TANTE YAYA

TANTE YAYA
POV Rani Healing


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Rani kembali update status di facebook sedang berada di hotel pullm**. Tante Yaya girang. Dia coba mengirim Whatsapp dari nomor barunya agar bisa mengirim pesan pada Rani.


Sebuah donat dengan lumeran coklat, lemon tea hangat dan sepotong omelette fresh from panggangan tersaji depan meja Rani, pemandangan garden dan swimmingpool sungguh membuat Rani bahagia dan bersyukur selalu berada di tempat yang dia inginkan.


Ia mulai menyeruput lemon tea hangat, memotong omelette dan memasukkannya ke dalam mulut, mengunyah dan merasakan aroma telur bercampur susu, keju, daging asap dan paprika yang gurih menyatu dalam satu kunyahan, Rani sungguh menikmatinya, lalu mengulanginya sampai tersisa piring putih beraroma omelette yang tersisa, ia kesampingkan lalu menyeruput lemon tea hangatnya.


Ini impian nya sedari dulu bekerja sesuai dengan passionnya, travelling dan sekaligus mendapat bayaran sungguh nikmat tiada batas.


...


Tetiba, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


"Selesai jam berapa di hotel? Nanti aku jemput."


Dahi Rani mengernyit, dari bahasa pesannya Rani sudah tau perempuan dajjal itu yang mengirim pesan. Tapi darimana dia tau kalau dirinya sedang ada event? gumam Rani.


"Aku tau kamu lagi event di pullm**, jangan kaget gua kan detektif." Pesan selanjutnya di tambahi emot tertawa.


Rani mengabaikan, ia tak mau merusak suasana hatinya yang sedang bahagia dengan tergoda membalas pesan dari orang tak jelas. I melanjutkan dengan lumeran coklat yang menyelimuti sang donat. Ia potong, tusuk dan memasukannya ke dalam mulut, mengunyah dan menikmati aroma coklat dengan daging donut yang lembut. Setelah piringnya kembali bersih, ia kembali menyeruput lemon tea yang tak lagi panas, namun tetap nikmat.


Tak lama kemudian sebuah pesan gambar diterima,


Gambar telapak tangan di penuhi dengan lendir menjijikan yang dipamerkan perempuan itu membuat aktifitas makannya terhenti sejenak, Rani mual.


"Masturbasiku pagi ini membayangkan aku bercinta denganmu, nikmat banget sampai merem melek dan membuat panggulku bergetar tanpa henti!" Pesan selanjutnya.


"Pokoknya nanti siang aku jemput kamu ya sayang aku ke hotel."


"Heh! setan alas! baca ini baik baik!


semenjak hari itu aku di usir dari mobil yang aku perjuangkan untuk menafkahi anak-anakku, sejak hari itu juga aku bersumpah, Aku simpan semua air mata dan kesedihanku di mobil itu, siapapun yang masuk dalam mobil itu ia akan merasakan kesedihan yang tak berujung dan takkan pernah merasakan kebahagiaan selama perjalanan hidupnya."


Lalu Rani me-report dan memblokir nomor tante Yaya yang baru.


Nafas Rani tersengal, lalu ia membenahi posisi duduk dan menarik nafas sejenak lalu menghembuskan beban yang sempat bergumul di hati dan kepalanya.


Ia melanjutkan menikmati lemon tea dan melirik seseorang bercadar menghampirinya untuk ikut mengisi kursi kosong di hadapan Rani. Rani tak keberatan, itu artinya fokusnya teralihkan pada orang baru yang mengajaknya berkenalan dalam satu meja.

__ADS_1


...


Selesai acara, Rani memilih tak langsung pulang, dari ketinggian lantai 11 di temani secangkir capuchino yang ia buat, croisant strawberry dan bolu gulung lengkap menemani kudapan sore itu, ia membuka jendela dan menatap kesibukan kota dari ketinggian, birunya langit perlahan berganti dengan awan kelabu berbaur lembayung menyambut malam, kelap kelip titik lampu mulai menyapa tatapan Rani.


Satu tarikan nafas berat dan kembali di lepas hembuskan Rani menyingkirkan beban yang selama ini masih mencengkeram dadanya,


Ia merenungi perkataan temannya, '𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘩𝘦𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨, 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘙𝘢𝘯', lalu Rani merefleksi diri tentang apa yang ia alami selama ini. Hela nafasnya panjang, tatapannya jauh mengamati batas langit yang bergerigi dengan gedung-gedung tinggi dan puncak-puncak gunung merobek hamparan langit.


Ia tak ingin lagi bertanya mengapa di kelilingi orang-orang toxic, wajah mamanya, kakaknya, Wajah Firman dan wajah Tante Yaya silih berganti seperti slide film dalam pandangan Rani.


Mereka-mereka yang mengungkung dirinya hingga hidupnya terseok-seok tanpa arah tujuan.


Cukup sudah pertanyaan itu menyembul dalam pikiran Rani, Rani tak ingin bertanya lagi Mengapa! ia khawatir semesta akan menjawab pertanyaan itu dengan kembali menghadirkan orang-orang toxic dalam hidupnya.


Ia sadar sepenuhnya, bahwa seharusnya dia sendiri yang harus memperbaiki rasa dan pikiran yang ada dalam dirinya terlebih dulu agar tidak lagi mengundang setan berwujud manusia yang mampir merecoki hidupnya.


Ia sadar telah mengabaikan dan mempermaklumkan warning bendera merah yaitu intuisi dari dalam dirinya, ketika pertama kali Firman hadir menyapa dirinya. Rani terlalu gegabah dan menganggap lumrah setiap perilaku aneh yang nampak, padahal itu tanda semesta agar Rani waspada. Seharusnya ia tak mengijinkannya masuk dalam kehidupan Rani namun lebih memilih mengabaikannya.


Ia pun kembali bertindak gegabah dan mengabaikan intuisi lainnya ketika pertama kali tante Yaya menghampirinya bertingkah aneh, norak, caper, bertingkah tak wajar dan lalu ia merasa bisa mentolerir hal yang tadinya ia anggap tak biasa menjadi bagian dalam kewajaran dalam hidupnya dan itu menjadi jebakan maut untuk kehidupannya.


Ia sadar tak bisa lari dari kenyataan menghindari dan tak bisa menolak menjadi seorang anak dari seorang ibu yang sama-sama punya rasa sakit di masa lalu, lalu ia tularkan rasa sakitnya pada Rani dengan berlaku tak pernah mau mengerti siapa dirinya, tak pernah menganggapnya ada, tak pernah dihargai apapun yang menjadi pilihannya.


Ia tak menyadari bahwa rasa kecewa, sakit hati dan persona dirinya yang salah, akan menarik orang yang sefrekuensi dengan dirinya, terkoneksi dengannya dan itu yang membuat hidupnya berantakan dan dalam kuasa orang yang salah.


...


Rani tumbuh menjadi sesosok manusia yang tak punya batasan sehingga dirinya sendiri yang menjadi korban manusia-manusia jahannam itu, membuat dirinya sebagai magnet yang menyedot manusia-manusia pesakitan bermental comberan busuk.


"Astaghfirullahaladzim,"


"Astaghfirullahaladzim,"


"Astaghfirullahaladzim,"


Rani mengambil pensil dan kertas notes disamping meja telpon hotel. Ia menuliskan semua rasa sakit yang pernah ia ingat sepanjang hidupnya. Dan mulai menggoreskan apa yang terlintas dalam benaknya,


"Mungkin luka ini yang membuatku menarik orang-orang yang sama-sama terluka mendekat kepadaku." monolog dengan dirinya sendiri dengan mantap memegang pensil dan notes.

__ADS_1


Dalam tatapan nanar, ia mencoba menggambarkan merunut kembali luka batin yang menganga yang harus ia pungut kembali satu persatu.


Ia melakukan healing dengan membayangkan ia sedang mencoba masuk dalam satu ruangan besar dan kosong. Ia mulai menuruni anak tangga ke ruang bawah tanah yang gelap dengan sedikit cahaya di sisi kanan jendela yang tertutupi lumpur berbau comberan busuk ia kumpulkan rasa-rasa itu ke dalam satu ruangan besar. lalu ia mendengar suara dari lumpur itu berkata,


"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢, 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘪𝘣𝘶𝘬𝘶. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢."


Lalu Rani masukan mereka dalam karung besar, Rani masukan ke dalam ruangan kosong itu, lalu Rani pungut lagi rasa dirinya yang lain,


"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘣𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘪𝘣𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩-𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩."


Rani pungut dan Rani masukkan dalam karung besar, Rani seret karena terlalu berat ia tarik, Rani seret terus hingga Rani berhasil memasukkannya dalam kamar gelap itu.


Lalu Rani ambil karung besar lagi dan memungut rasa tak nyaman lainnya,


"𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵-𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯-𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘣𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘯𝘢𝘳 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨."


Rani paksa rasa ini masuk dalam karung besar itu, penuh dan menggelembung, berat! Rani seret ia hingga masuk ke dalam kamar meski rasa itu meronta ingin kembali keluar dan Rani berhasil memaksa masuk dalam kamar gelap itu lalu Rani kunci rapat-rapat.


Rani kembali membuka karung besar lebar-lebar, Rani mencari rasa kecewanya yang menghitam kelam karena sudah terlalu lama bersemayam dalam lantai hatinya, ia berbau busuk seperti selokan dan jadi luka yang tak pernah sembuh. Rani raup luka itu sampai besih tak tersisa dan Rani masukkan dalam karung, Rani seret kembali karung berisi kekecewaan yang berbau busuk itu, Rani buka daun pintu yang sempat Rani kunci, didalamnya sangat riuh dengan teriakan dan tangisan yang meronta ingin keluar. Namun Rani tak lagi mau merangkul mereka.


Rani lempar karung kecewanya bergabung bersama mereka. Dan tiba-tiba ada sesuatu perasaan yang ringan dalam dadanya, cahaya putih merangsek masuk dalam ruangan dada itu.


Satu lagi, karung berwana abu itu masih menunggu giliran seolah ia meminta Rani segera mengambilnya dan Rani buka lebar, Rani isi dengan rasa tak bahagia yang melekat di lantai-lantai itu, Rani ambil pembersih lumpur dan menyeretnya mendekati karung, Rani ambil pengki dan menyeretnya berkumpul dalam pengki itu lalu Rani masukan dalam karung, Rani menyeretnya kembali lagi dan lagi hingga karung itu berisi cairan ketidak bahagiaan yang sudah lama Rani kumpulkan, kini lantai itu bersih kering dan nampak berkilau marmernya berwarna abu dan marfil mengkilap.


Rani seret karung cairan ketidak bahagiaan itu, Rani masukkan dalam ruang kosong dan segera Rani kunci mereka meski mereka menjerit meronta ingin kembali.


Rani menaiki tangga bawah tanah untuk kembali ke atas, Rani melihat ruangan bawah tanah itu bersih berkilau dan sinar mentari yang hangat masuk membuat lantainya lebih berkilau. Rani bersiap naik dan berjalan ke sisi luar dimana ruang gelap itu ada, Rani siram dengan jerigen bensin yang sudah siap disana, Rani bakar ruangan gelap yang berisi karung-karung itu hingga asapnya membumbung tinggi dan berbau busuk. Rani mendengar jeritan mereka meronta ingin kembali bersamanya namun Rani tak mengijinkan dan tak menghiraukannya.


Sesaat kemudian Rani melihat onggokan abu dan arang yang menyisakan kepulan asap yang sebentar lagi lenyap, di sampingnya tampak ruangan kaca tempat Rani tadi berada, dengan sinar mentari yang merangsek masuk dan kilauan marmer marfil dan abu membuat Rani lega dan tersenyum hangat.


Onggokan abu bekas bakaran itu lalu terguyur hujan, Rani buatkan pembatas sisi kiri dan kanan hingga membentuk kotak Rani ambil rerumputan hijau dan ia tanami hingga penuh sampai sudut dan terhampar hijau lalu Rani siram, dan rerumputan itu tumbuh hijau sempurna.


Selamat datang bahagiaku, selamat datang semua impianku, aku akan mengisi ruangan marmer itu dengan rasa-rasa kesukaanku, yang bisa membuatku tersenyum manis, puas dan bahagia.


Rani tersenyum puas dan lega duduk di sudut bed.


...

__ADS_1


#tobecontinue #truestory


Perasaan apa yang readers rasakan setelah baca part ini?


__ADS_2