"


"Iya Sayangku." Pandu mengelus mata sembabnya.


Tok.... tok.... tok.... Ketukan pintu mereka dengar.


"Jihan.... Jihan...." Suara Mama memanggil. Jihan bergegas membuka.


"Mama, ada perlu apa Ma?"


Mama bukannya menjawab, malah terkejut dengan mata Jihan yang membengkak. Jihan cemberut.


"Ya Allah.... anak mama. Maafin Papa ya, Sayang!"


Jihan mengangguk malas.


"Ada apa Ma?"


Mama masuk terlebih dahulu. Mendekati Jihan dan berbisik.


"Mama berangkat siang hari ini. Kamu serius kan, mau belajar masak?"


Anggukan cepat Jihan terlihat sangat senang dan antusias.


"Ya udah, yuk langsung ke dapur!"


Mama menarik Jihan tanpa memperdulikan Pandu yang bingung dan berpikir apa yang diobrolin oleh Mama dan Jihan.


Jihan tercengang melihat semua bahan-bahan dan peralatan memasak sudah tersedia di meja dapur. Mama mengikatkan rambut Jihan dan memasang apron sebelum pembelajaran dimulai.


"Sebelum memasak itu, pastikan semua peralatan dan bahan-bahan tersedia di hadapan kita. Supaya tidak ada yang kelupaan. Dan persiapkan diri kamu yang rapi dan bersih. Karena, mama risih banget melihat orang yang memasak dalam kondisi yang berantakan."


Jihan mengangguk dan tersenyum. Mendapatkan ilmu berharga dari Mama yang sudah sangat mahir dalam urusan perdapuran.


"Sekarang, kita buatkan sarapan dulu untuk suami dan menantu mama. Setelahnya, kita buat beberapa menu yang standar untuk makanan sehari-hari. Supaya kamu paham resep-resepnya."


"Terus, masakan pertama apa Ma?"


"Nasi Goreng Petai saja dulu. Biar gampang dan cepat."


"Iihhh.... Kok petai sih?"


"Udah jangan bawel. Pasti enak. Awas kalau kamu nanti ketagihan."


Masakan pertama mulai mereka racik. Mama mengajari Jihan bagaimana memotong bawang yang benar, menggiling cabai, mengenal beberapa bumbu dan mencoba merasakan setiap rasa masakan yang mereka buat.


Biasanya, Jihan sangat anti sekali merasakan masakan terlebih dahulu sebelum tersaji. Dan selalu sembrono dalam menakar setiap bumbu yang ia berikan. Maka dari itu, Pandu selalu menjadi korban percobaan masakan tak enaknya.


Mengingat itu, Jihan tersenyum kegelian yang membingungkan Mama.


Nasi Goreng Petai ala Mama pun sudah selesai. Bersamaan dengan hal itu, Pandu dan Papa sama-sama baru saja datang.


"Wahhh.... Kesukaan papa nih. Mari, Ndu! Nasi Goreng Petai Buatan istri papa memang terbaik. Kamu suka petai kan?"


"Kalau di kampung mah, jadi lalapan Pa."


"Jadi kepingin ke kampung kamu, Ndu." Sambung Mama.


Pandu tertawa sekilas menanggapi keinginan Mama.


Kini, Pandu dan Papa sama-sama pamit kepada istri masing-masing.


"Mas berangkat dulu ya. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam...." Mengecup tangan sang suami.


Lambaian tangan mereka memancing senyum geli dari Mama. Menyikut lengan sang anak.


"Cieee.... So sweet banget. Berasa ingat masa-masa awal nikah dulu. Hihihi...."


Jihan yang digoda jadi merasa malu.


"Ayo masuk! Kita lanjut belajar masaknya."


...🍁~🍁...


Wanita tua memasuki kamar yang sudah beberapa hari ini tak terjamah. Lumayan berantakan. Tong sampah sudah dipenuhi remukan-remukan tisu dan beberapa botol minuman beralkohol yang sudah kosong tergeletak di sudut dinding. Semua atas perintah paksa majikannya untuk mengecek kondisi kamar Mia yang selalu terkunci rapat.


"Ya ampun.... Non Mia teh kenapa? Selalu mengurung diri di kamar, pergi tanpa pamit, pulang selalu larut malam. Saya teh bingung selalu ditanyain terus dengan Ibuk."


Beberapa puntung rokok juga tersebar. Sampah-sampah itu Bibik kumpulkan dalam kantong berukuran lebih besar. Supaya tidak terlalu capai bolak balik turun tangga.

__ADS_1


1 tong sampah penuh tersebut, ingin Bibik pindahkan sampah-sampahnya ke dalam kantong besar. Namun, saking penuhnya Bibik tak mampu menahan jatuhnya tumpukan sampah tisu-tisu itu menyebabkan semua berhamburan di lantai. Memungut kembali.


Dari sudut mata beliau, 1 benda pipih panjang yang sangat familiar mengusiknya. Ia perhatikan begitu lekat.


2 garis merah.


"Ini teh testpack siapa?"


Bibik berpikir cukup lama. Pasalnya, benda ini berada di kamar Mia. Putri majikannya. Dan ternyata bukan hanya ada satu. Puluhan testpack terkumpul di tong sampah bercampur dengan sampah lainnya.


Mulut itu terkatup tak percaya dengan apa yang Bibik pikirkan.


Beberapa testpack tersebut Bibik ambil untuk memberitahukan kepada majikannya yang harus tahu apa yang telah terjadi dengan putrinya, Mia.


...🍁~🍁...


Jihan menata makanan-makanan yang telah berhasil ia buat. Senyumnya selalu mengembang. Pandu harus mencicipi semua makanan ini.


"Udah selesai semuanya Jihan?" Mama bertanya.


"Udah Ma."


Jihan memeluk Mama yang selalu bisa mengerti keluh kesahnya.


"Makasih ya Ma. Mama memang yang terbaik. Hihihi...."


Mama tertawa kecil sambil mencubiti hidung Jihan gemas.


"Walau kamu sudah berstatus seorang istri, tetap saja berperilaku manja layaknya anak kecil. Udah yuk! Sebentar lagi jam makan siang. Nanti takutnya Pandu udah keduluan makan."


Anggukan Jihan semangat dengan ajakan Mama. Kotak-kotak bekal itu ia masukkan ke dalam keranjang dan ia genggam erat agar selalu aman.


Jihan mengendarai Mazda merahnya. Yang sudah lama tak ia gunakan. Sebelumnya, Jihan mengantar sang Mama terlebih dahulu ke Rumah Sakit di mana Mama bekerja. Baru setelahnya, Jihan mengendarai kembali mobilnya ke kantor suaminya yang sudah lama tak ia kunjungi.


Gedung tinggi bertuliskan Warriors Group telah ia lihat. Bersandar sebentar di jok mobilnya. Ia tersenyum memikirkan bagaimana ia dulu berani melakukan hal bodoh memperlakukan dirinya di hadapan semua orang demi bisa mendapatkan belas kasih dan bantuan Pandu yang sangat keras hati. Kepala itu menggeleng menghapus kenangan konyol itu.


Tas kecilnya ia sampirkan di bahu. Rambut ikalnya ia sisir dengan jarinya memastikan tidak ada yang berantakan. Keranjang makanannya ia ambil dan akan ia bawa.


Langkah gemulainya beriringan dengan senyuman yang manis yang berusaha menyapa orang-orang berseliweran sambil memberi salam hormat kepada dirinya. Beberapa dari mereka yang paham siapa Jihan sebenarnya ikut menyapa. Dan sebagian mereka yang tidak tahu siapa Jihan hanya bisa menatap bingung keheranan.


"Wait, Nona!!"


Langkah Jihan terhenti.


Ia paham siapa pemilik suara tersebut.


"Saya masih ingat wajah tidak punya malu seperti kamu, Nona."


Jihan hanya bisa menunggu, mendengar semua omongan wanita Resepsionis ini dengan senyuman yang tak pernah lepas.


"Mau apa lagi kamu ke sini?!"


Pertanyaan sedikit bentakan Jihan terima.


Salah satu karyawan yang lain ingin sekali menghentikan aksi wanita Resepsionis ini. Tapi, Jihan larang hanya untuk memberi balasan telak ke wanita di hadapannya ini.


"Saya mau bertemu dengan bapak Pandu Pangestu. Beliau ada kan?"


"Hahaha.... Untuk apa lagi sih Mbak?! Jangan macam-macam ya dengan Bos saya. Bapak Pandu itu sudah menikah. Sudah beristri. Jangan berharap Mbak bisa menggoda Bos saya."


"Oh, ya.... Kenapa gak bisa? Saya yakin kok, Bos kamu itu sangat menyukai saya. Saya gak perduli dia sudah menikah atau belum. Yang jelas, saat ini saya ingin sekali bertemu dengan bapak Pandu Pangestu."


"Gak bisa!! Ini sudah peraturan perusahaan untuk melarang siapa


pun orang-orang tidak jelas seperti anda."


Jihan mulai jengah dengan aksi wanita Resepsionis ini. Jihan jadi berpikir apakah wanita ini benar-benar tidak tahu berhadapan dengan siapa? Bisa-bisanya dia terus bertahan menghalau niatan Jihan untuk bertemu Pandu suaminya sendiri.


Jihan lebih memajukan dirinya.


"Kamu tidak tahu siapa saya?"


"Untuk apa saya cari tahu tentang anda."


Karyawan yang lain meringis ngeri melihat interaksi temannya dengan istri Bosnya.


Sisca si wanita Resepsionis itu menghela mencemooh saat ia rasa lawan bicaranya itu tengah mencari nomor seseorang yang ingin ia hubungi.


"Jangan dilanjut Sisca! Dia itu...."


Temannya berbisik pun langsung disanggah oleh Sisca.


"Udah, biarin aja. Kita lihat apa yang dilakukan wanita gila ini."


Temannya menggaruk tengkuk bingung dengan keras kepalanya Sisca.


Jihan yang sedari tadi terus saja menunggu respon dari Pandu tak juga membuahkan hasil. Sedikit tergambarkan kekesalan di wajahnya. Tentunya, hal itu mengundang senyum kemenangan dari si wanita Resepsionis.

__ADS_1


"Ibuk Jihan, mari langsung ikut saya saja!"


"Gak boleh Rani!! Jangan sembarangan menerima masuk orang asing. Wanita gila ini pasti ingin berbuat hal aneh dengan pak Pandu."


"Wanita gila?! Seenaknya kamu mengatai say...."


"Security....!! Security....!!"


Lancangnya wanita Resepsionis ini ingin mengusir Jihan. Jihan bertambah kesal. Nomor Pandu pun tak kunjung bisa dihubungi.


"Iya, Buk. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong kalian usir wanita ini!" Unjuk Sisca ke arah Jihan dengan rasa tak hormatnya.


Kedua Security itu berbalik arah menghadap wanita yang dimaksud. Betapa terkejutnya mereka mengetahui wanita mana yang dimaksud Sisca.


Jihan menatap nyalang kedua mata Security itu. Hal itu membuat kedua Security tersebut menunduk dan memundur diri mereka 1 langkah memberi hormat. Sisca terheran dengan aksi para Security.


"Maaf buk Jihan. Kami tidak tahu kalau wanita yang dimaksud buk Sisca itu adalah Ibuk."


"Kalian ini apa-apaan sih?! Usir wanita ini!"


"Maaf buk Sisca, kami tidak punya hak untuk mengusir buk Jihan. Kami tidak ingin kehilangan pekerjaan."


Sisca tak menyangka respon para Security ini tak berpihak kepadanya.


"Ok, sepertinya saya perlu memperkenalkan kembali siapa saya sebenarnya. Saya Jihan Sajidah Pangestu. Istri sah bapak Muhammad Pandu Pangestu. Mungkin, ini sebab akibat dari kamu yang tidak menghadiri pernikahan Bos kamu sendiri."


"Hahaha.... Bualan apa lagi ini?"


Jihan benar-benar naik darah menghadapi keras kepalanya wanita Resepsionis ini. Ingin sekali kata-kata kasar ia keluarkan tapi ia tetap tak mau membuat Pandu malu.


"Saya pengin banget nunjukin buku nikah saya ke kamu tapi saya gak bawa. Emangnya kamu gak kepoin gitu, siapa istri Bos kamu?!"


"Buat apa saya repot-repot cari tahu istrinya pak Pandu."


"Kamu!! Benar-bebar menyebal...."


"Sayang....!!"


Langkah cepat Pandu menghampiri kerumunan para pekerjanya di hadapan Jihan istrinya. Justru, panggilan itu menyita perhatian orang-orang yang melihat. Terutama Sisca si wanita Resepsionis yang tetap kekeh menahan Jihan agar tidak masuk.


"Ada apa ini?!"


"Hmm.... Maaf Pak, sudah membuat kekacauan. Ada sedikit kesalah pahaman di sini Pak."


Karyawati di samping berdirinya Sisca menyenggol bahunya yang sedang melamun masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kamu ke sini kok gak ngabarin mas dulu Sayang?"


Helaan napas berat Jihan keluar mengontrol emosinya.


"Percuma kan, dari tadi aku nelepon Mas gak respon."


Pandu baru teringat handphonenya tertinggal di ruangannya.


"Ndu, berkas-berkas lo. Eh! Ada buk Jihan juga. Apa kabar judes?"


Yogi si biang kerok kembali berulah. Menambah rasa kesal di hati Jihan.


"Loh, kok pada berdiri di sini sih?" Bingung Yogi.


Jihan menatap nyalang ke bola mata wanita Resepsionis. Terlihat sekali ia menunduk menahan rasa sesal dan malunya. Selanjutnya, wanita itu memegang tangan Jihan dan memohon ampun.


"Maafkan saya Buk! Saya benar-benar minta maaf. Saya gak tahu kalau Ibuk istri pak Pandu. Saya sudah memperlakukan Ibuk dengan kasar. Saya minta maaf Buk...."


Pandu baru memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia memeluk pinggang Jihan dari samping karena ia tahu saat ini Jihan sangat kesusahan mengontrol emosinya.


"Iya Sisca. Tidak apa-apa. Istri saya pasti sudah memaafkan."


Jihan langsung menatap tak suka ke arah Pandu yang berbicara tidak sesuai dengan hatinya.


"Wahhh.... Kamu sepertinya sudah memancing singa mengamuk, Sisca. Hihihi...."


Celetukan Yogi sangat tidak memandang situasi. Jelas terlihat dari geraman tangan Jihan yang menggenggam erat keranjang bekal yang ia bawa.


"Ya udah, kita langsung ke ruangan mas aja ya, Sayang. Maklumi Sisca yang tidak terlalu mengenal kamu ya!"


Pandu menarik Jihan untuk mengikuti langkahnya.


Wajah itu kembali menghadap ke belakang dan tak disangka, Jihan menjulurkan lidahnya sebagai tanda kemenangan ke wajah memalukan Sisca si wanita Resepsionis.


"Kalian lihat, Jihan itu bukan tandingan kita. Jadi, jangan sampai ada yang memancing keributan." Pesan Yogi mengakhiri kerumunan itu.


Sisca sangat malu dengan tindakan yang ia perbuat. Apalagi, setelah orang-orang menertawakannya. Sangat memalukan.


...🍁~🍁...

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2