TANTE YAYA

TANTE YAYA
Mahkota yang Hilang


__ADS_3

Mengalami banyak hal di luar kuasa Rani, meski menulis bukan hal yang Rani suka, namun ia mencoba menuliskan apa yang terjadi pada dirinya, ia simpan di lemari dengan apik namun karakter Firman yang suka mencari dan mengoleksi barang-barang printilan sampai apapun yang Rani punya dan sembunyikan ia tau. Bahkan hal-hal receh kepunyaan Rani yang menurutnya penting akan Firman amankan ke tempat yang hanya dia sendiri yang tahu.


Akhirnya catatan Rani di temukan Firman, Firman marah besar. Tak terima nama dirinya sering Rani sebut dalam diary karena banyak menemukan kejanggalan. Hari itu di dengan matanya yang juling,


"Apa ini? jangan nulis-nulis sembarangan, aku tau setiap inci apapun yang kamu punya dan kamu sembunyikan."


Firman mengambil buku itu, korek api dan membawanya ke teras, lalu menyiramnya dengan bensin yang ia ambil dari motor. Byurr!! api melahap diary Rani hidup-hidup Rani terdiam dan terpaku, seolah tak ada lagi orang tempatnya bergantung.


...


Firman bekepribadian ganda,


Dia bertingkah seolah berwibawa di depan orangtua Rani, saat di dalam kamar Firman selalu menuntut Rani sesuai harapannya, Firman berharap Rani selalu menyuplai materi apapun yang ia butuhkan termasuk fisik Rani, handphone baru, motor baru, dan barang-barang apapun yang sedang hapening selalu ia minta pada Rani. Namun saat bersama keluarga dan teman-temannya bertingkah seperti banci kaleng pecicilan.


Rani tak terima mendapat perlakuan yang tak adil, namun tak ada keberanian untuk menggugat cerai laki-laki brengsek itu. Rani hanya berdoa Firman mati lebih dulu agar statusnya bukan janda cerai hidup tapi janda cerai mati, namun doa Rani tak kunjung terkabul, alih-alih Firman yang mati duluan, malah Rani yang mati berdiri karena perlakuan Firman.


Rani sangat sulit untuk berontak. Mulutnya seolah terbungkam. Rambut Rani mulai tak terurus, ia tak lagi pergi ke salon hanya sekedar untuk potong rambut atau sekedar cream bath yang dulu sering ia lakukan. Kepalanya mulai berketombe namun ia tutupi itu karena akan percuma jika ia mengadu. Bahkan pada mamanya sekalipun.


"Ya silahkan boleh tinggal disini, asal urusan dapur mama serahkan pada Rani." ujar Mama.


"Gas, air, listrik bulanan, sarapan pagi, makan siang dan makan malam keluarga Mama gak mau tau harus selalu ada, anggap uang sewa rumah. Kalau orang lain kan sewa atau ngontrak ada jatahnya, kamu jatah uang sewa rumah di cicil tiap hari jadi ringan." tambah Mama.


Rani diam, ada perasaan menghimpit dalam dadanya. Kewajiban Rani membuat dapur mamanya ngebul setiap hari dirasa sangat berat, Ia berada di situasi yang serba salah. Ngomong ke Firman pun takkan berpengaruh apa-apa. Firman tak mau tau setiap pagi sarapan dan pulang makan malam untuknya sudah tersedia. Firman merasa ia tak menyulitkan siapapun karena ia merasa uang bulanannya sebesar 50 ribu cukup untuk makan 2x sehari dirinya.


"Uang bulananku cukup buat mengganti makan pagi dan malamku, ketika aku hidup sendiripun aku menghabiskan uang untuk makan sebulan ya segitu." Ujar Firman ketika Rani meminta uang tambahan untuk membeli gas yang sudah habis.


"Kalau uangnya nggak cukup biar aku kurangi jatah makanku, Aku tidak akan makan malam."


Dan benar selama beberapa hari Firman tak lagi makan malam di rumah.


Ketika kunjungan rutin hari minggu Rani ke rumah mertuanya, Ibu Firman bilang kalau setiap malam Firman mampir ke rumah ibunya untuk makan malam,


"Katanya Firman tidak diperbolehkan makan malam di rumah lagi ya Ran?"


"Firman bilang karena uang belanja yang dititipkan pada istrinya habis untuk mencukupi keluarga Rani."


Rani seketika tertohok. Ia tak menyangka dengan perilaku suaminya yang bermuka dua.


...


Satu malam ..


Rani merasa tak bisa lagi hidup dalam tekanan, Rani berpikir lebih baik memilih mengakhiri hidup. Ia berjalan tengah malam diam-diam keluar dari rumah sebelum Firman pulang, saat itu ia berpapasan dengan kakak pertamanya namun kakaknya menganggap Rani akan pergi membeli sesuatu, dan hanya selintas bertegur sapa.


"Mau kemana?" Tanya kakak Rani.


"Ke depan." Jawab Rani pendek

__ADS_1


Rani terus melangkah kakinya tanpa arah, ia hanya mengikuti apa kata hatinya. Ketika Firman pulang ia tak mendapati Rani menyediakan makan malam, dengan berat hati ia terpaksa bertanya pada Mama, karena Firman tak pernah bertegur sapa dengan kedua mertuanya meski dia hidup satu atap dengan mereka.


"Rani kemana Ma?"


"Tadi ada di kamar."


"Nggak ada." Jawab Firman


"Mungkin ke warung beli telur." tambah mama.


Setelah mereka menunggu beberapa lama, Rani tak kunjung datang, Firman menyusul ke warung namun tak mendapati Rani bahkan warung dekat rumahnya sudah tutup.


Mama Rani pun baru menyadari Rani meninggalkan rumah. Lalu satu keluarga panik mencari Rani, kakaknya yang tadi berpapasan dengan Rani sekitar satu jam sebelumnya memberitahu pada Firman arah Rani keluar dari rumah.


Firman bergegas mencari Rani dengan motornya, tak lama sekitar 30 menit kemudian ia menemukan perempuan sedang berjalan menyusuri jalanan dalam keadaan basah karena diterjang hujan.


Firman menghampiri perempuan itu dan betul ia adalah Rani sedang menangis sepanjang jalan, matanya terlihat sembab,


"Kamu! ngapain tengah malam begini jalan sendirian! ayo pulang!" Teriak Firman.


Rani menolak karena ia tahu pasti keadaan yang akan di hadapinya ketika kembali ke rumah.


"Ok! kalo kamu ngga mau pulang! aku lempar helmnya!" Seru Firman sambil membuka dan memegang helm di tangannya.


Rani tak menggubris, dan berlalu melanjutkan perjalanannya.


"Ayo pulang! kalau ada beban bilang ke ayah."


Melihat itu Rani luluh dan pulang bersama ayahnya.


Firman menyusul Rani dan ayahnya dari belakang.


...


Kesokkan harinya,


Badan Rani demam menggigil, ayah dan mamanya melihat keadaan Rani sebentar karena khawatir lalu ayahnya masih penasaran, setelah pulang dari masjid mampir melihat Rani tapi mamanya melarang mengkhawatirkan Rani.


"Udah biarin, itu urusan suaminya kita nggak boleh ikut campur." Ujar mamanya.


Ayahnya pasrah dengan rengutan wajah tak bahagia.


...


Mendapati Rani yang diam saja, tanpa membuka suara. Ia hanya duduk diam dengan pandangan kosong.


"Kamu sepertinya stress Ran, biar aku urus rambutmu."

__ADS_1


Lalu Firman keluar rumah dengan motornya beberapa saat membawa ransel lalu kembali ke rumah.


Rani dibawa ke lantai atas,


Firman mengeluarkan alat cukur listrik yang di pinjam dari kakaknya yang berprofesi sebagai tukang cukur rambut,


Rani dipaksa duduk di atas bangku, Firman mulai menyisir rambut Rani yang ikal dan hitam mengkilat, panjang setengah punggung. Lalu menyalakan mesin cukur, ia mencukur rambut Rani mulai dari arah depan ke belakang mesin cukur itu memangkas sompak rambut Rani sampai dasar kulit di bagian tengah, Rani berontak namun sudah kehilangan rambutnya satu spasi. Rambut Rani tersisa menjadi dua bagian kiri dan kanan.


Firman memegang tubuh Rani dengan keras agar tak berontak lalu ia menjambak rambut Rani agar diam, selanjutnya mesin cukur itu membabat habis rambut bagian sisi kiri dan kanan. Roman Firman sumringah, terlihat puas dan menikmati moment itu.


Rani menatap Firman dengan kepala plontos dan gigi-gigi Firman yang panjang dan tonggos itu menyeringai.


"Kamu udah bikin malu aku semalam, kamu kabur dari rumah itu artinya kelakuan kamu mencoreng namaku menjadi suami yang tak becus mengurus istri, paham kamu! dasar anj***"


...


Ayah Rani berada di bawah tangga, mendengar percakapan Firman. Ia bermaksud menghadang Firman, namun mama Rani menghalanginya dengan menarik ayah Rani menjauh.


"Kenapa Rani di kata-katai anj** sama suaminya?"


"Apa salah dia?"


"Sudahlah jangan ikut campur urusan rumah tangga anak, mungkin anak kita yang salah sampai suaminya berlaku kayak begitu."


Ayah Rani tertunduk, mengeluarkan air mata sedih.


"Kasian Rani"


...


Selepas sholat berjamaah dari masjid, ayahnya masih penasaran keadaan Rani, Rani sedang berada di dapur dan melihat kepalanya plontos. Ayahnya kaget.


"Kenapa botak begitu?"


Rani terdiam,


Firman menyahut dari belakang, "Kepala Rani banyak ketombe Pak."


"Kenapa nggak ke salon kayak dulu?"


"Sudah saya kasih uang pak untuk pergi ke salon, tapi Rani menolak katanya sayang uangnya kalau di pakai buat salon, mending di pakai untuk keperluan yang lain."


...


#tobecontinue #truestory #Cerbung #tanteyaya #addakumiko #Kumiko


Apa yang kamu rasakan selesai membaca kisah ini?

__ADS_1


__ADS_2