Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Cemburu Akut


__ADS_3

Mata Jihan tambah terbelalak di saat para model-model yang ia kenal sebagai utusan dari De'fashion tengah berjalan di bawah sorotan lampu. Mengenakan beberapa design yang sangat mirip dengan rancangannya. Rancangan yang hilang yang akan menjadi peluncuran terbarunya saat ini. Bahkan, kombinasi bahan-bahan kain dengan berbagai warna menarik maupun motif yang mereka gunakan juga sama dengan apa yang telah ia rencanakan.


Tubuh Jihan bergetar hebat. Tak hanya Jihan. Teman-teman seteamnya pun ikut tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sampai di penghujung acara, di saat momen penobatan siapa penerima predikat "Indonesia's Top Designers", kepala Jihan memanas dan berdenyut kencang.


Mia berjalan dengan senyuman dan lambaian pongahnya ia menerima penghargaan tersebut. Rancangannya adalah real curian milik Jihan yang hilang. Prasangka buruknya ke Mia benar-benar terjadi.


Mia sangat berani melakukan hal ini. Senyuman palsunya ia tunjukkan tepat ke pandangan Jihan. Hati semakin memanas. Jihan lebih memilih pergi. Ia benar-benar dikalahkan oleh jahat dan liciknya Mia.


Panggilan teman-temannya tidak lagi ia dengar. Kekecewaan dan harga diri Jihan sangat dipermainkan Mia. Mia yang melihat perginya Jihan, lebih melebarkan senyum evilnya.


Jihan berjalan cepat sambil menyeka air matanya yang terus meluncur. Pandu. Ia membutuhkan Pandu saat ini.


Ia merogoh tas. Baru ingin menelepon Pandu, matanya sudah bisa menemukan wujud sang suami yang baru saja keluar dari mobilnya. Jihan berlari dan menghambur ke pelukan Pandu. Pandu yang tak siap, membuatnya limbung ke belakang dan membentur body mobilnya. Tangisan Jihan semakin kuat. Pandu berusaha menenangkan. Ia memberi waktu untuk Jihan melampiaskan kekesalannya.


Kini, mereka sudah berada di rumah. Jihan yang masih kesal, mengurung diri dalam kamar menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Pandu masuk dengan membawa berbagai macam cemilan. Pelan-pelan ia membuka selimut dan mendapati Jihan yang masih sesenggukan sehabis menangis.


Jihan melirik sekilas ke arah Pandu. Senyum manis Pandu membuat Jihan segera meraih kembali selimut dari tangan Pandu. Ia malu dengan wajah sembab dan mata bengkaknya. Seolah Pandu tahu, ia menahan tarikan selimut dari Jihan dan menuntun Jihan untuk duduk.


"Istriku, jangan nangis terus ya! Nanti wajah kamu tambah bengkak loh."


Jihan menyikut perut Pandu. Dan Pandu berakting kesakitan yang berhasil memancing tertawaan kecil Jihan. Pandu membantu mengusap air mata Jihan. Setelahnya, ia memberikan sekilas kecupan di pipi kanan Jihan.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakuin kan? Yang hilang biarkan hilang. Semua yang kita punya hanya titipan. Kebahagiaan, kesuksesan, umur, jodoh...."


Mendengar kata jodoh, Jihan memelototi Pandu seraya kepala menggeleng tak ingin Pandu melanjutkan.


Pandu tertawa melihat reaksi Jihan yang enggan mengiyakan kalau suatu saat nanti yang namanya jodoh tetap akan hilang dan berdiri sendiri.


Bunga mawar pemberiannya tadi ia kembali berikan kepada Jihan.


"Kita tetap gak bisa menahan kekuasaan Allah. Kalau Allah sudah menetapkan salah satu dari kita untuk lebih dulu menghadapnya, kita harus siap. Maka dari itu, aku sebagai suami kamu gak mau menyia-nyiakan waktu berharga aku bersama istri tercintaku ini." Menyentil hidung memerah Jihan.


Jihan yang tersentuh dengan ungkapan Pandu, menerima bunga tersebut dan mengecup singkat bibir Pandu. Aksi berani Jihan menyentak senang Pandu.


Dengan sigap, Pandu menahan punggung Jihan berniat untuk kembali membalas kecupan Jihan namun dicegat. Karena matanya melihat beberapa makanan yang barusan Pandu bawa. Mood Jihan berubah seperti anak kecil yang kelaparan.


"Itu buat aku kan?"


"...."


Lama menunggu jawaban Pandu, Jihan langsung bergerak mengambil bungkusan dan berpindah posisi duduk agak menjauh dari Pandu.


Sekarang, giliran Pandu yang cemberut. Jihan tak perduli wajah tertekuknya Pandu. Lebih antusias membuka bungkusan. Tapi, ia bingung dengan semua makanan yang Pandu bawa.


"Ini makanan apaan? Kamu beli di mana makanan beginian? Pinggir jalan ya? Gak higienis banget Pandu....!!" Menatap kecewa ke Pandu.


Pandu pun lebih mendekat ke posisi duduk Jihan. Ia kembali membuka dan mengeluarkan semua makanan itu dari kantong plastik.


"Ini tuh enak Sayang. Ini makanan yang dulu sering aku beli di kampung. Saat kuliah dulu pun jajanan ini yang selalu nemanin aku ngerjain tugas dan kumpul bareng sama teman-teman. Aku sih yakin, kamu bakal heran. Karena setahuku, anak yang biasa hidup mewah itu gak akan pernah nyoba makanan seenak ini."


Menyodorkan salah satu tusukan lidi yang dilingkari telur gulung.

__ADS_1


"Cobain deh! Kamu pasti ketagihan."


Gelengan Jihan tidak mengurungkan niat Pandu untuk memaksa Jihan mencoba.


"Enak Sayang. Cobain dulu! Aaaa...."


1 gigitan lolos. Menelan ke tenggorokan. Mata Jihan terbuka lebar setelah dirasa makanan yang ia makan begitu enak. Pandu mulai menarik senyumannya. Ingin mengambilkan lagi untuk Jihan namun urung ketika Jihan sendirilah yang lebih dulu merebut makanan telur gulung yang dirasanya enak.


"Enak banget Pandu....!! Serius, ini enak banget. Pokoknya ini semua buat aku!"


Tak hanya telur gulung. Cimol, cireng, batagor, seblak, cilok, cilor pun ia cicipi. 1 bungkusan penuh berisi makanan ia bajak hanya untuk dirinya. Pandu hanya bisa tersenyum ikhlas.


Ditengah kenikmatan, handphone Jihan terus berdering tanda ada yang menghubunginya. Tidak ada nama. Nomor asing. Jihan tidak memperdulikan.


Pandu yang risih mencoba berniat mengangkat. Tapi langsung dicegat Jihan.


"Gak usah diangkat! Palingan itu si David brengsek."


"David?! Kamu masih berhubungan dengan dia?" Sedikit terdengar nada kekesalan.


TINGGG! 1 notifikasi pesan whatsapp masuk dan terbaca oleh Pandu.


No name : "Beb.... please, angkat telepon aku dan balas chat aku ya."


Menambah kekesalan Pandu. Ia membanting handphone Jihan dengan kasar.


"Pandu!! Kok dibanting handphone aku?! Kalau jatuh ke lantai terus rusak, gimana?"


Merebahkan tubuh kesal di ranjang. Jihan tercengang melihat reaksi langka Pandu. Biasanya, ia yang selalu bertingkah aneh dan Pandulah yang selalu berusaha membujuknya. Kini, malah berbalik.


"Aku juga gak tahu, Pandu. Semua nomor-nomor asing itu selalu aku blokir. Tapi, tetap aja dia terus nelepon pakai nomor lainnya."


Pandu kembali terduduk cepat menghadap Jihan.


"Biar aku yang telepon. Aku mau ngajak dia ketemuan."


"Buat apa?"


"Aku mau kasih dia peringatan supaya gak ganggu kamu lagi. Dia kan tahu kita udah menikah. Aku suami kamu. Gak ngerti banget." Dengus Pandu.


"Percuma, Ndu. Dia keras kepala, psycho. Aku jadi nyesel pernah berhubungan lama sama dia."


Pandu menelisik tajam ke wajah Jihan. Lebih tepatnya ke arah bibir manis istrinya.


"Di bagian mana aja yang udah dia sentuh?!" Pertanyaan ketus menyelidik Jihan. Tatapan Jihan pun tak kalah tajamnya.


"Kamu kenapa sih?! Gak sopan banget pertanyaannya."


"Dia kan pernah bilang, kalau kamu itu pernah disentuh sama dia, kalau kamu itu cuma barang bekas yang...."


PLAKKK!

__ADS_1


1 tamparan cukup membuat Pandu terdiam.


"Kamu keterlaluan Pandu!! Aku memang bukan perempuan baik-baik, kehidupanku dulu liar. Tapi aku gak sehina itu!!"


Pandu tertegun dan menelan salivanya dalam-dalam. Ia merutuki dirinya yang tidak pandai mengontrol emosi saat ini.


"Aku cuma nanya Jihan. Perkataan dia ngebuat aku berpikir negatif."


"Itu kan dulu. Waktu aku sama kamu belum dipertemukan. Lagian, kayak kamu gak pernah ngelakuin aneh-aneh aja ke Sulis."


Mata Pandu terbelalak tidak suka dengan tuduhan Jihan.


"Aku tahu adab dan aku tahu cara menghargai perempuan, Jihan."


"Ya udah, sama! Aku juga masih bisa kok ngejaga harga diri aku."


"Aku bukan first kiss kamu kan?!"


Jihan paham dengan pertanyaan terakhir Pandu yang menggelitik ia rasa.


"Yaaa.... Enggak lah. David yang pertama."


BRAKKK!


Dorongan kuat Pandu langsung menindih tubuh Jihan. Jantung Jihan berpacu tak menyangka dengan reaksi Pandu yang tiba-tiba menindihnya. Terlihat jelas tatapan mata Pandu menusuk tajam ke pupil Jihan. Jihan terdiam karena ia juga masih berperang dengan kencangnya degupan jantungnya.


CUP!


"Apa ini udah bisa ngehapus bekas bibir sialannya?!"


CUP!


"Apa ini udah bisa hilangin ingatan kamu ke dia?!"


CUP!


"Apa ini udah bisa menjadi milikku selamanya?!"


Tangan Jihan mencoba mendorong tubuh Pandu karena tidak ramah untuk jantungnya.


"Kamu cemburuan banget sih. Aku udah nikah sama kamu, mana mungkin aku berpaling ke yang lain. Aku juga nyesel kasih first kiss aku ke dia."


Mata mereka saling mengunci.


"Seharusnya, dari dulu aja aku dipertemukan sama kamu. Jadi, aku gak ngabisin waktu berhargaku sama orang yang gak berguna dan brengsek kayak dia."


Kecupan lembut Jihan ia berikan sebagai ungkapan hatinya selama ini. Pandu menarik sudut bibirnya semanis mungkin. Selang berikutnya, tertawaan renyah merutuki kelakuan masing-masing.


...🍁~🍁...


...Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2