TANTE YAYA

TANTE YAYA
Blurr!!


__ADS_3

Jauh sebelum meninggalnya ibu eyang dan mas Bagus,


Pagi itu Shaira memasuki ruang kelas, anak yang belum genap 5 tahun itu mulai mengacungkan handphone ke arah miss Fath saat kelas dimulai ketika miss Fath mulai tampil depan kelas. Selepas kelas rehat di jam 10 Shaira menghampiri Miss Fath dan menunjukkan hp nya.


"Miss liat fotoku bagus ga? tadi pagi sebelum berangkat mami aku minta fotoin Miss Fath pake hp"


"Sini Miss liat.."


Tampak hasil foto Shaira blur ga tentu arah dan gak ada objek yang bisa di lihat di layar handphonenya.


"Boleh miss tau fotonya buat apa?"


"Aku ga tau, mami yang suruh"


Tetiba perempuan berperawakan tinggi besar nan sintal yang sedari tadi mengintip di balik jendela kelas itu masuk ke dalam ruang kelas, memanggil Shaira dan merebut handphone yang sedang di pegangnya.


"Yuk istirahat dulu kaka! dari tadi mami tunggu koq ga keluar-keluar" Ujar Tante Yaya dengan suara geram.


Miss Fath terkaget,


"Gak apa-apa bun, Shaira pengen fotoin saya kayaknya tapi gak bisa fokus"


Seketika raut wajah tante Yaya memerah antara malu dan marah niatnya mengoleksi foto miss Fath ke pergok gegara Shaira,


"Gak apa-apa miss maaf suka kurang ajar ni anak."


Tak ayal tubuh kecil Shaira di tarik keluar kelas terdengar suara lirihnya mengaduh kesakitan,


"Ampun mami, ampuunn, sakiit .. sakiiit"


"Kenapa bilang bilang kalo mami yang minta fotoin miss Fath?" gemeretak gigi tante Yaya terlihat geram, tatap matanya tajam menghujam Shaira.


Miss Fath lari keluar memburu ibu dan anak itu mencoba melerai.


"Gak apa apa bun! Gak apa apa bun! lepasin bun kasian!" pinta miss Fath khawatir.


Tubuh kecil miss Fath tak mampu melerai mereka, Rani yang sedari tadi memerhatikan kejadian itu segera keluar dari kantor, lari memburu ibu anak itu dan merangkul tante Yaya menjauh dari Shaira, miss Fath memanfaatkan moment itu untuk menarik Shaira membawa masuk ke dalam kelas.


"Gak gitu bun caranya, kasian masih kecil.." sergah Rani.


"Dasar anak brengsek! kurang ajar!" sungut tante Yaya.


Mata liar tante Yaya terlihat memerah, menoleh ke arah Rani, mulai memerhatikan Rani, nafasnya yang tersengal perlahan mereda setelah aroma bunga tanjung dari tubuh perempuan tinggi langsing berkulit langsat itu melepas rangkulannya sesaat. Wajah polos yang baru ia lihat pagi itu menarik perhatian tante Yaya.


"Cantik juga ni cewek tapi ada sesuatu yang kurang tapi apa ya!" gumamnya dalam hati.


"Duduk bun, duduk .. "Rani mengajak tante Yaya duduk di kantin yang tak jauh dari kelas.


"Miss guru baru disini?"


"Bukan bun, saya nunggu anak juga kebetulan saya ngantor juga disini, samping sekolah."

__ADS_1


"Oh gitu!"


Tatap mata tante Yaya tak lepas memerhatikan Rani, wajahnya yang tirus, jarinya yang panjang lentik serta kakinya yang jenjang meski terbalut celana panjang coklat membuat hati tante Yaya terpikat. Sangat berbeda dengan dirinya. Jari-jari yang gendut dan panjang, betis mirip pohon talas dan tubuh yang tambun seringkali membuatnya insecure.


Pukul 11, teriakan suara anak-anak kecil riang berhamburan keluar dari dalam kelas, masing-masing mereka ada yang berlarian menuju jemputannya yang sudah menunggu, ada pula yang berlari menuju taman bermain. Tak terkecuali Shaira, ia berlari kecil menghampiri tante Yaya.


"Mami, aku mau main ayunan dulu ya" Teriak Shaira sembari melempar tas sekolahnya ke pangkuan Tante Yaya seolah tak terjadi apa-apa dengannya satu jam yang lalu.


"Iya sayang, tapi gak lama-lama" Jawab tante Yaya.


"Saya Rani"


"Yaya, mereka suka panggil saya Tante Yaya tapi kamu boleh panggil Yaya aja."


Begitu perkenalan mereka saat awal bertemu, tanpa jabat tangan layaknya awal perkenalan.


"Saya tinggal dulu ya, kebetulan Adisti juga sudah keluar pasti lagi nunggu di kantor."


"Eh boleh minta nomernya?"


"7598990" Sahut Rani


"Oh nomor flexi, nanti aku sms ya"


Rani mengangguk seraya meninggalkan tante Yaya.


Aula berdinding kaca itu riuh dengan anak-anak berlarian menunggu guru mereka untuk cooking class pagi itu. Shaira happy membawa beberapa makanan yang siap ia praktekan bersama miss Fath, Anak dari kelas kecilpun ikut bergabung sebagai penonton dan di dalamnya ada Adisti anak Rani yang baru berumur 4 tahun.


Rani berada di belakang ruang kantor, sementara tante Yaya berusaha mengetuk pintu kaca dan Rani menoleh ke arahnya.


"Ponselnya udah aku isi pulsa ya Ran!"


Rani mengernyitkan dahi tanda tak mengerti, lalu mendekat dan menghampiri.


"Ya kenapa Yaya?"


"Nomer ponselnya udah aku isi pulsa!" ujar Tante Yaya sembari melengos meninggalkan Rani.


"Tapi, aku gak pesan Yay!" suaranya tercekat karena ia tau suaranya tak kan didengar tante Yaya yang menjauh, lalu ia putuskan menekan nomor operator untuk mengecek pulsa. Benar saja pulsa sebesar 10 ribu masuk menambah saldo.


Beberapa bulan setelah perkenalan,


"Tasnya kita yang pilihin Ran, kebetulan kita giliran saling kasih hadiah buat para ortu yang lagi ultah, cantik kan tasnya?" ujar tante Yaya dan Kiki ibu salah satu teman Shaira, menghampiri Rani saat gathering ortu jelang kenaikan kelas.


"Wah aku baru tau kalo ortu juga dapet perhatian, biasanya buat guru anak-anak kita aja ni yang dapet beginian!" Tukas Rani heran.


Gathering para orangtua riuh dengan tawa, sementara Rani yang tak nyaman dengan banyak orang lebih memilih hengkang dan pamit kembali menuju kantornya, perempuan bertubuh kutilang itu berjalan meninggalkan aula diiringi tatapan tante Yaya dan Kiki.


"Terus miss Fath jadi kita kasih? bisik Kiki."


"Jadi kasih yang biasa aja, agak susah deketin dan dapetin orangnya."

__ADS_1


"Hoh! gitu ya?" Kiki melongo heran.


"Eh, kirimin lah foto-foto gatheringnya, aku nyalain bluetoothnya" jawab tante Yaya mengalihkan perhatian.


Tak menunggu lama, foto-foto gathering terduplikasi dari handphone Kiki ke handphone tante Yaya.


Dengan cermat mata tante Yaya memilih satu persatu foto.


"Nah! dapet!" Mata tante Yaya berbinar saat melihat foto miss Fath dan Rani.


Kiki mendekat begitu melihat perubahan raut wajah tante Yaya,


"Lihat foto siapa sih? girang amat!"


Buru-buru tante Yaya merubah posisi duduk dan berusaha bersikap normal.


"Jangan bilang kalo loe suka perempuan Tant! gua gak suka ah!" seru Kiki keras.


"Apaan sih loe!" sergah perempuan bernada suara bass bariton itu.


"Tant, apa ngga berlebihan tu pake acara ngasih-ngasih tas ke Rani momsnya Adis, antar ortu sebenernya ga biasa sih ngasih-ngasih gitu tapi aku sih gak masalah toh bukan duit kas kelas!" Ujar Kiki protes.


"Udah jangan bawel, kalo loe pingin menguasai seseorang, penuhi semua kebutuhan orang itu! paham loe?!." Gumam tante Yaya menyeringai licik.


"Ah ada-ada aja loe mah!" jawab Kiki melengos kecewa.


"Becandaaa becanda, jangan seriusan lah ntar cepet tua hihi!" sergah tante Yaya.


"Thanks Ki, loe jadi jalan gua buat dapetin foto-foto miss Fath dan Rani" Gumam tante Yaya dalam hati.


"Bang print in ya 2 foto ini"


"Siap tant, kirim via bluetooth aja ke device komputer"


Tampak 2 wajah perempuan yang berbeda siap di print out, tampil di layar komputer tukang fotocopy sudut jalan menuju rumah tante Yaya.


...


"Jangan lupa beli kembang 7 rupa dan anglo dupa yang baru Yay kemarin pecah kesenggol kucing" teriak ibu eyang ketika mendapati tante Yaya yang siap berangkat lagi setelah ngedrop Shaira pulang.


"Iya bu, aku tau ini malam Selasa Kliwon"


...


Uwa Asih pembantu rumah ibu eyang, melihat ke arah bawah tangga menuju kamar atas tante Yaya, nampan kecil dengan kembang 7 rupa yang sudah mulai layu, secangkir kopi hitam, satu buah pisang, anglo dan kemenyan yang baru di beli tante Yaya kemarin siang, beberapa lembar foto tertelungkup dan ceceran batang korek api.


"Tant, sesajennya uwa beresin jangan?"


"Jangan Wa, biarin aja"


#tobecontinued

__ADS_1


#truestory


__ADS_2