
Ratapan hati kecil Rani yang tak menerima dirinya di kuasai manusia lain, termasuk fisik, hati, pikiran dan hartanya ternyata di baca semesta. Janji manis tante Yaya yang akan memberikan hasil dari taksi online tak kunjung tiba.
Rani membutuhkan uang untuk biaya pendidikan dan kebutuhan sekolah Akbar dan Adist. Niat Rani membeli mobil itu untuk membiayai hidup anak-anaknya, namun dalam penguasaan tante Yaya harapan dan niat Rani pupus. Saat Rani membicarakan hal itu tante Yaya berkelit,
"Itu jajanan yang kamu makan duitnya kan dari situ." Ujar tante Yaya.
"Maksudku, Ada uang lebih yang bisa aku pakai untuk biaya sekolah anak-anak."
"Nggak ada lah! kamu kayak nggak tau aja kebutuhan bensin. Soal anak-anak jangan jadi beban kamu! Serahkan pada bapaknya biar dia yang bertanggung jawab!" Ujar tante Yaya bersungut-sungut saat Rani meminta haknya.
...
Saat tante Yaya selesai mengantar Rani meeting dengan klien di hotel untuk event yang Rani handle sampai malam, Rani meninggalkan Adisti sendirian di rumah sewaannya. Rani bermaksud membeli makanan untuk Adisti, karena ia yakin Adisti belum makan siang dan makan malam ketika ia tadi tinggalkan.
"Boleh mampir dulu ke tukang ayam goreng sebelum sampai rumah ya, Ya!" Pinta Rani.
"Kenapa beli ayam goreng, bukannya kamu udah makan tadi di hotel?" Jawab tante Yaya,
"Buat Adist, kasian dia belum makan dari siang karena aku tinggalkan."
"Halah itu bukan tanggungjawab kamu, lagian Adist udah gede dia tinggal minta beliin ke bapaknya, atau order makanan via online." Tolak tante Yaya.
Dan mobilpun meluncur mengantarkan Rani pulang, tanpa mampir ke tempat yang Rani minta. Hati Rani merasa pedih tersayat-sayat. Sesampainya di rumah, benar saja Adist belum makan seharian, Rani langsung keluar mengajak Adist mencari nasi goreng kaki lima.
Tante Yaya berlalu dengan meninggalkan luka di hati Rani.
Semesta tak perlu menunggu lama untuk membalas kelakuannya. Sesampainya di rumah pikiran tante Yaya dibuat tak tenang, usia Shaira sudah kelas 9 SMP namun kebiasaannya tantrum tak pernah berubah, tante Yaya mendapati shaira yang kejang-kejang, teriak-teriak mau membunuh sepupunya.
Sepupu Shaira bersembunyi dibalik pintu dan menahannya karena ketakutan pintu itu di dorong Shaira dan mencoba mendobraknya, ibu eyangpun tak mampu mencegah karena tenaga Shaira lebih kuat dari mereka.
Tangan Shaira mengacung-ngacungkan pisau mendorong pintu yang tertahan dari dalam. Tante Yaya datang lalu merangkul dan melerai Shaira. Ia kaget! tak ada seorangpun yang mencegah hal itu. Tante Yaya menelpon suaminya, namun tak diangkat. Ibu eyang menelpon anaknya yang lain.
Shaira terus ngamuk, Tante Yaya emosi ia menampar wajah Shaira berkali-kali sampai Shaira mengaduh kesakitan dan menangis. Lalu lari ke dalam kamar utama.
Tante Yaya kewalahan, ia tak tahu harus berbuat apalagi, ia menelpon Rani.
"Ran, kamu dimana?"
"Aku baru beli nasi goreng untuk Adist"
"Padahal kamu nggak usah beli Ran, biar aku beliin darisini." Tambah tante Yaya. Tante Yaya sadar dirinya sudah berbuat kejam dan semesta membalasnya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
"Maksudnya?"
"Iya, nanti aku kesana ke kost an kamu, bawain makanan buat Adist."
"Nggak usah!" tolak Rani.
"Tau nggak Ran, kejadian yang bikin aku stress karena kelakuan Shaira."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Satu rumah heboh karena Shaira ngamuk gara-gara sepupunya nggak mau dia ajak main, Shaira tantrum sampai mau membunuh sepupunya. Aku jadi konflik sama adik iparku. Ia nggak mau Shaira berada satu rumah denganku lagi. Aku ke rumahmu sekarang ya?"
"Mau tidur dimana? Ruangnya sempit." tolak Rani.
"Aku bingung Ran harus kemana?"
"Ya jangan tanya aku, tanya suamimu."
"Kamu kayak nggak tau aja suamiku kayak gimana?"
"Aku stress Ran gara-gara anak satu itu."
Rani terdiam, ia bingung apakah harus bahagia ataukah sedih?
Balasan semesta begitu nyata. Tante Yaya tak dibiarkan hidup tenang karena anaknya yang berkebutuhan khusus.
...
Adisti sering dibawa Rani ketemu guru ngajinya, Ia selalu mendampinginya meski Rani sesekali mengikuti kajian subuh di pesantren Pak Kiai. Lama-lama niat mengantar Adisti mengaji, berhubung ada di antara santri seusia Rani, iapun memberanikan diri bergabung hingga tak terasa menginjak tahun ke 5.
Pak Kiai begitu sayang pada Rani, setiap kali Rani mengikuti kajian bersama Adisti, Pak Kiai selalu merasa senang dengan selalu mengajak Rani ngobrol panjang lebar.
"Gimana kabarnya?" Tanya pak Kiai satu subuh Rani dan Adisti bergabung bersama santri-santri lainnya mengikuti kajian subuh.
"Kalau ada yang ingin di diskusikan tanyakan saja langsung, gak apa-apa" Tambah Kiai seraya melihat selintas roman Rani yang nampak murung. Pak Kiai bisa merasakan dan membaca karakter setiap orang yang ia temui.
Ini ijazah doa baca setiap selesai subuh dan maghrib, agar terhindar dari orang-orang jahat.
Rani membaca teks yang dikirimkan Pak Kiai,
"Robbi A'udzubika Bikalimatittammah Min Syarri Makholaq"
Semoga Allah melindungi selamanya buat keluarga bu Rani. Terutama perlindungan dari manusia keji dan jahat.
Setiap waktu sahur, usahakan baca istighfar sebanyak mungkin, Insyaallah orang yang menjahati kita akan merasakan akibat dari perbuatannya.
Rani mengangguk, Rani tak pernah membicarakan berbagai hal tentang Firman dan tante Yaya pada pak Kiai, namun Pak Kiai seolah-olah sudah tahu apa yang sedang Rani alami dan rasakan.
...
Karma yang tak disadari
Mobil baru Rani memasuki usia 4 bulan.
Selesai mengantar penumpang tante Yaya menelpon Rani karena tiba-tiba mobil yang ia kendarai mogok.
"Ran, ini tiba-tiba mobil nggak bisa di starter, kamu coba hubungi call center dari aplikasi yang sudah kamu unduh karena pendaftaran akun mobil ini atas nama kamu." Ujar tante Yaya diujung telpon diselingi dengan riuh suara kendaraan lalu lalang.
__ADS_1
"Cuma itu kendalanya?"
"Iya, sama sampaikan di aplikasi masa mobil baru jalan 3 bulan udah banyak kendala." tambah Tante Yaya.
Rani segera membuka aplikasi service center layanan kendaraan, dan menuliskan keluhan. Tak lama kemudian Rani mendapat balasan melalui nomor handphonenya.
"Dalam 30 menit Mekanik akan tiba di tempat Anda, silahkan masukkan alamat lengkap dan pastikan nomor Anda aktif agar mekanik dapat menghubungi Anda saat tiba di lokasi."
"Alamat lengkap dimana?"
Tante Yaya mengirimkan alamat dimana dia berada dan kendaraan Rani mogok.
"Masukkan nomor aku untuk kontaknya jangan nomor kamu." pinta tante Yaya.
Menurut Rani hal yang logis, Rani memasukan nomor kontak tante Yaya agar bisa dihubungi mekanik. namun di lain hari hal ini justru jadi boomerang bagi Rani.
Aplikasi yang khusus untuk pemilik mobil, diambil alih tante Yaya. Ia sangat menggebu menguasai harta milik Rani. Pikiran licik dan manipulatif tante Yaya selalu memncari cara agar Rani tak bisa lebih dari dirinya. Ada perasaan merasa disaingi ketika rani memiliki sesuatu yang tidak bisa ia miliki.
"Eddan! 800 ribu Ran!" teriak tante Yaya,
"Masa Aku harus beli aki baru, padahal tu mobil baru dipakai 3 bulan." tambah tante Yaya. Rani tak berkomentar, ia hanya mendoakan tante Yaya sadar dengan apa yang sudah dia lakukan.
...
Seminggu kemudian,
Mobil meluncur di tengah jalan tol. Tetiba, mobil sebelah melaju mendahului dan coba menyalip mobil Rani sambil membuka kaca depan, lalu sang sopir memberitahukan bahwa knalpotnya mengeluarkan asap hitam.
Dan benar saja, Rani melihat kepulan asap mengepul menutupi jendela belakang. Rani segera meminta tante Yaya melipir untuk mengecek saat keluar dari gerbang tol.
"Udah beberapa kali begini terus padahal belum satu tahun ni mobil." Rani diam. Tante Yaya bersikap seolah dia sang pemilik mobil.
Ia menelpon bengkel,
"Itu biasanya karena olinya bocor mas" ujar mekanik di ujung telpon.
"Saya perempuan." Ujar tante Yaya.
"Oiya maaf bu, sebaiknya dibawa ke bengkel aja ntuk di cek." Lanjutnya. Sesampainya di begnkel, Rani sengaja tak mau menanggung perbaikan biaya bengkel karena ia tak merasa banyak memakai mobil itu.
"Olinya murah bu, tapi spare partnya yang harus di ganti cukup mahal harganya." Ujar mekanik.
"Sekitar 450 ribuan bu belum dengan service."
"Yaudah ganti aja." ujar tante Yaya belaga sebagai pemilik mobil.
...
#tobecontinue #truestory
__ADS_1