
Dani adalah sepupu Firman, anak dari adik ibu mertua Rani. Kehidupan anak-anak adik ibu mertua Rani bisa dikategorikan sukses dan mandiri, dari ke 7 anaknya mereka semua mengisi posisi-posisi terbaik di berbagai perusahaan multinasional seperti bank Mand*ri, Bank Br* dan lain-lain.
Berbeda jauh dengan anak-anak mertua Rani, mereka sangat bergantung pada Firman termasuk kedua orangtuanya, dalam keluarga Firman, hanya Firmanlah yang punya posisi "terbaik" meski hanya seorang staf dan itu jadi andalan mereka.
...
"Mas Firman, Dani mau nikah bulan depan sama orang Depok." Ujar Yani adik perempuan pertama Firman saat Firman dan Rani mengunjungi rumah orangtuanya di hari minggu.
"Syukurlah, cepet juga jodohnya."
"Padahal dia usianya jauh di bawah Kak Yani kan?" ujar Rani menambahkan.
Yani terdiam.
"Eh dia tu dapetin perempuan kaya lho, dia punya konveksi dan jualan bajunya itu gesit banget nggak kayak ... " Yani langsung melirik dengan ujung mata ke arah Rani.
Firman diam pura-pura tak mendengar, Rani menilik Firman dan seolah dia menyembunyikan rahasia besar yang tidak diketahui Rani. Rani kembali memerhatikan Yani,
"Maksudnya tak seperti aku, gitu?"
"Hmmm.. kalau anak-anak laki-laki di keluarga kita sih biasanya dapetin perempuan kaya, gesit dan mandiri minimal ngga nyusahin lakinyalah."
"Eugh! jaga tu omongan kak Yani, belum tentu kakak dapet yang lebih baik juga, siapa tau nanti malah dapet duda anak dua." Jawab Rani sinis.
"Eh maaf ya standar kita levelnya tinggi, minimal punya perusahaan lah bukan pekerja kantoran yang kere apalagi duda." Ujar Yani menyanggah.
Rani mengernyit, melirik pada Firman. Firman pura-pura tak melihat Rani.
"Mantan istri kak Nanang juga tu artis gambus, dia udah di panggil kemana-mana!."
Nanang kakak sulung Firman, ayahnya Sultan seorang duda yang di gugat cerai istrinya saat Sultan berumur 1,5 tahun karena Nanang enggan menafkahi istrinya dia hanya memilih menafkahi anaknya saja. Rani tahu hal itu langsung dari mantan istrinya saat memberikan baju lebaran untuk Sultan, dan kini mama Sultan sudah menikah lagi sedangkan Nanang masih tergila-gila padanya.
Lalu ibu menyarankan Nanang untuk mengambil jalan halus melalui klenik agar mantan istrinya kembali padanya.
...
Dari jauh terlihat sosok babah mendekat, melihat babah bapak mertua Rani memasuki teras rumah, Rani buru-buru diam.
"Nyari rice cooker yang murah udah keliling sana sini, pada ngga bisa di tawar. Semua harganya sama paling bisa di tawar turunnya cuma lima rebu perak, malah abis sama ongkos becak." Ujar babah sambil menjinjing rice cooker baru.
Yani buru-buru mengambil rice cooker yang di bawa babah,
"Kenapa ngga beli sama ibu aja bah, biasanya ibu-ibu pinter nawar?" Ujar Rani polos.
"Dari awal nikah ibu tuh nggak dibolehin belanja dan pegang uang, semuanya babah yang ngatur." Jawab ibu yang baru datang dari dapur menjawab pertanyaan Rani,
"Oh gitu ya bu." Rani langsung diam. Berbeda dengan keadaan di keluarganya, ibunya justru mendominasi soal urusan belanjaan dan bapak jadi follower ibu yang nganter-nganter.
__ADS_1
Ibu lanjut menyiapkan makanan di hamparan tikar. Rani sigap membawakan piring-piring dan membantu ibu.
...
Tetiba laki-laki kecil dengan celana jeans belel warna hitam dan kaos agak bladus unjuk salam dari pagar, seraya melepas topinya.
"Assalamualaikum, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam" Sultan keponakan Firman menghampiri dan membukakan pintu.
"Nggak usah di suruh masuk, suruh tunggu aja di luar." teriak Yanti dari kamar, dia sudah tahu orang yang datang tersebut.
"Siapa." Tanya babah.
"Toni."
"Siapa Toni tuh?" Tanya Rani pada Sultan.
"Itu pacarnya ateu Yanti, duda anak 2 ojek pangkalan."
Rani melongok, Toni sedang memasukkan motornya ke halaman rumah. Tetiba Rani teringat motor warna orange yang sama dengan yang sesekali di pake Firman ke rumah.
"Oh itu motornya Toni toh." Gumam Rani.
Firman memang terobsesi ganti-ganti motor, dan itu sudah puluhan kali minta ke Rani pengen beli motor baru namun Rani tak menggubris karena ia tak sanggup memenuhi permintaan Firman.
Awalnya gegara Firman sering melihat kakak laki-laki Rani sering gonta ganti motor. Padahal kakaknya Rani gonta ganti motor itu karena berkaitan dengan pekerjaannya, dia mekanik bengkel motor Yama**, ketika ada pelanggan yang service motornya dan selesai diperbaiki harus di test drive dulu sebelum di ambil pelanggan, ketika melihat itu tak hentinya Firman meminta pada Rani pengen beli motor baru.
Tak lama, masih hari itu juga Firman pulang malam berganti motor vari* warna putih milik ayahnya Sultan. Setau Rani ayahnya Sultan selalu keberatan kalau motornya di pinjam Firman karena setiap kali dikembalikan tak pernah mau mengisi kembali bensinnya. Tapi Firman selalu memaksa.
...
Selesai makan, Rani dan yang lainnya membereskan piring dan mengembalikan makanan sisa ke kulkas.
Rani teringat tamu yang sedari tadi nunggu di teras,
"Eh itu temennya ateu yang di luar lupa ngga di ajakin makan." Ujar Rani pada Sultan.
"Udah biarin, bukan level kita makan bareng dia." Tambah babah mendengar itu Rani melohok.
Sultan dan Rani pindah ke ruang tamu.
"Ateu Yanti mau nikah 1 bulan lagi sama om Toni." Ujar Sultan.
"Oh ya?" Rani terheran-heran koq bisa ya mereka memperlakukan calon menantunya begitu dengan membiarkan dia nunggu di luar hampir satu jam sedangkan calon istri dan calon mertuanya makan-makan dalam rumah.
Sultan seolah paham dengan apa yang di pikirkan Rani,
__ADS_1
"Udah biasa onti, bahkan pernah sama babah di diemin di teras dari sebelum hujan sampe turun hujan petir sampe baju dan celananya om Toni basah kuyup pas hujan reda dia baru pulang."
"Ya Allah, terus Sultan ngga suruh dia masuk?"
"Nggak! takut sama babah."
...
Sultan masuk kamar, babah menghampiri Rani.
"Ran, maaf babah suka nyuruh-nyuruh Firman kesana kemari."
"Iya bah, gak apa-apa" Ujar Rani.
"Rani usahain jangan terlalu menekan Firman untuk memenuhi segala keinginan Rani, kasian Firman merasa kesusahan." Tambah Babah.
Rani tercengang, ternyata omongan Firman gak bisa di pegang, mencla mencle, di depan Rani merengek minta ini itu tapi depan keluarganya seolah Rani yang banyak meminta macam-macam.
Rani tak terima, dalam benak Rani nanti kalau sudah di rumah Mas Firman mau di ajak ngomong soal ini. Rani pengen tau apa alasan suaminya bermuka dua.
....
Sementara di dapur,
"Bu aku tu sebenernya selalu ada rasa ketakutan kalau Rani ngomong sama keluarganya kalau aku ngga bisa nafkahi dia."
"Kamu coba minta tolong om Aceng, dia paling bisa naklukin orang biar dalam dirinya ngga ada keberanian menyanggah kamu, pokoknya minta biar Rani takluk aja."
"Jangan lupa bawa syaratnya dari sini pucuk bunga jambe karena biasanya kalo udah ke kampung, suka di suruh nyari barang itu."
...
Sesampainya di rumah,
"Mas aku pengen ngomong deh, kenapa mas bilang ke babah kalau aku banyak minta ini itu dan aku nyusahin mas?"
"Ah nggak aku ngga ngomong gitu!"
"Tadi babah ngobrol sam aku di ruang tamu"
"Tuh kan disini ngomong A, di rumah kamu ngomongnya beda!"
Firman segera pergi dari rumah, meninggalkan Rani berhari-hari.
Hari ke 4 Firman datang ke rumah, dan memeluk Rani dan melucuti pakaian Rani seolah tak terjadi apa-apa.
Rani merasa di pecundangi.
__ADS_1
...
#tobecontinue #truestory