
Gimmick receh pemberian tante Yaya seperti sepatu, tas, makanan harus Rani tukar dengan telpon dia yang tak henti-hentinya selama 24 jam, sanjungan dan pujian yang terus menerus yang membuat Rani muak harus Rani lakukan karena sangat butuh perhatian, bantal khusus untuk menginap di rumah Rani, ****** *****, baju tante Yaya yang sering keluar masuk mesin cuci Rani.
Rani dipaksa menjadi seseorang yang lain yang patuh perintah sang "perempuan dajjal".
Hal-hal itu sudah mulai mengubah keseharian Rani, dan ia sangat sulit berkelit apalagi menghindar dari Tante Yaya. Full 24 jam dalam pengawasannya, bahkan Rani telat membalas SMS tante Yaya 1 menitpun Tante Yaya akan membuat itu menjadi satu drama yang membuat Rani mual.
"Kamu lihat SMS ku 23.04, Kamu balas 23.05 itu kamu kemana dulu?" Salah satu SMs tante Yaya.
"Aku udah molor Ya kalo jam segitu!" Jawab Rani kesal, cuma aku buka karena kamu terus-terusan misscall.
Bahkan makanan yang Rani makanpun dalam pantauan tante Yaya, apa yang boleh dan tidak boleh Rani makan sampai merk pembalutpun tante Yaya yang pilihkan.
Rani tak punya lagi hak atas dirinya sendiri, semua tentang Rani tante Yaya yang memutuskan.
Jika ia berontak ancaman-ancaman mulai dilancarkan tante Yaya. Ia akan mulai bercerita tentang kepiawaiannya membuat alibi, ia bercerita bahwa ia mampu mendatangkan pasukan yang membuat seseorang yang tidak ia sukai tiba-tiba hilang dari keluarganya.
Tante Yaya tidak secara eksplisit menjelaskan bahwa ia mampu menghilangkan nyawa Rani tanpa harus mengotori tangannya sendiri berlumur darah tapi bisa dengan jentikan jari orang suruhannya.
Rani dibuat seperti kerbau di cocok hidung.
...
Sejak perceraiannya dengan Firman, seolah-olah hidup Rani masuk dalam jurang yang kedua lebih dalam. Tubuh Rani yang ringkih sering mengalami kondisi yang buruk dikarenakan ia tak mampu lagi membebaskan pikiran, hati dan fisiknya serta memperjuangkan hidupnya untuk bebas dari tante Yaya.
Namun tante Yaya merasa itu hal wajar bagi mereka berdua, ketika Rani sakitpun tante Yaya selalu bersedia membawa Rani berobat kemana-mana bahkan ke sesama dukun sekalipun.
Meriang setiap maghrib,
Tubuh yang lemah setiap kali kedatangan tante Yaya
Sakit kepala yang tak kunjung ada obatnya,
Sesak nafas tiba-tiba ketika dekat dengan tante Yaya
dan reaksi-reaksi fisik yang dialami Rani, tante Yaya berpikir jika itu reaksi biasa.
"Jangan-jangan kamu sering sakit itu karena ada perempuan itu Ran!" Ujar Mama, Rani terdiam, iapun sepakat dengan pikiran Mama namun Rani sudah tak bisa lari dari perempuan iblis itu.
"Inget kemanapun kamu pergi! aku akan selalu mengejar kamu!" Ancam Tante Yaya saat Rani berusaha melarikan diri berlindung di pesantren milik adiknya selama 10 hari melalui SMS.
Rani kembali dicengkeram tante Yaya saat ia kembali ke rumah Mama untuk mengambil pakaian Adist. Selama sepuluh hari itu tante Yaya kelimpungan seperti orang gila, setiap hari menunggui Rani di rumah Mama. Alhasil Rani tak bisa kembali menjauh dari tante Yaya.
...
__ADS_1
Beberapa orang pria yang hendak mempersunting Rani gagal karena Tante Yaya ikut memutuskan siapa yang layak dan tidak mendampingi hidup Rani. Tante Yaya ikut dalam perkenalan, pertemuan dan beberapa orang laki-laki mundur karena menganggap Rani sefrekuensi dengan tante Yaya.
"Pokoknya gini Ran, kalau laki-laki itu serius sama kamu, dia harus bisa menerima aku. Caranya ya ajak mereka bertemu denganku juga."
Dengan terpaksa Rani mengikuti apa mau tante Yaya, karena tak sedetikpun Rani lepas dari pantauan tante Yaya. Meski sudah ribuan kali Rani mengingatkan bahwa ada Suami, anak dan orangtuanya yang harus tante Yaya perhatikan.
Belakangan rupanya, seleksi-seleksi bodong pada para pria itu bertujuan agar tante Yaya dapat mengekang dan menjajah Rani dengan bebas. Ia tidak mengijinkan Rani menikah lagi dengan orang lain, dan tante Yaya berhasil melakukannya sebelas tahun lamanya sejak perceraian Rani dengan Firman.
...
Siasat Orang beracun
Agar tujuannya tercapai menjauhkan Rani dari Ayah, Ibu dan Keluarganya. Tante Yaya melibatkan dirinya masuk dalam keluarga Rani, ia "mengobrak ngabrik" Etika, adab dan norma, batasan keluarga Rani dengan cara menginap di rumah Mama Rani berminggu-minggu.
Ia memaksakan diri untuk terlibat dalam segala hal urusan keluarga Rani. Sejak ayah Rani meninggal, peran tante Yaya sangat mendominasi dalam keluarga, tante Yaya sangat pandai untuk beradaptasi, memanipulasi, menampilkan dirinya sebagai orang yang humble namun di balik itu pedangnya siap menusuk keluarga Rani kapanpun ia mau.
Dominasi tante Yaya dalam keluarga Rani, dengan cara menyogok berbagai kebutuhan keluarga Rani meski mereka tak meminta, antar jemput kemanapun, mendekati dan mengambil hati Ranti, mengambil hati Mama dan keluarga lainnya dan berusaha agar keluarga Rani merasa berhutang budi padanya.
Dengan begitu tante Yaya bisa dengan bebas mengekang, memperbudak dan menjajah Rani.
Namun Akbar dan Adisti seringkali diam tak merespon apapun setiap usaha yang dilancarkan tante Yaya. Pikiran tante Yaya selalu mencari cara dan berusaha bagaimana agar ibu dan anak itu ia bisa adu domba, agar Rani jauh dari anak-anak yang mengganggu misinya.
Akbar yang sudah beranjak remaja, Rani masukkan ke boarding school. Ia hanya bisa pulang ke rumah satu semester sekali. Tante Yaya sangat girang mendengar itu karena baginya anak laki-laki itu penghalang niatnya mencengkram Rani.
Namun celoteh itu hanya sekedar janji manis tante Yaya. Rani tak pernah menerima sepeserpun uang tante Yaya untuk biaya Akbar, karena bohong dan membual modal utama tante Yaya memanipulasi Rani.
...
Rani masih berada di lingkungan orangtua dan adik kakaknya, namun tante Yaya masih merasa tidak leluasa mengatur kehidupan Rani, tante Yaya merasa kakak pertama Rani tak menyukainya dan sayangnya ia tak bisa mengambil hatinya. Agar melancarkan misinya menguasai Rani perlahan ia di hasut untuk meninggalkan keluarganya.
Tante Yaya sangat tahu karakter dari masing-masing keluarga Rani, dan itu menjadi peluru yang ia gencarkan setiap saat mencekoki Rani dengan keburukan-keburukan setiap keluarga Rani,
Otak Rani dicuci oleh kata-kata tante Yaya setiap saat bersamanya baik secara langsung maupun melalui telpon. Ia mempersona dirinya sebagai satu-satunya orang yang sangat peduli pada Rani di bandingkan keluarganya.
Usahanya tak berhenti di ranah fisik namun metafisik berbentuk klenikpun tante Yaya lakukan. Rani dipaksa keluar dari rumah yang selama ini di tempati bersama Firman dan anak-anaknya dengan alasan rumah itu banyak "penghuninya", selain itu moment yang tepat itu adalah ..
"Adist mau masuk SMP, udah bareng sama anakku aja."
"Kamu nggak bisa masuk ke sekolah itu jarak rumahmu jauh dari sekolah, kamu bisa menggunakan alamat rumahku."
"nggak perlu biar Adist sekolah daerah sini aja."
"Kamu nggak kasian, nanti gaulnya kampungan karena sekolah anakku lingkungannya orang-orang high."
__ADS_1
"Udah ikuti saran aku, mana kartu keluargamu biar aku yang urus administrasi pindahannya kebetulan aku ketua RT dilingkungan rumahku, jadi urusan begini sangat mudah untukku."
Dada Rani terasa pengap,
Rani bertanya pada Adist, ia mengikuti appaun keputusan Rani.
Serangan tante Yaya yang bertubi-tubi memaksa Rani mengikuti saran tante Yaya, akhirnya ia, menyerahkan kartu keluraganya untuk pindah alamat dan Rani terpaksa menyewa rumah petakan sempit milik suami tante Yaya.
Selain itu tante Yaya beralasan menghindari hal-hal klenik yang sering menyerang Rani dari mantan suaminya.
...
Tante Yaya selalu memblow up masalah kecil dengan drama-drama yang membuat Rani muak.
"Mas bakso 3 porsi ya!" lalu Tante Yaya dan Rani memilih meja,
Beberapa saat kemudian 3 porsi bakso datang ke meja tante Yaya dan Rani. Seperti biasa sajian topping baso ditaburi topping bawang goreng.
Tiba-tiba,
"Udah aku bilang kan ngga pake bawang goreng! masih aja di taburi bawang goreng." drama tante Yaya naik pitam hingga mengundang orang-orang yang sedang makan melihat ke arah Rani dan Tante Yaya.
"Maaf bu tadi mungkin gak kedengeran, biar basonya diganti." ujar pelayan sambil mengambil mangkok baso tante Yaya dan Mangkok baso Rani.
Rani mencegah, "Biar saja kalau punya saya nanti saya buang sendiri."
"Udah balikin lagi aja, suruh ganti dengan yang baru, aku nggak suka dengan aromanya, kurang ajar kebiasaan!" Teriak tante Yaya, pipinya yang mulai bergelambir ke bawah karena sudah memasuki usia kepala 4 nampak tak patut mengumbar amarah seperti iblis.
Pelayan mengambil 2 porsi komplit bakso milik tante Yaya,
"Kamu kalau order makanan baiknya ditungguin sampai benar-benar sesuai selera kamu! Aku jadi ngga selera makan liat kamu marah bersungut-sungut gitu." Ujar Rani yang tak nyaman dengan keadaan sekitarnya.
"Habisnya sebel! Tiap kali makan selalu di taburi bawang goreng!" Masih membela diri dengan bersungut penuh drama. Tante Yaya seolah menikmati pertunjukan yang ia sajikan depan orang-orang yang memperhatikannya sedangkan Rani dibuatnya risih.
...
"Tuh kenapa ya mobil baru 3 bulan koq knalpotnya sudah ngebul lagi?" Ujar tante Yaya sambil mengunyah bakso dalam mulutnya.
"Harusnya mobil umur 3 bulan ya nggak gitulah! mungkin hati pemiliknya nggak ikhlas." gumam Rani.
"Aku tau itu mobil kamu, dan kamu aku anter kemana-mana koq! cuma aku ngga rela aja tu mobil di pake keluarga kamu, apalagi dipake ibu kamu yang memperlakukan kamu kayak ke anak tiri ih! amit-amit!" Drama tante Yaya yang selalu memakai perilaku mama Rani yang lebih sayang pada Ranti sebagai senjata agar Rani menjauh dari keluarganya dan dia bebas menguasai Rani.
...
__ADS_1
#tobecontinue #trustory #kumiko #addakumiko