
Menurut orang Rani cantik, terlihat percaya diri dan modis namun sesungguhnya dalam diri Rani ada luka yang menganga yang belum sembuh yang tidak disadari. Ada sesuatu yang belum beres dalam diri Rani,
"Kamu tu cantik tapi kenapa ya kayak ada sesuatu yang kurang!" kata temannya.
Dulu Rani pikir seringkali jadi pertanyaan dalam benaknya kenapa dirinya kesulitan meraih segala keadilan, baik keadilan kehidupan maupun keadilan cinta. Namun ternyata setelah healing ia menemukan jawabannya sendiri, Ia tahu tanpa ia sadari semakin lama Rani menyimpan rasa sakit itu semakin mendekatlah orang-orang yang semena-mena memanfaatkan waktu, diri dan kehidupannya, untuk membangun harapan dan tujuan mereka sedangkan Rani diliputi rasa takut dan dihantui rasa bersalah jika ia menolak, sedangkan Rani sendiri sering mendapat penolakan. Menurutnya ini sungguh tak adil, namun ternyata Rani sendiri yang membangun itu semua.
Rani sadar, ia sedang bercermin. Ketika ia menjadi objek yang baik maka bayangan baikpun akan mengikutinya. Tapi selama ini Rani berperan sebagai bayangan yang mengikuti objek dimana objek itu adalah memikirkan perlakuan ibunya, kakaknya, Firman dan tante Yaya mereka sebagai objek yang Rani ikuti dengan mengingat ingat perlakuan dan rasa pedih yang Rani simpan berpuluh tahun.
"Rani kapok! Rani nggak mau lagi jadi bayang-bayang mereka!" Pekik Rani dalam hati. 𝘪𝘵𝘴 𝘵𝘪𝘮𝘦 𝘵𝘰 𝘭𝘦𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘰!
...
Rani siap bermetamorfosa dengan menjadi seseorang yang baru. Ia memutuskan melanjutkan studinya. Bertemu dengan orang-orang baru.
Segera setelah lepas dari tante Yaya. Perlahan ia dipertemukan dengan bos baru yang memberikan project jangka panjang. Keberuntungan seolah satu persatu masuk dalam antrian Rani. Cash money dan transferan silih berganti datang dengan mudah.
"Tenang kamu tak sendirian, terima kasih sudah percaya dan bersedia bekerjasama dengan saya." Ujar Pak Muhammad dengan senyum manis semanis kulitnya yang hitam manis.
Ada perasaan bagaikan marsmallow berselimut salju dalam hati Rani ringan, lemnbut, lapang dan bahagia, Rani baru menyadari bahwa ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang peduli padanya. Pak Kiai guru spiritualnya menawarkan umroh bersama travelnya, Rani cek passpornya masih berlaku dan budgetnya mencukupi. Ia memutuskan pergi bersama rombongan pak Kiai dua minggu kemudian setelah mengikuti berbagai proses dan tahapan administrasi.
Satu moment di masjid nabawi, saat ia sholat bersama 𝘳𝘰𝘰𝘮𝘮𝘢𝘵𝘦 nya, dari telapak kaki Rani terasa ada sesuatu yang melepaskan diri ke arah belakang, sat! set! sat! set! hingga Rani tak mampu menahan badannya untuk tetap berdiri kokoh saat sholat, badannya sempat oleng beberapa saat karena menahan menyeimbangkan badan dan tarikan sesuatu itu keluar melesat dengan cepat.
Ia sampaikan kejadian itu pada Kiai, dan menurut pak Kiai,
"Alhamdulillah Allah masih melindungi Bu Rani, mereka telah meninggalkan bu Rani selama berpuluh tahun, Mudah-mudahan mereka enggan kembali lagi dan kembali pada pemiliknya."
"Aamiin ya rabbal a'lamiin." Rani mengaminkan.
__ADS_1
...
Sepeninggal Rani, di hati tante Yaya seperti ada yang hilang dan terasa hampa. Tante Yaya baru menyadari kalau dirinya kehilangan Rani. Hari-hari selanjutnya ia isi dengan melihat handphone terus menerus, memantau pergerakan Rani dari media sosial. Namun hari berganti hari, minggu berganti minggu ia tak menemukan pergerakan apapun dari Rani.
Rani sengaja menyetting setiap postingannya tidak untuk konsumsi publik ia hanya peruntukan orang-orang yang berteman saja dengan Rani. Tante Yaya cemas dan stress, karakternya yang pemarah membuat seringkali melampiaskan amarahnya pada orang-orang sekitar rumah, termasuk pada anak-anak kecil yang sedang bermain di jalanan gang rumah tinggalnya.
Ketika tante Yaya tergopoh keluar, bersungut memarahi mereka. Anak-anak itu berteriak awas "bison jantan" keluar kandang!!! Lariii !!!. Mereka tahu tante Yaya punya orientasi seksual yang berbeda, para ibu-ibu tetangganya tahu bahwa selain tante Yaya pengedar, ia pun biseksual oleh karenanya diam-diam mereka punya julukan tersendiri untuk tante Yaya.
Windu tak pernah terlihat lagi nongkrong di warung bu Ikah. Darisitulah kecurigaan tetangga pada Ketua RT nya makin menjadikan sasaran empuk bahan gosip.
"Heh Bocil! busan-bison-busan-bison! siapa yang ngajarin mulut lo manggil orangtua busan bison hah!" Teriak tante Yaya ketika mendapati anak-anak yang sedang main bola berbisik-bisik dan terbirit menjulukinya bison.
"Bilang sama emak lo! ngaji aja di masjid tapi kelakuan masih suka ngegosip! mendingan nggak usah pada ngaji sana sini, mending mancing aja sama gua! mancing keributan! Sini lo pada" Tante Yaya berteriak-teriak pada anak-anak yang mulai menjauh dari posisinya.
...
Dari tubuh tambunnya beberapa penyakit mulai tante Yaya rasakan dari mulai dada kirinya yang kram tiba-tiba sampai kaki kanan atau kirinya membengkak tak terkontrol. Jauh sebelum kenal dengan Rani, keluhan inipun sering terjadi. Dengan badan kembali obesitas dan kaki yang sering bengkak, membuat aktifitas tante Yaya tak selincah beberapa bulan lalu saat terakhir bertemu dengan Rani.
Satu pagi pinggangnya sakit luar biasa ia tak pernah sesakit ini. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya menahan sakit. Untuk berteriak pada Wa Asih saja tak mampu. Mukanya pucat. Tante Yaya berusaha menggeserkan badannya menuju pintu, Gemblung keponakannya melihat tante Yaya.
"Kenapa tante jalannya ngesot gitu?!"
"Diam gemblung! pinggang gua sakit banget tolong panggilin Wa Asih, bantu bopong gua ke bawah!"
Gemblung berteriak memanggil Wa Asih,
"Uwaaa bantuin tante Yaaaya!"
__ADS_1
Gemblung turun meninggalkan tante Yaya sendirian.
Wa Asih datang, ia kaget.
"Wa tolong bantu gua ke bawah, pinggang gua sakit banget sampe gak bisa jalan."
"Sekalian beliin pil Sentian di apotik China depan."
Wa Asih membantu menyeret tante Yaya turun ia tak kuat jika harus membopong badan tante Yaya yang besar.
Hati tante Yaya terasa perih, tak terasa air matanya tak terbendung lagi, ia terisak. Wa Asih melihat dan mencoba berempati,
"Udah tant kan ada Uwa, biar tante Uwa urus."
"Makasih Uwa."
Tante Yaya duduk di ruang tamu, sudah berhari-hari ia tak bisa bangun dan bergerak, Wa Asih datang di pagi hari untuk membuang popok sehari sekali. Badan tante mulai mengeluarkan bau yang tak sedap pup dan puk yang bercampur menjadi satu membuat dia tak nyaman namun ia harus bersabar menunggu Wa Asih keesokan harinya saat dia datang.
Shaira lebih memilih berdiam diri dengan bayinya di kamar dan sesekali keluar jika akan makan, ia akan sangat marah jika tante Yaya minta tolong.
Jika tante Yaya minta makan dan minum Gemblung yang terpaksa melayaninya dengan ketus, karena ia enggan mencium bau di sekeliling tante Yaya.
Kehidupan finansial yang tak stabil, debt collector yang terus menerus meneror belum lagi kebutuhan harian harus menanggung Shaira dan cucunya membuat tante Yaya sering merasa stress, naik gula darah serta darah tinggi, jantung dan ginjal akibat minuman keras yang sejak muda ia konsumsi mulai bereaksi.
Ia sangat sedih, tak ada orang yang peduli padanya.
Tiap hari ketika bangun tidur tak ada lagi orang yang ia harus kejar, tak ada lagi yang membuatnya semangat dan harapan tante Yaya jika Tuhan kabulkan perasaannya hanya satu! ingin mati! namun ia teringat pada Shaira dan cucunya yang harus ia jaga.
__ADS_1
...
#tobecontinue #truestory