
Raska menepuk dahinya. Ini bukan waktu yang tepat. Ia pun lupa bahwa ia sendiri yang memerintahkan mereka langsung masuk.
"Kita ada perlu dengan Raska. Hmm.... masalah kerjaan Om, Tante."
Penjelasan sopan Pandu.
Lain hal dengan Jihan. Tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. Berdiri tegap dan berlari-lari kecil sambil berteriak.
"Sayang...."
HAP. Pelukan Jihan melingkar di tubuh jangkung Pandu. Semenit mereka terdiam. Bingung dengan tindakan Jihan.
"Jihan....!" Panggilan kecil penuh penekanan Papa menyadarkan Jihan.
Pandu memberikan sedikit dehaman agar wanita yang memeluknya tersadar dan melepasnya. Namun, tak disangka Jihan lebih menunjukkan sikap sok imutnya.
"Sayang.... kok kamu gak kasih tahu aku sih, kalau mau ke sini? Aku bosan banget di sini. Kamu pasti udah gak sabar kan pengin ketemu aku. Dari tadi itu aku dicegat terus sama Papa. Padahal, aku ada janji sama kamu. Maaf ya Sayang...." Mengelus-elus pipi Pandu.
Pandu yang berusaha melepaskan pelukan Jihan pun melotot mendengar pernyataan gila dari mulut wanita di hadapannya ini. Namun, pelukan erat dari Jihan tak berhasil ia lepas. Malah tambah mengekang dirinya.
"Maaf, saya cuma mau ketemu Raska."
"Iya, aku tahu Sayang.... Raska juga ikut kok. Kita kan mau double date."
"Maaf, kita gak ada hubung...."
"Alya, Raska, ayo! Kita kan udah janjian mau ke Cafe."
"Cafe? Cafe apa? Saya sama Yogi cuma ada urusan mendadak dengan Raska hari ini."
"Iya, nanti bisa di obrolin juga di Cafe, Sayang."
"Saya gak mengerti dengan semua in...."
"Sudah cukup, cukup! Ini apa lagi? Saya dan suami saya datang bertamu untuk memenuhi niatan mas Ridwan menjodohkan anaknya dengan anak saya. Mas sendiri yang bilang ke kita, kalau Jihan lagi single, baru putus. Ini buktinya apa?! Sudah ada yang punya Mas."
Pandu sudah mulai mengerti alur cerita ini.
"Single?! Hello.... Jihan Sajidah Salim gak ada kata single. Intinya, saya gak suka sama anak Tante. Cowok mata jelalatan ke mana-mana udah pasti tukang selingkuh."
"Jihan!! Yang sopan kalau bicara. Papa dan om Daniel udah sepakat menjodohkan kalian berdua." Kesal Papa memuncak.
"Udahlah Pa, kalau anak kita gak mau jangan dipaksa."
Sedikit lega karena Mama berpihak ke Jihan.
"Jihan cuma mau sama.... sama dia!!"
Pelukan tangan Jihan di pinggang Pandu semakin erat. Membuat Pandu mengucap dalam hati dan semakin risih. Yogi, Raska dan Alya yang sedari tadi terbengong bingung mau bertindak seperti apa hanya bisa menyimak kekacauan ini. Lakonan drama yang Jihan mainkan sangat membuat Pandu geram. 'Perempuan aneh'
"Ya udah Pi, buat apalagi kita di sini. Lama-lama harga diri kita diinjak-injak. Masih banyak wanita-wanita di luaran sana yang lebih berkelas dan tahu sopan santun. Terimakasih atas jamuannya mas Ridwan dan juga mbak Ratna."
"Mi, gak bisa gitu dong. Kita sama-sama udah sepakat...."
"Cukup Pi! Kita udah dipermalukan."
Keluarga Nicho pergi dengan hati yang dongkol.
__ADS_1
"Tolong lepasin pelukan kamu dari saya! Drama kamu udah selesai." Bisikan Pandu di telinga Jihan.
Jihan sengaja tak menggubris. Baginya, ini semua belum selesai. Ia yakin, Papa akan menuntut penjelasan darinya. Jangan sampai keluarga resek itu berbalik dan meminta perjodohan ini kembali.
Senyum coba ia ukir di saat sang Papa memunculkan taringnya.
"Dia siapa?!"
Permasalahan kedua pun dimulai.
"Dia.... dia.... dia pacar baru Jihan. Iya.... iya kan Sayang?"
Mengedipkan matanya berusaha mengkode Pandu.
"Hmm.... sa-saya.... hmm...."
"Pa, Jihan memang baru putus. Tapi, bukan berarti Jihan gak boleh memilih pria lagi. Kalau Jihan single terus, entar Jihan dikatain gagal Move On. Dia pria baik-baik kok. Temannya Raska juga. Iya kan Ras?"
"Eh, hmm.... iya, Om. Raska kenal baik sama Pandu. Udah sahabatan lama. Kebetulan kita satu project bareng."
Kini, Pandu benar-benar dicecar beribu pertanyaan dari Papa. Bukan keinginannya untuk berbohong. Jihan sumber masalah dalam hidupnya.
"Kalau gak salah, Tante pernah lihat kamu di pernikahannya Alya dan Raska. Iya, Tante ingat banget. Kamu yang waktu itu ikut jatuh saat Jihan terjatuh juga kan? Sesi pelemparan bunga. Iya kan?" Mama excited mengingat moment termalu Jihan.
"Benar Tante, itu saya."
"Ya ampun.... kalau namanya jodoh itu emang gak ke mana ya. Hihihi...."
Sebenarnya Jihan keberatan dengan pernyataan Mama.
"Ma, belum tentu hubungan mereka ini serius. Papa sama sekali gak yakin. Papa tahu, ini cuma akal-akalannya Jihan. Supaya Papa gak jadi menjodohkan Jihan dengan Nicho."
"Benar banget itu Pa. Udah kelihatan banget dari awal. Feeling seorang ibu itu kuat loh Pa."
"Terus kalian langsung percaya dengan anak ini?!" Menunjuk Pandu.
"Om, Pandu orangnya baik, jujur, dermawan, ganteng, hormat sama orang tua, rajin sholat. Kurang apalagi Om? Saya temannya pasti tahu."
Melirik Pandu dari bawah ke atas berulang kali.
"Anak saya bukan untuk dipermainkan. Saya ingin anak saya terarah. Saya akan merasa gagal kalau anak saya terjerumus ke hal-hal yang tidak benar."
1 jam sudah waktu terpakai. Obrolan mereka sudah lumayan ringan. Pandu merasa ingin ke toilet.
"Om, Tante, boleh saya izin ke toilet sebentar?"
"Silahkan."
Berkat bantuan Asisten Rumah Tangga, Pandu cepat menemukan toilet di rumah semegah ini. Sebenarnya, Pandu tak bermaksud akan buang air besar atau air kecil. Ia ke toilet hanya ingin membasuh dan berwudhu sekadar menetralkan rasa cemas karena sudah membuat kebohongan. Ia tak menyangka semua mengalir begitu saja. Dalam hati berulang kali memohon ampun.
Sudah cukup terlalu lama di sini. Janjinya dengan client hampir terlupakan. Namun, tak ia sangka di depan pintu toilet Jihan sudah berdiri menunggu Pandu keluar.
"Astaghfirullah.... kamu ngapain di sini?"
"Nungguin lo. Apa susahnya sih ngejawab semua pertanyaan Papa?!"
"Maaf, saya ke sini cuma ada urusan dengan Raska. Minta berkas-berkas penting yang saya butuhkan hari ini. Hanya itu. Tapi, dengan polosnya kamu memulai semua drama ini. Menjerumuskan saya dalam masalah kamu. Sekarang Kenapa jadi kamu yang marah ke saya?"
__ADS_1
Jihan yang tak mau kalah merasa tertantang. Berdiri lebih tegap bersedekap sambil mengangkat kepalanya angkuh. Salahkan pula Pandu yang terlalu tinggi untuknya.
"Kalau bukan serumit ini, gue juga gak mau capek-capek acting di depan Papa. Lo pikir gue seneng pura-pura manja ke lo. Gue terpaksa. Tampang lugu lo itu lumayan bisa gue manfaatin."
"Bohongin orang tua itu dosa besar. Apalagi sampai mengajak orang lain untuk berbohong. Kamu mau nanggung jawabin semua dosa orang-orang yang kamu paksa berbohong? Apa susahnya sih bicara jujur. Menolak secara halus, bisa kan?" Kesabaran untuk menanggapi wanita keras kepala seperti Jihan tidak akan bisa.
"Bulshittt....! Sok suci banget lo."
"Saya udah gak mau perduli lagi dengan apa yang mau kamu perbuat. Urusan saya lebih penting. Dan tolong jangan ulangi lagi seperti ini ke siapa pun! Jujur itu lebih baik."
Pandu tidak perduli lagi dengan Jihan yang terus saja membuntutinya dari belakang sambil ngedumel.
"Om, Tante, saya dan teman saya mau pamit pulang. Masih ada urusan yang mesti kami kejar."
"Oh, iya Ndu. Ini berkas-berkasnya. Sorry ya, udah ngerepotin kalian berdua."
"Gak apa-apa Ras. Kita juga mendadak bilangnya ke kamu. Thanks ya."
Memahami sopan santun, Pandu menyalami orang tua Jihan dan pamit.
"Saya pamit pulang ya Om, Tante. Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan nak Pandu."
"Iya Tante."
"Hati-hati ya Sayang...."
Jihan masih saja memainkan perannya. Pandangan kesal Pandu ke Jihan memancing tingkah usil Jihan yang menjulurkan lidah meledeknya.
...🍁~🍁...
"Gila sih tuh cewek. Seenaknya manfaatin lo. Masalah-masalah siapa, yang dibawa-bawa lo. Centil banget. Sayang.... Sayang.... Iihhh.... Jijik gue ngebayanginnya."
Sepulang mereka, Yogi terus saja membahas kejadian tadi siang. Pandu tidak bisa nyaman tertidur.
"Lo sih, mau maunya aja dilibatin."
"Gimana aku mau jelasin Gi. Dia sama Papanya selalu cegat aku ngomong. Udah deh, gak usah dipikirin lagi. Semoga aja kita gak berurusan sama dia lagi."
"Kalau suatu saat lo ketemu lagi dengan tuh cewek, gue rasa dia jodoh lo Ndu. Hahaha.... Nyesek banget hidup lo."
Hehhh.... Pandu menghela napasnya.
"Rencana Allah gak ada yang tahu Gi. Semoga aja gak deh. Terlalu bawel."
Hahaha.... Mereka berdua tertawa lepas.
...🍁~🍁...
Mungkin, tulisanku belum seberapa dengan karya-karya cermat kakak Author lainnya.
Tapi, aku tetap yakin kok, bahwa setiap usaha yang ikhlas, serius dan optimis pasti akan ada hasilnya yang dapat memuaskan hati kita nanti.
Jadi, aku gak akan berhenti untuk menulis. Jangan down karena perkataan seseorang yang berusaha menggoyahkan kita. Semangat para pejuang :)
Vote, Comment dan ikuti Tulisanku ya
__ADS_1
Thank You
...Bersambung................