
Setelah mendapat perlawanan dari Akbar, intensitas kedatangan tante Yaya ke kostan Rani mulai jarang-jarang meski Rani tahu tante Yaya sangat menggebu mengikuti perkembangan Rani.
Ia sering mengintip di tiap story whatsapp, instagram dan facebook. Rani terus dipantau juga melalui tetangga yang tiba-tiba sering main ke rumah Rani pura-pura ngajak anaknya main. Atau kunjungan tante yaya ke tetangga depan rumah Rani padahal sebelumnya tak pernah, Tawa Tante Yaya sengaja lebih keras kala bercengkrama dengan tetangga ia ingin memberitahu Rani kalau dia dekat. Meski telpon dan chat tante Yaya tak seintens dulu. Tante yaya berusaha menahan diri tapi kayaknya dia tak mampu.
Akbar berpikir ibunya dalam bahaya, dia menyarankan untuk memblokir semua akun tante Yaya. Rani mengikuti saran Akbar.
Hari ke-2 setelah Rani memblokir akun tante Yaya, ia sadar ia telah di blokir. Ia ngecek perkembangan Rani dari story dan akun media sosial suaminya. Tante Yaya tahu Rani berteman juga dengan Windu dan keponakannya.
Rani heran kenapa keponakan tante Yaya jadi sering aktif melihat setiap story Rani. Ternyata bukan perbuatan keponakannya melainkan tante Yaya. Tante Yaya merasa sangat sakit hati, tante Yaya kelabakan.
Setelah beberapa hari tak datang ke kostan, akhirnya tante Yaya memutuskan menjumpai Rani. Hari ke-4 setelah Rani memblokir tante Yaya, pagi-pagi tante Yaya sengaja menemui Rani, ia duduk di ruang tamu. Lalu pura-pura meminjam handphone Rani untuk tethring kuota.
Rani tak mengijinkan, Rani tahu maksud tante Yaya. Dia mulai bete dan raut nya mulai menahan amarah namun ia melihat Akbar yang pura-pura duduk depan komputer namun telinganya mencuri dengar, tante Yaya menyadari itu.
"Aku mau ngobrol sama kamu bentar," Ujar tante Yaya.
Akbar menoleh ke arah tante Yaya tanpa berkata-kata.
Tante Yaya paham maksud Akbar, ia tak mengijinkan ibunya keluar lagi dengannya.
...
Tante Yaya mencari cara agar bisa berduaan dengan Rani. Ia diam di rumah tetangga Rani, menunggu Rani keluar untuk bekerja, namun Rani tak keluar-keluar. Sampai adzan ashar ketika Akbar pergi ke masjid. Tante Yaya buru-buru menyelinap masuk ke kost an Rani.
Rani kaget, Rani menyadari jiwanya sedang terancam. Begitu tante Yaya masuk, Rani berdiri dekat meja setrikaan. Pikir Rani jika tante Yaya berbuat macam-macam ia dengan mudah mengambil setrikaan dan menghantamkannya pada Tante Yaya.
"Kamu kenapa coba-coba ngeblokir semua akunku!" Tanya tante Yaya seraya melihat ke arah pintu tatap matanya liar.
"Tahu darimana kamu?"
"Aku tahu dari akun keponakanku, akun suamiku, di status mereka kamu masih terlihat update namun di kontakku kamu tidak ada." Ujar tante Yaya kesal. Suaranya tertahan karena amarah dan kecewa matanya berkaca-kaca, suaranya tercekat menahan rasa pedih yang membludak dalam dada.
Tak terpikir oleh Rani tante Yaya semelow itu dan tak terpikir tante yaya akan mengintip dia di akun keluarganya yang lain. Rani menyesal ia kurang preventif, kenapa dia tidak terpikir untuk memblokir semua akun yang berkaitan dengan keluarga itu.
"Aku nggak suka kamu pantau."
"Aku tidak ada urusan lagi dengan kamu." Tambah Rani.
"Tapi mobilmu masih ada di aku Ran." Tante Yaya mencoba merajuk. Dalam hati kecilnya sangat tahu mobil itu menjadi ganjalan urusan mereka berdua namun tante Yaya tak mau melepas mobil Rani karena sudah merasa memiliki.
"Aku tidak memiliki lagi mobil itu dari hari pertama, bahkan saat Akbar kecelakaanpun aku seperti pengemis harus meminjam mobilku sendiri sama kamu untuk membawa Akbar ke Rumah Sakit."
"Saat lebaran adikku mau membawa ibu berkeliling silaturahmipun, kamu sampai wanti-wanti ke Akbar jangan sampai STNK nya dipegang dan ketauan oleh adikku karena itu mobil atas namaku!."
"Saat kamu ijinkan aku memakai mobilku sendiri di batasi waktu kurang dari jam maghrib mobil itu sudah harus di kembalikan padamu."
"Perempuan macam apa kamu ini? menguasai harta orang lain yang tak jelas silislah kekeluargaannya denganmu!"
"Aku sudah bilang berkali-kali, kalau mau beli mobil! beli dengan suamimu! bukan merecokiku.!"
"Untungnya aku masih berpikir waras saat kamu berkali-kali merengek memintaku menjual rumahku!"
"Jika saja aku menurutimu menjual rumahku, Kamu akan senang aku dan anak-anakku menjadi gembel, begitu? Dasar iblis!" Jelas Rani mengungkit kelakuan-kelakuan tante Yaya yang mendominasi dan manipulatif, senang menguasai harta Rani.
"Aku tak suka anak kecil itu ngatur-ngatur hidup kamu sebagai ibunya."
"Aku lebih tua dari dia, najis kalau aku harus di ajarin sama anak kecil! baru lulus pesantren tiga tahun aja udah belagu sok-sok an ngatur-ngatur hidup orangtua." Jawab tante Yaya.
"****! ngatur-ngatur apa maksud kamu hah?" sentak Rani.
"Ini aku yang gila apa kamu sih sebenernya! kamu selalu mengusik semua tentang anak-anakku, mencoba mengadu-domba aku dengan anak-anakku. Sedangkan aku kapan mencela anakmu?"
"Bahkan dia kesulitanpun aku masih dimintai tolong sama kamu. Begonya aku masih bersedia! mikir sampai situ nggak? umur udah kepala 4 tapi hati dan pikiran masih kotor aja!" Rani membeberkan uneg-unegnya selama ini.
...
Tante Yaya makin senang di ladeni Rani, sifat toxicnya yang sangat suka mendramatisir keadaan makin menggebu. Kata-kata yang dangkal selalu di putar balikkan agar ia bisa berlama-lama adu argumen dengan Rani. Dan ia sangat menikmati itu.
"Itu waktu aku ajak kamu semedi di makam wali buat nyembuhin kamu! anak kamu yang ngatur kamu boleh pergi atau nggak. Aku nggak suka liat kamu di atur-atur anak." Jawab tante Yaya dengan suara melemah mencoba memanipulasi Rani agar Rani luluh dan dikasihani.
"Kamu nggak suka Akbar karena kamu nggak leluasa lagi mengatur hidupku!."
"Kamu masih menganggap aku pesakitan? iya itu karena berdekatan dengan kamu!. beberapa hari ini aku sehat wal afiyat, pikiranku tenang nggak ada orang yang merecoki dan mengatur-ngatur kehidupanku."
"Bahkan sampai merk pembalutpun aku tak bisa memilih yang membuatku nyaman. Selalu menurut apa katamu, kalau nggak di turuti kamu akan marah." Tambah Rani.
__ADS_1
"Udah tahu aku suka marah, tapi kamu suka mancing-mancing aja bikin aku marah!" Ujar tante Yaya yang playing victim seolah-olah mereka saling ketergantungan untuk saling minta pendapat.
Rani muak!
"Sudahlah jangan terlalu banyak drama! aku tak suka drama kamu, bikin aku muak! Aku tak suka kamu yang mengatur apa yang aku makan, mana yang baik atau nggak menurutmu!."
"Aku udah bosan dengan kelakuanmu yang selalu penuh drama dan memutar balikkan fakta."
"Aku masih waras, justru beberapa hari ini aku merasa sangat baik tanpa kamu, begitu kamu datang kamu menebar racun lagi yang membuat badan dan pikiranku tak sehat."
"Benar kata kang Iwan, biang kerok sakitku selama ini adalah orang terdekatku, bukan mencari hantu yang nggak keliatan tapi yang nyata di depan mata. Yaitu kamu!" mereka terlibat adu argumen panjang, selama ini rani tak berani menyanggah namun kali itu Rani berpikir sudah waktunya tante Yaya tau diri kalau dirinya banyak merugikan orang lain.
"Kamu nggak tahu sepak terjang mantan suamimu yang masih mengguna-guna kamu!"
"Hey! Aku lagi ngomongin kelakuan kamu mengekang aku! bukan ngomongin Firman! Playing victim! Kamu masih terobsesi membenturkan aku dengan mantan suamiku!"
"11 tahun aku cerai darinya! jangan terlalu banyak bikin skenario murahan!" Teriak Rani kesal.
Suara pintu gerbang mulai di seret, Tante Yaya tahu Akbar pulang dari masjid.
"Kamu nanti aku telpon! obrolan kita belum selesai sampai disini, paham kamu!" Ia segera pergi menyelinap ke bagian rumah tetangga Rani agar tak berpapasan dengan Akbar.
Tante Yaya sesungguhnya sangat takut dengan Aura Akbar yang baru pulang dari pesantren.
"Aku tak sudi mobil itu dipakai Akbar, apalagi menolongnya!" gumam tante Yaya seraya bergegas.
...
Rani merasa hidupnya dalam bahaya, Rani sangat tahu tante Yaya takkan diam. Saat maghrib tiba, ia mengajak Adisti, Akbar dan dirinya pulang ke rumah Mama Rani.
Di tengah jalan, telpon Rani berdering puluhan kali.
[18.05] Misscalled
[18.06] Misscalled
[18.07] Misscalled
[18.08] Misscalled
[18.09] Misscalled
"Ran! Angkat!"
...
Shaira demam tinggi, Dia mengaduh asam lambungnya tinggi. Dalam keadaan hamil tanpa suami Shaira merasa berjuang sendiri. Ia tak kuasa menahan kesedihannya selama ini melihat arogansi ibunya dan kekakuan ayahnya yang dingin. Shaira memutuskan mengambil silet dan nekad mengakhiri hidupnya dalam kamar yang sedari tadi di ketuk-ketuk ibu eyang dan gemblung tak ia hiraukan.
Ibu eyang minta gemblung keponakan tante Yaya yang obesitas segera menelpon tante Yaya tapi tak di angkat. Tante Yaya mengabaikan telpon yang masuk puluhan kali dari keponakannya, Ia fokus terus menelpon dan mengirimkan pesan pada Rani. Ia belum merasa puas jika Rani belum membalas.
Gemblung naik ke atas dan menggedor pintu kamar tante Yaya,
Tante Yaya dengan malas membuka pintu, "Ada apa gemblung!" sentak tante Yaya.
"Itu kakak Shaira tadi demam tinggi terus dia mengunci diri di kamar bawah. Aku sama ibu eyang nggak bisa ngasih obat. Aku telpon tante nggak di angkat-angkat." Terang Gemblung seraya mengikuti tante Yaya menuruni anak tangga.
"Shai .. buka pintunya Shai!" Teriak Tante Yaya seraya menggedor-gedor pintu.
Dia mengintip dari jendela depan, nampak Shaira terkapar dan simbahan darah membasahi sprei. Tante Yaya panik. Ia kembali memburu pintu, dan menendang-nendang pintu agar segera terbuka.
"Panggil pak Mul, panggil pak Mul tetangga depan." pinta tante Yaya pada gemblung. Gemblung berlari panik menggedor pintu pak Mul.
"Pak Mul Pak Mul .. tolong kakak .. tolong kakak!" teriak Gemblung panik.
Pak Mul yang masih bersarung membuka pintu ia bergegas mengikuti Gemblung. Ia mendapati tante Yaya sedang berusaha membuka pintu, Pak Mul membantu dan segera mengambil linggis dari rumahnya di teras bekas ia membongkar septictank.
Pintu terbuka, nampak Shaira yang terkulai lemas. Tante Yaya panik. Ia mengecek hawa dari lubang hidung shaira, masih terasa hangat. Ia segera memangku anak itu dan membawa ke luar rumah, kunci mobil yang selalu tergantung di tali sabuknya kemanapun ia pergi di bantu Pak Mul membukakan pintu dan membaringkan Shaira di jok tengah.
Pikiran tante Yaya kalut, ia mencoba menelpon Rani lagi, ia sangat ketergantungan pada Rani. namun tak Rani angkat. Ia lupa Windu, wajahnya pucat dan panik tante Yaya menginjak gas melaju sendirian menembus jalanan menuju rumah sakit. Sendiri, yaa sendiri ..
...
Duduk termenung di ruang tunggu, sementara di ruang ICU Shaira berjuang bersama dokter-suster dan selang yang melintang di tangan, mulut dan hidungnya. Windu menghampiri Tante Yaya.
"Gimana Shaira?" tanyanya dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Lo kemana aja? hah!" Teriak tante Yaya kesal.
"Lo yang kemana aja? sebagai ibu kenapa bisa jadi kayak gini?"
"Udah hamil di luar nikah! tantrum yang nggak berenti-berenti! dan sekarang mau bunuh diri!" Teriak Windu sudah terlalu muak dengan kehidupan yang dia jalani dengan perempuan kekar itu.
Tante Yaya merasa dia jadi sasaran kesalahan, dan tidak terima. Ia menampar Windu dengan tangan kekarnya, namun Windu segera menangkis tetiba semua kakak-kakak tante Yaya memburu dan melerai mereka.
"Sudah! sudah! fokus mikirin Shaira bukan bertingkah kayak anak kecil!" Ujar kakak perempuan tante Yaya.
Mereka saling melepaskan diri, tante Yaya memilih meninggalkan ruang tunggu ia merasa sudah banyak orang yang bisa menjaga Shaira. Dia ingin menghubungi lagi Rani, perempuan dajjal ini tak henti-hentinya terobsesi oleh Rani meski dalam keadaan genting sekalipun.
"Ran! Angkat!" Setelah puluhan kali misscall nya tak diangkat Rani.
...
Rani merenung tenang, Rani memutuskan untuk kembali mengisi rumahnya yang ditinggalkan karena menuruti sang perempuan dajjal. Ia mulai mendiskusikan rencananya meninggalkan kost an dengan Akbar.
Akbar setuju, lalu ia menghubungi rental car angkut barang. Raniberencana semua brangnya harus terangkut dalam satu kali jalan. Jangan sampai tante Yaya mengetahuinya dan lalu ia nanti akan di cegah lagi oleh perempuan setan itu.
...
Hujan rintik-rintik pagi itu, cuaca lembab angin dingin cukup membuat Rani dan Akbar merapatkan jaketnya karena terlalu menusuk. Rani dan Akbar sudah siap dengan tumpukan kardus-kardus yang berisi barang-barang mereka.
Mang Didi sopir angkut barang menelpon,
"Neng ini otw, share loc posisinya."
Rani mengirimkan lokasi dimana dia berada.
"Mang usahakan dhuhur sudah beres terangkut semua, jadi kita bisa beresin barangnya di rumah dan bisa tidur malam disana." Pinta Rani.
"Siap." Ujar Mang Didi.
Melihat barang Rani yang banyak, Mang Didi membawa partnernya untuk membantu, di bantu Akbar menaikkan barang-barang. Tepat adzan dhuhur Rani dan Akbar pamit pada tetangga yang kaget dan terheran-heran karena pindah dadakan.
...
Hari kedua shaira di rumah sakit, Windu tak nampak. Tante Yayapun tak ada hanya ibu eyang dan beberapa kakak perempuan tante Yaya. Tante Yaya mendapat kabar Rani pindah dari tetangganya, sekejap dada tante Yaya berdegup kencang. Ia bringsut lari memburu mobil dan menancap gas tak sadar tali sepatunya melilit pedal gas, saat lampu merah beberapa blok lagi menuju kostan Rani. Mobil terus melaju tak bisa di rem, tante Yaya sadar ada yang salah dengan pedal gas, ia melihat mobil dari arah berlawanan belok memotong jalurnya karena memang jatah lampu hijau untuk arah mobil tersebut. Bermaksud menghindar namun secepat kilat kedua mobil bertabrakan dan Tante Yaya yang terburu-buru tak memakai sabuk terpelanting ke luar pintu dan terlempar ke trotoar. Badan tambunnya tambunnya ambruk seketika setelah terbentur pembatas jalan.
Sekejap dirinya dikerubungi orang-orang, setengah sadar ia menyebut nama Rani, lalu salah seorang penolong tante Yaya berinisiatif mencari handphone namun handphonenya hancur berkeping-keping.
Tante Yaya di bawa ke rumah sakit, persis di rumah sakit yang sama dengan Shaira yang masih di ruang ICU. Dalam ketidak sadarannya selama 5 hari, bibir tante Yaya tak henti-hentinya menyebut nama Rani.
Windu mengetahui tante Yaya kecelakaan dari Rani, dia mendapat tamu orang yang menelusuri alamat rumahnya dari STNK dan memberitahu bahwa tante Yaya kecelakaan dan di rawat di rumah sakit.
"Mas, aku dapet kabar Yaya kecelakaan dari orang yang datang ke rumahku, dia tahu alamatku dari STNK mobil katanya di rawat di RSPAD."
"Aku lagi disini, nungguin Shaira, di ruang mana?" Tanya Windu khawatir.
"Dia nggak bilang mas, cuma nganterin aja sampai ICU katanya."
"Shaira kenapa mas?" tanya Rani.
"Dia mau bunuh diri dari beberapa hari yang lalu." Jawab Windu.
"Oh turut berduka ya mas." Rani menutup telponnya segera ia tak ingin berlama-lama kontak lagi dengan keluarga itu.
...
Kaki kanan yang menggantung penuh dengan perban tampak dari seorang yang bertubuh tambun yang sedang terbaring, Windu tak sangsi lagi saat mencari istrinya di ruangan lain dari ruangan Shaira. Windu dengan tatap dingin mendekat ke ranjang tante Yaya. Dia masih memejamkan mata, Mulutnya menganga dengan selang yang terhubung ke tangan dan hidungnya.
"Ya! Ya! bangun! ini gue! kenapa lo bisa begini Ya?" tanya Windu muram. Namun tak mendapat jawaban dari tante Yaya muiutnya tetap menganga dengan suara dengkur seperti sapi yang sedang di qurbankan.
Setelah 6 jam Windu menunggui tante Yaya di sampingnya, tante Yaya Sadar, mulutnya komat kamit. Windu melihatnya dan berusaha mendekatkan telinganya.
"Rani, jangan pergi."
"Rani, jangan pergi."
"Rani, jangan pergi."
Windu menjauh, ia kecewa rupanya istrinya terlalu mencintai Rani. Dia melengos menjauh dan meninggalkan tante Yaya. duduk di luar di antara kursi-kursi yang berjejer berhadapan dengan taman.
"Ya Tuhan, jangan berikan beban berat untuk hambamu ini beristrikan pecinta perempuan. Apalah jadinya hamba sebagai seorang suami yang tak becus mendidik istrinya." Monolog Windu yang sesaat merasakan hatinya berdegup, terasa ada sesuatu yang menyayat seperti teriris sembilu.
__ADS_1
...
#tobecontinue #truestory