
Beberapa tahun sebelum tante Yaya sakit,
Pemilihan RW di lingkungan daerah tante Yaya selayaknya pilkada, banyak kontroversi dan membuat warga berkubu-kubu. Provokasi tante Yaya yang mobile kesana kemari, sangat senang mengadu domba. Ia senang mendengar warga yang berselisih paham beradu argumen mengenai pemilihan ketua RW baru. Ada yang mendukung ketua RW sebelumnya untuk melanjutkan periode baru, ada yang lebih setuju memilih RW baru karena ketua RW lama cenderung tegas dan protokoler sedangkan warga tak suka dengan aturan-aturan yang terlalu mengikat dan ketat.
Tante Yaya cenderung pro pada ketua RW sebelumnya di karenakan merasa ada kedekatan secara emosional dimana ketua RW tersebut masih berkerabat dengan Windu. Tante Yaya sangat fanatik pada ketua RW lama dan sangat anti ketua RW baru karena menurutnya bukan dari kalangan keluarga berada dan ia memengaruhi warga lainnya agar tidak memilih RW baru. Namun warga punya pilihan sendiri, meski mereka di intimidasi oleh tante Yaya.
Saatnya tiba pemilihan Ketua RW baru, ternyata dimenangkan oleh ketua RW baru. Dan serah terima jabatan berlangsung alot karena banyak yang masih mengikuti provokasi tante Yaya. Hingga rapat warga kembali berlangsung untuk mengambil voting. Dan pada Akhirnya demi menjaga warga tetap kondusif Ketua RW lama lebih memilih menyerahkan sesuai hasil pemilihan dan mundur.
Usaha tante Yaya untuk meruntuhkan nama ketua RW baru tak berhenti sampai disitu, ia terus memprovokasi warga agar tidak mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan ketua RW baru. Hingga satu hari ketua RW baru mengetahui sepak terjang tante Yaya kemudian memanggilnya ke kantor RW.
"Tant! baiknya lo ngga usah provokasi warga lagi, gua udah denger dengan sepak terjang lo."
"Sepak terjang apa?"
"Ya lo, ngajak-ngajak warga buat nentang gua dan suruh mereka nggak usah ngikuti program gua. Gua naik jadi RW tu bukan keinginan gua tapi warga yang suruh maju. Lo kalo inget tujuan buat orang banyak nggak akan bikin onar tant. Gua udah ngingetin Lo tapi kalo ada apa-apa jangan nyalahin gua." Ujar Pak Ketua RW.
Tante Yaya lebih memilih melengos dan nggak mendengarkan ketua RW.
"Perempuan kalo ngak punya akhlaq dan nggak punya iman akan begitu! dia nggak tahu siapa yang harus dihormati maunya asal ngerasa bener aja." tambah pak RW.
...
Mentari pagi hangat mulai menyapa jalanan yang mulai sibuk dengan wara wiri kendaraan bermotor. Satu kursi roda turut menghiasi diantara lalu lalang kendaraan-kendaraan itu. Beberapa orang perempuan paruh baya tetiba berhenti dan menyapa.
"Tante Yaya?" tanyanya heran. Ia melihat Shaira sedang menyuapi anak kecil bersama seseorang perempuan kurus dengan rambut penuh uban. Ia dan Shaira sengaja berjemur dan melepas penat dengan menghampiri dan melihat Pak RW yang sedang membersihkan pos persis seberang jalan rumah tante Yaya.
__ADS_1
"Iya ini mami." Ujar Shaira.
"Mama Astri, Mama Faqih .. " Mama Astri sambil menepuk dada dan menepuk bahu mama Faqih.
"Oiya tante." Ujar Shaira menyalami mereka.
"Ya Allah, Tante Yaya sakit apa?"
"Komplikasi tante, jantung, ginjal, darah tinggi dan stroke juga."
"Udah berapa lama?"
"Satu tahun ini tante." Jawab Shaira.
"Subhanallah, koq bisa ya kurusan begini nggak nyangka yang tadinya tinggi gede dan sekarang kurus begini." Ujar Mama Astri.
"Ah! mami kebiasaan!" Ujar Shaira cemberut.
Mama Astri dan Mama Faqih sontak menutup hidung. Pak RW buru-buru mendorong kursi roda tante Yaya membantu Shaira yang kerepotan dengan anaknya.
Tante Yaya diam, air matanya meleleh ada rasa penyesalan dalam hatinya ketika ia ingat dulu sangat berambisi menjatuhkan reputasi Ketua RW.
....
Gantungan hiasan merah dan hijau semarak di salah satu mall terbesar di Kota Jakarta, Rani, Akbar dan orang yang spesial dalam hidupnya mencari t'shirt yang mereka incar di pasar online. Saat memilih mengukurkan baju ke punggung para laki-laki kesayangan Rani, seorang perempuan paruh baya menghampiri Rani.
__ADS_1
"Bu Rani?"
Rani menengok ke arah datangnya suara.
"Ya?" seraya menatap mengamati wajah sang penyapa.
"Ini mama Astri!"
"Hey Ya maaam, apa kabar?" Rani dan mama Astri berangkulan.
"Baik, baik Bu Rani, eh udah dapet kabar belum kalo tante Yaya sakit?"
"eugh! aku nggak tau Mam"
"Kasian bu, dia juga di ceraikan suaminya, sekarang sedang sakit parah dan pakai kursi roda setahun terakhir, Shaira hamil duluan dan melahirkan tanpa suami. Kasian jadi gak lincah kayak dulu." cerocos Mama Astri memburu.
"Oyaa, mudah-mudahan cepet sembuh ya." Rani melirik ke arah Akbar yang mengamati, ia menggelengkan kepala memberikan kode untuk tidak melanjutkan pembicaraan tentang tante Yaya.
Mama Astri terlihat paham, Ia lalu pamit dan meninggalkan Rani.
"Yaudah bu Ran, sampai ketemu lagi kapan-kapan ya."
Jangan lagi mam, kita sudah nyaman tanpa dia. Biarkan dia dengan dirinya jangan coba menarik lagi energi buruknya. Nanti akan lebih fatal apalagi mama sekarang sudah sangat sehat, nyaman dan damai.
"Ya, jangan khawatir."Jawab Rani pendek mengajak Akbar kembali bersama Emre laki-laki bule yang menemani mereka belanja hari itu.
__ADS_1
...