Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Like an Angel


__ADS_3

Hari ini, hari terbahagia untuk Jihan. Pandu sangat memanjakannya. Semua apa yang diinginkan Jihan, Pandu menyanggupi. Asal senyum merekah terukir di wajah cantik Jihan.


Berlari dan menunjuk seperti anak kecil. Semua wahana permainan sudah mereka coba. Pandu tak bisa menolak.


"Eeeemkhhh.... enak banget. Terimakasih ya Mas." Melahap habis Es Krim di genggamannya.


"Udah puas?"


"Eh, belum. Masih mau keliling Jakarta sampai bosan. Hihihi...."


Pandu terus saja tersenyum. Mengelus rambut ikal panjang milik Jihan. Ia berjanji, akan selalu membahagiakan Jihan. Hal kecil sekalipun.


"Bapak.... aku mau makan Es Klim. Mau Es Klim Pak...."


"Jangan Bayu! Bapak gak punya uang. Es Krim itu mahal harganya. Dan belum tentu enak juga."


"Tapi Bayu mau makan Es Klim.... Hiks.... hiks...."


"Jangan nangis Bayu!! Malu dilihatin orang-orang." Bentakan seorang Bapak itu terhadap anaknya.


Walaupun dari jarak jauh, samar-samar Pandu mendengar obrolan anak dan Bapak itu. Pandu membaca pergerakan anak kecil itu yang menangis dan menunjuk-nunjuk dagangan Es Krim yang ia mau.


Pandu tak tega. Ia berdiri dan berjalan cepat ke arah si Bapak dan anak yang menangis tersebut.


Langkah Pandu yang meninggalkan Jihan tanpa pamit pun mengundang tatapan heran Jihan. Yang dipanggil pun tak mendengar.


"Ayo pulang!!!"


"Gak mau. Aku mau Es Klim. Mau Es Klim.... Hiks.... hiks...."


Geram dengan tingkah laku sang anak, Bapak itu menarik paksa bocah kecil yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Tolong jangan terlalu kasar dengan anak, Pak!" Pandu menahan tangan sang bapak.


Cegatan Pandu malah berhasil menambah emosi sang Bapak.


"Kamu tahu apa?! Anak badung ini keras kepala. Saya tidak punya uang untuk menuruti semua keinginannya."


"Dia memang masih kecil Pak. Belum mengerti apa yang orang dewasa rasakan. Kita harus memaklumi. Tolong jangan dengan cara kasar seperti ini."


Bapak itu membuang muka tak suka dengan nasehat Pandu. Pandu berjongkok dan mencoba menarik perhatian anak kecil tersebut.


"Hai.... adik kecil. Jangan nangis lagi ya! Kamu mau Es Krim?"


Anak kecil itu mengangguk ragu. Tatapannya mengarah ke pedagang Es Krim. Memunculkan senyuman manis Pandu.


"Saya pinjam anak Bapak sebentar."


Bapak sang anak hanya terdiam nanar melihat Pandu membawa anaknya.


"Mas, Es Krimnya saya pesan 2 ya!"


"Baik Mas."


Dari jauh, Jihan terpaku memperhatikan sikap Pandu yang sangat baik dan ramah terhadap anak itu. Ia tak menyangka Pandu sangat mempunyai sikap sosial yang tinggi, Perduli sesama.


'Ya Allah.... Aku gak menyangka akan terpukau dengan tindakan baik suamiku. Mungkin, itu gambaran nanti saat Pandu memperlakukan anak-anaknya.'


Senyum itu memudar.


"Eh, anak Pandu berarti anak gue juga dong. Iihhh.... kajauhan banget sih pikiran gue." Pipi pun merona merah.

__ADS_1


"Yeyyy.... Es Klim.... Telimakasih ya Om." Teriakan kegirangan anak itu dalam gendongan Pandu.


Pandu kembali menghampiri Bapak itu lagi. Ia memberikan Es Krim satunya lagi untuk si Bapak. Dengan gerakan cepat Bapak itu menunduk sembari memohon maaf dan berterimakasih.


"Saya minta maaf Nak. Saya minta maaf. Saya kalut dengan kehidupan saya. Istri saya meninggalkan kami berdua. Saya yang hanya kuli bangunan tidak sanggup membiayai hidup anak saya. Mengumpulkan uang untuk bisa mengajak anak saya ke sini saja sudah sangat bersyukur. Terimakasih sekali lagi Nak."


Pundak sang Bapak ia tahan. Ia tidak butuh tindakan si Bapak yang terlalu memujanya.


"Iya Pak. Terimakasih kembali sudah mampu bertahan untuk anak Bapak."


Setelahnya, Pandu merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan rupiah dan ia berikan kepada si Bapak. Justru, hal itu membuat si Bapak memeluk Pandu.


"Ya Allah.... kebaikan apa yang telah saya perbuat sampai saya dipertemukan dengan kamu Nak. Terimakasih. Terimakasih banyak Nak."


"Iya Pak, sama-sama. Saya hanya perantara."


Pelukan itu terlerai.


"Hei, Good Boy."


Sebuah topi tersampir di kepala sang anak. Dan beberapa mainan ia berikan di genggaman anak kecil itu.


"Wahhh.... mainan!! Pak, aku dapat mainan. Telimakasih ya Tante tantik."


"Hihihi.... iya, Sayang." Pipi gembul itu Jihan cubit gemas.


Kehadiran Jihan secara tiba-tiba membingungkan Bapak sang anak. Pandu mengerti pun segera memperkenalkan.


"Ini istri saya Pak."


"Oh, sudah menikah? Bapak kira kamu masih lajang. Maaf ya Nak."


"Hihihi.... gak apa-apa Pak." Jihan menimpali.


Anggukan keduanya mengiyakan.


"Masyaallah.... Ganteng dan cantik. Pertahankan pernikahan kalian ya Nak. Sekecil apa pun masalah dalam rumah tangga harus diselesaikan dengan kepala dingin. Saling menguatkan. Jadikan dia pasangan surgamu." Petuah bermakna dari si Bapak.


"Amin...."


"Dan semoga segera dikaruniai anak-anak yang lucu, sholeh sholehah."


"Amin.... Mohon doanya ya Pak!"


"Pasti itu Nak. Doa yang baik pasti diijabah. Insyaallah."


Jihan menunduk malu menatap perut ratanya. Sampai sekarang, belum juga hal itu berani untuk ia bahas bersama Pandu.


"Ya sudah, saya dan anak saya mau pamit pulang. Semoga, di lain waktu kita bisa berjumpa lagi. Kalian anak-anak yang baik. Pasti selalu dalam lindungan Allah. Terimakasih sekali lagi ya Nak. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam...."


"Telimakasih Om anteng, Tante tantik." Suara cadel anak itu mengundang tawa mereka.


Pandu terus melambaikan tangannya sembari tersenyum. Hal itu tak lepas dari perhatian Jihan.


"Mas memang sebaik ini ya? Aku bisa melihat sisi Malaikat di diri Mas."


"Hahaha.... Mas hanya manusia biasa. Melihat Bapak itu mengingatkan mas dengan Abah. Dulu, mas juga merasakan apa yang anak kecil itu rasakan. Abah sosok pejuang untuk mas dan Ranti. Seberapa pun uang yang Abah punya, tetap selalu bisa mencukupi mas dan Ranti. Hinaan dan cacian yang Abah terima tidak pernah memutuskan semangat Abah untuk membahagiakan kedua anaknya dan juga Ibuk."


"Sekarang Jihan tahu, Mas berhasil atas dasar didikan berharga dari kedua orang tua Mas. Dan semua masa-masa kesulitan itu selalu bisa mengingatkan siapa Mas dulu. Gak heran, Mas selalu bisa memperlakukan siapa pun itu dengan tulus."

__ADS_1


Pandu berdiri menghadap Jihan dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Begitu juga dengan cinta mas ke kamu. Tulus. I Love You, Sayang." Mengusap gemas pucuk kepala Jihan menyebabkan rambut Jihan sedikit berantakan.


"Mas....!! Rambutku acak-acakan...." Memukul tangan jahil Pandu.


Pandu tertawa puas dengan amukan Jihan.


...🍁~🍁...


Bolak balik satu ruangan. Itu yang dilakukan Mama sejak tadi. Mama gusar dengan putri dan menantunya. Sudah jam sepuluh lewat dua puluh menit, Jihan dan Pandu belum juga pulang. Papa hanya bisa menatap heran istrinya yang tak juga berhenti mencemaskan kedua anak itu.


"Udahlah Ma! Mereka sudah besar. Biarkan mereka happy berdua dulu."


"Telepon mama gak diangkat Pa. Gimana mama gak cemas. Setidaknya mereka infoin ke kita mereka itu di mana. Kalau ada apa-apa di luaran sana bagaimana?"


"Ya Allah.... Terserah Mama deh. Papa udah ngantuk. Mau tidur."


"Assalamualaikum...."


"Assalamualaikum Ma, Pa...."


"Waalaikumsalam. Jihan.... Pandu.... kalian dari mana aja? Berulang kali mama telepon, sama sekali gak diangkat."


"Maaf Ma. Mungkin, saat handphone Pandu ketinggalan di mobil. Kita juga lupa ngabarin Mama sama Papa."


"Dari tadi Mama cemaskan kalian berdua." Papa kembali nimbrung.


Pandu meletakkan semua barang belanjaan Jihan dengan kesusahan. Tentu saja hal itu mengundang perhatian Papa dan Mama.


"Ini pasti ulah kamu, Jihan. Pandu! Jangan turuti semua keinginan Jihan. Dia itu hantunya shopping." Cela Papa.


Pandangan Jihan kembali tajam menatap tak suka terhadap Papanya.


"Gak masalah Pa. Sesekali menyenangkan istri."


"Tuh, mas Pandu aja gak keberatan. Wlekkk.... Papa sirik!!"


"Sayang.... gak boleh bicara seperti itu ke orang tua."


"Iya Mas, maaf."


Beberapa paper bag Jihan berikan ke Mama.


"Ini Ma. Dari menantu kesayangan Mama."


"Wahhh.... Alhamdulillah. Apa ini Pandu?"


"Tidak ada yang istimewa Ma. Hanya beberapa barang saja yang bisa Mama pakai."


"Wahhh.... barang bermerk seperti ini tidak mungkin tidak istimewa. Untuk papa mana?"


Papa ikut bergabung dalam obrolan Mama, Jihan dan Pandu. Jihan pun menatap mengolok kepada sang Papa yang baru saja menjelek-jelekkan Jihan di hadapan Pandu.


"Gak mau kalah banget. Untuk Papa beli sendiri!!"


"Kenapa kamu? Sirik aja. Ini kan Pandu yang belikan. Bukan kamu. Kamu mana pernah mau memberikan Papa sesuatu." Sindir sang Papa.


"Uang mas Pandu, uang Jihan juga. Lagian, itu Jihan yang pilihkan. Bagus kan? Beruntungnya Papa punya anak perhatian seperti Jihan."


Jihan berjalan pongah melewati Papa yang masih menatap heran kelakuan sang anak. Sampai kapan pun, tak ada jalan tengah yang mempertemukan mereka berdua. Selalu bertukar argument, selalu saling menjatuhkan dan selalu mempertahankan ego masing-masing. Tiada ada kata maaf.

__ADS_1


...🍁~🍁...


Bersambung...............


__ADS_2