
Menginjak tahun ke 11 tante Yaya yang memaksa merangsek masuk dalam kehidupan Rani, selama itu pula Rani tak pernah merasa damai dan tenteram, dan ini berdampak pada kesehatan Rani yang seringkali tiba-tiba menurun sepanjang tahun.
Rani merasa terbebani dan lelah sekali menjalani sesuatu yang tidak terjadi secara natural, jiwanya terasa terseok-seok mengikuti sesuatu. Tante Yaya terlalu membuang-buang waktu dalam kehidupannya. Rani sudah tidak bisa optimis dapat mengakhiri keberadaan tante Yaya dalam hidupnya. Ia merasa sangat berat menjalani hidup ia tak bisa membuka hati pada siapapun. Rani sinis terhadap masa depan percintaannya. Rani merasa tidak ada perubahan, ia memutuskan untuk fokus pada kehidupan finansial. Rani merasa mendapat karma buruk, Rani marah tidak merasakan keadilan cinta. Meski ia sudah sabar. Ia merasa selalu tidak mendapatkan yang dia layak terima, selalu berada dalam kondisi sulit yang tidak bahagia. Rani tidak percaya ada seseorang di luar sana yang mencintai Rani. Rani merasa tidak ada keadilan dalam cinta, keputusasaan Rani menduga semesta berkonspirasi menyakiti hati dan hidupnya.
...
Setiap maghrib sampai menjelang tengah malam tubuhnya menggigil kedinginan, di lain waktu bisa jadi tubuhnya bagaikan di sengat api membara, dan Rani mengaduh sampai Adisti dan Akbar yang menjadi korban harus merawat Rani, Mereka menyediakan 2 buah handuk besar basah tanpa di peras, mereka langsung menempelkannya pada tubuh Rani sampai benar-benar kering dalam hitungan menit, lali diganti dengan handuk basaha baru dan itu berlangsung sampai adzan isya. Setelah itu Rani kembali sehat seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Tante Yaya seolah memposisikan diri anak-anak Rani dalam keadaan panik, tapi nyatanya mereka tidak panik karena sudah terbiasa menghadapi itu semua. Terutama Akbar. Tante Yaya marah ketika Akbar terlihat biasa-biasa saja saat merawat Rani,
"Seharusnya anak itu panik melihat ibunya dalam keadaan sakit, Bukannya terlihat lempeng, memang merawat kamu tapi ekspresinya itu loh kayak bukan anak kamu aja Ran!" Ujar tante Yaya mencoba mengadu domba Rani dan Akbar.
Akbar mendengar itu, dan berceloteh menjawab ..
"Kalau saya ikutan panik, terus yang ngerawat mama siapa?" Ujar Akbar tenang.
Tante Yaya pura-pura memainkan handphone.
"Kalau bukan aku yang bawa kamu berobat kemana-mana siapa coba?" Tanya tante Yaya, saat Rani berbaring berselimut.
"Sakit Mama bukan sakit natural, tapi sakit yang dibuat orang yang selalu merepotkan hati dan pikirannya." Jawab Akbar.
Tante Yaya merasa di sindir, ia beranjak dari kursi ruang tamu.
"Sepertinya aku sudah nggak dibutuhkan kamu lagi Ran."
Tante Yaya melengos pulang, ia merasa di gurui anak kecil.
"Kehadiran anak itu membuatku tak leluasa lagi menguasai Rani, awas aja lihat apa yang bisa aku lakukan pada kamu." Gumam tante Yaya sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya dari tempat Rani.
...
Sebelum Akbar pulang dan tinggal bersama Rani, tante Yaya mengguna-guna Rani ia juga seolah mengambil tanggung jawab di hadapan orang-orang membawa Rani berobat ke berbagai dukun yang sudah di kenalnya berapapun biayanya tante Yaya berani mengcover segalanya. Padahal di lain kesempatan ia akan membuat perhitungan dengan cara menguras habis harta Rani.
Kepercayaan kejawennya mulai ia paksakan pada Rani sebagai doktrin jika Rani menolak ia akan marah seperti setan, wajahnya memerah, kata-katanya pedas bersungut-sungut, jari jemarinya yang besar dan gendut akan sekuat tenaga menghempas badan atau barang yang ada di hadapannya terlebih tante Yaya yang identik berambut merah dan kulit pucat Rani selalu teringat Dajjal yang bermuka merah dan berambut merah.
Tante Yaya sebenarnya ingin mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya namun ia tidak tahu cara mengaktualisasikan dirinya di hadapan orang lain. Ia berharap ide-ide Rani brilian bisa ia klaim dan bisa ia catut pemikiran Rani. Tante Yaya sangat tahu Rani mempunyai bakat alami dapat memengaruhi orang lain dan itu tante Yaya lakukan juga dengan gaya yang tidak santun, arogan dan terkesan sombong, seringkali menjelek-jelekan orang lain, Ia seringkali ingin dianggap paling terbaik.
...
Guna menyebarkan pemahamannya, Rani mulai ia bawa melakukan ritual-ritual kejawen. Namun di tahun ke 11 upaya tante Yaya tak semulus selama satu dekade terakhir. Ada Akbar yang selalu memantau pergerakan tante Yaya, dan tante Yaya risih dengan itu.
"Ran aku lagi menelusuri asal-usul suamiku, dia nggak tau leluhurnya. Aku tanya ke keluarganyapun nggak tahu hanya cerita-cerita yang aku rasa mungkin bisa nyambung kalau ada yang memandu. Jadi aku coba tanya ke guru spiritual aku. Ternyata cocok dengan cerita-cerita yang di sampaikan kakak-kakaknya.
Dan guru spiritualku ini keren orangnya. Dia bisa tahu kamu dari turunan mana, dan kamu harus melakukan apa supaya kamu bisa hidup sejahtera. Aku mampir kesana dulu ya, kamu jangan keberatan." Ujar tante Yaya saat sudah menjemput Rani dari event di hotel.
"Asal usulku sudah jelas aku tahulah Ya, Bahkan ibu bapakku sering menceritakannya sedari kecil jadi kayaknya aku nggak perlu melakukannya."
"Ih kamu perlu tahu, nantipun kamu akan tahu sendiri kegunaannya." Tante Yaya memaksa seperti biasa.
__ADS_1
Terios hitam melaju ke arah barat dari tengah kota Jakarta, memasuki kota Bekasi. Mobil memasuki kawasan pabrik-pabrik tekstil dan menyusuri jalan perwis lalu menemukan kembali jalanan besar hingga sampailah di salah satu lapang terbuka milik warga setempat.
Mobil di parkir tepat depan salah satu ruko laundry, beberapa orang yang sedang bertransaksi mengamati tante Yaya yang turun lebih dulu dari Rani.
"Nah, Kang! udah nunggu lama ya?" Ujar tante Yaya menghampiri laki-laki bertubuh kecil dengan kulit agak legam.
"Eh tante, iyaa lumayanlah, takut tante nyasar"
"Nggak lah aku udah biasa jajal daerah sini."
"Syukurlah, sendirian?" Tanya laki-laki itu seraya menengok ke arah dalam mobil.
"Nggak, aku bawa teman."
"Suruh turun aja temannya, soalnya rumahnya masuk ke dalam kalo nunggu di mobil kasian takut lama."
Tante Yaya menghampiri Rani dan memintanya turun.
Rani yang saat itu sedang lemah dan tak berdaya karena energi vibesnya selama perjalanan dengan tante Yaya sangat negatif terpaksa mengikuti saran tante Yaya.
"Kenalin Kang Iwan dia dari Depok dan nanti dia yang akan bantu kamu juga sembuhin segala sesuatu."
"Rani" Rani menerima jabat tangan Iwan.
"Lagi sakit tak biasa ini mah."
"Sering berasa engap kalo ketemu orang 1 ini, terus gak bisa nolak karena kalo nolak seringkali orang itu marah atau ngancem, orangnya seringkali nyalahin dan tegaan."
"owh itu mantan suaminya banget tu kang!" Ujar tante Yaya menyela.
Nggak koq bukan, ini orang baru dan bukan orang lama." tambah Iwan.
"Iya saya sudah pisah dari suami udah 11 tahun." dia nggak pernah menemui saya juga tapi kesakitan ni sudah berlangsung 11 tahun juga Kang.
Tante Yaya lalu sibuk dengan handphonenya dan coba mendramatisir Rani dengan mengirimkan Whatsapp agar jangan terlalu terbuka tentang hubungannya dengan dirinya. Seraya menyisipkan ancaman-ancaman.
"Gini aja tant, kalo mau sekarang ikut aja nanti abis maghrib kita semedi di makam wali."
Tante Yaya menelpon Windu dan temannya untuk nyusul mereka akan bersemedi di makan yang katanya wali di tengah malam. Rani tak bisa ijin pulang sendirian karena tante Yaya menahannya.
Akbar gelisah hingga tengah malam ibunya belum juga pulang, ia mengirim pesan whatsapp namun Rani hanya membalas dengan share loc. Akbar mengecek lokasi sekitar 2 jam perjalanan dari posisinya. Akbar khawatir terjadi sesuatu pada ibunya. Ia hanya bisa menunggu sampai Rani pulang.
Jam 5 pagi seseorang membuka pintu gerbang dari luar, Akbar yang baru pulang dari masjid melongok dari jendela. Rani di antar tante Yaya pulang. Lalu tante Yaya kembali ke jalan untuk pulang ke rumahnya.
"Darimana Ma?"
"Diajak semedi di makam wali katanya, mama mau pilang sendiri kemarin sore gak bisa, dia tahan. Semedi tengah malam depan makam, dibawah pohon rindang sampaj jam 3 pagi baru boleh pulang"
__ADS_1
"Ngapain aja disana?"
"Gak tau gitu aja diem depan kuburan."
"Lain kali gak boleh." ujar Akbar
"Iya mama juga tau, cuma perempuan setan itu terlalu memaksa. Mama mau pulang pake taksi malem-malem tapi gak ada taksi online yang nyangkut makanya mama share loc. ke Kakak itu khawatir kalo mama ada apa-apa kakak bisa tau."
"Dia gila Ma! orang normal gak akan se posesive itu ngincer orang."
"Nanti kalo kesini ngajak mama lagi biar Akbar yang ngomong."
...
Jumat kedua, Tante Yaya bermaksud mengajak Rani bersemedi lagi di Makam. Dari sejak pagi dia nongkrongin Rani yang sedang meeting online di rumahnya.
Sore setelah Ashar dia antusias ngajak Rani segera bersiap.
"Ayo bersiap udah sore nih."
"Kemana tant?" Tanya Akbar sambil depan komputer.
"Gak usah tau anak kecil mah, ini urusan orangtua." Jawabnya setengah bercanda.
"Saya anaknya, saya berhak tau kemana ibu saya pergi!" Jawab Akbar mengubah posisi duduknya menghadap Tante Yaya
"Kamu kalo mau makan tinggal masak aja sendiri gak usah ngandelin ibu kamu." Ujar tante Yaya bersungut.
"Saya nanya mau kemana? bukan masalah urusan makan!" Jawab Akbar dengan suara agak meninggi.
"Mau aku ajak semedi biar otak ibu kamu waras!"
"Otak tante yang nggak waras, jangan ngajak-ngajak orang yang sudah gak mau dan maksa-maksa."
"Dia mau nyari silsilah keluarganya, paham kamu!" tambah tante Yaya memutar balikkan fakta.
"Silsilah keluarga kami sudah jelas! gak perlu nyari wangsit silsilah keluarga di kuburan sampai tengah malam segala!."
"Sok tau kamu!" tante Yaya tak mau kalah.
"Silahkan tante aja yang nyari silsilah keluarga, mungkin dari keturunan yang gak jelas makanya di cari-cari lewat kuburan. Dalam islam gak ada pake acara nyari silsilah dengan semedi depan kuburan segala." Akbar memperjelas.
Tante Yaya kikuk, ia tak menyangka Akbar seberani itu. Ia ngerasa membuang buang waktu sudah menunggu Rani dari pagi. Ia melengos pergi tanpa pamit.
"Anak kurang ajar! liat aja nanti kalo berani!" Raut wajah tante Yaya geram penuh dendam.
...
__ADS_1
#tobecontinue #truestory