TANTE YAYA

TANTE YAYA
Rahasia yang Terbongkar


__ADS_3

Tiga bulan pertama nampak kerumunan ibu-ibu masih semangat menunggui anak-anak mereka sekolah dengan berkumpul di kantin.


Berbagai aktifitas dari mulai arisan, makan bareng, nengok sana nengok sini masih terlihat kompak hingga sekedar senda gurau dan canda tawa mereka lakukan, sampai satu waktu canda dan senda gurau mereka terdengar sampai ke kantor yayasan, terutama tawa tante Yaya yang paling keras di antara mama muda karena ingin menjadi pusat perhatian.


Pak Rasmin ketua yayasan yang sudah sedari pagi berada di kantor mendengar kegaduhan tersebut, membuatnya penasaran dan tergoda untuk melongok keluar kantor dan berniat menyapa mereka.


Nampak tante Yaya dengan punggung bongkok, tengkunya yang tebal terlihat mendominasi tubuhnya yang tambun dan kekar duduk di bangku panjang membelakangi kelas, dengan jaket korduroi krem dihiasi bulu-bulu di bagian leher terlihat paling gagah di antara para mama muda itu.


Tante Yaya nampak sangat maskulin dengan sepatu mocasin berwarna putih.


Tante Yaya melihat kedatangan Pak Rasmin yang menghampiri mereka, dan segera memberi kode pada teman-temannya.


"Ssstt .. Ssst, ada yang datang!" ujar tante Yaya sambil berpura-pura menunduk memperhatikan dan mempermainkan handphonenya.


"Eh bapak .. sehat pak?" sapa mama Astri pada Pak Rasmin.


"Sehat, sehatt .. ngobrolin apa ini seru amat kayaknya, tawanya sampai terdengar kantor." Canda Pak Rasmin.


Tante Yaya melongo sejenak, melihat Pak Rasmin dan Mama Astri terlihat akrab. Kembali menunduk dan mencuri pandang dengan ujung mata karena ia tak pernah melihat sosok ini sebelumnya.


"Ah biasa pak, ibu-ibu cerita sisa semalam."


"Hadeeuh jangan-jangan masih pada pingin ya?" Jawab Pak Rasmin kembali melempar candaan.


"Ah bapak, udah siang mah nggak nafsu!", Seru Mama Naila menyela sambil tertawa mengikik.


"Ya sudah monggo dilanjut, tapi ketawanya jangan kenceng-kenceng entar anak-anak pada kepo, bahaya nanti mamanya yang mesti tanggungjawab jelasin heheh." Imbuh Pak Rasmin sambil mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.


"Nah Lho!" Ujar tante Yaya kembali bersuara setelah melihat Pak Rasmin menjauh dari mereka.


Mama Astri tertawa kecil sambil mulutnya di tutup tangan.


"Eh tumben Tant nongkrong disini, bukannya nongkrong di kantor Rani sampe bertelor." Canda Mama Astri.


"Orangnya belum datang!"Jawab tante Yaya datar.


Tak lama kemudian sebuah motor vario berwarna pink masuk pelataran parkir dan berhenti tepat depan kelas, Anak kecil berseragam turun, mengambil tangan ibunya untuk diciumi lalu berlari masuk kelas dan disambut Miss Fath.


"Maaf kesiangan Miss, Adis bangunnya telat."


"Iya gak apa-apa Bu Rani.'


"Nitip Adis ya Miss." Tambah Rani.


"Monggo bu." Miss Fath kembali masuk ke kelas mengikuti Adisti dari belakang.


...


Setelah memarkirkan motornya Rani memasuki kantor yayasan melewati kerumunan ibu-ibu di kantin. Mata tante Yaya terbelalak melihat sosok incarannya memasuki ruangan yayasan.


Tak lama kemudian Rani kembali keluar menuju kantornya, di susul Firman beberapa saat kemudian.


Mama Astri berceloteh, "Tau nggak itu siapa?" sambil mukanya sedikit mendangak menunjuk ke arah Firman.


Semua mata ibu-ibu melirik ke arah Firman yang langkahnya pendek-pendek.


"Si beauty and the beast! hahahah." Ujar Mama Kiran terbahak.


"Hush! jangan kenceng-kenceng nanti kedengeran." timpal Mama Astri.


Tante Yaya melirik pria yang memakai celana dengan ban pinggang dan sabuk kolot hampir menyentuh dada seperti ogut.


Langkahnya pendek-pendek dengan dada membusung cepat, mengikuti Rani yang berjalan dengan langkah panjang-panjang dengan kakinya yang jenjang dan suara high heels coklat kopinya terdengar memecah keheningan pelataran parkir diantara tatapan beberapa pasang mata memandang ke arah mereka.


"Maksudnya siapa?" tanya tante Yaya penasaran.


"Masa kamu ngga tau tant udah jalan bareng Rani dari lama juga?." Ujar Mama Astri.


"Itu Pak Firman, suaminya Rani!" tambahnya

__ADS_1


"Hah Anj**! Yang bener Astri! gua pikir dia nyebut-nyebut nama Firman tu bukan laki tua dan buntet gitu orangnya! yang kebayang gua suaminya tinggi, putih ganteng mirip suami gua!." Ujar tante Yaya kaget sekaligus girang dapet mangsa baru untuk bahan ghibah.


...


Firman keluar dari kantor Rani, lalu merasa di amati ia putuskan untuk menyapa ibu-ibu yang ada di kantin tersebut.


"Sehat pak Firman?" tanya Mama Astri basa basi busuk.


"Alhamdulillah sehat, kebetulan lagi puasa bareng ni sama istri, tapi tadi dia SMS katanya ga bisa puasa karena dapet!" Ujar Firman sambil memperlihatkan SMS dari Rani pada kumpulan ibu-ibu itu.


Sontak ibu-ibu itu pada melongok mendekat ke arah Firman ingin melihat SMS Rani.


"Aiih bapak mesra banget baru aja ketemuan koq SMS an segala!"


"Nggak sih! SMS nya daritadi sebelum ketemu, cuma baru kebuka, yaudah saya balik kantor lagi ya." Ujar Firman tersenyum genit.


...


Tante yaya melongo melihat kelakuan Firman yang memperlihatkan SMS dari istrinya.


"Ih norak banget, gak ada otak ngeliatin SMS istrinya sama orang-orang!" Ujar tante Yaya mengomentari.


...


"Ran, pulangnya jangan buru-buru, aku ada perlu dulu nganter ibu kontrol ke rumah sakit, kalo udah beres darisana aku tengkep pulangnya ya. Pokoknya usahain jangan langsung pulang, ngerjain apa aja dulu." bunyi SMS tante Yaya.


Dada Rani terasa berat.


Dia mau pulang saja mulai diatur-atur tante Yaya.


...


Hari itu kantor Rani bebas dari kehadiran tante Yaya, Nissa berseloroh.


"Udah tengah hari ini bu, alhamdulillah pandangan mata dan telinga bersih."


"Alhamdulillah." Ujar Rani paham maksud arah pembicaraan Nissa. Tetiba pintu di ketuk.


"Wa'alaikumsalam, ya ada apa mam?" Jawab Rani seraya menghampiri.


"Ini ada titipan dari tante Yaya." Ujar mam Astri melangkah masuk ke dalam kantor dan menyerahkan paper bag motif batik.


"Katanya pesananmu, Ran."


"Waduh, aku gak pesan apa-apa tuh kayaknya salah deh."


"Gak apa-apa, diterima aja dulu, saya cuma ketitipan, tante yayanya lagi di rumah sakit... Pamit ya Ran, Assalamualaikum!" Ujar Mama Astri seraya meninggalkan Rani tanpa menunggu jawaban darinya.


...


Rani melongok ke dalam paper bag batik tersebut, nampak kotak sepatu polos tanpa merk, tak Rani keluarkan karena mata Nissa terus mengamati. Tak lama kemudian, SMS masuk,


"Ran aku pesen sepatu dari Mama Astri, aku pesenin buat kamu, pasti kamu pantes pake sepatu itu, Aku juga pake tapi warna putih bahannya kulit asli kamu warna orange."


Rani penasaran, ia buka nampak sepatu kulit warna oranye dengan sol pantofel dengan model mirip moncong buaya. Rani mengernyit tak suka,


"Tapi aku gak pesen Ya, lagian kurang suka modelnya."


"Udah pake aja gak usah mikirin pesen apa nggak nya, pantes koq kamu pake model itu." SMS lanjutan tante Yaya.


Dihadang dengan handphone Rani yang berbunyi, Rani abaikan.


Telpon berdering berkali-kali, tetap Rani abaikan karena ia fokus pada event planner yang Nissa sodorkan.


"Angkat dulu telponku! kalo nggak aku marah ni!"


telpon berdering kembali, Rani angkat.


"Ya ada apa?"

__ADS_1


"Kamu tuh ya, di pantes-pantesin cara pakaian kamu biar lebih menarik tapi kamunya gitu."


"Aku punya style sendiri Ya, ini sepatu model cowok dan aku ngga suka, aku sukanya heels model kantoran layaknya perempuan!."Ujar Rani setengah berteriak kesal.


"Oh Yaudah entar kita beli bareng aja ke toko, biar kamu yang pilih."


"Nggak perlu, aku masih banyak sepatu."


"Nggak! pokoknya kamu nurut apa kataku." Ujar tante Yaya memaksa.


Rani menutup telponnya. Disusul SMS dari tante Yaya.


"Nggak Marah gitu dong sayang, nanti kita beli sepatu baru ya."


"Anj***!"Ucap Rani kesal seraya melempar handphonenya ke atas meja.


...


Pukul 4 sore Rani bersiap pulang, Telpon berdering puluhan kali.


"Ran, aku otw pulang dari rumah sakit, ibu aku tinggalin dulu bentar, aku tengkep kamu pulang! pokoknya jangan dulu pulang!"


"Tunggu aku nyamperin kamu, kalo nggak aku marah!"


...


Rani terpaksa mengulur waktu pulang, pukul 5 sore Rani meninggalkan kantor, dengan kesal.


Tante Yaya sudah siap menengkep yang menunggu di ujung perempatan jalan kantor Rani.


Motor keluar, telpon berbunyi berkali-kali.


"Ya ada apa?" Ujar Rani,


"Aku punya anak yang harus di urus, kamupun kayaknya sama punya anak punya suami yang harus di urus udahlah jangan terlalu ngurusin aku!." Cerocos Rani kesal.


"Nggak marah gitu dong sayang, udah udah sabar." Tante Yaya merajuk.


Rani tak menggubris,


...


"Eh Ran liat sepatuku bagus ga?" Nampak sepatu mocassin kulit putih, model sepatu yang sering di pakai Om Dudeng gigolo berkedok manager sebuah Radio yang Rani kenal.


"Heuh! Sepatu gigolo!"


"Maksudnya?"


"Iya tu model sepatu cowok yang sering di pake klienku yang Gigolo."


Raut wajah tante Yaya seketika merengut.


...


"Eh tau ngga Ran, aku baru tau lho suamimu tadi pagi."


"Maksudnya?"


"Iya aku baru tau kalo Firman, Firman yang kamu sebut orangnya itu. Kamu nggak salah Ran milih suami?"


"Mana tadi pagi ngeliatin SMS kamu ke ibu-ibu yang nunggu anak-anak pula!"


"Hah!" Rani terkejut.


"Iya, kamu rencana puasa bareng kan sama suami kamu, terus kamu dapet kan? jadi batal kan puasanya?" tambah tante Yaya dengan nada provokatif.


Seketika dada Rani terasa sesak membayangkan Firman suaminya yang ia anggap tak tau privasi.


....

__ADS_1


#tobecontinued #truestory


__ADS_2