
"Sesungguhnya anakmu, adalah fotocopymu, jangan pernah menyalahkan mereka. Tapi berkaca dan berbenahlah." [Anonymus]
.
.
Saat jam istirahat tiba, Faqih teman sekelas Shaira membuka bekalnya yang berisi mie goreng buatan Mmanya Kiki, sedangkan Shaira berbekal agar-agar jelly satu lunch box penuh.
Faqih makan dengan lahap karena hari itu jatah makan mie nya yang hanya boleh 1 minggu sekali, maka ia sangat menikmatinya. Posisi duduk Faqih persis di samping Shaira, melihat lahapnya Faqih, Shairapun tergoda dan merebut mie Faqih tanpa basa basi. Faqih terdiam melongo melihat Shaira,
"Kamu boleh makan jellyku juga" ujar Shaira sadar diri di lihat Faqih.
"Tapi aku lagi makan mieku, aku gak mau jelly" teriak Faqih berusaha merebut kembali mie nya. Mereka saling berebut dan tumpahlah mie goreng Faqih berhamburan.
Melihat itu miss Fath dan asistennya segera melerai tapi diluar dugaan Shaira mengambil penggaris besi yang terletak di atas meja miss Fath dan menghantamkannya ke kepala Faqih bertubi-tubi membabi buta hingga teriakan Faqih tak terdengar lagi dengan ambruknya Faqih di atas lantai.
Melihat ceceran darah anak-anak menjerit dan berebut keluar kelas. Miss Fath dan asistennya panik, mereka segera membopong Faqih, dan Shaira berdiri terdiam melihat kepanikan, wajahnya polos tanpa rasa bersalah, tangannya masih menggenggam penggaris berlumuran darah.
Tante Yaya dan orangtua yang sedang berkumpul di area kantin segera memburu anak-anak yang berteriak panik keluar dari kelas.
"Shaira ngebunuh Faqih, Shaira ngebunuh Faqih!" teriak satu anak yang menghampiri ibunya dengan panik.
Mendengar nama Shaira disebut raut wajah tante Yaya pucat, langkahnya langsung memburu miss Fath dan Asistennya yang membopong Faqih yang teriak minta tolong.
"Masukin ke mobilku, masukin ke mobilku miss" teriak tante Yaya panik.
Sementara Kiki menangis sejadi-jadinya melihat Faqih tak sadarkan diri.
Rani turut keluar dari kantor dan segera mencari Adis, masuk ke kelas namun tak menemukan Adis hanya menemukan Shaira berdiri dekat meja dengan tangan berlumuran darah.
Rani berteriak memanggil Nissa,
"Nissa .. Nissa!"
Nissa bergegas menghampiri Rani, dan mendapati Rani panik.
"Ya Allah, Ayo cuci tangannya ke air" Ajak Nissa pada Shaira.
"Aku cari baju ganti buat Shaira" Ujar Rani bergegas.
"Tante tante, dibawa kemana Faqihnya?" tanya Shaira pelan.
"Faqihnya dibawa ke Rumah Sakit!" Jawab Nissa sambil terburu-buru membersihkan tangan Shaira.
__ADS_1
"Tapi kalo aku abis di pukul Mami sampai mulutku berdarah mami gak pernah dibawa ke rumah sakit" ujar Shaira polos.
Nissa melongo,
"Oh jadi Shaira suka dipukulin?"
"Iya, mami sering pukul dan gigit aku, ini tanganku bekas di gigit mami"
Shaira nunjukin lengan atasnya yang lebam bekas gigitan tante Yaya.
Nissa terperanjat kaget.
Tanpa di sadari Nissa, puluhan mata orangtua mendengar dan melihat mereka dengan sorot mata penuh tanya.
Sampai Rani datang membawa baju Adisti untuk mengganti seragam Shaira yang berlumuran darah.
....
Ibu Eyang, Windu, Mba Tita dan Mba Karmin [kedua Kakak perempuan tante Yaya] dan Mas Bagus berkumpul di ruang tengah,
"Anaknya ga sadarkan diri di Rumah Sakit, gara-gara Shaira hajar pake penggaris besi" Ujar tante Yaya.
"Tadi aku udah ngeluarin duit buat mengcover jahitan dan obat 3,5 juta" tambah tante Yaya.
"Ya kita ga bisa tanggung jawab sepenuhnya donk, salah anaknya juga koq pokoknya aku gak mau ngurus soal beginian, ribet!"
"Pokoknya aku gak mau tau, urus sama kamu aja" tambah Windu.
"Aku cuma minta di antar ke rumah keluarga anak itu untuk minta maaf, perkara nanggung Rumah Sakit biar aku yang pikirin" bentak tante Yaya pada suaminya.
"Ya udah kalo cuma antar ya tinggal pergi saja toh Windu, besok pagi sebelum kerja bisa kan?!" ujar ibu eyang pelan.
"Besok aku kerja bu ga ada waktu, harus antar ibu-ibu belanja kebutuhan kantor, ga enak kalo di cancel" Tambah Windu.
"Aku cuma minta waktu kamu setengah jam! kamu ngga perlu ngomong minta maaf ke mereka biar aku yang ngomong" teriak tante Yaya kesal.
"Yaudah kalo gitu!" Jawab Windu sembari melengos keluar meninggalkan ruangan.
...
[20.30] Ran kamu lagi apa?
[20.40] Lagi mau nidurin anak-anak, gimana Shaira?
__ADS_1
[20.41] Thanks ya udah ngurusin Shaira tadi siang, kalo ga ada kamu apa jadinya tu anak ga ada yang care.
[20.49] Iya sama-sama, moga cepet selesai ya kasusnya.
[20.50] Tau ngga Ran, aku minta suamiku nganterin aku besok pagi ke rumah Kiki mamanya Faqih aja ngga mau! kudu berantem dulu baru dia mau karena terpaksa. Masa aku mesti ngajak kamu untuk ketemu Kiki dan keluarganya kan ga mungkin!
[20.56] Iya, aku tinggal dulu ya maaf mau nidurin dulu anak-anak.
[20.57] Thanks ya Ran kamu orang yang paling mengerti dan peduli padaku.
[20.57] Ran, kalo kamu udah nidurin anak-anak balas sms ku ya Ran. Nanti aku tambahin pulsanya kalo kehabisan.
[20.58] Ran?
[20.59] Ran?
[21.30] Ran? balas!
...
Keesokan harinya, awan kelabu seolah menggelayut mengikuti pikiran tante Yaya dan Windu menuju rumah Kiki ibunya Faqih.
Setelah motor di parkir, mereka berjalan menuju gang sempit sampai menemukan rumah tua penuh dengan kusen jendela.
Seorang laki-laki tua dan Kiki mamanya Faqih duduk di teras saat tante Yaya dan Windu datang.
"Ada apa datang kemari?"
"Kami cuma mau minta maaf Ki, terutama aku sebagai ibunya."
"Cukup! ini bukan kali pertama anak kamu nyelakain anak-anak yang lain. Kalau sampai Faqih ada apa-apa aku akan tuntut kamu ke Pengadilan!" Ujar Kiki geram.
"Ngga gitu Ki, biar kita yang nanggung pengobatan dan urusan Rumah Sakit sampai Faqih sembuh." tambah tante Yaya.
Windu hanya diam mematung.
Lalu, "Aku harus ke kantor, ibu-ibu udah pada nunggu." Bisiknya pada tante Yaya.
...
#tobecontinued
#truestory
__ADS_1