
Membayar karma masa lalu
Satu kesalahan seorang Windu, tak pernah memberikan perhatian pada tante Yaya, membiarkan tante Yaya melakukan berbagai macam hal sendiri termasuk berjibaku dengan torn, obeng, bor listrik dan perkakas maskulin lainnya yang sangat ia kuasai. Angkat galon? itu hal remeh untuk tante Yaya.
Lalu peran Windu dimana?
entahlah! Ia hadir untuk menyembunyikan status keduanya, bahwa mereka sama-sama menikah, sudah itu saja. Tanpa ada kata romantis atau personal life lainnya.
Tante Yaya mengutarakan isi hatinya pada Rani, sesaat setelahnya membuat bulu kuduk Rani begidik.
"Aku masih suka laki-laki!"
"Kamu bisa minta kebutuhan bathinmu pada suamimu, kamu gak perlu terlalu banyak ngurus dan mikirin aku Ya." Tambah Rani.
"Sudah jangan munafik, kita sama-sama butuh" Ujar tante Yaya di satu moment valentine seraya menyerahkan setangkai bunga mawar merah yang kesekian kalinya.
"Dari kecil, aku nggak suka bunga!, Mama gak pernah mengajarkanku berkebun, bercocok tanam apalagi menyukai bunga! Mama ngasih contoh padaku untuk jadi pekerja keras bukan penerima bunga mawar yang lebay" Ujar Rani menjelaskan panjang lebar.
"Lalu tahun-tahun sebelumnya kenapa kamu terima?"
"Aku terima tapi tiap kali itu pula aku lupa, setelah aku masukkan bagasi motor beberapa hari kemudian saat mau cuci motor baru ketauan, tau-tau membusuk bunganya!" Ujar Rani polos.
Raut wajah tante Yaya bermuram durja.
"Ya sudah tahun besok nggak akan ada lagi bunga mawar." sentak tante Yaya.
"No problem." Ujar Rani ringan.
Ia tak nyaman bersama tante Yaya, apalagi harus menerima 'cinta' nya. Sungguh diluar batas dan nista! "Dengan tidak menyatakan cinta saja sudah mengikat luar biasa, apalagi menerima cintanya." Pikir Rani.
Tante Yaya mengikat Rani seolah ia budak belian. Ia merasa ingin 'melindungi' Rani, 'jatuh cinta' pada Rani. Ia berlaga sebagai arjunamelindungi Sinta, namun Rani tetap memperlakukan dan menganggapnya perempuan biasa. Rani teguh bahwa perempuan adalah perempuan, meski sekuat apapun ia tetap perempuan.
Namun di balik itu tujuan tante Yaya hanya haus perhatian, sanjungan, pujian dari Rani namun juga ingin memeras pikiran, raga, hati dan jiwa Rani. .
Tante Yaya sungguh sangat tidak suka melihat Rani melebihi apa yang dia punya. Jauh sebelum Rani dan Firman berpisah perkiraan tante Yaya Rumah Tangga Rani harmonis maka list untuk menghancurkan satu rumah tangga sudah bisa di klaim.
Tante Yaya ingin menghancurkan dan memisahkan Rani dan Firman dan Tante Yaya berhasil.
Sekarang Rani diberi rezeki lebih bisa membeli mobil, hati tante Yaya panas membara tak terima diungguli Rani karena ia menganggap dirinya paling layak mendapatkan apa yang Rani dapatkan.
Tante Yaya berpikir Rani orang beruntung dengan fisik yang ideal dan proporsional. Ia berusaha keras menurunkan badannya, dan berhasil mengganti ukuran baju dan celananya yang tadinya seringkali memakai celana kulot jeans obrog, semenjak bersama Rani ia harus membeli baju-baju dan celana baru berukuran layaknya orang lain, dan lebih mudah di dapat meski tetap mengubek wagon-wagon pakaian khusus pria.
Semua ide yang keluar dari Mulut Rani selalu berbuah manis. Namun jika sudah berurusan dengan tante Yaya ide-ide itu akan menjadi petaka buat Rani. Rani seolah membayar karma masa lalu entah karma siapa yang harus ia bayar, Ia dipertemukan dengan orang yang tak tahu arah tujuan hidup, kemana ia akan kembali dan apa yang akan ia tuai dikemudian hari. Tante Yaya seperti rumah kosong yang "berpenghuni".
...
Dengan sifat naifnya Rani ingin menyampaikan perilaku tante Yaya pada Windu suaminya. Namun selama bertahun-tahun ia bungkam dan ia kubur rapat-rapat rahasia itu, karena diam-diam Windu menyayangi Rani. Rani tak mau merusak kondisi itu.
Seorang janda menjadi daya tarik tersendiri dimata pria, terlebih Windu. Rani yakin hasrat Windu masih sangat produktif, tidak seperti apa yang di gaungkan tante Yaya bahwa Windu sudah berhenti untuk bermain **** dan tak berhasrat lagi dengannya.
Rani selalu menarik perhatian Windu ketika sesekali Rani berkunjung ke tempat kerjanya, curi pandang Windu beberapa kali kepergok Rani, dan tante Yaya menyadari itu. Rani pikir perempuan dengan kelainan orientasi seksual yang menyukai peremluan sekaligus pria tak cemburu melihat suaminya melirik perempuan lain.
"Kamu tahu, setiap kali aku pulang dan bertemu dengan suamiku siapa yang pertama kali ia tanyakan? bukan aku , bukan pula anaknya! tapi dia menanyakan kabarmu!" Ujar tante Yaya dengan nada cemburu.
"Tenang, jangan khawatir, aku bukan type pelakor yang merebut suami orang dan memisahkan serta menghancurkan rumah tangganya."
Rupanya kata-kata Rani cukup menyindir tante Yaya,
"Aku bukan tega memisahkan kamu dengan Firman, tapi aku tahu kamu bukan dengan dia, tapi dengan orang lain tapi aku tak tahu siapa dia."
"Yang jelas bukan suamimu!" Tambah Rani.
Windu sangat senang jika diajak diskusi oleh Rani mengenai pengiriman barang. Ia tahu banyak tentang shipping dan harga serta pelayanan shipping kemanapun. Usaha Rani yang baru membutuhkan berbagai macam jasa pengiriman. Berhubung Rani belum punya pengalaman maka ia sering berdiskusi dengan Windu.
Karenanya Windu mulai memerhatikan kegigihan Rani memperjuangkan sesuatu, memulai usaha lalu bangkit kembali. Rani tak yakin Windu tahu alasan kenapa ia sering bergonta ganti jenis usaha, tante Yaya sangat pandai membuat drama dan playing victim, bisa jadi apa yang Rani lakukanpun tanpa Rani ketahui tante Yaya membuat alibi dan drama-drama lain diluar kejadian yang sebenarnya terjadi dan Windu percaya.
...
Usaha ke-3 Rani
Kasus Gunting
__ADS_1
Usaha Rani yang baru dibidang makanan dan minuman mulai disibukkan dengan pengiriman barang ke distributor, Rani mulai berkutat dengan kardus-kardus dan alat lainnya, tak ketinggalan tante Yaya yang selalu merecoki. Adist yang sudah Sekolah Menengah bisa membantu Rani dengan mengerjakan hal-hal ringan, seperti menggunting stiker, tante Yaya tak mengijinkannya karena menurutnya hasil guntingan stiker Adist tidak rapi. Ia lebih memilihnya membawa pekerjaannya ke rumah.
Di lain hari, stiker yang digunakan sudah habis dan butuh cutting baru. Tante Yaya merasa gunting yang dia pakai sudah ia bawa kembali ke rumah Rani. Ia sewot mencari-cari gunting dan menyalahkan Adist karena ia seringkali membantu Rani menggunting stiker. Sampai Rani kesal, karena tante Yaya bersikukuh kalau yang terakhir memakai gunting itu adalah Adist. Rani dibuat marah karenanya, dan melampiaskannya pada Adist sampai Adist terisak-isak karena Rani kena hasutan tante Yaya. tante Yaya terlihat bahagia dan puas ketika Adist menangis.
"Puas! Ibu anak itu tak lama lagi berpisah hingga aku bisa bebas menguasai Rani." monolog tante Yaya dengan dirinya.
Rani terpaksa memakai gunting dapur untuk sementara, setelah semua beres barang di pack dan siap diantar. Mereka mengankutnya dibawa ke dalam mobil Rani duduk di depan, dan melihat gunting yang biasa dipakai untuk stiker ada di dekat tuas rem tangan.
"Ini apa?"
"Koq bisa ya ada disitu?" Ucap tante Yaya dengan wajah merasa bersalah karena melihat Rani kecewa karena ulahnya.
"Anj**! gara-gara barang sekecil ini anakku nangis dan baper!" Teriak Rani sambil melemparkan gunting berwarna hitam polet biru itu ke dashboard depan stir. Tante Yaya terdiam.
"Halah gitu aja baper! emang anak kamu itu baperan."Ujar tante Yaya membela diri.
"Go***! teriak Rani kesal! Kamu jangan coba-coba merusak lagi hidupku setelah merusak keluargaku dengan tiba-tiba masuk dalam hidupku!" Rani mengamuk seraya menangis kesal di dalam mobil karena sudah terlalu kesal. Tante Yaya melongo kaget karena baru kali itu Rani bersikap di luar kendali.
Tante Yaya mencoba menenangkan Rani seraya menjalankan mobil menuju tempat pengiriman barang.
...
Balas dendam
Rani sedang ada event yang harus ia handle, ia seharian di hotel. Setelah Rani mengedrop Adist sekolah pagi ia langsung menuju hotel. Acara event itu di perkirakan Rani sampai jam 8 malam.
Jam makan siang, sekitar jam satu, Adist menelpon Rani, dia kehabisan uang dan gak bisa pulang. Rani bertanya posisi tante Yaya,
"Dimana Ya?'
"Dekat sekolah Anakku, kenapa?"
"Wah kebetulan, bisa nggak sekalian jemput Adist dan drop dia pulang ke rumah?"
"Waduh! mobilnya udah lewat, gak bisa putar balik. Nanti aku jam 2 balik lagi jemput ponakanku katanya lagi ekskul, suruh tunggu aja biar nanti sekalian aku jemput"
"Oh yaudah." Rani tenang dan kembali menelpon Adist.
"Adist sayang, Mama udah minta tolong ke tante Yaya jemput kamu tapi katanya jam 2 bisa jemputnya. Adist tunggu aja ya di post satpam biar nanti mobilnya masuk gerbang Adist bisa lihat."
Setelah adzan Isya telpon Rani kembali berdering, Adist menelpon kembali.
"Adist udah di rumah?" tanya Rani.
"Adist masih di post satpam Ma ini pulsa terakhir, Adist kedinginan karena disini hujannya gede banget, hujan es sampai masuk pos satpam.'
Rani kaget, ia pikir tante Yaya tak bisa di andalkan, lalu ia menelpon tante Yaya.
"Kamu dimana?"
"Di rumah nunggu jam 8 nanti jemput kamu dari hotel kan?"
"Anakku nggak kamu bawa sekalian tadi?"
"Eugh aku lupa, ponakanku tadi aku jemput tapi aku nggak lihat anak kamu ada di post satpam jadi aku langsung pulang setelah jemput ponakanku."
"Bang***!" Rani emosi, karena tante Yaya mengabaikan Adist. Padahal Adisti sudah sedari tadi menunggu dia sampai kelaparan dan kedinginan."
"Kenapa jadi marah ke aku?"
"Heh! denger ya! seumur-umur aku nyekolahin anak aku nggak pernah antar jemput anakku sendiri, ini kamu suruh-suruh jemput anak kamu! emang siapa dia?"
"Kamu nggak tau kalau dia nunggu kamu sampai kedinginan dan kelaparan!" Ujar Rani.
"Bukan urusaan gua! salahin bapaknya, kenapa anak kamu nggak nelpon bapaknya aja minta dijemput."
"Dia kehabisan pulsa makanya cuma bisa nelpon aku, ibunya!" Teriak Rani kesal.
Selesai telpon ditutup Adist, mobil yang dikendarai tante Yaya terlihat meluncur melewati sekolah menuju ke arah hotel dimana tempat Rani berada. Adist menatapnya penuh harap tante Yaya melihat dirinya ada di pos satpam menunggu jemputan, ia sangat sedih karena ia kedinginan dan perutnya lapar.
"Aku udah di parkir hotel!" Ujar tante Yaya.
__ADS_1
Rani kaget, "Bukannya kamu barusan bilang lagi di rumah?"
"Saat kamu nelpon aku baru keluar dari rumah"
"Nggak masuk akal! kalau kamu bener dari rumah, pasti melewati sekolah Adist, dan kamu kalau punya hati pasti melihat Adist di pos satpam. Apa salahnya kamu mampir dan mengajak dia bareng."
"Udah kamu turun, pulang dan jemput Adist bareng." Tambah Tante Yaya.
Hati Rani teriris iris. Ia tak pernah menduga kehidupannya dibawah genggaman perempuan dajjal ini lebih parah dari kehidupan sebelumnya.
...
Gemblung dan Bali
"Ma, bulan depan ada study tour ke Bali, ponakan tante Yaya juga tadi nanya ke Adist, Mau ikut nggak katanya?"
"Ikut aja gak apa-apa"
"Uangnya bisa dicicil kan ya?"
"Bisa Ma, dicicil 3x, jadi 1sx nya bayar 1 juta."
"Iya gak apa-apa Mama udah tahu dari grup orangtua, mama udah daftarin Adist koq." Jawab Rani saat percakapan mereka selepas Adist pulang sekolah. Tante Yaya mencuri dengar.
"Adist ikut aja ma kalo ponakan tante Yaya ikut, biar ada temen ngobrol soalnya yang banyak ikut diluar kelas Adist."
"Iya ikut katanya dia."
Keesokan harinya, saat Rani memberika uang cicilan ke-2 depan tante Yaya, dititipkan ke Adist.
"Ini uang cicilan ke-2 tolong langsung bayarin sama Adist ke wali kelas ya biar nggak hilang.'
"Iya."
Setelah Adist pergi menggunakan kendaraan online. Tante Yaya terlihat keki pada Rani, mata setannya mulai beraksi.
"Eh ponakan aku ngga jadi ikut, nggak diijinin sama bapaknya."
"Ya udah nggak apa-apa, biar Adist mandiri, pasti disana banyak teman koq."
...
Sore harinya saat Adist pulang dari sekolah, tante Yaya menyampaikan kembali,
"Eh Dist ponakan aku nggak jadi ikut ke Bali katanya nggak diijinin sama bapaknya."
"Yah Adist nggak jadi ikut ah, nggak ada temen."
"Nggak apa-apa nak, ikut aja."
"Nggak ah Ma, males orangnya nggak akrab semua, soalnya study tournya juga nanggung pas pulang dari Bali masa langsung ujian sekolah. kan aku belum belajar juga." Ujar Adist.
"Terus uangnya gimana?"
"Tinggal ngambil aja, cancel!" Ujar tante Yaya.
Saat itu juga Rani menghubungi pihak koordinator travel untuk membatalkan keikutsertaan Adist dan mereka tak keberatan.
...
H-1 keberangkatan ke Bali, Adist pulang setengah hari karean semua guru-guru pergi ikut studi tour.
Tante Yaya ada di rumah,
"Eh ponakanku jadi juga deng pergi ke Bali, dia seneng banget!"
"Lah! katanya nggak ikut!" Ujar Rani.
"Padahal kan pendaftarannya waktu itu cuma beberapa hari karena pihak travel harus booking hotel barengan kalau ada susulan mereka nggak akan terima.
"Nggak tau tuh! pokoknya seneng aja liat ponakanku seneng." Ujar tante Yaya merasa menang karena tak tersaingi Rani.
__ADS_1
Rani geleng kepala. "Dasar ular berkepala dua!" Gumam Rani.
#tobecontinue #truestory #kumiko #tanteyaya