
Shaira memasuki awal masa Sekolah Menengah Atas, ia tak banyak berubah seringkali tantrum dengan hal-hal sepele persis seperti maminya tante Yaya yang selalu membuat drama dengan hal-hal receh, dan begitulah sikap orang toxic yang haus kasih sayang dan perhatian. Shaira berpikir sikapnya yang arogan sejak taman-kanak-kanak merupakan hal biasa pada umumnya.
Tanpa ia sadari bahwa sikapnya sangat banyak merugikan orangtua dan orang lain. Ini berawal dari tante Yaya yang impulsif, tak bisa memanage emosi, arogan dan sombong maka Shaira menganggap hal itu merupakan kebenaran.
Rani selalu menjadi bekeng untuk menginfal mengurus Shaira ke sekolah karena tante Yaya dan Windu angkat tangan cara menangani anak itu, terutama tante Yaya tidak luwes public speaking dengan gurunya. Ia hanya bisa berkomunikasi ala preman-preman.
Satu hari, Shaira tantrum di kelas 12 Ia nangis di tengah-tengah kelas, teman-temannya yang lain terkaget-kaget karena di usia remaja kelas 12 masih tantrum, padahal kondisi fisik Shaira seperti anak yang lain, cantik, bersih namun ketika dekat orang takkan mengira kalau Shaira baru bisa baca kelas 6 SD dan punya kelainan. Ia tak bisa fokus, cara berpikirnya dangkal dan tak bisa menguasai emosi.
Shaira merasa tersinggung oleh temannya yang introvert, saat berinteraksi Shaira merasa di abaikan, lalu ia sekonyong konyong marah, nangis guling-guling di lantai kelas. Teman-temannya panik berhamburan ke luar kelas melapor ke guru BK.
Shaira menangis sejadi-jadinya dengan suara yang sudah tak pantas, satu sekolah tahu tentang Shaira yang childist.
"Ran kamu dimana?"
"Anakku ngamuk di sekolah, aku nggak bisa ngehandle"
"Telpon aja suamimu!"
"Kamu kayak nggak tau aja suamiku mana mau ngurusin anakku yang begituan?"
"Terus kenapa harus aku?"
"Kamu kan kalau ngomong lemah lembut," Ujar tante Yaya bermaksud memanfaatkan Rani. Aku jemput ya ke hotel sekarang, ngurusin dulu anakku.
"Nggak bisa Ya, urus aja sendiri anakmu!"
"Pokoknya aku ke hotel sekarang, kalau nggak aku naik ke atas dan kamu bakal tau akibatnya."
beberapa menit kemudian,
"Ran, aku udah di lobby hotel, kamu turun sebentar."
"Kalau nggak turun aku yang masuk ke ballroom."
Rani tak bisa berkutik. ia terpaksa turun dan mendelegasikan tugasnya di event pada partner cabutannya.
"Aku lagi kerja Ya, kamu seenaknya aja ganggu orang kerja."
"Aku tahu kerjaan kamu nyantai."
__ADS_1
"Nyantai bapak lo! terlalu nganggap orang lain remeh dan nggak penting!"
"Ran, bantu aku dulu sejam saja, nanti selesai dari sana aku balikin kamu ke hotel."
"Saraf! Anj**!" dumel Rani seraya melengos menuju parkiran.
"Nggak marah gitu dong sayang." rayu tante Yaya
Rani tak memberi roman pada tante Yaya. Sikapnya sudah sangat keterlaluan. Menganggap Rani bisa jadi jongosnya setiap saat. Rani sangat ingin lepas darinya tapi sangat jauh panggang dari api.
"Aku pengennya kayak dulu Ya, waktu pertama ketemu hubungannya cuma kamu sebagai ortu Shaira dan aku ortu anakku thats it! nggak lebih dan sampai jauh seperti ini. Aku lelah! kamu bisa fokus dengan kerjaanmu dan aku bisa fokus dengan kerjaanku, kamu jangan terlalu terobsesi dengan apa yang aku lakukan, I'm nothing! aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa yang harus kamu kekang." Ujar Rani panjang lebar.
"Nggak gitu Ran, aku bangga kalau aku bawa kamu kemana-mana, ketemu temen-temenku, ngenalin kamu kemana-mana bahwa aku punya kamu."
"Iya bangga, dan menganggap aku sebagai jongos kamu." Tegas Rani keras.
tante Yaya tak menanggapi. Ia terdiam, memakai sabuk lalu menstarter mobil dan melaju ke arah sekolah Shaira.
...
Jauh di lubuk hati tante Yaya sengaja melakukan itu agar kredibilitas Rani di mata klien runtuh, sehingga job-job event yang biasa Rani dapatkan sedikit berkurang dan Rani menjadi tergantung pada Tante Yaya dan tante Yaya akan merasa dibutuhkan oleh Rani dan itu membuatnya sangat puas.
Jika di usaha sebelumnya tante Yaya dengan mudah mengambil alih namun di usaha Rani yang satu ini tak semudah yang tante Yaya pikirkan.
...
11 tahun, Rani terombang ambing dalam kungkungan orang tak jelas. Tante Yaya sudah memasuki usia kepala 4 namun Ia hanya berkutat mencari seseorang yang mampu memberinya sanjungan dan pujian dengan apa yang dia kenakan. Ia sangat berambisi aktualisasi diri namun ia tak tahu cara dan orang yang akan membawanya menjadi seseorang yang dia inginkan, Ada Rani yang lemah menjadi sasaran empuk tante Yaya.
Tante Yaya pemilik Shio Macan yang dikenal sebagai sebagai salah satu dari tiga shio paling jahat. Meski tante Yaya terlihat kuat dan ceria dari luar, namun dari panggilan hati sebagai pemilik Shio Macan tante Yaya bisa saja menyimpan dendam yang ingin dibalasnya. Sikap dendam dan jahat yang ada dari sosok si Macan ini biasanya akan hadir karena adanya ketimpangan sosial yang mereka rasakan apalagi jika sudah berurusan dengan uang, hal itu dapat dengan mudah mempengaruhi kondisi psikis seorang shio Macan dan akan merubahnya untuk bisa melakukan apapun yang jahat dan kejam untuk bisa mendapatkan uang dan tante Yaya merasa Rani selalu mendapat keberuntungan di banding dirinya.
Beberapa kartu kredit atas nama Rani berhasil tante Yaya pegang dan gunakan. Ia pakai untuk foya-foya dengan anaknya membeli barang-barang mewah dan jalan-jalan ke luar negeri. Ia bisa mendapatkan 4 kartu kredit Rani karena kartu keluarga, KTP dan tanda tangan Rani berhasil tante Yaya palsukan karena ia yang mengurus administrasi Rani saat pindah domisili.
Ia pun berencana alih nama mobil yang sudah ia kuasai dengan mencuri KTP Rani yang asli di alamat yang lama hingga Rani kelimpungan. Karena saat membeli mobil itu Rani saar ia masih menetap bersama mamanya.
Tante Yaya sangat ingin seperti teman-teman SMA nya yang pamer punya kartu kredit banyak. Namun ia tak bisa mengajukan kartu kredit karena ia tak punya usaha yang benar-benar ia geluti.
...
Shaira dan Cowoknya
__ADS_1
Tante yaya senyam senyum saat buka facebook. Ia terlihat sangat bangga saat pamer foto studio pasangan muda mudi di media sosial milik om Mark itu.
Nampak seorang gadis belia yang di rangkul mesra oleh sang pria yang tingginya setara.
"Ran liat deh foto Shaira, dia sama pacarnya anak kuliah di komunikasi politik. Anak anggota dewan parpol kuning." tante Yaya menyodorkan handphonena pada Rani.
Nampak Shaira dan laki-laki kulit sawo busuk berangkulan mesra.
Ini Prewedding? tanya Rani
Bukan, tapi pacaranya minta foto studio sama Shaira katanya untuk kepentingan ajuan anggota dewan.
Halah! yang bener aja, masa ngajuin jadi anggota dewan pake rangkulan sama perempuan yang belum muhrim. Ujar Rani mencibir.
Ih kamu nggak tau ya, syarat ngajuin jadi anggota dewan itu harus sudah punya pasangan dan dibuktiin sama foto.
Ah gimana kamu ajalah, Ujar Rani malas menanggapi.
Anakku laku ya Ran, banyak yang mau sama dia. Nggak kayak cewek cantik sebelahku ini.
Rani menghela nafas, bersiap meninggalkan tante Yaya yang mulutnya rombeng. Rani heran kenapa bisa bertahan dengan orang ini sampai belasan tahun. padahal hati dan pikirannya tak pernah sinkron selalu ada pertentangan batin.
...
Tahun kedua Shaira di SMA sudah 4 bulan badan Shaira banyak berubah, ia minta di belikan baju baru yang lebih longgarpada tante Yaya. Rani seperti biasa jadi asisten perempuan koclak itu.
"kenapa beli seragam baru lagi buat shaira?" tanya Rani.
"Iya dia tekdung!" Ujar tante Yaya murung.
"Maksudmu Shaira hamil?" Tanya Rani kaget
"Kapan nikah?" lanjutnya.
"Jangan becanda kamu, SMA aja belum lulus." Ujar tante Yaya melengos menyembunyikan rasa yang tak menentu.
"Ahh!! Bajred!!" Ujar Rani sedikit arogan dan merasa puas.
...
__ADS_1