TANTE YAYA

TANTE YAYA
POV Bu RT


__ADS_3

"Assalamua'alaikum .." Pak RT nya ada?


Salam dari seseorang di halaman rumah ibu eyang. Ibu eyang berteriak memanggil Tante Yaya. Suara anak tangga kayu berbunyi geblak gebluk terinjak benda berat. Tante Yaya segera menghampiri tamu yang berada di teras. Badannya yang gembul dengan kulot jeans obrog, kaos oblong, rambut cepak ala demi moore, raut wajah sangar, bengis dan songong nampak sosok yang tak nyaman untuk di dekati. Aura negatifnya sungguh sangat terasa oleh orang yang baru bertemu sekalipun.


"Ya ada apa?"


"Maaf saya mau ketemu Pak RT nya Om, ada?"


"Saya RT nya! ada apa?" ujar tante Yaya dengan suara bass baritonnya yang berat dan alis mengangkat.


"Oh ini om, mau minta ijin sosialisasi kesehatan untuk warga, hanya butuh tanda tangan dan cap pak RT nya saja."


"Sini" Tante Yaya mengambil secarik kertas pengantar berkop surat dari puskesmas, mengambil ballpoint dan cap lalu ia tanda tangani.


"Makasih Om."


"Saya perempuan, kamu gak liat ini dada saya segede gini masih di panggil om?" Protes tante Yaya.


Sang tamupun minta maaf lantas pamit.


"Mana gua tau dia cewek! tampilannya aja amburasut kayak laki gitu!" gumam pria muda berkacamata itu sambil melengos pergi.


"Masih aja di panggil Om, matanya siwer kali ya ukuran bra 44 G udah paling gede juga masih di sangka laki!" Ujar tante Yaya kesal.


...


Bunyi sirene polisi wara wiri masuk ke wilayah kekuasaan tante Yaya.


"Bu RT! Bu RT! Si Dadang kena penyakit kena penyakit!" Ujar Wawan panik.


"Kamu masuk naik ke atas!" Ujar tante Yaya berusaha melindungi Wawan.


Penyakit adalah kode tante Yaya dan lingkungan setempatnya untuk kedatangan polisi.


"Yang piket jaga hari ini siapa? koq bisa sampai kecolongan ada penyakit Lo gak tau!"


"Si Juney Tante! Dia pulang kampung gak bilang" Jawab Wawan ngos-ngosan.


"Dia sengaja pulang kampung karena udah tau hari ini bakal ada penyakit, makanya dia meloloskan diri! Barang lo amanin dimana?" Tanya tante Yaya seraya memprediksi.


"Ada di rel tant, aman cuma si Juney kena dia bawa beberapa gram yang tadinya buat dijual malah ke tangkep intel."

__ADS_1


"Lo disini, Gua ke depan liat perkembangan."


Wawan mengangguk. Tante Yaya bergegas mengamati keributan warganya. Iringan polisi membawa laki-laki pendek berkulit penuh tato dengan tangan di ringkus borgol seraya menunduk lewat depan tante Yaya di giring polisi menuju mobil tahanan.


Warga berkerumun terdengar suara bisik berbisik dengan tatapan mata ke arah tante Yaya dan Juney. Mereka sangat paham siapa tante Yaya sebenarnya, Uangnya tak pernah habis, karena anak buahnya gesit mengedarkan barang dagangannya. Setelah polisi berlalu Tante Yaya bringsut ke arah rel untuk mengecek narkoba yang dititipkan pada Wawan. Nampak bungkusan amplop coklat di tindih batu dibawah tangga dekat bantalan rel kereta.


"Uhhgghh!" Tante Yaya mendengus, lega.


...


Cerita tak berhenti disitu, malam harinya pukul 00.30 Tante Yaya dibangunkan seorang warga,


"tok tok tok !! Tan! Bangun tan? Ada yang meninggal.."


Suara pintu kamar Tante Yaya di ketuk dari luar, tante Yaya segera bangun dan membuka pintu.


"Siapa yang meninggal?"


"Si gelay, anaknya tadi ngasih tau kesini."


Gelay panggilan untuk Robbi seorang pengidap HIV AIDS yang marak di lingkungan tante Yaya, selain dari pemakaian narkoba, **** bebas dan pelacuran anak di bawah umur warga tante Yaya sangat familiar dengan kehidupan kotor seperti itu.


Istri dan anaknya tertular dari Robbi Gelay, dalam kondisi perekonomian yang sangat minim mereka menggunakan fasilitas pemerintah untuk pengobatan, dan tante Yaya sering menjadi fasilitator untuk pengobatan mereka agar tetap bisa hidup normal.


...


Nampak sosok tubuh yang sudah terbujur kaku dengan seluruh tubuh menghitam dan beberapa bagian kulit mengelupas karena mengidap HIV AIDS dalam hitungan 2 tahun. Istri dan Anak Robby Gelay duduk di sudut dekat lemari, mereka tampak tegar tanpa ada tangisan, tante Yaya selalu mengingatkan kondisi mereka dan menyiapkan mental mereka bahwa pengidap HIV AIDS tak punya peluang hidup lebih lama seperti pada umumnya. Kecuali kecelakaan dan penyebab lainnya selain HIV AIDS.


Tante Yaya mengeluarkan mobil milik Rani dari garasi untuk menghubungi rumah sakit. Sepanjang jalan menuju pulang kembali setelah dari rumah sakit, reamaj tanggung umur baru memasuki area lingkungan tante Yaya dengan rok pendek dan dandanan menor, bau alkohol bercampur bau ****** menyeruak dari perempuan-perempuan itu.


"Pulang darimana tant?" salah seorang dari perempuan muda itu menyapa tante Yaya.


"Nganter si Robby ke rumah sakit, dia mati." Jawab tante Yaya sambil berlalu meninggalkan mereka lebih dulu.


Sosok tante Yaya berlalu diiringi tatapan aneh dari perempuan-perempuan itu.


...


Keesokan harinya,


"Ran anter aku ketemu temenku ya, ni ada barang yang harus aku anterin."

__ADS_1


"Nggak bisa Ya, aku harus nganter Adist les."


"Ya aku anter Adist bareng, kita drop dulu Adist les lanjut ketemu temenku." Ujar tante Yaya.


Rani dan Adist pergi mengikuti tante Yaya, setelah ngedrop Adist di tempat les. Mobil melaju ke arah satu apartmen elite, masuk ke area parkir dan mereka berdua menunggu di caffe apartmen. Tak lama kemudian dari jauh nampak sosok serupa dengan tante Yaya menghampiri mereka, Rambut cepak dengan kulit kuning namun tak gemblung dan gembul seperti tante Yaya, wajah cantikmasih nampak yang berubah maskulin.


"Ni barangnya Jo." Tante Yaya memasukan amplop coklat ke tas yang Jo bawa. Rani melihat ringkak polah mereka. Jo tersenyum kecil pada Rani.


"Juwita! panggil aja Jo." Ujar Jo seraya menyodorkan tangannya menjabat tangan Rani.


"Rani." Ujar Rani membalas senyum Jo.


Mereka terlibat obrolan kecil sebentar, Tante Yaya memesan minuman sesaat kemudian setelah minuman Jo habis ia bergegas pergi meninggalkan mereka.


"Jo itu kayak aku, dia punya simpenan juga cewek model."


"Huft! pelajaran apa ini ya Allah yang sedang aku hadapi." Gumam Rani dalam hati.


"Kamu nggak usah heran, banyak lah yang kayak aku. Kamu baru tau kan kehidupan di luar sana?" Ujar tante Yaya berusaha membuat Rani paham.


"Nanti kapan-kapan aku kenali sama ceweknya. Dia ngga cantik! masih lebih cantik kamu koq tenang."


"Jadi maksud kamu, aku simpenan kamu gitu?."


Tante Yaya berusaha mengusap kepala Rani tanda sayang sambil menyeringai. Rani mengelak.


"Aku liatin ya IG nya." Rani menengok handphone tante Yaya. Nampak perempuan berambut bule sedang keliling dunia.


"Pasti Jo yang bayarin tripnya kan?" Tanya Rani.


"Nggak koq ceweknya kerja."


"Oiya Jo. kerja apa?"


"Dia punya usaha jual beli besi"


"Oh ngga kayak aku cuma dimanfaatkan kamu, ngerebut-rebutin usaha dan milikku."


"Nggak gitulah! kan aku juga bantu kamu." Ujar tante Yaya kesindir.


...

__ADS_1


#tobecontinue #truestory #kumiko


__ADS_2