TANTE YAYA

TANTE YAYA
Janji Petrikor


__ADS_3

"Mungkin doaku buruk Ya Allah, tapi rasa sakitku terlalu perih, biarkan dia merasakan apa yang aku rasakan." Tutur Rani saat mendapati muntahan darah bercampur gulungan rambut saat Akbar, Salman dan Kiai Shodiq meruqyah Rani yang ke-4 kalinya selama 4 bulan terakhir.


"Ini harus perlahan-lahan ya Akbar, sudah terlalu lama dan karatan. Kalau di paksakan sekaligus keluar kasian Ibu ga bisa nahan yang ada nanti malah nyawa jadi taruhan." Ujar Kiai Shodiq. Salman memberikan Rani minum yang sudah di bacakan doa dari Kiai.


...


Sebelumnya Rani merasa aneh punggungnya selalu gatal tak terkira setiap jelang maghrib. Ia menceritakan hal ini pada Akbar.


"Menurut kiai waktu di kobong, kalau sering gatal punggung tapi bukan penyakit kulit. Biasanya seseorang mengirim makhluk halus berbentuk genderuwo yang bulunya lebat dan keras, bertujuan agar setiap orang yang melihat Mama itu gak tertarik."


"Ada yang tertarik hanya fisik aja karena badan mama bagus, tapi kalau untuk selanjutnya genderuwo ini yang menghalangi."


"Mam Kakak kenalin sama temen se asrama Kakak waktu lagi di pesantren Ayahnya Kiai Shodiq suka ruqyah dan ngobatin yang tak kasat mata Mam." Saran Akbar.


Rani merasa perlu melakukannya, ia benar-benar ingin jauh dari hal-hal klenik tante Yaya ataupun Firman sebelumnya.


Rani dan Akbar pergi menemui Kiai Shodiq, Salman sudah tau kedatangan Akbar di pesantren milik ayahnya. Rani dibawa ke ruang Aula, ada Nyimas haji istrinya Kiai yang sedang meruqyah juga perempuan lain.


Salman bertanya pada Akbar, "Biasa kalau akhwat oleh Nyimas tapi saat ini nyimas sedang banyak antrian. Mau nunggu atau mau sama ayah? kalau sama ayah juga gak apa-apa karena tidak sendiri dan mama Akbar memakai jilbab panjang."


"Biar sama Kiai saja, ikhlas biar Akbar temani." Ujar Akbar rengkuh dan menciumi tangan Kiai ketika Kiai Shodiq menghampirinya. Ranipun mengangguk tanpa berani menatap wajah Kiai.


Salman dan Kiai memakai sarung tangan, Rani diminta duduk menghadap kiblat. Selanjutnya Kiai duduk sideku berada di bagian punggung Rani sedang Salman di ujung kaki Rani yang berkaos kaki. Akbar turut mendampingi bagian sisi kiri tubuh Rani.


Selama proses ruqyah Rani muntah berkali-kali. Dan yang terakhir tenggorokannya terasa kesat ada sesuatu yang nyangkut namun saat ia mau telan Kiai berujar sambil menghela nafas, "Keluarkan! jangan di telan!"


Kiai mendorong naik sesuatu dari bawah pinggang Rani ke arah tengkuk tanpa menyentuh dan mendorongnya sekuat tenaga ke arah depan, Rani merasa mual tak terkira, tenggorokannya gatal, ia coba berdehem dan batuk berkali-kali tetiba ada rasa manis dalam mulutnya dan mulutnya terasa penuh. Akbar sudah menyiapkan pot yang sudah di lapisi keresek. Rani muntah darah dan terlihat gumpalan rambut.


Matanya pedih berair, tenggorokannya terasa kesat dan perih. Salman menyodorkan minum.


...


Kursi Roda menjadi sahabat tante Yaya selama 4 bulan terakhir, setelah kejadian kecelakaan itu. Ia harus menerima kaki kanannya remuk dan tulang bahunya sengklek.


Ia juga harus melanjutkan hidupnya tanpa Windu yang tak lagi berada di sisinya. Ia harus mengurus Shaira menjelang lahirannya tanpa suami. Tatapannya nanar saat beberapa orang tamu datang menjenguk.


...


Tante Yaya mengingat kejadian saat dirinya ditinggalkan Windu,


"Maaf Ya sepertinya aku tak sanggup lagi menjalani hidup denganmu yang masih terobsesi oleh Rani."


Tante Yaya terdiam, wajahnya tak menunjukan rasa penyesalan sedikitpun.


"Itu hakku! dan kamu gak perlu ikut campur soal itu. Toh dari awal pernikahan kita sudah komitmen kita punya jalan masing-masing dan kamu setuju itu. Aku gak boleh menuntut nafkah darimu aku iyakan. Aku bebas mencari nafkah dan kehidupanku aku terima. itu katamu kan!"


"Tapi kenapa baru sekarang protes?" Ujar tante Yaya bersikap seolah pejantan tangguh.


"Mana pernah aku minta nafkah sama kamu, kalaupun aku minta buat anakmu aku pikir wajar.!" Tambah Tante Yaya dengan suara tinggi.


"Sudahlah yang jelas aku tak mengira, aku bersaing dengan perempuan dan itu menurunkan derajatku.!" Sentak Windu tak terima.


Saat pertengkaran terakhir Windu dengan tante Yaya.

__ADS_1


"Aku tau ini alasanmu saja mengelabuiku untuk berpisah denganku, padahal kamu sudah menikah dengan perempuan lain bukan!" tanya tante Yaya sekaligus menegaskan kecurigaannya selama ini.


"Jangan lancang kamu! gegabah! menuduh yang tidak-tidak" sentak Windu.


"Dimana-mana laki-laki seusia kamu sedang kecanduan ****, kamu hampir tak pernah menyentuhku, apalagi kalau bukan sudah kenyang di luar sana!" Teriak tante Yaya berspekulasi.


𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘞𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘉𝘶 𝘕𝘶𝘳 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘪𝘣𝘶-𝘪𝘣𝘶 𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘣𝘶 𝘕𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘳𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘭𝘶. 𝘉𝘶 𝘕𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘞𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘯𝘨𝘪. 𝘛𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘠𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘫𝘶-𝘣𝘢𝘫𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘮𝘱𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘯𝘪.


𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘴, 𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘠𝘢𝘺𝘢 1𝘹 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘪𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩, 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘬𝘶𝘴-𝘵𝘪𝘬𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘯𝘵𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘠𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬. 𝘐𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘱𝘩𝘰𝘯𝘦𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘣𝘢𝘫𝘶-𝘣𝘢𝘫𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘙𝘢𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢.


𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘫𝘶 𝘬𝘰𝘵𝘰𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘞𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵, 𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘱𝘪𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮-𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘠𝘢𝘺𝘢 𝘞𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘣𝘶 𝘕𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘯𝘵𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘶 𝘕𝘶𝘳 𝘱𝘶𝘯 𝘞𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.


Windu melengos tak meladeni tante Yaya yang selalu membuat drama, menyalahkan keadaan dan mau menang sendiri tanpa mau introspeksi diri.


Gugatan perceraian datang beberapa hari setelah pertengkaran mereka. Windu memilih pamit pada keluarganya dan terutama pada sahabatnya bahwa ia tak lagi tinggal di rumah itu. Kepergian Windu membuat hati tante Yaya lebih sepi dari sebelumnya seperti rumah kosong tak berpenghuni. Tanpa sadar di sudut matanya tak terbendung lagi air mata yang tak kuasa ia tahan.


"Tuhan! kenapa kau tak adil dalam kehidupan percintaanku, pintaku hanya satu! aku ingin mendapat perhatian dan kasih sayang! tak lebih dan tak kurang." Tante Yaya meratap.


...


Tante Yaya berharap bisa pulih kembali meski 4 bulan ini ia tetap berusaha mengejar Rani dengan terus menerus menghubunginya meski tante Yaya tau usahanya tak membuahkan hasil.


Setidaknya dia tau dari media sosial Rani, dia sengaja membuat akun baru dan meminta pertemanan dengan Rani tapi tak di accept. Biarpun begitu ia masih bisa mengikuti aktifitas Rani. Apa yang dia tulis dan apa yang dia lakukan, selalu membuat tante Yaya tertarik dan tersenyum bahagia.


...


Memasuki bulan ke-7 tante Yaya sudah bisa kembali berjalan normal, setiap pagi ia memandikan cucunya sementara Shaira masih tidur. Setelah membawa cucunya berjemur tante Yaya membangunkan Shaira. ia bergegas ke bengkel mobil Ujun untuk mengecek mobil Rani yang hari itu selesai di reparasi.


"Koq mahal amat ya Jun?"


"Iya tant. banyak yang di ganti tapi bukan sama yang ori maklum yang ori lebih mahal."


Tante Yaya mengeluarkan amplop coklat setoran dari Wawan pagi itu. Ia menghitung sejumlah uang yang diminta Ujun lalu Ujun menyerahkan kunci mobil. Tante Yaya segera memburu satu hotel sekitar 35 menit perjalanan dari bengkel.


Ia tau Rani sedang berada di Mercu** hotel dari cek in tempat di media sosial Rani yang ia pantau setiap saat. Masuk ke lahan parkir lalu menuju lobby ia bertanya ke resepsionis event yang sedang berlangsung.


"Ada beberapa event Pak, di meeting room yang berbeda Bapak mau mengikuti event yang mana? biar kami tunjukkan."


"Eugh saya Yaya saya perempuan, saya mencari teman Saya Rani dia yang memegang 1 event disini tapi saya lupa nama eventnya, pokoknya dia EO nya, mungkin bisa tolong cek yang booking salah satu eventnya siapa mas"


"Maaf kalau begitu kami tak bisa memberi tahu bu, ada baiknya di kontak dulu yang bersangkutan silahkan ditunggu sambil duduk saja sebelah sana." Ujar resepsionis seraya menunjuk ke arah soffa.


Otak manipulatif tante Yaya bekerja, ia tak kehabisan akal ia berjalan dan mengamati ke tiap meeting room. Menunggu orang yang keluar untuk ke toilet dan kembali masuk ke ruang tersebut. Tante Yaya mengikuti dan membersamai orang itu agar ia bisa masuk dalam ruangan yang sama dimana ia bisa mencari Rani.


Dua meeting room sudah ia inspeksi namun hasilnya nihil. Meeting room ketiga, dan nampak perempuan tinggi langsing yang sibuk dengan handy talki berjalan menuju ke arahnya. Tante Yaya kikuk, ia pikir Rani sudah melihatnya namun ia berhenti di orang yang ia hampiri beberapa meter sebelum posisi dirinya berada.


Tante Yaya sabar menunggu dan mengamati seraya mengambil kursi kosong. Menunggu dan mengikuti seluruh rangkaian acara agar mendapat kesempatan berbicara dengan Rani selesai acara.


...


Pukul 16.00 Acara di tutup, semua orang keluar meninggalkan ruangan, namun tante Yaya sengaja memperlambat geraknya demi mengamati Rani.


17.00 Rani meninggalkan crew media yang sedang packing membereskan peralatan sound. Rani menjabat tangan mereka berterima kasih dan senyum ceria nampak di wajahnya karena acaranya sukses. Ia berjalan keluar lalu mengambil handphone untuk meminta jemput Akbar. Namun,

__ADS_1


"Ngga usah minta jemput, aku yang akan mengantar kamu pulang!" Suara tante Yaya persis di telinga kiri Rani.


Rani terperanjat sontak menoleh ke arah datangnya suara.


"Yaya! ngapain kamu kesini?" Teriak Rani, alisnya meninggi seraya mengambil jarak menjauh dari posisi tante Yaya.


Tante Yaya menyeret Rani menuju lift dan membawanya ke basement parkir. Rani berontak namun cengkeraman tangan tante Yaya tak mampu Rani lepaskan.


"Jangan teriak kalo ngga aku bisa nekad" ancam tante Yaya seraya menyodorkan pisau lipat victorinox ke pinggang Rani.


Sejurus kemudian mereka sudah berada di dalam mobil,


"Aku antar kamu pulang"


"Kamu dimana sekarang sayang?" Tanya tante Yaya seolah diantara mereka tak terjadi apa-apa.


"Heh bangs**! kenapa Lo gadaikan nama dan nomor gua ke bank, untuk kartu kredit yang nggak mampu kamu bayar!


"Kartu kredit mana?"


"Pura-pura nanya lagi!" Rani kesal


"Kartu kredit OC***!"


"Debt collectornya nelponin gua terus katanya gua sebagai penjamin pembayaran kartu kredit lo, kalo nggak mampu bayar jangan coba-coba berhubungan dengan bank! sok hipe banget!" Teriak Rani kesal setelah pemblokiran semua kartu kreditnya ternyata tante Yaya membuka kartu kredit atas namanya sendiri lalu menjadikan nomor Rani sebagai penjamin dan saat tak mampu membayar cicilan debt collectornya menelpon Rani setelah mereka tak berhasil menghubungi tante Yaya karena diabaikan.


"Itu sudah aku bayar!"


"Jangan berkelit, nyusahin gua terus sih lo! udah tua juga!"


"Ya itu gara-gara kamu juga, semua kartu kamu di blokir, akun WA dan medsos di blokir apalagi aku dah nggak temenan sama kamu lagi di facebook" Tante Yaya mulai mengeluarkan jurus playing victim.


"Trus apa untungnya buat gua temenan sama Lo!? Mau ngatur-ngatur hidup gua lagi gitu sampai gua kentut dan boker aja lo atur!"


"Bukan maksud gua itu demi kebaikan lo, terakhir obrolan kita tu aku nggak suka di atur-atur anak kecil sok belagu baru pesantren 3 taun aja sok ngatur orangtua. Najis!! gua dengerin bocah yang sok ngajarin orangtua. Nggak ada kamusnya gua mesti belajar dari anak baru kemarin sore"


"Yang ada ntar ngelunjak, dan lo lagi mau aja di atur atur anak kecil."


"Heh! trus maksud lo ngapain nyusul-nyusul dan ngejar-ngejar gua lagi?"


"Gua cuma mau nanya kenapa lo blokir semua medsos dan akun WA gua!?"


"Itu karena gua nggak mau temenan lagi sama lo! paham!" sungut Rani pada tante Yaya.


"Ok kalo gitu, gua juga najiisss! temenan sama lo!! Turun dari mobil gua!" Tante Yaya mengusir dan menurunkan Rani di tengah perjalanan.


Rani turun dari mobil dan memberhentikam taksi yang lewat di depannya, langit sore perlahan menitikan bulir-bulir air hujan seolah turut merasakan pedihnya hati Rani, ia di usir dari mobil yang ia perjuangkan untuk menafkahi anak-anaknya.


"Aku simpan semua kepedihanku dalam mobil itu, bawalah ia kemanapun mereka pergi. Siapapun yang berada dan pergi bersama mobil itu mereka akan selalu merasakan kepedihan hati dan takkan pernah merasakan bahagia." gumam Rani dalam sumpahnya pada semesta yang seolah di iyakan oleh iringan hujan yang makin lebat disambut semerbak bau petrikor yang menyeruak.


...


#tobecontinue #TrueStory #tanteyaya #Kumiko

__ADS_1


__ADS_2