TANTE YAYA

TANTE YAYA
Trik Manipulasi Tante Yaya dan Laki-Laki Dayuts


__ADS_3

Nasi merah, lalap sambel dan lauk pauk sudah siap tante Yaya bawa ke sekolah Shaira. Waktunya makan-makan bareng orangtua satu angkatan sekolah Shaira, tante Yaya sengaja mengambil bagian paling banyak. Dia bersedia menyediakan makanan hampir 90% dari yang di butuhkan acara itu semata-mata ingin memperlihatkan bahwa ia orang yang royal dan sangat ingin mendapatkan perhatian dan membutuhkan pujian dari semua orang.


"Weh! kita pikir tampilan kayak laki kagak bisa masak! ternyata masakannya enak!" Puji mama Astri.


"Ho'oh enak!" sambung mama Kiran.


"Iya semuanya juga enak kalo gratis." Ujar tante Yaya sambil terkekeh.


...


Bukan sekali dua kali tante Yaya bersikap royal, menunjukkan pada orang-orang agar ia terlihat mampu dan tidak di sepelekan orang. Selain itu dengan bersikap begitu salah satu trik cara dia untuk menaklukkan orang agar mau dibawah kendalinya.


Hal inipun dilakukannya pada Rani, ia cekoki kebutuhan Rani dari atas kepala sampai ujung kaki dengan cara refressif (memaksa) dan masiv (terus menerus) hingga Rani pada akhirnya menyerah tak lagi berkutik.


Hal ini mulai diketahui Firman, yang diam-diam ia pun turut menikmati limpahan "rezeki" yang Rani dapatkan. Mulai makanan dan lain sebagainya, Firman tak lagi bertanya darimana Rani mendapatkannya.


Rani justru berpikir kenapa suaminya tak punya harga diri, setidaknya Rani ingin di tanya darimana Rani membawa Nasi merah lengkap dengan lauk pauk hari itu. Tas-tas baru, jam tangan bermerk, sepatu-sepatu girly yang tak pernah Firman sanggupi untuk memenuhi itu semua.


Bahkan tante Yaya pun berusaha merangsek masuk dalam kehidupan rumah tangga Rani dengan memenuhi kebutuhan Firman seperti baju batik, sepatu kulit dll. Sehingga ia dapat mengontrol keluarga Rani dan ikut mengambil keputusan internal keluarga.


...


"Ran, aku titipin sesuatu ke mama Astri tadi pagi nasi merah dan lauknya plus sesuatu yang lain." Bunyi SMS dari tante Yaya.


"Iya." Jawab Rani pendek, lalu ia pulang dengan Firman.


Sesampainya di rumah sore hari,


"Lapar ni .. ". Ujar Firman begitu mereka turun dari motor.


"Kamu masak apa hari ini?" Tanya Firman


"Koq nanya masak apa?, bukannya tadi pagi pergi bareng, pulangpun bareng, mestinya dia tau kalau aku belum menyiapkan apa-apa dari tadi pagi saat pergi karena harus mengurus kedua anaknya yang masih kecil-kecil dan menyiapkan sarapan suaminya." Gumam Rani dalam hati.


Entah kekuatan apa yang mengungkung Rani, mulutnya seolah dibungkam tak berani untuk berbicara pada Firman sekalipun menyanggah.


Rani manut, membuka bungkusan yang diterima dari Mama Astri.


Firman makan dengan lahap, sedangkan Rani tak berselera. Ia merasa Firman sudah sangat keterlaluan tak punya harga diri. Rani hanya ingin ditanya oleh Firman, darimana ia mendapatkan itu semua selayaknya suami yang bertanggung jawab terhadap istri dan keluarganya tapi tak pernah sedikitpun pertanyaan itu terucap.

__ADS_1


Selesai makan, Firman kembali lagi ke kantor dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Ia akan kembali pukul 9 malam untuk makan malam.


Dari awal pernikahan ke anehan-anehan tingkah Firman semakin menjadi, terlebih ia tak pernah ingin berbagi tapi yang ia lakukan didepan Rani selalu merendahkan diri dengan cara meminta dan mengambil hak orang lain.


Bahkan kali itu Rani berpikir jangan-jangan ia bersuamikan laki-laki Dayuts, suami yang tak punya rasa cemburu pada istri dan anaknya dimana lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya tapi ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu.


...


Selesai menyiapkan Akbar untuk pergi berjamaah sholat maghrib ke masjid Rani membuka box warna hitam, bermerk Foss*l, nampak sebuah jam tangan original lengkap dengan kartu garansi.


"Ran, kalo tali jam tangannya kepanjangan nanti kita bawa ke counternya biar di potong sesuai lingkaran lengan kamu." SMS dari tante Yaya bertepatan saat adzan maghrib berkumandang. Rani tak menghiraukannya hanya membaca ranpa membalasnya.


"Ran balas!."


"Ran balas!."


"Ran balas!."


"Ran balas!."


"Ran balas!."


"Kalau tidak di balas aku ke rumahmu sekarang, nongkrongin kamu pengen tau apa yang kamu lakukan, biar kamu nggak banyak alasan." SMS lanjutan tante Yaya.


[18.02] Misscalled


[18.05] Misscalled


[18.06] Misscalled


[18.07] Misscalled


[18.10] Misscalled


[18.13] Misscalled


[18.15] Misscalled


[18.16] Misscalled

__ADS_1


[18.17] Misscalled


[18.20] Misscalled


"Ran, Aku otw ke rumah kamu!."


...


Dua puluh menit kemudian, Rani membalas.


"Aku lagi sholat, anak-anakku lagi ngaji maghrib!, kamu nggak ngajarin anak kamu ngaji?"


Tiba-tiba suara motor memasuki halaman rumah Rani, suara yang familiar namun bukan suara motor Firman.


Shaira turun dari motor dan tante Yaya sibuk memarkirkan motor. Rani terkaget masih dengan mengenakan mukena Rani melongok dari jendela dan membuka pintu. Tante Yaya melihat Rani dan memasang raut wajah marah dan jutek tanpa senyum memasuki rumah Rani tanpa salam.


"Subhanallah Ya!" Gumam Rani, dengan dada terasa penuh sesak.


Rani berpura-pura menyapa Shaira, ketika melihat kedua anaknya terheran-heran karena tak terbiasa menerima tamu malam hari.


"Eh Shaira, mau ikut ngaji disini ya bareng kakak."


Shaira melirik pada tante Yaya,


Tante Yaya memberikan isyarat memperbolehkan Shaira ikut ngaji duduk dengan anak-anak.


Shaira lari ke kamar Rani membuka lemari dan mencari kerudung Rani, di coba satu persatu dan menemukan kerudung terusan hadiah ibu mertuanya dari arab, ketika shaira pakai mirip menjadi mukena karena panjang.


...


"Kamu ngga ngurusin suami kamu?"


"Mungkin pulang kerja pengen makan, kan harus kamu siapin." Ujar Rani berusaha membuka obrolan.


Tante Yaya mendelik,


"Kamu apa salahnya balas dulu SMS ku, jangan sok jual mahal." Ujar tante Yaya.


Hati Rani terasa tertohok, seolah dia harus menjadi budak nafsu perempuan dajjal itu.

__ADS_1


...


#tobecontinue #truestory


__ADS_2