TANTE YAYA

TANTE YAYA
Kutilang


__ADS_3

Pagi itu dari kejauhan sosok Kurus Tinggi Langsing keluar dari Kantor Yayasan yang terpisah dari sekolah, ibu-ibu yang menunggu anak-anak di kantin sudah sangat mengenal sosok ini tanpa kecuali tante Yaya.


Stelan blazer tunik dengan celana panjang plus sepatu heels tampak serasi di pakainya, tak lain dan tak bukan dia Rani.


Kulitnya yang langsat, jemarinya yang lentik membuat banyak teman kantornya yang tertarik terutama bapak-bapak pengurus yayasan. Kehadirannya di antara pengurus yayasan selalu mendapat tempat yang hangat meski Rani bukan bagian dari mereka.


Tak dipungkiri, meski tanpa Rani minta berbagai kemudahan Rani dapatkan. Seperti mudahnya mendapat vendor untuk setiap event yang dia handle, mendapat perlakuan ramah sampai pulsa handphonenya yang tak pernah sekarat karena selalu diisi pak Bendahara yayasan.


Sebelum keluar dari kantor yayasan,


"Ran, beliin bapak pulsa yang 100 ini nomornya", ujar Pak Lucky laki-laki pensiunan PNS pemda yang menjabat bendahara yayasan.


"Baik pak, Rani bantu."


"Sekalian isi punya Rani juga yang 100, ini uangnya."


"Waduh jadi ngga enak", ujar Rani tersipu.


Firman laki-laki buntet berkulit setengah legam dengan kaki tak jenjang memerhatikan mereka, meski ia terlihat sibuk dengan kertas dan printer.


"Oiya nanti tolong temani Erlin beli konsumsi untuk sambutan kunjungan pak Walikota."


Erlin perempuan muda seusia Rani, simpanan pak Lucky ini sudah mendampinginya sejak pak Lucky masih aktif sebagai PNS. Erlin keturunan ningrat sangat pemilih dalam berteman, namun dengan Rani dia merasa nyaman dan Pak Lucky senang melihatnya.


"Baik pak, insyaallah Rani temenin kalo sudah selesai ketemu klien" Ujar Rani seraya meninggalkan ruangan untuk membeli pulsa di counter depan kantor.


....


Malam hari setelah Rani dan Firman kembali di rumah, Rani menyiapkan keperluan sekolah Adisti dan Akbar untuk esok pagi. Akbar kakak laki-laki Adisti sudah kelas 4 Sekolah Dasar 5 tahun lebih dulu lahir dari Adisti adiknya.


"Seharian ini kamu ngapain?, Cuci baju aja gak bisa! tuh numpuk cucian di mesin cuci ga kamu sentuh!", seloroh Firman.


"Pompa airnya lagi macet mas, bapak belum bisa benerin karena bapak pulang kerjanya malam terus", Jawab Rani.


"Mas enak, mau mandi tinggal pergi ke kantor pagi-pagi. Lah kita! aku dan anak-anak mau mandipun ikut ke rumah ibu", tambah Rani.

__ADS_1


"Ah sudahlah, aku gak mau berdebat! bilang sama bapakmu cepet benerin pompa airnya biar anak dan cucunya bisa mandi",


"Oiya sekalian bilang kakakmu, motorku remnya udah gak enak dipake jadi aku tali pake tali ban"


"Satu lagi, transfer aku pulsa, aku tau pulsamu banyak!" Pinta Firman ketus.


....


"Bang, Firman bilang tolong benerin motornya, udah ga enak dipakai bagian rem katanya". Ujar Rani saat menemui kakak laki-lakinya.


"Bisa ga tu si Firman ngomong sendiri langsung sama aku! tiap kali ada masalah dengan motornya, selalu kamu yang ngomong! udah hidup bareng tahunan juga gak punya etika cara berkeluarga!" sungut Rahmat kakak tertua Rani seorang mekanik andalan bengkel motor Yama*a.


Rani terdiam, dan pamit pulang.


...


"Mas bilang sendiri deh sama Bang Rahmat, dia protes maunya mas lah yang ngomong langsung", ujar Rani sesampainya di rumah.


"Yaudah kalo ga mau bantu, jangan salahin aku kalo ntar adik dan ponakannya ga bisa makan! karena ga bisa pergi kerja" Ujar Firman pongah.


"Ngga gitu mas mikirnya", tambah Rani pelan dan sabar.


....


...


"Tinggimu berapa sih Ran?"


"165" Jawab Rani datar.


"Lebih tinggi aku dong! aku 170" ujar tante Yaya.


"Ya ngga masalah, yang penting sehat wal afiat!", Gumam Rani.


"Tapi ibu-ibu bilang, kamu keliatan lebih tinggi dari aku! kenapa ya?"

__ADS_1


"Entahlah! tanya aja sama mereka" ujar Rani ketus.


"berat badan kamu berapa?"


"55!, Kamu?"


"Aku 109!"


"Ngga usah ngerasa saingan dan insecure gitu, just be yourself" tambah Rani.


Sebotol air dingin dengan tetesan chlorofil akhir-akhir ini menjadi candu tante Yaya. melihat itu Nissa penasaran.


"Apa itu tant? koq air mineralnya di tetesin warna hijau?"


"Ini chlorofil, 1 botol kecil ini mahal harganya, kamu gak bakalan mampu beli!", ujar tante Yaya.


"Wuiidiiih, mang fungsinya buat apa tante?"


"Bisa buat bikin body aduhai!"


"Hiihii, jadi ceritanya tante pengen langsing ya kayak bu Rani" tawa Nissa sedikit mengejek.


tante Yaya cemberut.


"Eh anak kecil! masih mending aku daripada kamu, Aku sarjana hukum tapi gak pernah ngalamin kerja kantoran kayak kamu apalagi cuma jadi staf!"


"Iya, gak apa-apa tante, akhirnya tante gak punya squad kan? hehee ... lonely, lonely!" ejek Nissa seraya pergi meninggalkan mejanya keluar kantor menghindari tante Yaya yang keki padanya.


"Kurang ajar mang tu anak, makanya aku ngga suka dia deket kamu Ran!" Gumam tante Yaya mengadu pada Rani.


...


Tante Yaya berpikir keras bagaimana caranya memisahkan Rani dari orang-orang terdekatnya dan Kini kantor Rani menjadi rumah kedua tante Yaya, sehingga semua pergerakan Rani bisa ia pantau.


...

__ADS_1


#tobecontinued


#truestory


__ADS_2