
Firman baru menyadari dirinya akan kehilangan Rani,
Satu hari ayah Rani menjual sawah dan Rani kebagian sejumlah uang yang cukup untuk membeli 1 unit rumah di perumahan dengan type 36, untuk syarat administrasi pihak Notaris meminta Rani melengkapi dengan kartu keluarga, KTP suami istri, materai dan tanda tangan suami istri. Rani tak berpikir panjang. Ia mengajak Firman untuk serah terima unit. Rumah kedua buat Rani, meski tidak ia tempati cukup untuk investasi kelak untuk anak-anaknya.
Setelah proses ijab kabul di notaris, mereka pulang namun Firman memutuskan untuk pergi lagi. Rani tak keberatan,
Seminggu setelah serah terima, Ayah dan mama Rani mengunjungi rumah itu mereka makan-makan disana, Firman meminjam mobil untuk membawa 1 keluarga itu pada yayasan. Raut wajah Firman sangat sumringah.
...
Kunjungan rutin minggu ke rumah mertua,
"Duh enaknya ya jadi Putri Maharani, udah dibelikan rumah baru lagi oleh suami."ujar Yani adik iparnya.
"Jangan lupa syukuran rumahnya, dibelikan suami rumah kedua itu sebenarnya kasian sama Firman selama ini ngirit-ngirit jatah adik-adiknya, Katanya Firman biar bisa nabung demi memenuhi tuntutan istrinya minta di belikan rumah baru."
"Jangan terlalu banyak menuntut lah Ran, ibu gak suka. Untuk membiayai penampilanmu saja, Firman harus berkorban pake baju-baju lama yang sudah lusuh, masa istrinya tega!" Tambah ibu mertua dengan nada suara sinis keberatan.
Mendengar celotehan ibu mertua dan adik iparnya yang pedas, Rani naik pitam, namun Rani coba menahan.
"Jadi selama ini dia koar-koar kesana kemari bilang dia beliin rumah untukku!" monolog Rani geram.
Lama menunggu Firman yang tak kembali dari bertetangga, saat dia nongol Rani segera mengajak Firman pulang.
...
Setibanya di rumah, Rani sudah tak bisa menahan amarahnya. Kelakuan Firman yang bermuka dua sudah tak bisa Rani tolerir lagi.
"Maksud kamu apa bilang ke ibu kalau aku nuntut ke kamu belikan rumah baru hah?"
"Ah ibu salah paham, mungkin!" ujar Firman santai.
__ADS_1
"Trus darimana ibu dan adikmu bisa tau kalo aku beli rumah baru kalau bukan kamu yang ngomong!"
"Tadi waktu di rumah ibumu, adikmu dan ibumu kurang suka aku beli rumah baru katanya kamu harus berkorban demi aku yang banyak menuntut untuk kamu!"
"Aku nuntut apa selama ini sama kamu?"
"Kamu tau itu uang dapat darimana?" Tanya Rani
"Tapi bukan gitu konsepnya, segala pendapatan istri dalam rumah tangga itu menjadi hak milik bersama", teriak Firman bela diri.
"Iya tapi kenapa aku tak berhak atas apapun yang jadi milik kamu, bahkan hanya sekedar di nafkahi!"
"Kata siapa aku tak menafkahi? jangan ngarang kamu?" Sanggah Firman
"Aku selalu ada buat kamu tiap malam, itu sama dengan menafkahi juga kan! Dasar brengsek! nggak tau diri kamu! dasar lont*"
Rani melempar setengah gelas air cup yang ia pegang yang sedang ia minum ke tembok mendengar kata-kata lont* dari Firman.
"Kamu tau, kamu mau menikah denganku yang tak berpenampilan baik begini saja apa orang gak punya prasangka macam-macam? Apalagi kalau bukan bekas lont* insyaf nyari laki-laki culun yang mau menikahi bekas laki-laki lain yang sudah di pakai rame-rame!"
Saat itu Rani terdiam, terhenyak kaget.
Baru menyadari apa yang dia lakukan salah.
Menikah dengan Firman yang menganggap dirinya pelacur dan bekas laki-laki lain.
Ada rasa penyesalan dalam dada Rani, kenapa ia begitu polos sedang laki-laki itu pikirannya travel kemana-mana menyangka Rani yang tidak-tidak.
Rani tak habis pikir darimana pikiran Firman itu berasal. Mungkin dari penampilan Rani seperti pegawai bank, layak jadi pramugari bersuamikan laki-laki buntet, monyong dan nggak good looking macam dia padahal tujuan awal Rani menikah bukan itu dan tak berpikiran sampai kesitu.
Firman tak bisa membedakan menikah dengan gadis atau janda sekalipun dalam benaknya pasti banyak spekulasi.
__ADS_1
Keributan itu di dengar mama Rani, yang segera menghampiri dan melerai.
...
Malam harinya setelah semuanya tenang,
Tante Yaya terus menerus menelpon Rani.
[19.31] Misscalled
[19.35] Misscalled
[19.37] Misscalled
[19.38] Misscalled
[19.39] Misscalled
[19.40] Ran angkat!
Rani tak menggubris.
20 menit kemudian Tante Yaya sudah ada di rumah Mama, membawa sekeranjang makanan dan coba menelisik kegiatan Rani.
...
Rani mencari 2 buku nikah di map arsip. Hatinya setengah hati untuk menggugat cerai Firman, karena phobia dengan status janda yang akan di sandangnya setelah perceraian.
....
#tobecontinue #truestory #tanteyaya #Cerbung
__ADS_1