TANTE YAYA

TANTE YAYA
Terikat


__ADS_3

24 Jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 31 hari dalam sebulan dan bulan berganti tahun tak terasa memasuki angka 11 tahun dalam ikatan tante Yaya semenjak perceraian Rani dengan Firman yang berumur 12 tahun,


...


Awal bulan pertama perceraian,


Motor baru berwarna biru, jaket kulit mengkilat, sepatu, celana jeans baru dan helm berwarna biru sengaja Firman pamerkan pada Akbar dan Adisti. Ia ingin menunjukkan bahwa tanpa Rani hidupnya jadi lebih baik. Ia pamerkan pula di media sosial.


Selang satu bulan kemudian,


Karma yang Firman jalani satu minggu usai perceraiannya dengan Rani, Firman mengalami kelumpuhan dan stroke ringan yang ia bisa hanya berbaring di gudang sempit pojokan kantor yayasan tak seorangpun mengurus dirinya selain Adist dan Akbar


Ia tak diperkenankan tinggal di rumah ibunya dengan alasan tak ada kamar kosong untuknya.


Firman tak ada bekal untuk melanjutkan hidup, ia menjual pil perkasa untuk para pria. Ia modalkan uang 1.5 juta untuk membeli pil perkasa namun gagal tak ada konsumen yang berminat. Firman berada di antara buah simalakama.


Jika Pil perkasa itu ia konsumsi sendiri akan menjadi dilema gairahnya akan memuncak diluar batas normal tanpa ada penyaluran namun jika tidak uang Firman teronggok dalam botol Pil Perkasa. Firman tak berdaya.


Untuk menyambung hidup Ia investasikan uang yang selama 12 tahun ia tabung dengan joinan bersama temannya di bidang televisi dan layar monitor namun dalam waktu satu bulan temannya hilang raib tak berkabar. 12 juta persis dengan angka kebersamaannya dengan Rani.


...


Rani, bisa mencicipi ruang-ruang terbuka hijau, jalanan kota yang mereka jelajahi meski tanpa arah tujuan dan semua tante Yaya lakukan untuk kesenangan. Banyak menjajal tempat-tempat yang tak pernah ia kunjungi bersama Firman, Rani rasakan dengan tante Yaya yang royal.


Sesaat membahagiakan Rani mengenal lebih banyak tempat namun harus di tukar dengan konsekuensi sering meninggalkan Adisti sendirian dan waktu untuk diri sendirinya yang tak banyak.


...


Hasrat tak terbendung


Mobil melaju ke arah keluar tol Bekasi Jati Asih menuju Tangerang.

__ADS_1


"Ran, kamu sudah booking hotelnya berapa kamar?"


"Satu aja, aku minta double bed." tambah Rani sembari menikmati sisa lagu yang masih mengalun.


"Bukannya gak boleh ya kita tidur satu kamar?"


Rani mengernyitkan dahi, Alisnya mengangkat.


"Udah telat lah, Ya!" Kalo mau booking juga pasti dapetnya ngga di hotel yang sama, rebutan sama mahasiswa dari luar kota!


"Kalau mau beda room ntar aja on the spot kali aja masih ada yang kosong, tapi kemarin aku liat di aplikasi tu udah full, biasa juga di kost an nginep kagak kenapa-kenapa?" Tanya Rani.


"Di kost an bedalah ada anak kamu, gila aja nggak mungkin gua ngapa-ngapain kamu!" Ujar Tante Yaya


"Aku kan punya hasrat ke kamu, udah lama aku ngincer moment berdua kayak gini Ran. jadi bisalah kita making love?." Ujar tante Yaya ke geeran, seraya membetulkan posisi duduknya. Tingkahnya seperti remaja sedang puber dibalas raut wajah Rani yang lempeng tanpa ekspresi.


"Nggak usah mikir macem-macem, Ya!" Ujar Rani seraya tangannya memijit tape deck memindahkan list lagu.


"Aiiish! Jangan berpikiran macem-macem lah, aku kesini untuk kerja. Aku gak punya waktu untuk berpikir yang bukan kapasitasku."


"Pliis lah jangan naif!" Balas tante Yaya sedikit memaksa.


"Kamu itu di mata laki-laki seksnya tinggi, terus udah lama single parent juga mang gak mau aku bantu keluarin?"


"Kamu ngomong sama batu sana, gua masih suka laki-laki Ya!" Ujar Rani keras.


"Ayolaah jangan gitulah! masa kamu nggak ngerti-ngerti juga"


Tante Yaya gak kehabisan akal.


Dia diam sejenak, memikirkan bagaimana caranya agar Rani menyerahkan dirinya pada tante Yaya. Ia teringat air minum yang ia bawa hasil dari mata air satu tempat ziarah yang ia ambil dan di mantra-mantra saat ritual Selasa Kliwon.

__ADS_1


Selesai cek in, Rani dan Tante Yaya masuk kamar di antar oleh Room boy, Rani membereskan pakaian yang akan di pakai besok selama 2 hari menghandle acara ke lemari. Gerak gerik Rani dipantau Tante Yaya dengan pandangan mata elang yang siap melahap mangsa. Rani menyadari itu dan begidik khawatir, namun ia mencoba bersikap tenang.


Sore Jelang malam hari sebelum Rani naik ke tempat tidur, tante Yaya menyodorkan air minum yang tante Yaya bawa. ia mencampurkannya pada minuman Rani saat Rani memakai toilet duluan untuk mandi


Pikiran tante Yaya yang licik dan manipulatif bekerja. Ia merasa sia-sia mengantarkan Rani jika tak mendapatkan tubuh Rani.


Rani membuka pakaiannya dan bersiap di bawah shower. Pintu toilet tak Rani kunci. Tante Yaya dengan lincah ikut masuk ke kamar mandi membuka bajunya dan mandi bersama Rani.


Rani bergegas mengambil handuk namun tante Yaya menarik lengan Rani dan meremas area sensitif bagian dada dan ******** Rani. Rani menampar wajah tante Yaya. Namun tante Yaya makin menggila. Ia merangkul Rani erat dalam keadaan keduanya tanpa sehelai kain. Rani berontak tante Yaya menyerang dengan menjulurkan lidah dan mulutnya ke arah payudara Rani dan menghisapnya.


Rani berontak namun badannya yang kecil tak kuat melawan tante Yaya yang tubuhnya sekuat banteng jantan. Pergumulan hebat terjadi, akhirnya Rani ambruk di bawah shower air mandi. Ia merasa kotor telah di jamah perempuan dajjal itu.


...


Tante Yaya sudah lama mengincar proyek-proyek Rani, ia sangat ingin seperti Rani. Ketika proyek itu goal dan tante Yaya masuk dalam lingkaran pertemanan Rani. Ia akan mengklaim bahwa semua usaha yang dirintis hasil jerih payah tante Yaya dengan mengatakan Rani adalah karyawannya.


Ia merasa cemburu, Rani terlalu sempurna untuk mendapatkan itu semua.


...


Firman yang teronggok menempati sudut gudang yayasan semakin hari semakin tak bergairah menjalani hidup. Barang- barang klenik, foto-foto Rani menghiasi setiap sudut ruang. Ia ingin kembali bersama dengan Rani. Ia tak kuasa hidup menyendiri. Rambutnya mulai panjang tak terurus, pakaiannya mulai lusuh. Gigi tonggosnya mulai komat kamit depan kepulan kemenyan.


Foto Rani ia rapatkan dengan foto miliknya. Akbar dan Adisti sering menemukan foto foto Rani berserakan dimana mana.


...


Adist paling rajin laporan ke Rani, bahwa fotonya masih terpajang dimana-mana di kamar Firman. Rani heran bukankah ia tak suka kehadiran Rani dalam hidupnya? Firman tak suka perempuan type Rani? ..


"Ah sudahlah!" Pikiran Rani meracau.


...

__ADS_1


__ADS_2