
Tombol bell jam istirahat ditekan Miss Fath, Suaranya sangat dinantikan anak-anak dan segera berlarian keluar kelas memburu area taman bermain, mereka tidak diperkenankan bermain lebih dulu sebelum menghabiskan bekal mereka dan mereka paham aturan itu.
Mereka antri depan kocoran kran untuk mencuci tangan.
Alma anak bertubuh mungil diantara teman-teman sekelasnya seringkali menjadi bulan-bulanan Shaira, kali ini Shaira terlihat cuek makanya Alma tidak meminta didampingi ibunya, meski tatapan ibunya tak lepas dari Alma begitu dia keluar dari kelas.
Kali itu Alma merasa dia baik-baik saja tidak digangggu Shaira seperti biasa, maka dia tidak rewel minta ditemani.
Saat antrian depan kran itupun Shaira telat hingga ia mengambil di posisi belakang sedangkan Alma antrian anak ke 4, setelah Miss Fath bernyanyi dan menuntun membaca doa masuk kamar mandi, satu persatu anak mulai mencuci tangan dan berlari kembali ke kelas.
Giliran Alma membungkukkan tubuhnya dan menyodorkan tangannya ke depan kran, tiba-tiba Shaira mendorong Alma hingga Wajah Alma terjerembab mengenai Kran air, Sontak hidung dan mulutnya sobek berdarah-darah.
Miss Fath kaget dan menarik baju Shaira sampai terpelanting jauh ke belakang hingga lengannya mengenai tiang ayunan, Shaira mengaduh.
Anak-anak kembali ambyar berlarian menemui orangtuanya di kantin.
Asisten miss Fath memburu Shaira, dan langsung membantunya bangun. Sementara Miss Fath membawa Alma ke kelas, namun segera di hadang Orangtua yang berlarian memburu mereka.
...
"Wah, sobek ini mah miss!" Ujar salah satu orangtua.
"Bawa ke klinik langsung ga bisa di obatin pake bet*dine"
Mama Alma terlihat sangat kesal sekaligus menyesal, ketika berpapasan dengan tante Yaya yang baru datang mengantarkan makanan untuk Shaira, ia terlihat bingung melihat ribut-ribut.
Perasaannya gak enak.
"Pasti Shaira berulah lagi", gumamnya.
Tante Yaya berlari ke arah taman bermain, terlihat disana masih ada Shaira dan asisten miss Fath.
__ADS_1
"Kenapa miss?"
"Shaira mendorong Alma sampai berdarah Tante"
"Ya Ampun! kamu! sampai kapan kamu bikin mami pusing karena kelakuan kamu?" gigi tante Yaya gemeretak gemas, hampir saja tangannya mendarat di pipi Shaira, kalau tidak di halangi Asistent miss Fath.
"Kemarin mami ngebanting aku sampai aku pusing, aku gak dibolehin nangis!"
"Masa Alma boleh nangis! Aku ngga!" Protes Shaira.
Tante Yaya balik badan meninggalkan mereka berdua menjauh untuk mengubungi Windu suaminya, meski ia tau tanggapan Windu akan dingin.
"Halo" Suara datar laki-laki di ujung telpon tante Yaya.
"Anakmu berulah lagi! dia jorokin temennya sampai berdarah-darah, Pap!"
"Kamu yang urus lah! aku ga ada waktu, bentar lagi juga mau pergi badminton."
Tante Yaya lanjut menghubungi Rani.
"Ran, kamu dimana?"
"Ran, Please lah angkat telponku"
Langkah kakinya sambil menuju klinik. Ia terus sibuk menghubungi Rani.
...
Sementara asistent miss Fath membawa Shaira kembali ke ruang kelas, tante Yaya menyusul ke klinik terdekat dari sekolah. Raut wajahnya nampak linglung tak bergairah.
Yang ada di pikirannya cuma Rani, Rani dan Rani.
__ADS_1
Sesampainya di klinik, terlihat beberapa orangtua dan miss Fath menunggu di ruang tunggu.
"Gimana keadaannya Miss?" tanya tante Yaya pada miss Fath.
"Sedang di jahit tant" jawab Miss Fath murung dan merasa bersalah.
"Biar aku yang cover semuanya", ujar tante Yaya.
"Gak usah! anakmu saja urus sana! sampai kapan jadi trouble maker, menghantui anak-anak lain dengan tingkahnya yang arogan, Jangan kira anak nakal itu gak ada hubungannya dengan orangtua, Paham kamu?" cerocos mamanya Alma, mencak-mencak tante Yaya.
"Kali ini gak akan aku biarkan, aku polisikan kamu!" Mamanya Alma geram.
Tante Yaya diam tak berkutik, dunia seolah-olah tak berpihak padanya.
...
"Maaf Ya, gak ke angkat. Ada apa?" Rani menelpon balik tante Yaya.
"Tau ngga anakku berulah lagi!, dia jorokin Alma di taman bermain sampai bibir dan hidungnya sobek".
"Ya Allah!, sudah telpon papanya Shaira?
"Udah, seperti biasa dia mah gak mau ribet ngurusin anaknya"
"Coba, nanti malam di obrolinnya kalau sudah nyantai di rumah, mungkin bisa jadi dia akan lebih care" Tambah Rani.
"Dia mah tiap malam pulang jam 3 subuh, pulang kerja gak pernah langsung pulang, Ran" keluh Tante Yaya.
"Subhanallah!" jawab Rani.
.....
__ADS_1
#tobecontinue #truestory